Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertikaian
Kekuatiran dokter di klinik belum selesai. Karena informasi dari warga kampung Usir, bahwa laki - laki yang mereka tolong waktu itu setelah dua minggu meninggal. Para dokter prediksi pasti tetanus. Dan beberapa malam ini mereka berkabung. Acara berkabung mereka di tengah hutan terdengar sampai di beberapa kampung di sekitar.
Pengamanan pun di tingkatkan takut ada serangan balik dari organisasi terlarang ini. Semua masyarakat di minta tenang di rumah. Dan tentara sudah mengepung kota. Takut aksi mereka mengusir warga pendatang dengan menyerang. Polisi dan Tentara sudah berjaga. Ketegangan di kota Mulia mulai dirasakan.
"Mereka banyak??"
"Sangat banyak lengkap dengan senjata."
Jefry menjawab penasaran dokter Joe, Ali dan Rusman. Dokter Julius hanya meminta kita siaga jika ada penyerangan dan ada korban. Seharian dari pagi sampai siang pukul dua, Belle tidak melihat Hugo. Dia tahu pasti Letkol Harrell Hugo Tandean sedang ada di lapangan. Informasi yang di terima intel mereka mau menyandera dokter yang menolong korban itu. Sudah pasti yang mereka maksud dokter Julius atau dokter Belle. Namun informasi ini tidak sampai di dengar oleh tim medis sipil. Jadi pengamanan bagi mereka sangat ketat.
Mulai terdengar tembak menembak korban tentara atau polisi yang dilarikan ke klinik nusantara sedangkan korban dar organisasi terlarang tidak. Aparat memukul mereka mundur kembali ke hutan. Banyak korban dari pihak mereka dan di tangkap. Informasi yang Belle dengar bahwa Letnan Kolonel Harrell Hugo Tandean terkenal alat tajam di lengan kirinya. Namun sampai sore mau gelap, Hugo belum kembali ke markas. Hanya anggota polisi dan tentara yang terluka yang ada di klinik. Belle berharap bahwa info yang dia dengar itu tidak benar. Melainkan Hugo baik - baik saja.
Pukul delapan ketika semua sudah beres, Hugo baru kembali ke markas. Sertu Beni yang bersamanya, langsung menginfokan bahwa lengan kiri komandan terluka. Lettu Dokter Jefry, langsung membawa komandan ke ruangan khusus untuk di obati. Dokter Joe juga sudah ada disana. Belle mau mendekati, namun dilihat sudah ada dua dokter yang hebat di sana. Belle kembali mengontrol pasien - pasiennya. Hanya tiga orang yang di rawat. Ketiganya dari pihak polisi yang baru menjalankan operasi. Sedangkan yang lain hanya luka ringan.
"Doker Belle dimana??"
"Aman komandan, pasti ada visit tiga pasien yang tadi di operasi." Hugo hanya mengangguk.
Luka di lengan kiri Hugo besar dan cukup dalam. Makanya tadi juga di beri tindakan untuk bedah ringan. Di jahit untuk menutup luka itu agar tidak infeksi.
"Dan, jangan kena air dulu ya."
"Berapa hari??"
"Tiga hari Dan."
"Berarti tiga hari tambah saat ini saya tidak mandi."
"Bisa mandi asal jangan lukanya keba air."
"Bagaimana bisa??"
"Nanti kami minta dokter Belle membantu komandan."
"Setuju. Bisa kan malam ini jangan dia yang jaga ya. Biar jaga saya saja." Semua tersenyum.
"Itu sih maunya komandan."
"Kamu tahu isi hatiku Jef."
"Suka - suka komandan deh."
Sampai di rumah Belle tanpa di suruh sudah menyiapkan air panas buat mandinya Hugo. Dia langsung membantu Hugo mandi tanpa berbicara. Hanya tubuh bagian atas. sedangkan bagian bawanya akan dilakukan oleh Hugo sendiri.
"Jangan sampai basah lukanya."
"Iya sayang."
"Stop alay deh." Hugo tertawa. Dia tahu pasti Belle sangat marah sekarang.
Keluar dari kamar mandi, Belle telah menyiapkan makan malam. Lauk dari dapur umum, Belle tadi sempat memasak sop ayam buat penyembuhan lukanya Hugo. Dia juga menyiapkan buah.
"Sudah cocok jadi ibu persit."
"Jangan banyak ngomong. Ganti baru makan dan mau minum obat."
"Bantuin ini tangan kiri ngak bisa di gerakan masih sakit."
Belle tanpa banyak bicara dia membantu Hugo mengenakan pakaian. Semua dari baju dalam sampai luarannya.
"Ini karena tugasku sebagai perawat ya. Aku lakukan semua ini. Jangan besar kepala."
"Iya. Aku kira karena mau balas budi kemarin, waktu aku merawatmu."
"Itu juga." Hugo tertawa.
"Jadi lakukan totalitas ya. Seperti aku buat kepada kamu."
"Iya." Hugo senang sekali. Mereka pun makan malam bersama. Selesai makan Belle merapikan meja makan dan mencuci semua perabotan dapur yang kotor.
"Kak, mau minum teh pappermint sebelum tidur."
"Boleh dek."
Belle pun membuat teh buat Hugo. Setelah itu dia masuk ke kamarnya.
"Malam ini kita tidur di kamar kamu??"
"Kak??"
"Totalitas dek. Jika malam nanti saya kesakitan bagaimana??"
"Kita bobo di kamar kakak aja. Aku rapikan dulu."
Malam ini, Hugo begitu bahagia bisa tidur memeluk Belle lagi.
"Jangan keluar atau berdiri di markas sendiri ya.Orang - orang itu rencana mau menculik kamu. Kakak ngak mau kehilangan kamu lagi."
Hugo menarik tubuh Belle dan memeluk begitu erat, seolah tidak mau kehilangannya. Perempuan yang perna ada di hatinya. Yang perna dia buat kecewa.
"Maafkan kakak. Kakak tidak akan menyakiti kamu lagi."
"Kak....."
"Ya...."
"Bobo ya ini sudah malam. Agar peredaran darah kakak bagus dan regenerasi sel bagus. Luka kakak cepat sembuh."
"Iya."
Hugo membalik badan Belle dan mukanya berada di dada Hugo. Dia membelai kepala Belle. Sehingga perempuan itu tertidur. Dan dia pun tertidur sambil memeluk Belle.
Belle sadar bahwa lagi - lagi dia merasa bahagia ada dalam pelukan laki - laki yang dia cintai ini. Belle tidak bisa menipu dirinya sendiri, sesungguhnya dia masih mencintai Hugo. Karena Harrell Hugo Tandean adalah cinta pertamanya.
"Kamu membuat lagi - lagi aku merasa bahagia, bagaimana aku bisa melupakan mu kak. Kamu akan membuat sakit hatiku tidak perna sembuh." Belle berbicara sangat lembut dia tidak tahu, jika Hugo sudah bagun dan mendengar apa yang dia katakan tadi. Hugo mengeratkan pelukannya. Sehingga Belle tidak bisa bagun.
"Jangan lupakan aku dek. Aku sangat mencintaimu. Maafkan kesalahanku."
"Kak, kamu dengar."
"Iya dan kakak tidak mau jauh dari kamu."
Pagi itu Belle bangun. Dia menyiapkan air panas buat mandinya Hugo. Kemudian dia membersihkan rumah dan membuka jendela - jendela. Hugo masih baring di tempat tidur. Dia langsung menyiapkan sarapan. Hanya rebus telur dan makan buah. Tidak lama, sarapan dari dapur umum dibawa oleh Beni.
"Ben......"
"Ya dokter... Jangan dulu pergi. Kamu bantu komandan mandi." Sertu Beni ajudan Hugo merasa serba salah. Dia tahu Komandannya pasti marah. Karena Hugo komandannya mau selalu dekat dengan Belle, cinta pertamanya. Hampir semua cerita Hugo, Beni tahu.
"Sori komandan. Tidak bisa menolak."
"Iya. Cepat urus saya dan kamu pergi gabung dengan yang lain."
"Siap komandan."
Selama tiga hari Belle melayani Hugo sebaik mungkin dan selama tiga hari itu. Setiap malam, Hugo bisa memeluk Belle.