Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala di Atas Tanah Basah
Kekalahan Rober di kaki Gunung Salak sampai ke telinga Maya dalam hitungan jam. Di ruang kerja megahnya yang kini berbau wangi lavender mahal, Maya memutar-mutar pena emas di jemarinya. Matanya yang tajam menatap bayangan hujan di luar kaca jendela.
"Dasar lintah darat tidak berguna," bisik Maya dingin, suara renyahnya meneteskan racun kekecewaan.
Ia menyadari bahwa Ajo, Adam, dan Jimi tidak lagi bisa dihancurkan dari jauh. Penggabungan kembali "Tiga Jenderal" adalah ancaman nyata bagi takhta perfilman dan kekuasaan yang baru saja ia rebut. Jika ia membiarkan ketiga pria itu menyusun kekuatan di desa, seluruh kebohongan yang ia bangun selama bertahun-tahun akan terbongkar.
Maya memajukan tubuhnya, menekan tombol interkom, lalu menghubungi nomor seorang pria yang paling ia andalkan untuk urusan busuk: Hendra, seorang pemred media gosip ternama yang siap menjual nuraninya demi uang seratus juta rupiah.
"Hendra," ujar Maya, suaranya terdengar begitu manis namun mematikan. "Siapkan tim liputan terliarmu. Kita berangkat ke kaki Gunung Salak pagi ini. Aku ingin kau menyiarkan secara live bagaimana dua 'buronan' industri perfilman—Ajo dan Adam—bersembunyi di balik ketiak warga desa dan memukuli warga lokal."
Maya tersenyum licik. Ia merencanakan sandiwara terbesar: membawa wartawan bayaran langsung ke kampung halaman Ajo, memutarbalikkan fakta tentang insiden pembakaran kebun malam sebelumnya, dan melabeli Ajo serta Adam sebagai penjahat brutal yang meresahkan masyarakat desa.
Sementara itu, fajar baru saja menyingsing di atas tanah kebun yang basah. Bau jelaga sisa kebakaran semalam masih tercium tipis, membumbung bersatu dengan embun pagi.
Di teras rumah tua, Ajo sedang membersihkan sisa luka memar di tangannya ketika suara deru mobil travel berhenti di ujung jalan setapak. Pintu mobil terbuka, dan sesosok wanita berpakaian sederhana dengan kacamata hitam melangkah keluar.
Elsa.
Rina—istri Jimi—yang mengantarnya, mengangguk pelan dari dalam mobil sebelum memutar arah. Elsa berdiri mematung di ujung jalan tanah, menatap rumah panggung tua itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Matanya sembap, tubuhnya tampak lebih kurus akibat seminggu dalam tekanan ketakutan dan kejaran media di Jakarta.
Ajo mematung. Kapas di tangannya terjatuh ke lantai kayu.
Tanpa memedulikan langkah kakinya yang kaku, Ajo berlari menuruni tangga rumah. Elsa melangkah makin cepat, hingga akhirnya langkah kaku itu berubah menjadi larian kecil yang dipenuhi kerinduan membara.
Di bawah naungan pohon cengkeh tua yang masih menyisakan embun, tubuh Elsa berhambur rapat ke dalam pelukan Ajo.
"Ajo..." isak Elsa pecah seketika, dadanya berguncang hebat di dalam dekapan pria itu. Jemari lentiknya meremas kuat bagian belakang kaus oblong Ajo yang kusam. "Kenapa kamu tinggalkan aku... kenapa kamu selalu merasa harus menanggung semuanya sendirian..."
Ajo memejamkan matanya rapat-rapat, merengkuh tubuh Elsa begitu erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia melepaskannya. Ajo menghirup aroma rambut Elsa, membiarkan air matanya sendiri menetes hangat di bahu wanita itu.
"Maafkan aku, Elsa," bisik Ajo parau, suaranya sarat akan rasa bersalah dan ketulusan telanjang dari dasar jiwanya. "Aku takut melukaimu... tapi aku sadar, lari darimu adalah kebodohan terbesar dalam hidupku."
Adam dan Jimi yang menyaksikan momen itu dari teras rumah tua hanya bisa terdiam. Adam mengusap matanya yang mendadak basah, tersenyum tipis menyaksikan kebahagiaan sahabatnya—sebuah pemandangan yang menyadarkan Adam betapa mulianya cinta Ajo pada Elsa dibanding obsesi butanya dulu.
Namun, momen haru dan kedamaian singkat itu mendadak koyak.
Tiga mobil van hitam meraung kencang membelah jalanan desa yang sempit, berhenti secara brutal tepat di depan halaman rumah Ajo. Pintu-pintu van terbuka paksa. Belasan wartawan, juru kamera dengan lampu sorot terang, dan mikrofon langsung berhamburan turun bagai serigala lapar yang menemukan mangsanya.
Dan dari mobil paling depan, Maya melangkah keluar.
Ia mengenakan blazer putih mewah yang sangat kontras dengan tanah desa yang becek. Di sampingnya, Hendra sang wartawan bayaran mulai berteriak ke arah kamera yang menyala live.
"Pemirsa! Kita menyaksikan langsung di mana buronan skandal perfilman, Ajo dan Adam, bersembunyi bersama aktris Elsa di desa terpencil ini setelah menganiaya warga semalam!" teriak Hendra provokatif.
Wartawan langsung mengerubungi Ajo dan Elsa, menodongkan kamera dan mikrofon secara agresif. Lampu blitz menyengat mata.
"Nona Elsa! Apakah Anda diculik oleh Ajo?!"
"Pak Ajo! Benarkah Anda membakar kebun warga yang menagih utang?!"
"Pak Adam! Apakah Anda menjadi komplotan Ajo sekarang?!"
Elsa tersentak kaget, tubuhnya gemetar kembali dalam dekapan Ajo. Namun Ajo tidak mundur satu langkah pun. Ia memasang tubuhnya sebagai benteng kokoh, menyembunyikan wajah Elsa di dadanya dari kilatan kamera jahat itu.
Maya melangkah maju dengan anggun, tersenyum sinis menatap Ajo, Adam, dan Jimi yang berdiri berjejer.
"Pemandangan yang sungguh menyedihkan," pangkas Maya, suaranya tenang namun memotong riuh wartawan. "Tiga Jenderal yang dulunya dipuja, sekarang bersembunyi di tanah berlumpur seperti penjahat kelas teri."
Maya menatap Ajo lurus-lurus. "Ajo, serahkan seluruh dokumen hak cipta perusahaanmu yang tersisa, dan biarkan Elsa ikut denganku ke Jakarta. Jika tidak, gambar kalian yang menyerang warga dan menyembunyikan aktris ini akan tayang di setiap stasiun televisi nasional lima menit lagi."
Suasana mendadak hening dan mencekam. Kilatan lampu kamera terus menembus kegelapan pagi desa itu.
Adam melangkah maju di samping Ajo, matanya menatap Maya tanpa ada lagi rasa takut atau ketertarikan masa lalu. "Maya... kau pikir permainan murahmu ini masih berlaku bagi kami?"
Jimi ikut berdiri tegak, mengeluarkan ponselnya yang terhubung dengan rekaman pengakuan Rober yang sudah ditangkap polisi semalam.
Dan Ajo... Ajo menatap Maya dengan pandangan dingin yang kini tak lagi menyimpan trauma masa lalu. Ia meremas jemari Elsa erat-erat, lalu menatap puluhan kamera wartawan yang meliput secara langsung.
"Maya," suara Ajo menggelegar, berat dan penuh dominasi yang melumpuhkan keberanian para wartawan di sana. "Kau membawa kamera ke tempat yang salah. Karena di tanah kelahiran orang tuaku ini... seluruh topeng dan kebohonganmu akan kami telanjangi di depan publik hari ini juga."