NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

​"Astaghfirullah!"

​Michelle terlonjak mundur bahkan sebelum bergerak maju keluar kamar karena seseorang berdiri di depan sana.

​"Lama banget sih lo, lupa kalau jumat bel bunyi lebih awal?"

​Michelle mengerjap, ia memperhatikan cowok yang berdiri di hadapannya dari atas sampai bawah.

​"Kak Alvin ngapain di depan pintu kamar Michelle?" tanyanya bingung.

​Alvin mengdengus. "Ayo buruan, atau gue tinggal."

​"Eh bentar, Kak!" Michelle menutup pintu kamarnya dan berlari tergesa menyusul Alvin yang sudah berjalan menuruni tangga.

​"Michelle tau ini hari jumat, bukannya Kak Alvin jemput Kak Nara ya kalau jumat? Kan Kak Nara ada piket hari ini."

​Alvin melirik Michelle sekilas. "Berisik lo, buruan sarapan, gue tunggu di depan."

​Michelle masih bingung dengan sikap Alvin pagi ini, padahal biasanya kalau hari jumat jam segini Alvin sudah tidak ada di rumah untuk menjemput Nara.

​"Ooooo...." Mulut dan mata Michelle membulat saat berhasil menyimpulkan sesuatu. "Jangan-jangan Kak Alvin tau kemarin Kak Nara jalan sama cowok!"

​Binar kebahagian jelas muncul di kedua mata biru Michelle, cewek itu tersenyum lebar. "Yes, lampu kuning otewe ijo!"

​.

.

.

.

.

​"Udah sembuh?"

​Michelle yang sedang mencatat di buku catatannya lantas menegakkan kepala, Raffa duduk di bangku depannya yang kosong sejak pagi dengan senyuman manis khas cowok itu.

​Michelle mengerjap. "Emang siapa yang sakit?"

​"Nanti ke kantin bareng yuk? Gue traktir bakso."

​"Wahhh, ada apa nih traktir traktir? Ada yang ulang tahun yaaa??" Meyra tiba-tiba datang dari arah depan. "Siapa yang ulang tahun? Perasaan hari ini nggak ada deh."

​"Emang nggak ada," jawab Raffa. "Cuma mau traktir aja."

​Kedua bola mata hitam Meyra berbinar. "Asik! Gue juga dapet dong? Gue sama Michelle kan bestie nempel banget nih, yakali Michelle dapat gue nggak."

​Michelle melotot, dengan tidak tahu malunya Meyra malah menawarkan diri sementara ia berusaha menolak tawaran Raffa.

​Raffa mengangguk. "Boleh, makin rame makin bagus."

​"Yess!" Meyra mengepalkan tinjunya di udara. "Lo emang temen ter the best deh, Raf!"

​Meyra beralih ke samping Michelle, lalu merangkul cewek itu. "Yakali yang kayak gini dibiarin, sikat Al, jangan kasih lolos!" bisiknya semangat di samping telinga Michelle.

​Perhatian Michelle kini tertuju pada Raffa yang mengobrol dengan Galuh, tampaknya membahas kegiatan yang mereka suka karena Raffa terlihat antusias. Cowok itu tersenyum dan mengangguk beberapa kali, juga sesekali menimpali dan keduanya tertawa.

​Entah keberapa kali Michelle kagum dengan sosok Raffa ini, kalau bisa dibilang Raffa adalah salah satu cowok incaran banyak cewek di sekolah, terutama di angkatannya. Beberapa kali Michelle melihat cewek-cewek kelas lain bahkan Kakak kelas yang rela di tepi lapangan saat kelas X IPA3 olahraga hanya untuk melihat sosok Raffa.

​"Chel, gue mau kasih tau aja nih," ujar Meyra tiba-tiba. "Kalau lo suka sama Raffa, saingan lo emang banyak, kayak lo suka Kak Alvin begitu."

​Michelle menoleh. "Siapa yang suka Raffa?"

​Meyra yang mendengar pertanyaan itu lantas mencibir. "Tapi karena respon Raffa beda dari respon Kak Alvin yang cueknya minta ampun, gue yakin hampir seratus persen. Raffa suka sama lo."

​"Raffa bukan tipe cowok yang perhatian ke sembarang cewek walau dia kelihatan ramah, Chel. Dan perhatian dia ke lo ini beda," bisik Meyra. "Kalau dia nyatain perasaan ke lo, dan lo nolak dia. Gue bakal jadi orang pertama yang bego-begoin lo selama tiga tahun ke depan, inget omongan gue."

​.

.

.

.

.

​082234xxxxxx

​Temuin gw di belakang kantin pojok

​Kening Michelle berkerut saat membaca pesan dari nomor tidak dikenal itu, ini bukan pertama kali ia mendapat pesan dari nomor tidak dikenal, tapi baru kali ini pesannya to the point. Biasanya menyapa dulu, tanya nama, atau hal-hal yang berbau perkenalan dan basa-basi.

​"Michelle, ke kantin nggak?"

​Michelle menoleh karena tepukan di bahunya, ia reflek menggeleng. Hari ini sangat malas ke kantin, apalagi kalau jumat istirahat pertama sangatlah singkat, bisa-bisa kehabisan waktu saat antri pesan makanan.

​Gw tunggu

​Dateng kalau lo mau aman

​Dua pesan lagi masuk, membuat Michelle kesal sekaligus penasaran. Selama beberapa menit terbuang untuk Michelle berpikir, ini serius atau prank orang asing. Sampai akhirnya ia menghela napas.

​"Kalau prank, tinggal tonjok," ujarnya sambil beranjak.

​.

.

​Kantin pojok adalah kantin terlarang untuk para siswi, karena di kantin itulah cowok-cowok berkumpul. Tidak semua, tapi justru itu ngerinya, hanya cowok-cowok yang terlihat nakal dan urakan yang nongkrong di kantin itu.

​Michelle menahan napas saat melihat cowok-cowok itu tertawa, suaranya menggelegar sampai menarik perhatian murid yang lewat untuk menoleh ke mereka.

​Nyali Michelle menciut, rasa penasarannya juga ikut memudar karena tertutup rasa takut. Tapi tepat saat ia akan berbalik, ponsel yang ada di tangannya kembali bergetar.

​Tinggal bbrp langkah aja pakek mikir dulu

​Buruan

​Banyak nyamuk nih

​Michelle mendesis kesal, berarti orang yang mengirim pesan padanya sudah melihat keberadaannya di sini. Tapi, kenapa harus warung pojok?

​"Pasti cowok iseng," desis Michelle.

​Michelle celingukan, mencari seseorang yang ia kenal untuk menemaninya, setidaknya membantunya melewati cowok-cowok itu.

​"Michelle?"

​Michelle terlonjak, Raffa juga tampak terkejut melihat Michelle berbalik tiba-tiba, apalagi saat Michelle menghela napas lega.

​"Gue kira siapa, Raf." Michelle mengusap dadanya. "Eh, Raf, gue boleh minta tolong?"

​Raffa menaikkan sebelah alisnya, lalu mengangguk. Michelle yang mendapat respon baik lantas tersenyum.

​"Anterin gue ke belakang kantin pojok dong," pintanya.

​Kening Raffa berkerut. "Ngapain? Kantin pojok kan tempat nongkrongnya cowok-cowok, Chel. Lo mau nyari apa? Atau siapa?"

​Michelle diam, bingung harus menjawab apa. Kalau dia bilang ingin menemui si nomor tidak dikenal, pasti Raffa akan melarangnya, lalu cowok itu pasti akan menceramahinya agar tidak merespon nomor-nomor tidak dikenal itu lagi.

​Michelle tidak yakin, hanya menduga dan mengantisipasi.

​"Ma-mau—"

​"Mau beli jajan yang katanya enak itu? Gue beliin aja gimana? Rame banget tuh, entar lo desak-desakan."

​"Eh? Enggak!"

​"Enggak apa?"

​"Nggak usah!" Michelle menggeleng. "Gue cuma lewat aja kok, penasaran sama kantin ini kok jarang ada yang mampir. Ya udah ayo ke kelas aja, gue nggak jadi beli."

​"Tapi lo belum beli apa-apa, mau gue beliin cilok? Atau siomay yu tri? Lo suka, kan? Buat ganti karena tadi lo nolak gue beliin bakso."

​Michelle menggeleng cepat. "Ke kelas aja, nggak laper. Entar siang kalau laper gue bisa beli sendiri."

​Raffa menatap Michelle tidak yakin, tapi kemudian mengangguk. Cowok itu mengedikkan kepala, meminta Michelle berjalan lebih dulu.

​"Oh, ya, Raf—"

​"Nanti pulang bareng gue yuk," sahut Raffa, membuat Michelle reflek menoleh. Raffa mengembangkan senyum andalannya.

​Michelle langsung gagap, terlalu terkejut hingga tidak tahu harus merespon apa.

​"Nanti gue bilang ke Bang Alvin kalau lo pulang bareng gue, tadi lo berangkat sama dia, kan?" tanya Raffa. "Gue lumayan kenal sama Bang Alvin, pasti dibolehin."

​Michelle suka kepercayaan diri Raffa, tapi bukan itu masalahnya.

​"Gue tau lo tinggal di rumah Bang Alvin."

​"Ha?!" Kedua mata Michelle langsung membulat. "Dari mana? Siapa? Kok bisa sih?!"

​Michelle mengatup mulutnya setelah itu, ia berbicara terlalu keras dan cepat, bahkan terdengar seperti menuntut. Sampai-sampai Raffa terheran mendengarnya.

​Raffa tertawa kecil. "Bisa dong, gimana? Mau nggak?"

​Michelle ragu, walau pun Raffa bilang mengenal Alvin dan akan meminta izin untuk mengantarnya pulang. Tapi tetap saja, bagaimana kalau Alvin berpikir macam-macam ada sesuatu antara Raffa dan Michelle?

​"Raf—"

​Ponsel Michelle kembali bergetar di tangan, membuatnya reflek menunduk. Dua pesan masuk dari nomor yang sama membuat Michelle berdecak.

​"Dari siapa?" tanya Raffa.

​Michelle langsung menurunkan ponselnya, lalu menggeleng. "Nggak penting, ayo ke kelas."

1
ᥫ᭡Baby
astaghfirullah, pikiranku
ᥫ᭡Baby
meyra cegil
ᥫ᭡Baby
njirr, bawa-bawa manusia ini /Sweat/
ᥫ᭡Baby
padahal Michelle duluan
ᥫ᭡Baby
kasihan di cuekin
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
ᥫ᭡Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
ᥫ᭡Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!