NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARURAT ASH-VOLCANIA

​​BAB 12: DARURAT ASH-VOLCANIA

​BOOOOOOMMMM—!

​Tiga riak robekan dimensi ruang mendadak tercipta secara simultan di tepi lapangan latihan utama.

​Tiga tekanan energi spiritual yang luar biasa padat, masif, dan berkuasa mutlak tumpah ruah ke arena bagaikan air bah yang membendung badai.

​Tiga sosok pendiri legendaris Guild Scar Horizon menapakkan kaki mereka secara serentak di atas pasir lapangan.

​Namun, kehadiran tiga sosok legendaris berperingkat Berlian Puncak itu sama sekali tidak meledakkan kekuatan serangan penghancur.

​Mereka justru melepaskan aura penahanan yang tenang, luas, dan tak tergoyahkan.

​Serentak, perwujudan Anima Mitologi milik kedua leluhur yang berdiri mengapit Grand Master Alden perlahan memanifestasikan diri ke udara.

​Kael dan Hugo—bahkan Kapten Gareth yang tertegun di jarak aman—menatap dua sosok pendiri lainnya dengan napas tercekat.

​Di samping Grand Master Alden yang berdiri membawa pendaran Merak Void penyimbol kedalaman Ruang dan Kekosongan, sesosok wanita tua anggun berdiri dengan tenang.

​Di belakang punggung wanita tua itu, seekor Naga Petir Purba merentangkan sepasang sayap bersisik keemasannya.

​Kilatan petir emas melesat perlahan di antara celah awan, memancarkan keagungan alam yang menenangkan tanpa menghancurkan seujung kuku pun pasir di tanah.

​Sementara di sisi lainnya, seorang pria tua bertubuh tegap berdiri membisu.

​Di atas kepalanya, sesosok Raja Badai Angin berwujud burung raksasa bersayap perak melayang perlahan.

​Kibasan sayapnya secara ajaib mengatur aliran udara yang tadinya Morthas buat menjadi sangat pekat dan mencekik, mengembalikannya menjadi pasokan oksigen yang hangat sehingga paru-paru manusia bisa kembali menghirupnya.

​Tiga pilar pendiri itu tidak menyerang.

​Mereka hanya berdiri tegak, menjadi benteng pengingat mutlak di antara dua kekuatan purba yang sedang saling menekan ego.

​Suara yang kemudian bergaung membelah kegelapan Void bukanlah teriakan amarah fana, melainkan getaran kearifan agung yang meresap langsung ke dalam benak batin Morthas dan Morgrath.

​"Hentikanlah perdebatan sia-sia ini," ucap Sang Naga Petir melalui lisan wanita tua di samping Alden, suaranya menggelegar halus bagai guntur yang mereda di kejauhan.

​"Kalian berdebat soal martabat, kehormatan, dan keagungan... tapi lihatlah ke bawah kaki kalian!"

​"Lihatlah wadah yang sedang kalian pijak," sambung Sang Raja Angin melalui lisan pria tegap di sisi lain, nadanya berat namun sarat akan peringatan yang tajam.

​"Darah mereka mendidih, raga mereka meremuk, dan nyawa mereka saat ini tergantung pada sehelai benang," tegas Sang Raja Angin.

​"Jika kalian terus menegakkan ego purba ini... bukankah sama saja kalian memilih untuk menghancurkan tempat kalian berdiri di dunia manusia? Apakah kalian benar-benar ingin kedua anak ini mati di sini?"

​Teguran berbobot itu menghantam kesadaran Morthas dan Morgrath jauh lebih keras daripada benturan energi fisik mana pun.

​Morgrath menjadi entitas pertama yang menurunkan tekanan auranya. Cahaya keemasan dari sepasang gading melengkungnya perlahan meredup.

​Mammoth Purba itu menundukkan kepalanya, menyadari betapa besarnya beban tarikan jiwa yang harus dipikul oleh Hugo—tuannya yang kini telah terkulai lemas di atas pasir, bertumpu pada kedua tangannya dengan napas yang memburu sengal.

​Sementara itu... Morthas melayang kaku di udara.

​Keangkuhan absolut Sang Penuai Nyawa sempat terguncang hebat. Bilah sabit merah menyala di tangan tulangnya bergetar ragu sejenak.

​Manik mata tak kasat matanya melirik ke bawah, menatap sosok Kael yang menggigil hebat di bawah hempasan hawa dingin Void.

​Tubuh pemuda itu bergetar menahan penderitaan jiwa yang tak terbayangkan, namun sepasang matanya yang sedalam lautan tetap menatap Morthas lurus tanpa sedikit pun setitik getar ketakutan.

​Jika aku benar-benar tidak peduli pada bocah ini... mengapa aku masih bertahan di sini? batin Sang Penuai bergejolak.

​"Hmm... Para orang tua, akhirnya kalian muncul juga," desis Morthas rendah, tawa sinisnya bergaung tipis menembus asap hitam.

​"Aku tidak peduli dengan ocehan kalian!"

​Perlahan tapi pasti, wujud raksasa setinggi empat meter itu mulai memudar kembali menjadi partikel Void yang melayang.

​Namun, tepat sebelum bayangannya lenyap sepenuhnya ke dalam wadah jiwa Kael, sebuah bisikan dingin Morthas menyapu pendengaran ketiga pendiri,

​"Kalian tahu sejarah yang sebenarnya... dan keagungan Anima Anomali itu sendiri..."

​Wush!

​Aura kematian yang tadinya siap meremukkan markas guild mereda total.

​Kesadaran pahit meresap ke dalam esensi kedua Anima purba itu: tanpa wadah manusia ini, keberadaan fisik mereka di dunia nyata sama sekali tidak ada artinya.

​Badai spiritual di atas arena latihan pun padam seketika.

​Di tepi lapangan, Kapten Gareth berdiri terpaku dengan wajah yang membeku.

​Sebagai seorang prajurit Emas berpengalaman, ia baru saja menyaksikan fenomena legendaris yang belum pernah dilihat oleh siapa pun seumur hidup: lima Anima kelas puncak berdiri di satu titik lokasi yang sama!

​Lebih mengerikan lagi, aura kematian murni yang dipancarkan oleh Morthas sebelum memudar tadi masih sanggup mengimbangi gempuran gabungan dari Anima para leluhur.

​Grand Master Alden dan kedua pendiri legendaris itu menarik kembali pendaran Anima mereka ke dalam dimensi jiwa.

​"Hampir saja..." gumam sang wanita tua pelindung Naga Petir, menyeka napas spiritualnya.

​"Untung kedua entitas itu masih memiliki kesadaran," tambah sang pria tua tegap pelindung Raja Angin.

​"Jika tidak, kedua anak ini bisa tewas secara konyol. Jiwa mereka bahkan belum sanggup menahan sepuluh persen dari kapasitas kekuatan penuh Anima mereka."

​Merespons meredanya tekanan udara, Kael dan Hugo yang berlutut di tanah memaksakan raga mereka yang lelah untuk berdiri.

​Kael menata napasnya yang terengah-engah, memiringkan tubuhnya, lalu membungkuk penuh hormat ke arah dua leluhur yang baru pertama kali ia lihat secara langsung.

​"Terima kasih... atas pertolongan Para Senior," ucap Kael dengan suara serak namun tegas.

​Hugo di sampingnya ikut membungkukkan tubuh tambunnya dalam-dalam, napasnya masih menyisakan rasa lega yang amat sangat.

​Grand Master Alden melangkah mendekat, memandang Kael dan Hugo secara bergantian dengan tatapan tegas.

​"Kael, Hugo... dengarkan aku baik-baik," ujar Alden, mengarahkan tongkat kayunya ke dada mereka.

​"Apa yang baru saja terjadi di lapangan ini... adalah murni kehendak liar dari Morgrath dan Morthas sendiri."

​Wanita tua di samping Alden menyambung dengan nada mendidik yang lembut,

​"Kalian berdua harus paham. Wadah jiwa kalian saat ini belum siap untuk menampung manifestasi wujud fisik utuh mereka."

​"Yang seharusnya kalian lakukan di tingkat Ranah Jiwa kalian sekarang hanyalah meminjam atau memanifestasikan sebagian kecil dari daya tempur atau elemen mereka," jelas wanita tua itu.

​"Yang kalian lihat bertarung tadi adalah Perwujudan Asli mereka secara penuh," tegas pria tegap pendiri ketiga.

​"Itu alasan mengapa jiwa kalian nyaris hancur terkuras habis. Tanpa kendali kesadaran yang matang, membiarkan wujud asli mereka keluar sama saja dengan melakukan tindakan bunuh diri."

​Kael, Hugo, dan Kapten Gareth yang ikut menyusul mendekat mengangguk paham.

​Pengalaman nyaris tewas akibat terkurasnya jiwa baru saja memberikan pelajaran yang teramat mahal bagi Kael dan Hugo tentang batas kendali kekuatan Anomali.

​Namun, ketenangan sejenak itu tidak berlangsung lama.

​Prak! Prak! Prak!

​Dari arah menara pengawas gerbang luar, derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan.

​Seorang prajurit penjaga formasi berlari dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi membawa gulungan surat sihir bernoda darah. Ia melompati anak tangga arena dan langsung berlutut di hadapan Grand Master Alden.

​"Kabar buruk, Master! Kabar buruk!" teriak prajurit penjaga itu dengan suara panik yang menggetarkan arena.

​"Tenangkan dirimu! Ada apa?!" tegas Kapten Gareth, mengambil satu langkah ke depan.

​Prajurit itu mendongak dengan mata terbelalak panik.

​"Labirin kuno di Kerajaan Ash-Volcania... segel pertahanannya telah pecah total lebih cepat dari perkiraan!" seru prajurit itu.

​"Ribuan Beast kelas tinggi telah keluar dari dalam tanah dan membantai pasukan militer kerajaan di perbatasan!"

​Prajurit itu menjeda kalimatnya untuk memburu udara, sebelum akhirnya memberikan pukulan telak yang membuat dada Kael dan Alden bergejolak hebat,

​"Pasukan bantuan kita—Elena, Ren, dan Suna... saat ini masih berada di jalur perbatasan menuju lokasi tersebut!"

​Prajurit itu melanjutkan dengan gemetar, "Misi yang mereka tuju telah berubah menjadi neraka pembantaian, dan kemungkinan besar... mereka tidak tahu bahwa bahaya maut sedang menanti mereka di depan!"

1
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi.id: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi.id: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Anonim
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Anonim
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi.id: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi.id: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi.id: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi.id: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi.id: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi.id: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi.id: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
WER
Thor apakah ada benih cinta di antara El dan kael pasti seru /CoolGuy/
Kausafiksi.id: Bisa kelihatan sih, sudah ada debar debar kaya nya si el
total 3 replies
WER
sabar El sabar orang sabar di sayang Tuhan 👍😆
Day Chuk: 🤣 galak amat ya cewe nya
total 2 replies
Muhammad Nur Septyawan
keren bang gua suka alur nya lumayan pas dan tidak basa basi👍
Kausafiksi.id: terimakasih bang, di bab 12 kesana baru baku hantam nya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!