NovelToon NovelToon
Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bad Boy / LGBTQ
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

BL/BxB. Don't Copy!!!!



Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Kehilangan Tawa

Pagi itu, matahari terbit dengan cara yang sama seperti biasanya di atas komplek Maheswara Residence. Cahaya keemasan menyapu halaman rumput yang masih basah oleh embun pagi. Namun, di dalam kediaman keluarga Mahendra, hangatnya sinar matahari tidak mampu menembus dinginnya keheningan yang mendadak pekat.

Rumah bergaya modern minimalis yang biasanya selalu dipenuhi oleh suara bising di pagi hari, kini terasa sunyi, seperti sebuah bangunan kosong yang kehilangan jiwanya. Tidak ada lagi gema tawa, tidak ada suara langkah kaki tergesa-gesa karena takut terlambat, dan tidak ada lagi suara menggerutu yang sangat familier.

Di dapur, Anindya berdiri di depan kompor dengan pandangan kosong. Tangannya bergerak secara mekanis, menyendokkan nasi goreng ke atas piring-piring porselen. Di atas meja makan kayu panjang itu, ia meletakkan piring pertama, kedua, ketiga, keempat... dan dengan gerakan refleks yang sudah terlatih selama belasan tahun, tangannya bergerak meletakkan piring kelima di ujung meja.

Anindya tiba-tiba membeku.

Ia menatap piring kelima itu dengan tangan yang mulai gemetar hebat. Di ujung meja itu, sebuah kursi kayu jati berdiri kosong. Biasanya, di kursi itulah Rayyan akan duduk dengan wajah mengantuk, menyingkirkan irisan bawang bombay dari nasi gorengnya sambil meledek Reina yang sedang sibuk mengikat rambut.

"Ma..." suara Reyhan terdengar serak dari arah belakang.

Cowok itu berjalan mendekat, lalu dengan lembut mengambil piring kelima dari atas meja dan meletakkannya kembali ke konter dapur. Ia memeluk bahu ibunya yang kini mulai berguncang pelan. Anindya menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah tanpa suara di dada putra sulungnya.

Steven Mahendra masuk ke ruang makan beberapa saat kemudian. Ia sudah mengenakan setelan jas kerjanya yang rapi, namun penampilannya tidak setegas biasanya. Dasinya agak miring, dan garis-garis kelelahan serta duka yang mendalam tercetak jelas di wajahnya yang mendadak tampak lebih tua sepuluh tahun. Ia duduk di kepala meja, mengabaikan makanan di depannya, dan hanya menatap kosong ke arah kursi Rayyan yang kosong.

"Ma, Kak Rayyan kok belum bangun?"

Suara polos Reina memecah keheningan yang menyiksa itu. Anak perempuan berusia delapan tahun itu berjalan mendekati meja makan sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Matanya yang bulat menatap bergantian ke arah ayah, ibu, dan kakaknya dengan bingung.

"Kak Rayyan pergi sekolahnya pagi-pagi banget ya? Kok gak pamit Reina? Biasanya kan Kakak selalu jambak rambut Reina dulu sebelum pergi," lanjut Reina, bibir kecilnya mengerucut pelan. "Kemarin temen Reina di sekolah bilang... Kak Rayyan tidur di tanah yang banyak bunganya. Emang Kak Rayyan gak dingin tidur di luar? Kenapa Kakak gak pulang-pulang?"

Mendengar pertanyaan polos adiknya, Reyhan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Dada cowok itu terasa sangat sesak oleh amarah dan kesedihan yang ia pendam sendiri demi menjadi tiang penguat bagi keluarganya. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum berlutut di depan Reina.

"Reina sayang..." Reyhan mengusap rambut adiknya dengan tangan yang sedikit bergetar. "Kak Rayyan... lagi pergi ke tempat yang sangat indah. Di sana gak dingin kok. Di sana banyak taman bunga yang bagus banget, jauh lebih bagus dari taman rumah kita. Kak Rayyan harus tinggal di sana sekarang."

"Kenapa Reina gak diajak? Reina kan mau ikut main sama Kak Rayyan," mata Reina mulai berkaca-kaca, mulai merasakan ada sesuatu yang salah meskipun logikanya belum mampu mencerna konsep kematian sepenuhnya.

Steven tidak tahan lagi. Ia berdiri dari kursinya, mendekap Reina erat ke dalam pelukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Air mata sang ayah menetes diam-diam di atas pundak kecil putrinya.

...****************...

Setelah sarapan yang menyiksa itu selesai, Steven berangkat ke kantornya. Namun, rutinitas pekerjaan yang biasanya ia kuasai dengan mudah kini terasa seperti beban yang teramat sangat berat.

Di ruang kerjanya yang megah di lantai tiga puluh gedung pencakar langit Jakarta, Steven hanya duduk bersandar pada kursi kerjanya, menatap kosong ke arah dokumen-dokumen penting yang berserakan di atas meja. Tangannya memegang sebuah bingkai foto kecil foto keluarga mereka saat berlibur ke Gunung Bromo tahun lalu. Di dalam foto itu, Rayyan merangkul bahu Reyhan sambil tertawa lebar di bawah sinar matahari pagi.

Steven mencoba mengetik sesuatu di laptopnya, namun jemarinya mendadak kaku. Fokusnya hilang sepenuhnya. Setiap kali ia memejamkan mata, suara klakson truk yang memekakkan telinga dan pemandangan jasad putra bungsunya yang bersimbah darah di ruang UGD kembali menghantam benaknya. Air mata seorang ayah yang biasanya tegap dan rasional itu akhirnya luruh, membasahi permukaan kaca bingkai foto di tangannya.

Sementara itu, di rumah, Anindya berjalan lambat menaiki tangga menuju lantai dua. Langkah kakinya terasa seberat timah. Pukul 6.30 pagi. Selama lima belas tahun terakhir, ini adalah waktu di mana ia akan berdiri di depan pintu kamar Rayyan, mengetuknya dengan keras sambil berteriak, "Ray, bangun! Nanti kamu telat!"

Anindya berhenti di depan pintu kayu berwarna cokelat muda itu. Tangannya terangkat, mengambang di udara, refleks ingin mengetuk. Namun, keheningan dari dalam kamar menyadarkannya kembali pada kenyataan yang kejam.

Dengan tangan gemetar, Anindya memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan.

Kamar itu sangat rapi. Sprei tempat tidur berwarna biru dongker terpasang tanpa ada lipatan sedikit pun. Di atas meja belajar, buku-buku sekolah Rayyan tertata rapi sesuai jadwal hari ini. Dan di sudut ruangan, tergantung di dekat cermin besar, sebuah seragam SMA Mahardika berwarna putih abu-abu tampak tergantung bersih. Seragam baru yang baru sempat dipakai satu hari itu kini menggantung kaku, seolah-olah ikut menanti kepulangan pemiliknya yang tidak akan pernah kembali lagi.

Anindya berjalan mendekati gantungan baju itu. Ia memeluk seragam putih abu-abu tersebut erat-erat ke dadanya, menghirup aroma sabun mandi dan parfum maskulin lembut khas Rayyan yang masih tertinggal samar di serat kainnya. Ibu itu jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin, menangis tersedu-sedu meratapi takdir yang merenggut putranya terlalu cepat.

Kesedihan itu tidak hanya milik mereka yang muda.

Nenek Ratna, ibu dari Anindya yang sudah berusia lanjut, memilih untuk tidak banyak bicara sejak hari pemakaman. Ia mencoba terlihat tegar di depan anak dan menantunya. Namun, setiap kali malam tiba dan seluruh rumah sudah tenggelam dalam kegelapan, Ratna akan berjalan perlahan dengan langkahnya yang pincang, menyelinap masuk ke dalam kamar cucu kesayangannya.

Ratna duduk di tepi tempat tidur Rayyan yang kosong. Dengan tangan yang keriput dan gemetar, ia mengambil bantal yang biasa digunakan Rayyan untuk tidur. Ia mendekapkan bantal itu ke wajahnya, menciuminya dalam-dalam demi merasakan sisa-sisa keberadaan sang cucu yang dulu selalu memijat kakinya setiap kali ia mengeluh pegal.

"Cucu ganteng Nenek... tidur yang nyenyak ya di sana..." bisik Ratna lirih di tengah kegelapan malam, air matanya membasahi permukaan sarung bantal biru itu.

...****************...

Di SMA Mahardika, suasana duka masih terasa sangat kental.

Saat bel masuk berbunyi, kelas X-1 tidak langsung memulai pelajaran sejarah. Pak Arip, guru wali kelas mereka yang biasanya selalu masuk dengan senyum lebar dan candaan jenaka, hari itu melangkah masuk dengan wajah yang sangat muram. Ia meletakkan buku absennya di meja guru, lalu menatap seluruh muridnya yang duduk diam dengan mata yang sembab.

"Anak-anak..." suara Pak Arip terdengar serak. "Sebelum kita memulai kegiatan hari ini, mari kita tundukkan kepala sejenak. Kita kirimkan doa terbaik kita untuk teman kita, Rayyan Steven Mahendra, yang telah berpulang mendahului kita kemarin sore. Semoga keluarganya diberikan kekuatan dan ketabahan."

Seluruh siswa kelas X-1 menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Keheningan yang khusyuk menyelimuti ruangan kelas. Zidan memejamkan matanya rapat-rapat, namun air matanya tetap lolos melewati pipinya. Di sebelahnya, bangku Rayyan dibiarkan kosong. Tas ransel abu-abu milik Rayyan yang tersisa di loker sekolah diletakkan di atas kursi itu, bersama dengan setangkai bunga mawar putih yang ditaruh oleh anak-anak kelas sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Tidak ada satu pun siswa, bahkan guru sekalipun, yang tega memindahkan bangku kosong itu atau mengisinya dengan barang lain. Bangku itu seolah menjadi monumen bisu dari sebuah eksistensi yang terlalu cepat padam.

...****************...

Di sisi lain komplek perumahan, kontras dengan rumah keluarga Mahendra yang dipenuhi oleh tangis duka, kediaman megah keluarga Sanjaya justru diselimuti oleh kesunyian yang mencekam.

Di dalam kamarnya yang luas di lantai dua, Revan mengurung diri.

Kamar itu sangat gelap karena tirai beludru hitam tebal ditutup rapat, menghalangi setiap jengkal sinar matahari sore yang mencoba masuk. Revan berbaring telentang di atas tempat tidur king size miliknya, masih mengenakan pakaian hitam yang ia pakai saat pemakaman kemarin. Ia tidak mandi, tidak makan, dan tidak memedulikan dunia luar.

Di atas nakas di sebelah tempat tidurnya, ponsel pintarnya terus bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dari Kevin, Axel, dan Darren.

Kevin calling (24)...

Axel calling (15)...

Revan melirik layar ponsel itu dengan mata yang kosong dan redup. Ia tidak memiliki energi sedikit pun untuk sekadar menggeser layar dan mengangkat telepon sahabatnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai preman sekolah, Revan tidak datang ke sekolah bukan karena berniat bolos untuk nongkrong di warkop atau mencari musuh untuk dihajar.

Ia tidak datang sekolah karena ia telah kehilangan seluruh semangat hidupnya.

Revan menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Pikirannya kosong, namun dadanya terasa sangat sakit, seolah-olah ada sebuah tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya tanpa ampun. Selama ini, seluruh energi kemarahan, arogansi, dan rasa posesif yang ia miliki selalu berpusat pada satu nama: Rayyan.

Setiap kali ia bangun pagi, pikirannya selalu dipenuhi taktik tentang bagaimana cara membuat Rayyan kesal hari ini. Setiap kali ia mengepalkan tangan, tujuannya adalah untuk memprovokasi atau menarik perhatian cowok ramping itu. Rayyan adalah poros dari dunianya yang berantakan sebuah jangkar emosi yang menahannya agar tidak sepenuhnya hancur di tengah dinginnya keluarga Sanjaya.

Namun kini... jangkar itu sudah patah.

Rayyan sudah pergi. Selamanya.

Revan perlahan mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya di tengah kegelapan kamar. Jemarinya bergetar samar. Ia mengingat bagaimana rasanya kemarin saat ia menahan tubuh Rayyan di aspal lapangan basket merasakan detak jantung cowok itu yang berdegup kencang, menghirup aroma tubuhnya yang familier.

Kini, tidak ada lagi yang bisa ia benci. Tidak ada lagi yang bisa ia provokasi. Kekosongan yang ditinggalkan Rayyan di dalam dirinya terasa begitu luas, begitu dingin, hingga membuat Revan merasa seolah-olah ia sendiri juga ikut mati di persimpangan jalan sore itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!