Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Kesepakatan
Setelah hampir empat jam berada di bawah pengawasan ketat Helena Vareksa, Zevanna akhirnya bisa bernapas lega begitu sang mertua berpamitan menjelang sore. Sebelum melangkah keluar dari pintu utama benteng Dharmawangsa, Helena sempat berbalik, menatap Zevanna dengan pandangan menilai yang kini jauh lebih lunak dibanding saat ia baru datang.
"Latihan hari ini cukup sampai di sini ya, Nana. Pastikan kamu mengingat setiap koreksi yang Mama berikan," ucap Helena formal sambil merapikan sarung tangan brokatnya. "Besok lusa Mama bakal kembali buat mengujimu dalam tata cara jamuan makan malam formal. Jangan bikin Mama kecewa."
"Baik, Mama. Terima kasih banyak atas bimbingannya hari ini," jawab Zevanna, membungkuk hormat dengan postur tubuh yang kini jauh lebih tegak dan anggun—hasil dari 'siksaan' latihan berjalan berjam-jam tadi.
Helena mendengus pelan, seulas senyum tipis yang sarat kepuasan terukir di bibirnya sebelum ia masuk ke dalam mobil limosinnya.
Begitu mobil Helena hilang di balik gerbang besi hitam yang tinggi, Zevanna langsung menyandarkan punggungnya ke pilar lobi sambil mengembuskan napas panjang. Seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal, terutama otot kakinya yang dipaksa berjalan dengan ritme yang nggak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Nyonya Zevanna, Anda baik-baik saja?" tanya Pak Haris dengan nada cemas sambil membawakan segelas air lemon hangat.
"Aku baik-baik saja kok, Pak Haris. Cuma... agak kaget aja sama metode Mama," ujar Zevanna sambil menerima gelas tersebut dan meminumnya sampai habis.
"Nyonya Besar Helena memang sangat tegas, tapi beliau itu orang yang paling setia sama keluarga ini. Kalau beliau sampai repot-repot melatih Anda secara pribadi, itu artinya beliau sudah menerima Anda sebagai bagian dari keluarga Vareksa, Nyonya," jelas Pak Haris dengan senyum hangat.
Zevanna tertegun mendengarnya. Kata-kata Pak Haris perlahan meresap ke dalam hatinya, menumbuhkan rasa hangat yang asing tapi menenangkan. Buat pertama kalinya dalam hidup setelah keluar dari panti asuhan, ada orang dari keluarga elit yang nggak memandangnya sebagai sampah yang harus disingkirkan, melainkan sebagai aset berharga yang harus dilindungi dan diasah.
"Tapi aku masih nggak yakin sama anak bungsunya," gumam Zevanna pelan, walau ternyata masih bisa didengar sama kepala pelayan itu. Pak Haris malah tersenyum manis.
"Pelan-pelan, Nyonya. Tuan Muda sebenarnya bisa diandalkan kok," tambah pria tua itu.
...
Malam kembali merayap, membawa rintik hujan yang membasahi kawasan Dharmawangsa. Zevanna yang sudah memakai minyak esensial herbal pemberian Helena seusai mandi, kini merasa tubuhnya jauh lebih rileks. Ia duduk di ruang tengah sambil meneliti kembali draf laporan keuangan Valerius yang ditinggalkan Areksa pagi tadi.
Tepat jam sepuluh malam, suara deru mesin mobil di halaman depan menandakan kepulangan sang pemilik rumah. Jantung Zevanna mendadak berdegup kencang. Bayangan pergulatan panas dan ciuman paksaan semalam seketika berputar di kepalanya, bikin wajahnya mendadak memanas lagi. Walaupun belum sampai masuk ke tahap inti, tetap saja dia malu karena sudah lama nggak melakukannya sama Areksa.
Areksa melangkah masuk ke dalam rumah. Penampilannya malam ini kelihatan lumayan kontras dibanding malam sebelumnya; nggak ada raut kemarahan meledak-ledak atau tatapan cemburu yang membakar. Pria itu cuma kelihatan capek, dengan jas tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan. Tapi, begitu matanya menangkap sosok Zevanna yang lagi duduk di sofa memakai baju tidur krem tertutup, tatapan kelamnya langsung mengunci sang istri.
Kedua tangan cantik istrinya kelihatan lagi memijat kakinya sendiri, pria itu bisa menebak ini pasti gara-gara ulah ibunya.
Areksa menyerahkan jasnya ke pelayan, lalu melangkah menuju ruang tengah dan berhenti tepat di hadapan Zevanna.
"Gimana harimu sama Mama?" tanya Areksa dengan suara berat dan serak karena kelelahan. Pria itu mendudukkan dirinya di lengan sofa tempat Zevanna duduk, memangkas jarak di antara mereka sampai Zevanna bisa mencium aroma maskulinnya yang khas bercampur wangi khas ruangan rumah sakit.
Rumah sakit? Kenapa pria ini habis dari sana?
Zevanna mendongak, menatap suaminya dengan berani. "Mama tegas banget. Beliau membedah habis seluruh tata kramaku dan memeriksa fisikku dari ujung kepala sampai ujung kaki." Zevanna sengaja menurunkan sedikit kerah sweternya, memamerkan bercak kemerahan yang kini sudah tersamar rapi oleh krim penyamar noda. "Beliau bahkan lihat ini, Areksa. Dan beliau tahu sifat nggak sabaranmu itu turunan dari Papa."
Areksa menatap tanda itu, lalu sebuah seringai tipis yang sangat langka muncul di wajah kakunya. Sifat mesum dan posesifnya yang tersembunyi di balik topeng es kembali muncul. Ia mengulurkan tangan, jemari kasarnya mengusap leher Zevanna tepat di atas tanda tersebut, bikin Zevanna refleks bergidik halus.
"Mama tahu apa yang sudah jadi milik putranya nggak bakal pernah dilepaskan," bisik Areksa rendah, membungkukkan tubuhnya sampai wajah mereka cuma berjarak beberapa senti. "Dan melihat kamu masih bisa duduk tegak di sini habis menghadapi Mama... membuktikan kalau pilihan Kakek nggak salah. Kamu cukup tangguh buat menyandang nama belakangku."
Zevanna mencoba mempertahankan ketenangannya, meskipun sentuhan jari Areksa di leher mulai mengacaukan konsentrasinya. Bahkan pria itu mendadak sengaja menggigit lehernya lagi!
"AREKSA!"
Areksa malah terkekeh ringan lalu berdiri tegap sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap geli istrinya yang kelihatan emosi.
"Kakek masuk rumah sakit."
Sontak Zevanna berdiri dari duduknya dengan mata melotot. "Kakek masuk rumah sakit?" gumam Zevanna kaget. "Kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari aku? Bisa-bisanya kamu bertindak kelewat batas gini? Aku juga berhak tahu!" Ada kilatan marah dan kecewa yang memancar di kedua mata Zevanna.
Areksa malah tertawa melihatnya dan tersenyum meremehkan. "Nggak usah pura-pura di depanku. Aku tahu kok apa yang lagi kamu mainkan selama ini di rumah Valerius. Kamu..." Areksa mendekat tanpa menghentikan senyum sinisnya. "Pura-pura sayang sama pria tua itu, padahal kamu cuma mau tahu siapa sebenarnya yang membunuh ibumu, kan?"
Mata Zevanna membelalak, tubuhnya mendadak membeku kaku di tempat. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Areksa menghantamnya kayak petir di siang bolong. Semua pertahanan yang selama ini ia bangun rapi di rumah keluarga Valerius seolah runtuh gitu aja dalam hitungan detik.
Gimana bisa pria ini tahu semuanya?
Bayangan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Masa saat ia masih berumur enam tahun, waktu melihat ibunya terbaring dingin dan meninggal secara misterius di rumah kontrakan kumuh mereka. Ayahnya juga mendadak meninggal tepat setelah tahu ibunya lagi mengandung dirinya.
Masa-masa sebatang kara yang harus ia lalui di panti asuhan, sampai akhirnya beberapa tahun lalu pria tua yang merupakan kakeknya sendiri berlutut dan bersujud di depannya. Pria tua yang dipenuhi rasa penyesalan itu memohon maaf dan memintanya pulang ke kediaman Valerius.
Waktu itu, Zevanna memasang topeng anak cucu yang penurut dan pemaaf. Tapi di balik senyum tipisnya, hatinya dingin banget. Ia kembali bukan karena kasihan, melainkan buat membongkar dalang di balik kematian ibunya. Ia mencurigai semua orang di rumah itu, termasuk sang kakek.
Tapi sekarang, rahasia terbesarnya malah ditelanjangi gitu aja sama suaminya sendiri.
Areksa kembali terkekeh pelan. Tawa sinis itu bergaung di ruangan, seolah puas banget melihat raut wajah istrinya yang shock berat. Tawa itu seakan mempertegas kalau tebakannya 100% tepat sasaran.
Zevanna mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia menatap Areksa tajam, mencoba memasang nada menantang walau suaranya nggak bisa bohong.
"Kamu... mau apa?" tanya Zevanna gugup, berusaha tetap berdiri tegak.
Areksa menggeleng pelan, melangkah satu tapak lebih dekat sampai jarak di antara mereka terkikis habis. Senyum miringnya belum juga pudar.
"Serahkan semuanya ke aku," bisik Areksa tenang, tapi sarat akan niat yang terencana. "Aku yang bakal membongkar rahasia kematian ibu mertua sampai tuntas. Tapi... kamu harus bayar pakai sesuatu."
Jantung Zevanna berdegup kencang nggak beraturan. Perasaan waswas mendadak membuncah di dadanya.
"A-apa?" tanya Zevanna panik, refleks mundur setengah langkah.
Areksa menatap dalam ke netra istrinya, sebelum akhirnya mengutarakan syarat gila yang nggak pernah Zevanna bayangkan sebelumnya.
"Aku mau punya anak sama kamu," ujar Areksa dingin tanpa ragu sedikit pun. "Aku butuh seorang pewaris... cuma buat membungkam kakekku."