"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Debar Pagi di Pelita Bangsa.
***
Deru mesin motor milik Rendy akhirnya melambat tepat ketika ban motornya melewati pembatas aspal gerbang utama SMA Pelita Bangsa.
Rendy membanting setir dengan lincah, memarkirkan motor sport-nya di deretan paling depan area parkir khusus siswa. Tepat setelah mesin motor mati, suasana disekitar area parkir dan lobi sekolah yang awalnya bising oleh obrolan pagi mendadak berangsur senyap sejenak.
Puluhan pasang mata murid-murid yang sedang berkumpul dikoridor luar langsung tertuju kearah mereka. Kedatangan Freya yang turun dari boncengan motor Rendy sembari melepas helm hitamnya memicu kasak-kusuk instan diantara para siswa.
"Wah, lihat itu... Freya berangkat bareng Rendy lagi?". Bisik salah satu siswi di dekat mading.
"Iya, kemarin kan juga diantar pulang. Jangan-jangan mereka berdua beneran sudah jadian, ya? Gila, cocok banget sih kalau dipikir-pikir!". Sahut teman disebelahnya dengan mata berbinar.
Freya hanya bisa menundukkan kepala sedikit. Wajahnya kembali bersemu merah karena menyadari diri mereka kini menjadi pusat perhatian satu sekolah.
Desas-desus yang mengira dirinya dan Rendy berpacaran terdengar samar-samar sampai ke telinganya, membuat debaran jantungnya kembali berpacu cepat.
"Helmnya biar aku saja yang taruh, Frey," Ucap Rendy santai, mengambil alih helm dari tangan Freya lalu menggantungnya di jok belakang. Rendy menatap Freya dengan senyuman hangat
"Freya! Rendy!"
Sebuah seruan nyaring memecah kecanggungan di antara mereka. Sella, sahabat karib Freya, tampak berlari kecil dari arah koridor kelas dengan wajah yang dipenuhi senyum jahil. Sella langsung merangkul pundak Freya dari samping, matanya melirik bergantian kearah Freya dan Rendy dengan pandangan penuh arti.
"Aduh.., pagi-pagi pemandangan sekolah sudah manis banget, ya!". Goda Sella dengan nada menyindir yang jenaka, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh murid lain. "Kalian ini niat membuat seisi sekolah iri atau gimana, sih? Berangkat boncengan mesra udah kayak orang pacaran aja!"
"Ih, Sella! Apa sih, jangan sembarangan bicara!". Protes Freya dengan wajah cemberut yang menggemaskan, tangannya bergerak mencubit pelan lengan sahabatnya itu. "Rendy cuma kebetulan menjemputku karena tadi Kak Galen buru-buru berangkat ke kantor!".
"Kebetulan atau emang sengaja direncanakan nih, Ren?". Pancing Sella lagi, menaikkan sebelah alisnya kearah Rendy. "Tapi serius deh, semua orang di koridor tadi pada ngomongin kalian. Katanya kalian berdua itu cocok banget, yang satu cantik yang satu tampan. Buruan jadian deh, biar gue bisa minta traktiran pajak jadian!".
Mendengar godaan brutal dari Sella, Freya semakin menyembunyikan wajah meronanya di balik tas ransel sekolahnya.
Sementara itu, Rendy yang berdiri disamping motornya hanya tersenyum tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan sikap cool. Tatapan matanya yang intens melirik kearah Freya, seolah-olah ia sama sekali tidak keberatan dengan candaan sahabat Freya tersebut.
"Kalau Freya-nya mau, aku sih siap-siap saja traktir Lo makan bakso di kantin satu bulan penuh, Sell”. Sahut Rendy jahil, melayangkan kedipan mata yang sukses membuat Freya melotot kecil menahan gemas.
"Tuh kan, Frey! Rendy-nya udah ngasih lampu hijau, nunggu apa lagi coba!". Tawa Sella kian membuncah, memecah ketegangan sisa pagi itu dengan kehangatan dunia remaja yang penuh warna.
Kringgggggggggg!
Beruntung bagi Freya, suara lengkingan bel sekolah berbunyi nyaring beberapa menit kemudian, memotong aksi interogasi dan godaan dari Sella.
Gerbang besi hitam sekolah perlahan mulai digeser menutup oleh satpam. Mereka bertiga berjalan beriringan dengan langkah terburu-buru memasuki area lobi gedung sekolah, beruntung langkah kaki mereka tidak terlambat semenit pun dari jam masuk.
Langkah kaki Freya, Rendy, dan Sella bergegas menyusuri koridor lantai dua gedung SMA Pelita Bangsa. Suasana lorong yang tadinya bising perlahan mulai sunyi karena para siswa sudah masuk ke dalam ruang kelas masing-masing. Begitu mereka bertiga melangkah melewati pintu kelas XII IPA 1, ketegangan mendadak terasa menyengat di udara.
Pagi ini, pelajaran pertama adalah Matematika Wajib. Dan semua murid di sekolah itu tahu betul siapa yang memegang kendali atas ruang kelas ini: Pak Bambang.
Beliau adalah guru senior yang terkenal sangat galak dan memiliki tatapan mata yang sanggup membuat nyali siswa paling nakal sekalipun langsung menciut.
Pak Bambang sudah duduk di balik meja guru, mengenakan kemeja batik yang rapi. Di tangannya, sebuah penggaris kayu panjang berukuran satu meter bersandar di dinding papan tulis, seolah siap menjadi saksi bisu dari ketegasan metodenya mengajar.
"Tepat waktu. Silakan duduk”. Ucap Pak Bambang dengan suara baritonnya yang berat dan serak, matanya melirik tajam dari balik kacamata minusnya ke arah Freya, Rendy, dan Sella yang baru saja menaruh tas.
Mereka bertiga segera menduduki kursi masing-masing tanpa berani bersuara sekecil apa pun. Rendy duduk di barisan depan meja Freya, perlahan memutar tubuhnya menghadap kedepan papan tulis, sementara Sella menghembuskan napas lega disamping Freya karena mereka tidak terlambat semenit pun.
Pak Bambang membuka buku jurnal kelas, lalu memulai ritual pagi yang paling menegangkan bagi seluruh siswa: mengabsen satu per satu.
"Ahmad Dikri?".
"Hadir, Pak”. Sahut seorang siswa di pojok kiri dengan suara cicitan yang pelan.
“Dewi Maharani?".
"Hadir, Pak."
Atmosfer kelas XII IPA 1 mendadak berubah menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara ketukan pulpen Pak Bambang di atas meja kayu. Ruangan itu begitu hening hingga suara embusan angin dari pendingin ruangan terdengar konstan.
Wajah garang Pak Bambang yang tidak pernah tersenyum membuat seisi kelas dilingkupi rasa takut yang pekat. Tidak ada yang berani berbisik, apalagi bermain ponsel di bawah meja. Semuanya duduk dengan punggung tegak, memandang lurus ke arah papan tulis.
"Freya Anindita?".
"Hadir, Pak". Sahut Freya lembut namun tegas.
Pak Bambang mengangguk singkat tanpa ekspresi, lalu melanjutkan absensi hingga nama terakhir selesai dipanggil. Setelah menutup jurnal dengan ketukan yang cukup keras, beliau berdiri, mengambil spidol, dan mulai menuliskan bab baru di papan tulis putih.
Bab: Aplikasi Turunan Fungsi Trigonometri dan Limit Tak Hingga.
Melihat judul bab tersebut, seisi kelas kompak menghela napas tertahan secara diam-diam. Materi itu terkenal rumit, panjang, dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi.
Pak Bambang mulai mengajar dengan tenang, menjelaskan dasar-dasar rumus turunan berantai dengan suara beratnya yang berwibawa. Meski cara mengajarnya sangat jelas dan runtut, wajahnya yang garang dan pembawaannya yang kaku tetap membuat para siswa mematung tegang, mencatat setiap huruf yang tertulis di papan tulis tanpa berani mengalihkan pandangan.
"Perhatikan baik-baik”. Ucap Pak Bambang, mengetukkan penggaris kayunya ke papan tulis, menimbulkan suara yang membuat beberapa siswa tersentak kaget. "Jika kalian salah menurunkan satu tanda minus saja di awal, maka seluruh hasil akhir kalian akan hancur berantakan. Mengerti?".
"Mengerti, Pak..." Sahut seisi kelas serempak dengan nada ketakutan.
"Sekarang, buka buku paket kalian halaman tiga puluh lima. Di sana ada bagian latihan soal tingkat lanjut". Perintah Pak Bambang dingin.
Beliau berbalik dan menuliskan sebuah persamaan trigonometri yang sangat panjang di papan tulis.
Soal tersebut diisi oleh kombinasi konstanta dan sudut yang rumit, membutuhkan konversi identitas trigonometri terlebih dahulu sebelum diturunkan. Seisi kelas seketika menundukkan kepalanya, berharap tidak menjadi korban yang ditunjuk untuk maju ke depan.
"Persamaan ini membutuhkan pemahaman rumus analitis yang matang”. Ucap Pak Bambang, matanya kembali memindai barisan meja. "Siapa yang bisa mengerjakan soal nomor enam ini didepan?".
Keheningan total melanda kelas. Tidak ada satupun siswa yang berani mengangkat tangan mereka. Sella di sebelah Freya bahkan pura-pura sibuk membolak-balik lembar bukunya dengan panik, berdoa di dalam hati agar namanya tidak disebut.
"Tidak ada yang berani?". Pak Bambang mendengus pelan, matanya akhirnya terkunci pada barisan meja nomor tiga. "Freya Anindita. Silakan maju ke depan dan kerjakan soal nomor tujuh ini."
Mendengar namanya dipanggil, Freya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Berbeda dengan teman-temannya yang ketakutan, Freya adalah gadis yang sangat pintar. Di bidang akademik, terutama Matematika dan Fisika, ia adalah bintang kelas yang selalu meraih nilai sempurna atau A+ di setiap semester. Kemampuannya berpikir logis dan matematis sangat luar biasa.
Freya berdiri dari kursinya dengan anggun. Seragam putih-abu-abunya yang rapi membungkus lekuk tubuhnya yang menawan saat ia melangkah maju kedepan kelas.
Di barisan depan, Rendy mendongak, menatap punggung Freya dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Rendy sama sekali tidak khawatir, karena ia tahu betul seberapa genius gadis yang ia jemput pagi tadi.
Freya menerima spidol yang diulurkan oleh Pak Bambang dengan senyuman sopan. "Permisi, Pak," ucapnya lembut.
Freya berdiri di depan papan tulis putih yang masif. Sepasang mata bulat indahnya memindai persamaan soal nomor enam tersebut selama beberapa detik, menganalisis jalur penyelesaian terbaik di dalam otaknya yang cerdas.
Tanpa membuang waktu, jemarinya yang lentik mulai menggerakkan spidol di atas papan, menciptakan ketukan-ketukan berirama yang tegas.
Seisi kelas menatap tulisan Freya dengan pandangan melotot takjub. Rumus yang digunakan Freya adalah metode analitis tingkat lanjut yang jarang dikuasai oleh siswa biasa.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh ruang kosong dipapan tulis bagian tengah telah dipenuhi oleh deretan rumus sulit yang ditulis Freya dengan sangat rapi dan sistematis.
Langkah demi langkah ia jabarkan secara sempurna tanpa ada satu pun kesalahan tanda positif atau negatif. Hingga akhirnya, ia menggarisbawahi hasil akhirnya dengan ketukan spidol yang mantap.
Maka, nilai maksimum dari fungsi tersebut adalah f(x) \= 5.
Freya meletakkan kembali spidol ke tempatnya, lalu berbalik menatap Pak Bambang dengan sopan.
"Sudah selesai, Pak," Ucap Freya lembut.
Pak Bambang melangkah mendekati papan tulis, memindai setiap baris pengerjaan rumus yang ditulis oleh Freya dari awal hingga akhir dengan kerutan mendalam di keningnya. Suasana kelas kembali menegang, menunggu penilaian dari sang guru paling galak.
Setelah memeriksa dengan saksama, raut wajah garang Pak Bambang perlahan mengendur. Beliau menurunkan kacamata minusnya sedikit, lalu menoleh ke arah Freya sembari memberikan anggukan kepala yang teramat jarang beliau lakukan kepada siswa.
"Luar biasa". Ucap Pak Bambang, suaranya yang berat bergaung didalam kelas, memecah ketegangan. "Langkah identitas analitis yang kamu gunakan sangat cerdas dan efisien, Freya. Kamu menghemat waktu pengerjaan hingga setengahnya dibandingkan metode turunan biasa. Jawabanmu sempurna, Bagus sekali."
Mendengar pujian langka dari mulut Pak Bambang, seisi kelas seketika menghembuskan napas lega bercampur kagum. Beberapa siswa bahkan berbisik-bisik memuji kejeniusan Freya.
"Silakan kembali ke kursimu," Tutur Pak Bambang dengan nada suara yang melembut.
"Terima kasih, Pak". Balas Freya dengan seulas senyum manisnya yang paling menawan, membuat kecantikan wajahnya kian bersinar nyata pagi itu.
Freya melangkah kembali menuju mejanya. Saat ia melewati meja barisan depan, langkahnya sempat melambat. Rendy yang duduk tegap disana menatap lurus ke arah wajah cantik Freya yang sedang tersenyum.
Di dalam lubuk hatinya, Rendy merasakan letupan rasa bangga terhadap gadis tersebut. Rendy tersenyum tipis, melayangkan sebuah acungan jempol kecil dibawah kolong meja yang hanya bisa dilihat oleh Freya, dibarengi dengan kedipan mata jahil yang seolah ingin memuji kehebatan sang bintang kelas.
Freya yang melihat reaksi Rendy hanya bisa menggigit bibir bawahnya pelan, menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang kembali membuncah sembari mendudukkan diri disebelah Sella.
Di pagi yang dipenuhi ketegangan rumus matematika tersebut, Freya merasakan kebahagiaan dan apresiasi yang tulus yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan didalam istana dingin milik keluarga Danendra.
***