Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 17
Di lorong luar, Alysia tidak lagi menangis dengan suara keras. Isakannya telah berhenti, digantikan oleh tatapan kosong yang jauh lebih menakutkan. Rasa sakit yang tajam tadi kini perlahan membeku menjadi mati rasa.
Dia berjalan menuju kamar tamu, namun dia tidak langsung masuk. Dia berhenti di depan cermin besar di lorong, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah yang selama enam tahun ini dia poles agar terlihat cantik dan menarik di depan Damian, mata yang selalu dia tatap dengan penuh harap, dan tangan yang selalu dia gunakan untuk membelai rambut Arkhasa.
Semuanya hanyalah bagian dari pekerjaan, batinnya pahit.
Alysia masuk ke kamar tamu, menutup pintu dan menangis sejadi-jadinya dengan menutup wajahnya dengan bantal agar tak ada seorangpun yang tahu kalau saat ini dia sedang han-cur.
Di balik pintu ruang kerja, Damian akhirnya bangkit berdiri. Diaa tahu da harus melakukan sesuatu. Dia berjalan gontai menuju kamar tamu, menyadari bahwa apa yang dia katakan kepada Arga bukan sekadar kejujuran, melainkan vonis mati bagi pernikahannya.
Malam ini, semua rahasia yang dia simpan selama enam tahun akhirnya di dengar oleh Alysia. Kenyataan jika dirinya menikahi dia hanya untuk di jadikan ya sebagai ibu bagi anaknya. Status yang terkesan berharga namun intinya dia tak lebih dari baby sitter Arkhasa.
"Alysia," panggil Damian, suaranya parau.
Damian berdiri mematung di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Keheningan di lorong itu terasa mencekik, kontras dengan gemuruh yang terjadi di dalam dadanya. Dia mengangkat tangan, berniat mengetuk, namun ragu menghentikan gerakannya di udara.
"Alysia, buka pintunya," ucapnya lagi, kali ini lebih tegas meski getaran di suaranya tak bisa disembunyikan.
"Kita harus bicara. Semua yang kamu dengar tadi... itu tidak sepenuhnya seperti itu. Aku bisa jelaskan."
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya kesunyian mutlak yang justru membuat Damian merasa semakin terpuruk.
"Aku tahu aku brengsek," lanjutnya, kepalanya bersandar pada daun pintu kayu yang dingin.
"Aku tahu apa yang aku katakan di sana terdengar kejam. Tapi Alysia, tolong... dengarkan aku. Jangan hanya diam seperti ini. Marah padaku, teriak, lempar sesuatu ke arahku, tapi jangan menutup diri seperti ini."
Di balik pintu, Alysia masih meringkuk di lantai, memeluk bantal erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Suara Damian yang memohon terdengar begitu asing. Selama enam tahun, Damian selalu menjadi sosok yang menjaga jarak, yang selalu memilih kata-kata dengan dingin dan terukur.
Mendengar pria itu merendah, memohon, dan tampak putus asa di balik pintu, tidak membuatnya merasa iba. Sebaliknya, hal itu justru membuatnya merasa semakin muak.
Semua pengorbanannya, kasih sayangnya yang tulus kepada Arkha, kesabarannya menghadapi sikap dingin Damian, dan upayanya menjadi istri yang sempurna. Semuanya kini terasa seperti lelucon yang sangat buruk.
Alysia berdiri dengan semua tenaga yang dia miliki kemudian membuka pintu kamar dan menatap Damian dengan wajah hancur dan air mata yang tak bisa dia hentikan. Damian merasa hatinya terasa nyeri melihat Alysia seperti itu. Aneh ini pertama kalinya dia merasakannya.
"Pergilah, Damian," suara Alysia akhirnya terdengar. Sangat pelan, serak, namun tanpa emosi.
"Aku sudah mendengar semuanya. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kamu sudah jujur dengan Arga, dan kejujuran itulah yang paling menyakitkanku."
Damian memejamkan mata erat-erat. Rasanya dia ingin sekali memeluk Alysia yang terlihat han-cur di depannya.
"Aku tidak bermaksud..."
"Berhenti," potong Alysia tajam.
"Jangan gunakan alasan Arkha lagi. Jangan gunakan alasan perusahaan. Aku bukan lagi gadis magang yang bisa kamu beli dengan fasilitas dan status. Aku manusia, Damian. Aku punya perasaan."
"Selama enam tahun aku bertanya-tanya, apa yang kurang dariku? Apa yang membuatmu tidak pernah menatapku seperti pria menatap istrinya? Ternyata jawabannya sederhana," isak Alysia tertahan, suaranya bergetar.
"Karena bagi kamu, aku hanya aset yang efisien. Sebuah solusi untuk membuat anakmu berhenti menangis."
Damian terdiam, kata-kata itu menghujamnya tepat di ulu hati.
"Itu dulu, Alysia. Dulu!"
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Bagaimana dengan Berlian? Dan ada berapa lagi wanita lainnya yang aku tak tahu, Damian?" tanya Alysia, suaranya kini terdengar bergetar hebat.
"Kamu bilang kamu terpaksa, kamu bilang itu ancaman. Tapi aku melihat sendiri, Damian. Kamu tertawa dengannya. Kamu menggenggam tangannya dengan cara yang bahkan tidak pernah kamu lakukan kepadaku. Jika kamu memang tidak punya perasaan, mengapa harus sedekat itu?"
Damian tidak bisa menjawab. Kebohongan yang ia susun rapi selama ini runtuh seketika. Ancaman ayahnya memang nyata, namun ia tidak bisa menyangkal bahwa ada bagian dari dirinya yang memang mencari pelarian. Pelarian yang salah, pelarian yang kini menghancurkan satu-satunya hal yang seharusnya paling ia jaga.
"Kamu... Alysia? Apa kamu?
"Ya aku melihat sendiri kamu bersama di wanita itu keluar dari dalam mobil sambil tersenyum bahagia dan meng-geng-gam erat tangannya. Bukan hanya aku tapi Arkhasa juga!"
Damian tak mengira jika Alysia sudah tahu. Apa ini alasan Alysia akhir-akhir ini berubah? Karena dia melihatnya saat bersama dengan Berlian dan mengatakan kepada Alysia ada dinas Ke Singapura.
"Dinas Singapura!" kekeh Alysia semakin .embuat Damian membeku.
"Aku akan pergi," kata Alysia pelan.
"Mulai besok, aku akan mengurus surat cerai. Aku tidak akan membawa apa-apa, kecuali jika kamu mengizinkan aku membawa Arkha. Tapi aku tahu, aku tahu kamu tidak akan pernah membiarkannya."
"Jangan bicara soal cerai!" bentak Damian, emosinya meledak karena ketakutan.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja! Kamu pikir setelah semua ini, aku akan membiarkanmu keluar dari rumah ini?"
"Apa yang akan kamu lakukan?" Alysia bertanya dengan suara dingin yang membuat Damian merinding.
"Mengurungku? Menjadikanku tahanan? Bukankah itu yang selama ini kamu lakukan? Hanya saja, pintunya tidak terkunci, tapi hatimu yang mengunci semuanya."
Damian terdiam. Menatap keadaan sang istri yang begitu hancur tapi bahkan dia tak punya keberanian untuk menariknya ke dalam pelukannya hanya sekedar menenangkan Alysia.
"Egois!"
BRAAAAAKKKK
Alysia menutup pintu dengan kencang dan menguncinya dari dalam.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,