Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...
Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.
"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"
Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Samping Kemarahan
Arka berjalan bolak-balik seperti setrikaan di teras rumahnya yang megah.
Tangan kanannya mencengkeram ponsel dengan erat.
Ia kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Rahangnya mengeras rapat.
Layar ponselnya lagi-lagi menampilkan status panggilan dialihkan.
Ratusan panggilannya sama sekali tidak dijawab oleh Lintang.
"BANGKE!" bentak Arka kasar entah pada siapa.
Ia menurunkan ponselnya dengan napas memburu pendek-pedek. Emosinya sudah berada di ubun-ubun.
"Awas aja kalau pulang! Gue kurung beneran di kamar gue. Gue bikin nggak bisa jalan lu!" geramnya dengan suara bariton yang rendah.
Arka benar-benar frustrasi karena Lintang tak kunjung pulang.
Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.15 WIB.
Dia sendiri sudah sampai di rumah sejak tadi setelah pulang sekolah.
Otaknya yang dipenuhi rasa cemburu sejak siang langsung menyala-nyala.
Dia sudah bersiap untuk memberi pelajaran pada gadis itu karena membuat rencana tanpa izin darinya.
Ia mengira Lintang sengaja kelayapan bersama Arjuna di ruang musik sebagai bentuk protes.
Namun, di sela-sela kemarahan tak jelasnya itu, pandangan mata Arka mendadak melirik ke arah garasi samping.
Di sana, mobil Baleno merah milik Lintang terparkir manis.
Mobil itu diam dan tak tersentuh sejak fajar.
Pandangan mata Arka terpaku pada moncong mobil merah itu selama tiga detik.
Detik berikutnya, sirkuit di otaknya mendadak mengalami korsleting brutal.
Memori jam enam pagi tadi berputar ulang tanpa permisi di kepalanya.
"Ah, anjir... gue lupa!" Arka langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras.
Plak!
Suara telapak tangannya terdengar nyaring di keheningan teras. Seluruh pasokan emosi iblis di dadanya mendadak menguap tanpa sisa.
"Dia kan tadi pagi berangkat bareng gue... Kenapa gue tinggal? Aduh, Arka gobl*k! Hah!" Arka mendadak geram pada dirinya sendiri.
Dia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia sore ini.
Kebiasaannya selama dua tahun pulang sekolah sendirian naik motor Ninja membuat fungsi otaknya otomatis kembali ke mode bujangan.
Ditambah lagi, pernikahan siri mereka rahasia.
Tadi siang saat bel pulang berbunyi, mereka tidak membuat janji harus bertemu di gerbang sebelah mana.
Dan dengan tolo*nya, Arka langsung tancap gas pulang sendirian.
"Terus dia dimana sekarang? Kenapa nggak jawab telepon gue?" Arka semakin mencak-mencak sendiri.
"Apa dia marah sama gue?" gumamnya lirih.
Rasa cemas mendadak mencekik lehernya.
"Waduuhh..." Arka mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan dengan frustrasi. "Gue harus nyari dimana?"
Arka merutuki otaknya yang mendadak lemot seperti ikan koi karena terlalu banyak pikiran belakangan ini.
"Gue harus balik ke sekolah," gumamnya tegas.
Dengan gerakan cepat, Arka kembali menyambar kunci Jaguar hitamnya di atas meja.
Ego kulkas sepuluh pintunya runtuh total.
Arka bersiap melompat ke balik kemudi, berniat mencari Lintang menyusuri sepanjang rute jalanan sekolah yang sepi demi menebus kebodohannya.
...----------------...
Selesai mandi, Lintang berjalan ke arah kasur.
Dia mencabut ponselnya dari charger, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur empuknya.
Lintang mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamarnya yang akrab.
"Haaahh... akhirnya bisa masuk kamar ini lagi," gumamnya lega.
Rasa aman yang sempat hilang di gang buntu tadi perlahan kembali karena dia tahu di bawah ada Papi dan Mami yang selalu siap melindunginya.
Lintang kemudian menyalakan data selulernya.
Ting! Ting! Ting!
"Buseeet..." gumam Lintang saat melihat notifikasi dari nomor Arka yang langsung muncul berturut-turut tanpa jeda.
Ia membuka pesan-pesan pertama dari suaminya itu.
Arka: LU KEMANA? PULANG!
Arka: PULANG ATAU GUE KUNCIIN DI LUAR!
Arka: Jangan berani-beraninya lu main belakang sama gue!
Lintang mendengus kesal melihat deretan teks penuh ancaman posesif tersebut.
"Kampret, lu yang ninggalin, malah nuduh gue yang aneh-aneh. Dasar cowok playing victim!" gerutu Lintang jengkel.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di genggamannya kembali bergetar heboh. Nama kontak "Arka" terpampang jelas di layar.
Lintang menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
Namun, belum sempat ponsel itu menempel sempurna di telinganya, suara bariton Arka yang terdengar frustrasi sudah meledak duluan dari seberang sana.
"LU DIMANA?!"
Lintang menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter karena pengang, lalu mendekatkannya lagi sambil menarik napas dalam-dalam.
"Di rumah Papi. Ngapa lu? Mau nuduh gue kabur?" sembur Lintang tanpa ampun.
"Heh kelontong butut, lu yang ninggalin gue! Udah gue tungguin di depan gerbang sampe hape gue mati, malah pulang duluan!"
Lintang beralih duduk di tepi kasur, meluapkan seluruh kekesalannya sepagi ini.
"Bukannya baca chat gue sebelumnya dulu, malah nuduh gue yang aneh-aneh. Udah ah, nggak usah susulin gue ke Sanggaria 1. Gue nggak mau pulang!" ketus Lintang berapi-api.
Hening.
Suara napas Arka yang memburu dan frustrasi di seberang telepon mendadak membeku total selama tiga detik.
Keberanian dan ego kulkas sepuluh pintu cowok silat itu runtuh seketika saat mendengar kalimat telak dari istrinya.
"Lu... di Sanggaria 1?" tanya Arka. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, bergetar, dan sarat akan rasa salah tingkah yang luar biasa besar.
Rasa bersalah atas kebodohan otaknya yang mirip ikan koi sore ini langsung menghantam ulu hati Arka sampai sesak.
"Gue... gue lupa kalau tadi pagi berangkat bareng lu," lirih Arka dari dalam mobil Jaguarnya.
"Dih, pake acara lupa! Lu pikir gue ini ojek online yang bisa lu cancel sepihak, hah?!" omel Lintang masih tidak mau mengendurkan urat lehernya.
"Udah ya, gue mau makan masakan Mami. Gak usah telepon-telepon lagi!"
Klik.
Lintang langsung memutus sambungan telepon itu secara sepihak dengan perasaan dongkol yang hakiki.
Ia melempar ponselnya ke atas kasur, merasa puas karena berhasil membuat sang kepala batu itu bungkam seribu bahasa.
Sementara di dalam mobil Jaguar hitamnya yang terparkir di pinggir jalan raya komplek, Arka perlahan menurunkan ponselnya dari telinga dengan pandangan kosong.
Kalimat Lintang barusan bener-bener telak menampar egonya hingga hancur berkeping-keping.
Rasa panik dan bersalahnya kini resmi melesat ke langit ketujuh.
Tanpa memedulikan pesan Papi Leno tadi untuk mendinginkan kepala terlebih dahulu, tangan kekar Arka langsung memutar setir, tancap gas membelah jalan menuju Komplek Sanggaria 1 demi mendapatkan kembali bidadari surga-nya malam ini juga.
...----------------...
Lintang melangkah keluar dari kamar dengan perasaan yang jauh lebih plong. Setelah sukses menyembur suaminya lewat telepon, rasa dongkol yang sejak sore menyumbat dadanya perlahan mulai menguap.
Ia berjalan santai menyusuri anak tangga, lalu melangkah lebar menuju ke arah dapur. Aroma manis susu beradu dengan cokelat pekat langsung menyengat indra penciumannya.
Di depan kompor, Lintang mendapati pemandangan yang membuat kedua sudut bibirnya refleks terangkat. Mami Ilna sedang sibuk memotong buah, sementara Papi Leno berdiri di belakangnya sambil sesekali memeluk pinggang istrinya itu dengan sebelah tangan.
"Widih... bucin vintage semakin menyala, nih!" komen Lintang lantang, memecah kemesraan dua orang paruh baya tersebut.
Keduanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mami Ilna langsung menjauhkan tubuhnya satu langkah dengan wajah yang agak merona karena tertangkap basah oleh sang anak.
"Apa sih kamu? Ganggu aja deh," ujar Ilna sewot yang sengaja dibuat-buat.
Lintang terkekeh geli, berjalan mendekat lalu bersandar di meja dapur. "Dih, Mami. Apa-apaan coba. Lenjeh banget kayak couple SD baru jadian," komen Lintang meledek.
Papi Leno hanya mendengus santai melihat tingkah anak gadisnya. Tangan kekarnya beralih mengaduk cairan cokelat kental di dalam panci kecil yang mulai mendidih.
"Sini turun, Papi bikin puding cokelat favorit bayinya Papi," ujar Leno lembut penuh kasih sayang.