NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:110.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 | Di Balik Dinding yang Mendengar

Hening menyelimuti koridor apartemen begitu lift membawa pergi Melisa dan para pengawal. Dante masih berdiri di sana, menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kepemilikan yang obsesif dan tantangan yang belum terselesaikan.

"Dia tunanganmu?" Elara bertanya, suaranya terdengar datar meski ada gemuruh di dadanya. Ada sesuatu yang menusuk saat ia mengucapkannya, rasa nyeri yang tidak ia mengerti sumbernya.

Dante melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Elara bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari setelan jasnya.

" Status hanyalah ikatan di atas kertas, Elara. Melisa hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak lebih."

"Apapun itu, aku tidak peduli," Elara memalingkan wajah, menolak tunduk pada gravitasi tatapan pria itu. "Tugasmu sudah selesai untuk hari ini. Pergi dari apartemenku."

Dante tidak beranjak. Ia justru menjulurkan tangannya, menyentuh pipi Elara dengan ibu jarinya, memaksa gadis itu menatapnya kembali.

"Aku baru saja membelamu di depan calon istriku, dan ini caramu berterima kasih?"

Elara menepis tangan Dante dengan kasar. "Aku tidak memintamu membela diriku. Aku tidak memintamu untuk masuk ke dalam hidupku. Kau adalah musuh, Dante. Dan musuh tidak seharusnya saling membela."

Dante hanya tersenyum tipis senyum yang membuat bulu kuduk Elara berdiri. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju lift pribadinya, meninggalkan Elara dalam kesunyian yang mencekam.

Sesampainya di dalam apartemen, Elara segera menyalakan ponselnya dan menghubungi Dave.

"Elara kau aman? Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Dave dengan nada yang sangat khawatir.

"Aku baik-baik saja untuk saat ini," jawab Elara, suaranya gemetar saat ia merebahkan diri di sofa. "Tapi dia benar-benar gila, Dave. Dia memaksaku bergabung dengan gengnya di depan anak buahnya."

"Ini berbahaya, Elara. Kita harus " Kalimat Dave terhenti saat Elara merasakan sesuatu yang tajam menusuk Punggungnya di sela-sela bantalan sofa.

Elara terdiam. Ia merogoh sela-sela sofa itu, dan jemarinya menyentuh sesuatu yang kecil, keras, dan dingin. Sebuah transmitter suara berukuran mikro, berkedip samar dengan lampu merah kecil yang hampir tidak terlihat.

Dunia Elara seakan-akan berhenti berputar.

Ia mengangkat benda itu ke depan matanya. Penyadap. Seseorang telah menyadap ruang tamunya, tempat di mana ia dan Dave sering merencanakan segala sesuatu.

"Elara ? Kenapa kau diam? Apa yang terjadi?" suara Dave di seberang telepon terdengar seperti jauh di bawah air.

Elara tidak menjawab. Ia menatap benda di tangannya dengan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Semua kata-katanya, semua rahasianya, bahkan perdebatan Pribadinya dengan Dave, mungkin sudah didengar oleh pria itu sejak awal.

Ia teringat kembali wajah Dante di koridor tadi wajah tenang yang menyimpan seribu rahasia. Pria itu tidak hanya mengawasi koridor; ia telah masuk ke dalam privasi terdalam Elara.

"Dave," suara Elara bergetar, nyaris seperti raungan yang ditahan. "Matikan ponselmu. Sekarang."

"Kenapa? Apa yang kau—"

"MATIKAN!" Elara membanting ponselnya ke lantai hingga baterainya terlepas.

Ia berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh dinding yang kini terasa seperti mata yang menatapnya. Ia merasa tertelanjangi. Dante Moretti bukan sekadar lawan; dia adalah manipulator ulung yang sedang memainkan saraf Elara seperti instrumen musik.

Elara berjalan menuju jendela balkon, menatap jendela apartemen Dante di seberang sana yang kini gelap. Ia membuka jendela lebar-lebar dan melemparkan penyadap itu ke arah kegelapan malam, jauh ke bawah hingga hancur berkeping-keping di aspal.

Namun, ia tahu itu belum cukup.

Jika Dante sudah memasang satu, pasti ada sepuluh lainnya di dalam apartemen ini. Elara mulai membalikkan setiap sudut ruangan, merobek dinding, memeriksa lampu gantung, dan di balik bingkai foto. Ia merasa seperti buronan di rumahnya sendiri.

Ia terduduk di lantai, napasnya memburu. Ia tidak bisa menelepon Dave, tidak bisa menghubungi markas, dan setiap langkahnya kini harus diperhitungkan. Dante sedang menontonnya mungkin bahkan saat ini sedang tersenyum di balik layar monitornya, menikmati kepanikan Elara.

Elara memeluk lututnya, menyadari satu kebenaran yang pahit Dante tidak sedang mencoba membunuhnya. Dante sedang mencoba memecah mentalnya, ingin membuat Elara merasa begitu putus asa sehingga satu-satunya tempat yang terasa "aman" baginya hanyalah di sisi sang monster.

Dan yang paling menakutkan? Elara mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, pertahanan dirinya mulai retak.

●●●●

Di sisi lain, di dalam sedan hitam yang meluncur membelah kegelapan kota, Dante Moretti melepas earphone* miliknya dengan gerakan kasar. Raungan Elara sesaat tadi yang terdistorsi oleh pengeras suara masih bergema di telinganya, meninggalkan dengungan nyeri yang tajam. Ia mengumpat rendah, memijat pelipisnya yang berdenyut.

" Kaelen ", yang duduk di balik kemudi, melirik bosnya melalui spion tengah. "Dia menghancurkannya, Bos?"

Dante tidak menjawab, ia hanya menatap layar tablet kecil di tangannya yang kini menunjukkan sinyal Offline dari apartemen Elara. "Dia tidak sebodoh yang kubayangkan,"gumam Dante dingin. "Dia menemukan bug itu kurang dari satu jam."

"Kenapa kita tidak langsung melenyapkannya saja?" tanya Kaelen dengan nada dingin. "Dia agen. Jika dia mulai melakukan penyisiran, seluruh jaringan kita di gedung itu bisa terungkap."

Dante menoleh ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti kunang-kunang di kejauhan.

" Menghabisinya sekarang adalah tindakan pengecut, Kaelen. Aku ingin melihat seberapa jauh dia berani bermain. Gadis itu dia memiliki api yang tidak bisa dipadamkan hanya dengan sebuah ancaman kematian."

Kaelen mendengus, tidak sepenuhnya setuju. "Itu bukan api, Bos. Itu bom waktu. Anda membiarkan bom waktu tinggal tepat di depan pintu Anda."

Dante terkekeh, namun tawanya tidak mencapai matanya yang gelap. "Bom waktu hanya berbahaya jika kau tidak tahu cara menjinakkan pemicunya."

"Anda terdengar seperti sedang jatuh cinta, Dante," celetuk Kaelen.

Dante berbalik tajam, menatap tangan kanannya itu dengan tatapan yang mampu membekukan darah. "Cinta adalah kelemahan, Kaelen. Dan aku tidak pernah membiarkan kelemahan menyentuhku. Dia bukan objek cintaku. Dia adalah proyeksi dari rasa bosanku yang mematikan."

Dante kembali menatap layar tablet yang hitam. Ia tahu Elara sedang membalikkan apartemennya, mencari alat penyadap lain, mungkin mengganti kunci, atau mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk membalas dendam.

"Biarkan dia mencari," bisik Dante pada dirinya sendiri. "Semakin dia berusaha mencari 'kebenaran' di dalam apartemen itu, semakin dia akan terjebak dalam delusi yang aku bangun untuknya."

Dante memejamkan mata, membiarkan bayangan wajah Elara yang merah karena amarah memenuhi benaknya. Ia tidak akan membunuhnya, tidak sekarang. Ia ingin Elara menjadi miliknya bukan melalui paksaan yang kasar, melainkan dengan cara menghancurkan setiap keyakinan Elara hingga gadis itu merasa bahwa satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar mengenalnya hanyalah dirinya sendiri.

"Kaelen," panggil Dante tanpa membuka mata.

"Ya, Bos?"

"Ganti semua sistem keamanan di lantai itu dengan versi enkripsi terbaru. Dan pasang mikrofon sensitivitas tinggi di balik dinding lorong. Jika dia ingin bermain kucing dan tikus, pastikan tikusnya tahu bahwa dia tidak punya tempat untuk bersembunyi."

Dante kembali menyandarkan kepalanya, senyum tipis yang penuh dengan perhitungan tersungging di bibirnya. Perburuan ini baru saja dimulai, dan Dante sudah tidak sabar melihat langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Elara.

●●●●

1
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
hmmm 😍😍😍
Anonim
next😍😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
makin gemes😍😍😍
Tiara
next😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍p0ki🤭
Tiara
lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!