Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
#1
Suasana mall cukup ramai siang itu, karena sedang ada festival tahun baru China, maka banyak pula even yang diselenggarakan untuk meramaikan festival yang rutin diadakan pemilik mall setiap tahun.
Sementara itu, dua orang pria berjalan lurus menerobos keramaian mall, tujuan mereka bukan ikut meramaikan festival, melainkan untuk menyambangi salah satu cabang butik perhiasan mewah yang memiliki stand di mall tersebut. Siapa mereka? Tentu saja si pemilik mall yang sedang meninjau pemilik baru stand perhiasan mewah yang ada di mall tersebut.
“Jam berapa acara pembukaannya?” tanya Bagaspati Samudera.
“Menurut jadwal yang tertera di kartu undangan, sih, lima menit dari sekarang, Tuan,” jawab Sandy sang asisten.
Langkah mereka terus berlanjut, namun, sesaat kemudian, perhatian bagas menangkap selintas bayangan yang sudah sangat akrab dalam memori ingatannya. “Adinda Ayuningtyas,” gumamnya tanpa sadar menyebut nama lengkap mantan istrinya.
“Heh? Maaf, Tuan. Saya tak dengar?” sahut Sandy memastikan pendengaran.
Pria bernama Bagaspati itu tak lagi mendengarkan ucapan asistennya, pandangannya menyapu ke sekitar keramaian, namun, nihil, ia kehilangan jejak.
“Tuan, apa yang Anda cari?” Sandy bertanya sekali lagi.
“Dinda, aku melihatnya barusan,” jawab Bagas, pandangan matanya belum juga menghentikan pencarian.
Sandy ikut celingukan, barangkali ia pun bisa menemukan sosok yang dicari atasannya. “Mungkin Anda salah lihat, Tuan,” kata Sandy ketika ia gagal menemukan orang yang mereka cari.
“Tak mungkin, San. Aku adalah orang yang paling hafal seperti apa Dinda!” Nada Suara Bagas mendadak naik, ia marah ketika Sandy mengatakan ia salah mengenali orang.
“Baiklah, maaf. Bagaimana kalau kita ke lokasi Nona Sharen dulu, Tuan. Karena acara pembukaan akan segera dimulai.”
Bagas pun pasrah setelah beberapa saat ia berkeliling di sekitar lokasi tempat ia melihat Adinda sekilas.
Langkah Bagas terlihat lesu, tak seperti langkahnya beberapa menit yang lalu. Jelas saja, karena kini isi kepalanya mulai kacau setelah melihat keberadaan mantan istrinya.
Pernah mengarungi bahtera bahagia bersama, bucin luar biasa satu sama lain, hingga tragedi itu datang tak terelakkan. Kehilangan.
Bagas hancur, Adinda frustasi, keduanya sama-sama putus asa. Sialnya ditengah semua prahara itu, ada pihak yang justru sengaja menambah suhu panas diantara mereka hingga perpisahan pun tak terelakkan lagi.
“Mas Bagas.”
Seorang wanita melambaikan tangan dengan riang, dialah Sharen, wanita yang kini sedang gencar mendekati Bagaspati Samudera.
Bagas tersenyum, namun suasana hatinya dingin dan sepi, seperti hari-hari awal selepas resmi bercerai dari Adinda.
Sandy menyerahkan buket bunga mawar yang dibeli Bagas saat mereka berkendara ke tempat ini. “Selamat untuk pembukaan butik ini.”
“Aaahh, manis sekali, terima kasih, Mas Bagas.” Tanpa malu, Sharen memeluk bahkan mengecup pipi kanan Bagas. Tapi pria itu menepis Sharen dengan lembut, apakah Sharen menyadarinya? Iya. Tapi rasa sukanya pada Bagas begitu besar, hingga wanita itu tak peduli meski sikap Bagas dingin padanya.
Tak jauh dari sana, seorang wanita melihat pemandangan itu dengan berbagai macam rasa berkecamuk di hatinya.
Masih cinta? Hmm, mungkin saja.
Apakah ia marah? Tentu sudah tak lagi berhak.
Karena secara hukum dan agama, mereka sudah resmi berpisah dua tahun silam.
Adinda memalingkan wajah dan tubuhnya, karena ponselnya berdering. Keberadaannya di tempat ini karena butiknya sedang berpartisipasi dalam event yang diselenggarakan di mall milik mantan suaminya.
Jika ditanyakan kenapa ia tetap mendaftarkan butiknya di lokasi yang memungkinkan ia bertemu dengan sang mantan? Jawabannya sederhana, kemungkinan bertemu Bagaspati sangatlah kecil, karena Mall ini sangat besar. Dan lagi, masa lalu mereka benar-benar telah berakhir, satu-satunya harapan yang tersisa adalah bisa kembali menemukan putri mereka yang hilang beberapa tahun silam.
aku lupa nama Kaka nya bagas