"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 #B untuk Bara
Hari Jumat sore yang dinanti akhirnya tiba. Tiga buah mobil mewah berwarna hitam legam bergerak beriringan, memasuki gerbang kediaman Sanjaya dengan satu mobil pengawalan ketat di bagian paling depan.
Di teras rumah, Zevanya Anneliza Sanjaya sudah berdiri menunggu bersama sang papa, Tito Sanjaya. Sore ini, Anya tampil jauh lebih modis dan segar mencerminkan anak muda zaman sekarang. Dia mengenakan crop top rajut halus berwarna sage yang dipadukan dengan high-waist jeans, memperlihatkan sedikit lekuk pinggangnya yang ramping namun tetap sopan karena dilapisi oleh cardigan longgar warna putih yang jatuh manis di bahunya. Rambut panjangnya dibingkai oleh sebuah bando manis, membuatnya terlihat sangat imut.
Begitu mobil kedua berhenti, Tomi Fernandez dan Isyana turun untuk menyapa. Anya segera melangkah maju, meraih tangan kedua calon mertuanya untuk mencium punggung tangan mereka dengan sopan.
"Sore, Om Tomi, Tante Isyana," sapa Anya lembut sembari mencium punggung tangan kedua calon mertuanya bergantian.
"Sore, Anya sayang. Duuuh, menantu Tante cantik dan manis sekali sore ini," puji Isyana hangat, mengusap bahu Anya dengan penuh kasih sayang.
Namun, saat Anya menarik tangannya, Isyana tidak sengaja menangkap sesuatu yang menarik di jari manis gadis itu. "Wah, Anya... Nail art kamu lucu sekali. Warnanya cantik," puji Isyana spontan, membuat Calvin yang baru turun dari mobil ketiga ikut menoleh tertarik.
"Halo Anya, wah kuku baru ya. Bagus, tapi sebentar... itu ada gambar bara api berinisial huruf B, apa B untuk Bara?"
Sentakan pujian Isyana dan Analisis spontan dari Calvin seketika membuat atmosfer di teras itu membeku. Anya tertegun, mendadak dilanda kepanikan luar biasa saat menyadari semua mata termasuk mata tajam Calvin yang kini mulai penasaran. Di tengah kepanikan itu, Jessica yang baru turun dari mobil yang tadi juga dinaiki Isyana dan Tomi dengan gaun formalnya yang berlebihan, ikut menimpali dengan senyum tipis, "Hai Anya, iya kukumu cantik, Tapi masa huruf B-nya untuk Bara? Ah tidak mungkin kan?"
Otak Anya berputar secepat kilat mencari alasan paling konyol demi menyelamatkan nyawanya. "Ah! iya itu bu... bukan! Ini bukan untuk Om Bara," sangkal Anya dengan tawa kaku yang dipaksakan. "Gambar apinya ini memang lagi tren banget di media sosial. Kalau huruf B ini... ini inisial dari nama Bon-Bon!"
"Bon-Bon?" dahi Calvin berkerut bingung. "Siapa Bon-Bon, Anya?"
"Itu... anjing kesayanganku waktu kecil dulu yang sekarang sudah mati, Vin! Aku kangen banget sama dia, makanya bikin inisial namanya di kuku," jawab Anya berbohong sekenanya dengan wajah tanpa dosa.
Tito Sanjaya yang berdiri di sebelah Anya seketika menoleh dengan dahi berlipat gundah. "Anya, bukannya anjing peliharaanmu dulu sewaktu kecil itu namanya Chiko?"
Apalagi ini! Anya menahan napas, merutuki papanya yang mendadak sangat teliti. Namun, dengan tingkat kepercayaan diri setinggi langit, Anya kembali berkilah, "Ih, Papa lupa ya? Nama lengkapnya itu Chiko Bon-Bon, Pa! Panggilannya memang Bon-Bon kalau sedang berdua denganku saja!"
Mendengar perdebatan konyol itu, sebuah kekehan berat, dalam, dan teramat serak tiba-tiba terdengar dari arah pintu kemudi mobil ketiga. Sosok pria bertubuh jangkung dan atletis melangkah turun, sukses membungkam seluruh kata-kata di teras tersebut.
Bara Fernandez muncul dengan penampilan yang sepenuhnya meruntuhkan kata Om dari dirinya. Pria matang itu mengenakan kaos polos putih pas badan yang mencetak jelas otot dada bidangnya, dilapisi kemeja motif stripe biru-putih yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa dikancingkan, serta celana jeans denim. Tatanan rambutnya tidak lagi klimis, melainkan ditata sedikit berantakan dengan beberapa helai poni yang jatuh menjuntai seksi di keningnya. Aura casual badboy memancar kuat darinya.
Sepasang mata elang Bara menatap lurus ke arah Anya dengan binar penuh kegemasan yang berbahaya. Disamakan dengan anjing peliharaan yang sudah mati? Gadis kecil ini benar-benar punya nyali besar untuk membalas dendam soal pesan kemarin.
"Chiko Bon-Bon... nama yang bagus," sahut Bara dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh penekanan mistis, membuat bulu kuduk Anya meremajang seketika. Tatapan Bara sore ini terlalu mematikan untuk kewarasan jantungnya.
"Sore, Om Bara," cicit Anya pelan, mendadak kehilangan keberaniannya.
"Sore, Anya," jawab Bara pendek dengan seringai tipis yang teramat seksi terukir di sudut bibirnya.
Tanpa membuang waktu lebih lama agar tidak kemalaman sampai disana, para orang tua segera masuk ke mobil kedua. Sementara Jessica dengan cepat bergelayut di lengan Bara. "Bara, aku ikut mobilmu dan duduk di depan ya?" pinta Jessica manja, yang hanya ditanggapi Bara dengan anggukan samar sebelum pria itu melepaskan lengannya dengan halus untuk kembali ke kursi kemudi.
Calvin dengan sigap membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk Anya. "Ayo masuk, Anya. Kita duduk di belakang."
Anya mengangguk dan mulai melangkah menuju kursi belakang yang sudah dibukakan oleh Calvin. Namun sebelum Anya benar-benar masuk, Calvin dipanggil oleh Jessica.
"Vin bisa minta tolong taruh tas make-up ku ini di belakang,"
"Bisa kak." Calvin memutar langsung meninggalkan Anya di tempatnya berdiri.
Di saat Calvin sedang sibuk membantu Jessica di sisi lain, kaca mobil Bara mendadak turun setengah bagian.
Bara condong ke depan, memanfaatkan detik-detik sempit tanpa diketahui siapa pun. Dengan gerakan secepat kilat, Bara membisikkan kalimat tepat di dekat rungu Anya, menyemburkan napas hangatnya yang maskulin ke permukaan kulit leher Anya.
"Menyamarkan namaku dengan nama anjingmu yang sudah mati, hm? Nyalimu besar sekali, Sayang," bisik Bara dengan nada suara yang teramat seksi, rendah, namun penuh ancaman yang mengunci pergerakan. "Nikmati perjalananmu sore ini, Anya. Karena begitu kita tiba di villa nanti, aku sendiri yang akan memastikan kamu terus mendesah memanggil namaku... bukan nama Bon-Bon khayalanmu itu."
Anya tersentak mundur satu langkah, wajahnya seketika merona merah padam dalam hitungan detik karena skakmat telak dari sang tuan otoriter. Dia menatap Bara dengan tatapan berapi-api, namun pria itu justru menutup kembali kaca mobilnya dengan senyuman iblis yang teramat puas.
Dengan jantung yang berdentang liar menembus dada, Anya buru-buru masuk ke kursi belakang mengatur nafas dan detak jantungnya yang tiba-tiba terasa sesak. Dia sadar bahwa liburan akhir pekan ini akan menjadi awal dari bencana manis yang paling menjebak hidupnya.