NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

​Bu Broto yang merasa tersudut segera mengelak. Wajahnya yang mulai berkerut tampak menegang, tidak sudi mengakui kesalahannya di depan menantu yang selama ini dia injak-injak. Dia kembali menuduh Rena dengan tuduhan tak berdasar, mencari-cari celah untuk tetap terlihat benar di mata anaknya.

​"Halah! Jangan sok suci kamu, Rena!" tuding Bu Broto dengan suara melengking, jarinya menunjuk-nunjuk wajah Rena. "Mungkin saja kamu mencuri uang Aris diam-diam dari dompetnya selama ini! Uang belanja yang dikasih Aris sengaja kamu tabung, lalu kamu pura-pura kekurangan sekarang!"

​Mendengar tuduhan yang sangat menggelikan itu, Rena tertawa sinis. Alih-alih menangis atau ketakutan seperti biasanya, tawa Rena terdengar begitu hambar dan sarat akan penghinaan. Dia menatap ibu mertuanya lekat-lekat.

​"Bagaimana mungkin aku mencuri uang Mas Aris, Bu?" bela Rena dengan nada suara yang tenang namun menusuk. "Sedangkan dompetnya saja tidak pernah lepas dari celananya. Mas Aris selalu membawanya ke mana-mana, bahkan tidur pun diletakkan di tempat yang tidak bisa kujangkau. Dan kalian tahu sendiri, tidak pernah ada uang sepeser pun yang tertinggal di saku celananya saat kucuci setiap pagi. Semuanya selalu bersih."

​Mendengar pembelaan yang logis dan tak terbantahkan itu, semuanya terdiam. Bu Broto menelan ludah, sementara Siska mendadak pura-pura sibuk memainkan ujung bajunya. Aris yang duduk di sofa tunggal semakin menundukkan kepalanya, merasa ditelanjangi karena tabiat pelitnya dibongkar di depan ibu dan adiknya sendiri.

​"Kalian tahu dua hari ini aku ke mana?" tanya Rena lagi, menatap mereka bertiga satu per satu dengan pandangan menantang. "Aku cari kerja untuk menyekolahkan anakku! Aku terpaksa membanting tulang di luar sana karena anak Ibu ini enggan memberiku uang untuk menyekolahkan anaknya sendiri. Bahkan untuk mendapatkan uang dua ratus ribu itu saja, aku harus bersikap tegas kepadanya semalam. Kalau tidak, mungkin sampai hari ini Dio tidak akan pernah bisa mendaftar sekolah!"

​Suasana di ruang tengah semakin mendingin. Rena berdiri dari kursinya, menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan ketegasan yang mutlak.

​"Mulai sekarang, jangan tanya ke mana aku pergi. Itu urusanku, bukan urusan kalian lagi. Aku juga ingin pegang uang sendiri untuk menyenangkan diriku dan Dio," tegas Rena, matanya berkilat tajam. "Karena uang Mas Aris sepenuhnya diberikan kepada kalian untuk bersenang-senang selama ini. Pergi ke pasar, ke mall, beli baju baru setiap minggu. Sedangkan untukku dan Dio? Tidak tersisa sama sekali. Bahkan kami berdua harus makan makanan sisa dari kalian setiap hari jika lauk di meja sudah habis masuk kedalam perut kalian."

​Rena mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama bertahun-tahun ini menyumbat dadanya. Setelah merasa semua bebannya terlampiaskan, dia langsung membalikkan badan dan meninggalkan mereka bertiga yang masih terdiam seribu bahasa di ruang tengah.

​Namun, setelah Rena pergi dan pintu kamar terdengar menutup, Bu Broto kembali mengomel demi menyelamatkan harga dirinya yang terlanjur jatuh. "Dasar! Rena itu istri tidak tahu diri! Sudah untung dinafkahi oleh Aris, masih saja kurang bersyukur! Malah mengungkit-ungkit masalah makanan!"

​"Ibu, cukup! Diamlah!" potong Aris tiba-tiba dengan suara membentak yang jarang dia gunakan.

​Bu Broto dan Siska seketika tersentak kaget. Aris langsung meminta ibunya untuk diam karena kepalanya rasanya mau pecah. Di dalam benak Aris, ada rasa bersalah yang teramat sangat yang tiba-tiba menyeruak dan mengimpit dadanya. Dia merenungkan kata-kata Rena barusan. Dia sadar, selama ini dia memang tidak terlalu memperdulikan istri dan anaknya, bahkan terkesan sangat abai.

​Pola pikirnya selama ini begitu sempit, dia seharian bekerja keras di kantor, dan sampai rumah dia merasa berhak untuk langsung istirahat tanpa mau diganggu oleh urusan rumah. Meski sebenarnya dia tahu bahwa istrinya selalu mendapatkan perlakuan buruk, sindiran, dan makian dari ibu serta adiknya, selama ini Aris merasa itu adalah hal wajar. Dia mengira itu hanyalah bentuk ibu mertua yang sedang menegur menantunya agar lebih baik. Tapi malam ini, melihat tatapan mata Rena yang begitu kosong dan dingin, Aris sadar bahwa dia salah besar. Sekarang Rena mungkin sudah benar-benar mencapai batas kesabarannya, dan Aris takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada keutuhan rumah tangganya.

​Sementara itu, di dalam kamarnya yang gelap, Rena duduk di tepi kasur sambil menangis sesenggukan. Dia memeluk tubuh kecil Dio yang sudah tertidur lelap dengan sangat erat. Air matanya mengalir deras membasahi pipi, namun anehnya, kali ini tidak ada rasa sesak. Sebaliknya, Rena merasa sangat lega karena sudah berhasil mengeluarkan semua apa yang ia rasakan selama bertahun-tahun ini di depan wajah mereka semua.

***

​Di tempat lain, di sebuah rumah minimalis yang nyaman, malam itu Ririn sedang duduk di ruang tengah bersama suaminya yang baru saja pulang kerja. Sambil menemani bayinya yang sedang menyusu, Ririn menceritakan tentang asisten rumah tangga barunya, Rena, kepada suaminya.

​"Mas, tahu ga? Mbak Rena, ART baru yang direkomendasikan Ibu, kerjanya bagus sekali. Sangat cekatan, rapi, dan tidak banyak mengeluh," cerita Ririn dengan nada kagum.

​Suaminya yang sedang bersantai sambil membaca berkas menoleh. "Oh ya? Baguslah kalau begitu, jadi kamu tidak terlalu kelelahan menjaga anak kita. "

​"Iya, Mas. Tapi ada satu hal yang membuatku kepikiran dari siang," lanjut Ririn, wajahnya berubah sendu. "Mbak Rena itu... ternyata nggak punya HP lho. Bayangin aja, di jaman sekarang nggak ada HP. Tadi siang saat aku meminta nomor WAnya untuk memudahkan komunikasi, dia menjawab dengan wajah bersedih kalau dia tidak punya HP, dulu katanya sempat punya tapi di jual untuk biaya lahiran, kasihan ya, mas. Pasti kehidupan rumah tangganya sangat sulit."

​Suami Ririn hanya mendengarkan dengan saksama. Karena dia juga belum tahu bagaimana sosok ART barunya itu secara langsung, dia mencoba memberikan solusi yang bijak atas kekhawatiran istrinya.

​"Sudah jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Kalau kamu memang merasa kasihan dan ingin membantunya, berikan saja ponsel lamamu yang sudah tidak terpakai itu kepadanya," saran suami Ririn dengan lembut. "Ponsel itu kan masih bagus dan masih layak pakai, daripada hanya disimpan di dalam laci. Mungkin itu akan sangat berguna untuknya mencari informasi atau sekadar memberi kabar kepadamu."

​Mendengar saran suaminya, mata Ririn seketika berbinar cerah. "Wah, benar juga ya, Mas! Kenapa aku nggak kepikiran tadi!"

​"Tapi jangan lupa di-restart dulu ke pengaturan pabrik ya, Sayang," ingat suaminya lagi sembari tersenyum. "Agar tidak ada data-data pribadimu, foto, atau akun penting yang tertinggal di dalamnya. "

​"Siap, Mas! Nanti sebelum tidur akan langsung aku bersihkan semua datanya. Besok pagi saat Mbak Rena datang, aku akan langsung memberikan ponsel ini kepadanya sebagai hadiah," ucap Ririn penuh semangat, merasa tidak sabar untuk melihat senyuman di wajah wanita malang itu esok.

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!