Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Boleh Ditunda
Neva dan Vano kini sudah ada di dalam kamar bersiap untuk tidur.
Vano dengan perhatian menyelimuti Neva penuh kasih. "Sehat selalu ya, Sayangku..." ucapnya sembari meninggalkan ciuman di pipi Neva. Tangannya menyusup ke dalam mengusap perut Neva yang masih rata.
Wanita itu tersenyum haru. Hatinya terasa begitu hangat. Penantian mereka selama ini rasanya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan.
Neva meletakkan tangannya di atas tangan Vano yang masih mengusap lembut perutnya.
'Tuhan... terima kasih. Terima kasih telah mempercayakan amanah luar biasa ini kepada kami. Tolong jaga ia hingga tiba waktunya kami memeluknya.'
Vano mendongak menatap Neva. "Sayang, bukankah ibu hamil harus minum susu?" Kata Vano. Baru mengingat hal itu.
Neva mengangguk. "Iya," jawab Neva.
"Oke. Aku beli susu dulu. Kau mau susu yang rasa apa? Atau yang bagaimana? Atau...."
Neva menyentuh lengan Vano lembut. "Besok saja, ini sudah malam."
Vano menggeleng pelan. "Tidak, sekarang saja."
Vano langsung bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan jaket, mengambil kunci mobil, lalu kembali menghampiri Neva.
"Jadi, kamu mau yang rasa apa, Sayang?"
"Aku suka semua rasa," jawab Neva. Ia nyengir lebar. "Dan lagi... Aku juga tidak tahu susu ibu hamil ada rasa apa saja."
Vano ikut terkekeh. Kalau Neva saja tidak tahu, apalagi dirinya. Ia membungkuk, mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Tunggu, ya. Aku keluar sebentar cari susu buat kamu."
Neva tersenyum hangat. "Padahal besok juga tidak apa-apa."
Vano menggeleng pelan. "Tidak boleh ditunda," jawabnya.
Setelah mengusap lembut pipi Neva, ia segera keluar dari kamar.
Di ruang depan lantai dua, ia bertemu dengan mama Nugraha.
"Malam-malam begini mau kemana, Vano?" tanya beliau perhatian.
"Beli susu ibu hamil," jawab Vano.
Mama Nugraha mengangguk mengerti. Memang, sejak menerima kabar bahagia itu, mereka belum sempat menyiapkan susu untuk Neva."Kamu bisa minta tolong ke Pak Burhan, biar beliau yang keluar membelinya."
Vano tersenyum kecil memahami maksud mertuanya. "Tidak apa-apa, Ma. Biar saya saja." Ia menunduk sesaat. "Saya ingin memilih sendiri susu untuk Neva."
Mama Nugraha terdiam. Rasa haru perlahan menghampiri dadanya. Beliau mengangguk. "Baiklah. Hati-hati, ya."
"Baik, Ma."
Vano melajukan mobilnya menuju minimarket 24 jam terdekat. Sesampainya di sana, ia langsung menuju rak susu ibu hamil. Ada berbagai merek dengan beberapa varian rasa.
Vano mengernyit. Ia benar-benar tidak tahu harus membeli yang mana. Akhirnya, ia menghubungi Neva melalui panggilan video. Kamera ponselnya mengarah ke rak susu.
"Wah... ternyata rasanya banyak, ya," kata Neva. "Kupikir cuma ada plain sama cokelat."
"Kamu maunya yang mana?" tanya Vano.
Neva memperhatikan satu per satu kemasan susu yang terlihat di layar.
"Yang merek itu," jawabnya sembari menyebutkan salah satu merk. "Ambil semua varian rasanya. Aku mau coba semuanya."
Vano mengangguk. "Siap, Sayang."
"Makasih," ucap Neva penuh haru.
"Sama-sama."
Panggilan pun berakhir. Vano kembali ke rumah dengan dua paper bag. Langkahnya ringan penuh kebahagiaan.
Begitu masuk ke dalam kamar, ia langsung mengangkat kedua paper bag itu di hadapan Neva.
Neva yang ada di atas ranjang spontan tersenyum lebar. "Wah... senangnya!" serunya sembari bertepuk tangan kecil.
"Sekarang kau bisa memilih rasa susu sesukamu."
Neva mengangguk senang, lalu melirik jam dinding. "Tapi ini sudah jam tidur. Aku mulai minum susunya besok saja, ya."
Vano mengangguk menyetujuinya. Memang sekarang adalah waktunya istirahat. "Oke. Biar kusimpan dulu di rak."
Vano membalik badan, melangkah menuju pintu keluar.
"Mau kemana?" Tanya Neva segera, menghentikan langkah Vano.
Vano menoleh. "Ke bawah. Menata ini di dapur," jawabnya.
"Sayang kau bisa melakukan besok," ucap Neva. Ia menunjuk meja di seberang ranjang. "Taruh saja di situ." Lalu Neva mengulurkan kedua tangannya ke arah Vano.
"Sekarang, peluk aku..." ucap Neva lembut. "Ayo tidur."
kedua sudut bibir Vano terangkat membentuk senyuman. Ia melangkah ke arah meja dan meletakkan paper bag di sana. Setelah itu, ia mencuci tangan, melepaskan jeket dan langsung naik ke atas ranjang.
"Hmm, sini yang mau dipeluk."
🍃🍃🍃
Sementara di sana. Leo baru sampai di rumahnya. Mobil parkir dengan mulus di halaman.
Si kecil tertidur di dalam mobil. Leo menggendongnya dengan penuh kelembutan.
Sementara Yuna berjalan di sampingnya. Tangan satunya Leo mengulur, mengenggam tangan Yuna.
Setelah sampai di ruang tengah Yuna berkata, "Daddy, aku keatas duluan ya."
Leo mengangguk. "Iya, Sayang." Ia melepaskan genggaman tangannya lalu beralih mengusap pipi Yuna singkat.
Yuna melangkah ke lantai atas, sementara Leo membawa putranya masuk kedalam kamar si kecil sendiri. Ia merebahkan Arai di atas ranjang dengan hati-hati.
“Selamat tidur, Sayang,” ucapnya seraya meninggalkan kecupan manis di kening putranya.
Setelah itu ia naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Yuna tengah menyiapkan baju ganti untuknya saat ia masuk. Leo segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengatur suhu air hangat yang pas. Kemudian keluar lagi untuk menjemput Yuna.
"Yuk," ajaknya.
Mereka mandi bersama.
“Daddy jangan nakal,” cegah Yuna saat dari belakang Leo menyabuni tubuhnya dengan gerakan halus.
Leo terkekeh. "Baik," jawabnya patuh. "Hanya menyabunimu saja, bagian mana yang nakal?"
"Menyabuni adalah awal dari hal yang mendebarkan dan akan berakhir lama," jawab Yuna. “Ini sudah sangat malam, ayo segera tidur saja,” lanjut Yuna. Meskipun ia mulai nyaman dengan sentuhan lembut ini.
Oh ya, Tuhan... Tuan suami, tolong jangan menggoda.
Gerakan Leo berhenti.
Yuna mengigit bibir.
"Baiklah, kita tunda hal yang mendebarkan," kata Leo.
"Hmm." Yuna menjawab tanpa membuka mulut.
Leo segera membilas tubuh Yuna lalu memakaikannya bathrobe.
Yuna sungguh langsung tidur setelah mengganti pakaian tidur.
Saat Yuna tidur, Leo pergi ke ruang kerjanya dan bekerja sepanjang malam di sana. Sebelum itu, ia menghubungi pelayan utama kastil, mengabarkan jika besok ia akan berlibur ke sana. Meminta pelayan menyiapkan segala hal.
berhati - hati lah dlam mrangkai kata² wahai tuan suami 🤭