NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

​Mobil travel carteran itu melaju lambat membelah kemacetan sore di kawasan Jakarta Selatan. Di dalam kabin, atmosfer yang tadinya hangat dan penuh tawa mendadak runtuh, berubah menjadi sunyi yang mencekam.

​Zara menatap keluar jendela, memandangi deretan kendaraan yang merayap di bawah beton flyover. Keputusan yang sejak tadi berkecamuk di dalam kepalanya akhirnya tumpah juga, tepat setelah lift hotel membawa mereka turun ke lobi.

​"Fahri..." panggil Zara tanpa menoleh. Suaranya datar, namun ada getaran getir yang tak bisa disembunyikan.

​Fahri yang sedang sibuk mengecek ponselnya langsung menoleh. "Hmm? Kenapa, Zar? Mabuk darat lagi? Itu di kantong plastik ada roti coko—"

​"Kalau kamu mau ceraikan aku... aku izinkan."

​Kalimat itu meluncur begitu saja. Singkat, padat, dan sanggup membuat gerakan tangan Fahri mengudara seketika. Pemuda berpeci miring itu terdiam, matanya menajam menatap profil samping wajah istrinya.

​"Kamu ngomong apa sih, Zar? Gak usah ngaco," sahut Fahri, mencoba mengembalikan nada santainya, meski raut wajahnya mulai mengeras.

​"Aku serius, Fahri," Zara akhirnya menoleh. Matanya yang bulat kini berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata hitam suaminya. "Setelah aku pikirkan lagi di kamar tadi... pernikahan kita ini kesalahan yang dipaksakan oleh keadaan. Kamu nikahi aku cuma karena kasihan, karena mau menyelamatkan aku dari Ayah dan Reza. Tapi di luar sana ada Mbak Humaira. Wanita baik, salihah, anggun, yang sudah dua tahun menunggu kamu dengan restu penuh keluarga besar kamu."

​Zara menarik napas dalam, mencoba menahan sesak di dadanya. "Aku gak mau jadi penghalang bagi kebahagiaan kamu dan bakti kamu ke Haji Sulaiman. Jadi kalau setelah ini kamu mau mengembalikan aku ke KUA dan melanjutkan perjodohan itu, aku ikhlas, Fahri. Aku lepas kamu."

​Fahri tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil, melipat tangan di dada, lalu menatap Zara dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin, namun sarat akan emosi yang tertahan.

​"Terus, kalau saya turuti omongan ngaco kamu itu, kamu mau ke mana?" tanya Fahri dengan nada suara yang merendah, sangat serius.

​Zara memalingkan wajahnya kembali ke jendela, menghapus setitik air mata yang lolos di pipinya. "Itu syaratnya."

​"Syarat?"

​"Iya. Aku kasih izin kamu kembali ke Mbak Humaira, tapi dengan satu syarat," ucap Zara lirih. "Tolong antarkan aku ke tempat yang jauh. Jauh dari Jakarta, dan jauh dari Tasikmalaya. Aku gak mau kembali ke rumah Ayah yang penuh kepalsuan, dan aku juga gak mungkin tinggal di pesantren Cisayong lagi kalau status kita udah bukan suami istri. Aku mau mulai hidup baru di tempat di mana gak ada satu orang pun yang kenal sama Zara Amanta."

​Hening kembali menguasai kabin mobil. Sopir travel di depan bahkan sampai mengecilkan volume radio, merasa canggung mendengarkan perdebatan berat pengantin baru di belakangnya.

​Fahri mengembuskan napas panjang melalui hidung. Bukannya marah atau panik, ia malah meraih tas plastik di sampingnya, mengambil sebuah roti, lalu membukanya dengan santai.

​"Nih, makan dulu rotinya," ucap Fahri sambil menyodorkan roti tersebut ke depan wajah Zara.

​"Fahri! Aku lagi serius! Bisa gak sih—"

​"Saya juga serius, Zara Amanta," potong Fahri, suaranya tiba-tiba berwibawa, mengunci semua bantahan Zara. Ia menaruh kembali rotinya. "Dengar ya, Teteh Jakarta yang hobi drama. Saya ini santri, bukan sutradara sinetron yang kalau ada masalah sedikit langsung main cerai lalu kabur ke luar negeri. Pernikahan di hadapan Abah Mukhlas itu sakral. Sekali saya ucapkan qobul, berarti nama kamu udah tertulis di tanggung jawab saya dunia akhirat."

​Fahri memajukan badannya, menatap Zara lekat-lekat. "Soal Humaira, itu urusan saya dengan orang tua saya. Kamu gak usah merasa jadi pahlawan kesiangan yang berkorban demi kebahagiaan orang lain. Yang butuh dilindungi sekarang itu kamu, bukan dia. Paham?"

​Zara tertegun, bibirnya bergetar namun tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

​"Lagian..." Fahri mendadak merubah raut wajahnya menjadi super usil, peci hitamnya sengaja dimiringkan lagi ke kanan. "...syarat kamu susah amat sih. Mau pergi jauh dari Jakarta dan Tasik? Mau ke mana coba? Kutub Utara? Biaya travel-nya mahal, Zar, Haji Sulaiman gak bakal mau ganti invoice-nya."

​"FAHRIIII!!! Ih, merusak suasana banget!" semprot Zara kesal, memukul lengan Fahri menggunakan tas kecilnya, membuat air matanya yang tadi mau keluar malah masuk lagi gara-gara gemas.

​"Hahaha! Nah, mending ngamuk daripada melankolis gak jelas begitu," kekeh Fahri puas. Ia lalu mengetuk pundak sopir di depan. "Pak, rutenya kita ubah ya. Jangan langsung masuk tol jalur selatan. Kita mampir dulu ke perumahan mewah di daerah Kebayoran Baru."

​Zara mengernyitkan dahi. "Kebayoran Baru? Ngapain ke sana? Itu kan kawasan rumah-rumah konglomerat?"

​Fahri tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini terlihat agak berat. "Sebelum kita balik ke Tasik dan memulai hidup di pesantren... ada satu urusan besar yang harus saya selesaikan sebagai seorang anak. Kita menemui orang tua saya sekarang. Menemui Haji Sulaiman."

​Gerbang besi hitam menjulang tinggi setinggi tiga meter terbuka otomatis saat mobil travel carteran yang tampak "salah tempat" itu masuk ke halaman sebuah rumah berarsitektur klasik modern yang luar biasa megah. Halaman rumputnya yang luas dan deretan mobil mewah di garasi membuat Zara menelan ludah. Ini bahkan jauh lebih mewah daripada rumah ayahnya di Menteng.

​"Fahri... kita beneran mau masuk pakai baju ginian?" bisik Zara ragu, melirik kemeja flanel Fahri dan gamis sederhananya sendiri.

​"Lah, kenapa emang? Rumah-rumah bapak saya ini, bukan rumah hantu," sahut Fahri santai sambil membuka pintu mobil. "Ayo turun, Neng."

​Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang langit-langitnya dihiasi lampu kristal gantung, atmosfer mewah langsung menyergap. Di atas sofa kulit besar, sudah duduk seorang pria paruh baya berwibawa dengan sarung tenun mahal dan baju koko sutra. Wajahnya tegas, sangat mirip dengan Fahri, namun gurat kekuasaannya jauh lebih kental. Dialah Haji Sulaiman. Di sampingnya, duduk sang istri, Umi Halimah, yang langsung berdiri dengan mata berkaca-kaca begitu melihat putranya masuk.

​"Fahri... anakku," lirih Umi Halimah, hendak memeluk putranya, namun langkahnya terhenti saat melihat tangan Fahri yang menggandeng erat jemari seorang perempuan asing.

​Haji Sulaiman tidak berdiri. Beliau hanya menatap Fahri dengan pandangan tajam yang sanggup mengintimidasi siapa saja. "Jadi ini alasan kamu mengaktifkan corporate billing hotel tadi pagi? Dan ini juga alasan kamu menolak Humaira secara sepihak, Fahri?"

​Suasana ruang tamu megah itu mendadak sedingin es. Zara mencengkeram erat kemeja flanel Fahri di sampingnya, detak jantungnya berdegup liar.

​Fahri melangkah maju, lalu dengan takzim ia membungkuk, meraih tangan sang ayah dan ibunya bergantian untuk dicium. Sikap tengilnya lenyap total, digantikan oleh kesantunan seorang anak dan ketegasan seorang pria dewasa. Zara pun buru-buru mengikuti tindakan suaminya, menyalami kedua mertuanya dengan takzim.

​"Betul, Bah, Umi," ucap Fahri tegas, berdiri kokoh di samping Zara. "Perkenalkan, ini Zara Amanta. Istri sah Fahri. Kami sudah melangsungkan akad nikah semalam di pesantren, dengan Abah Mukhlas sebagai wali hakimnya."

​Haji Sulaiman menggebrak meja marmer di depannya dengan pelan, namun suaranya menggelegar. "Fahri! Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?! Hubungan keluarga kita dengan keluarga Humaira itu sudah terjalin bertahun-tahun! Perjodohan ini bukan cuma soal bisnis, tapi soal komitmen! Kenapa kamu malah membawa pulang perempuan lain tanpa izin dari Abah?!"

​Umi Halimah ikut menangis pelan. "Iya, Fahri Humaira itu kurang apa, Le? Dia salihah, santun, sudah siap jadi istri kamu. Kenapa kamu malah begini?"

​Zara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya. Ia bersiap jika saat ini juga ia harus diusir dari rumah megah ini.

​Namun, Fahri sama sekali tidak gentar. Ia menarik napas dalam, lalu menatap lurus ke mata Haji Sulaiman.

​"Bah, Umi... Fahri tidak pernah meragukan kebaikan Humaira. Dia wanita yang sangat mulia," ucap Fahri, nadanya tenang namun sangat mantap. "Tapi pernikahan dalam Islam bukan soal mencocokkan portofolio bisnis atau sekadar menuruti keinginan orang tua. Zara adalah wanita yang dikirimkan Allah ke jalur hijrah Fahri di pesantren. Dia sedang terluka, didzalimi oleh keluarganya sendiri, dan membutuhkan pelindung yang sah di mata hukum agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan."

​Fahri menggenggam tangan Zara lebih erat, mengangkatnya sedikit di depan sang ayah. "Semalam, Fahri mengambil keputusan terbesar dalam hidup Fahri. Bukan untuk membangkang pada Abah, tapi untuk menjalankan tugas Fahri sebagai seorang laki-laki yang punya nyali untuk bertanggung jawab. Jika Abah marah karena nama baik keluarga kita tercoreng di depan keluarga Humaira, Fahri siap menerima hukumannya. Fahri siap dicoret dari daftar waris, Fahri siap tidak menerima satu rupiah pun dari fasilitas Abah."

​Haji Sulaiman tertegun, matanya menatap tajam ke arah genggaman tangan putranya yang begitu erat melindungi Zara.

​"Tapi Fahri tidak akan pernah menceraikan Zara," tegas Fahri, kalimatnya bak palu godam yang mengunci seluruh ruangan. "Dia adalah istri Fahri, dhohir dan batin. Dan hari ini, Fahri ke sini cuma mau minta satu hal dari Abah dan Umi."

​"Apa?" tanya Haji Sulaiman, suaranya mendadak merendah, menguji.

​"Restu," jawab Fahri mantap. "Restui kami untuk kembali ke Tasikmalaya. Biarkan Fahri membuktikan kalau Fahri bisa membahagiakan Zara dengan cara Fahri sendiri, sebagai seorang santri, bukan sebagai putra mahkota Haji Sulaiman."

​Suasana kembali hening selama beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad. Haji Sulaiman menatap putranya dalam-dalam, lalu beralih menatap Zara yang wajahnya sudah basah oleh air mata namun matanya memancarkan ketulusan yang luar biasa.

​Perlahan, gurat ketegangan di wajah sang konglomerat itu mengendur. Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut Haji Sulaiman, disusul oleh senyuman tipis yang sangat mirip dengan senyuman Fahri jika sedang bangga akan sesuatu.

​"Abah Mukhlas memang tidak pernah salah mendidik kamu, Fahri," ucap Haji Sulaiman lambat-lambat, membuat Zara mendongak kaget. "Kamu punya nyali yang jauh lebih besar daripada Abah waktu muda dulu."

​"Eh? Maksud Abah?" Fahri berkedip, bingung.

​Haji Sulaiman bangkit dari sofanya, melangkah mendekati Fahri dan Zara. Beliau menepuk pundak tegap putranya dengan keras. "Soal Humaira dia sudah menelepon Abah satu jam yang lalu. Dia menceritakan semuanya, dan dia sendiri yang meminta agar perjodohan ini dibatalkan karena dia menghormati pernikahan kalian. Wanita sesalihah dia tidak layak mendapatkan laki-laki yang hatinya sudah tertambat pada wanita lain."

​Beliau lalu beralih menatap Zara, tatapannya kini berubah menjadi sangat hangat dan kebapakan. "Zara..selamat datang di keluarga kami. Maafkan gertakan Abah tadi ya. Abah cuma mau menguji, apakah suamimu yang tengil ini beneran punya nyali buat melindungi kamu, atau cuma modal nekat doang."

​"A-Abah..." Zara mendadak kelu, air mata bahagianya tumpah ruah saat Umi Halimah langsung maju dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat.

​"Sudah, jangan menangis lagi, Neng. Di sini kamu aman," bisik Umi Halimah lembut, mengelus punggung Zara.

​Fahri yang melihat itu langsung mengembuskan napas lega, senyum tengilnya otomatis kembali terpasang di wajah, lengkap dengan peci hitamnya yang entah bagaimana caranya sudah miring lagi dengan sukses.

​"Alhamdulillah... aman!" celetuk Fahri dengan gaya lawaknya. "Wah, kalau tahu Abah cuma akting, tadi Fahri gak usah sok melodramatis pake bawa-bawa coret dari daftar waris segala, Bah. Kan lumayan kalau jatah bulanannya tetep jalan!"

​"Huss! Dasar anak kurang ajar! Sudah kaya, masih aja perhitungan!" tawa Haji Sulaiman pecah, menjewer kuping putranya gemas, memecah seluruh ketegangan di dalam rumah megah itu menjadi tawa keluarga yang utuh.

​Badai di Jakarta resmi berakhir malam itu. Dengan restu penuh yang sudah di tangan, sang putra mahkota dan Teteh Jakarta kini benar-benar siap memutar arah mobil travel mereka, kembali menuju kesederhanaan dan kedamaian sejati yang sudah menanti di jalur hijau Tasikmalaya.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!