Athena clarisa mahendra. Adalah sosok gadis tangguh yang hidupnya penuh dengan siksaan yang ia dapat justru dari keluarganya sendiri. Di tindas oleh abang kembarnya dan selalu di siksa oleh ayahnya sendiri. Selama hidupnya bahkan tak pernah sedikit pun merasakan hidup bahagia. Keluarganya justru lebih menyayangi anak angkatnya yang memiliki sifat lembut,pintar dan baik hati.tanpa mereka tahu jika dibalik wajah lugu anak angkatnya itu tersimpan sifat licik dan maipulatif. Karna perlakuan keluarganya itu sudah mencapai batas sabar dan membuat Athena memiliki dendam dan janji untuk menghancurkan keluarga gilanya itu. Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup Athena?,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: JUAN ALEXANDER
Melihat kondisi Juan yang sudah sangat lemas dan pucat pasi, Athena segera merogoh saku seragamnya dan mengambil ponsel. Tanpa membuang waktu, jemarinya dengan lincah mendial sebuah nomor di daftar panggilannya.
Tutttt... Tutttt...
Baru memasuki dering kedua, panggilan tersebut langsung diangkat. Dari seberang telepon, suara seorang pria menyahut dengan cepat.
"Yes, Queen?!" jawabnya begitu menyadari siapa yang menghubunginya.
"Bang, bawa mobil ke posisi gue sekarang. Alamatnya gue share location. GPL," ucap Athena mutlak.
"Daerah mana, Dek? Ya udah, shareloc aja, Abang jalan sekarang," ucap pria di ujung panggilan dengan nada patuh meski terdengar sedikit bingung.
"Pinggiran kota. Gue kirim sekarang," ucap Athena singkat, lalu langsung mematikan sambungan sepihak.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan yang terputus tiba-tiba itu seketika membuat pria di seberang telepon mendengus dan mengumpat kesal.
"Ah elah, nih bocah kebiasaan banget dah!" umpatnya misuh-misuh sendiri sambil menatap layar ponselnya yang sudah menggelap.
"Apaan sih, Van? Marah-marah mulu," tanya Arga yang kebetulan memang sedang berada di dekat Vano, memperhatikan tingkah sahabatnya itu dengan sebelah alis terangkat.
"Adek lo tuh! Kebiasaan banget. Orang belum selesai ngomong, main matiin telepon aja," adu Vano dengan wajah dongkol.
Sesaat setelah Athena mengakhiri panggilan, sebuah notifikasi masuk di ponsel Vano, menampilkan alamat dari share location yang dikirimkan oleh gadis itu. Namun, saat Vano membuka dan membaca alamat tersebut, dahinya seketika mengernyit samar.
"Ngapain nih bocah di kawasan kumuh?" gumam Vano heran saat mengetahui titik lokasi tempat Athena berada sekarang.
"Di mana emangnya, Van? Jauh, ya?" tanya Arga yang langsung menoleh, menyadari perubahan raut wajah sahabatnya.
Vano memutar layar ponselnya ke arah Arga. "Kawasan kumuh pinggiran kota. Lo tahu sendiri, kan, daerah sana itu rawan preman dan lingkungan jalannya lumayan berantakan? Feeling gue gak enak. Yuk, jalan sekarang, takutnya Thea kenapa-kenapa!" ucap Vano sembari menyambar kunci mobilnya dengan cepat.
“Santai aja kali van, kalo ada masalah ya preman itu yang apes ketemu sama thea” ucap arga dengan tawa di ujung kalimat
“Mana iya lagi” ujar vano membenarkan
...***...
Mobil yang dikendarai oleh Vano membelah jalanan kota Jakarta yang lumayan padat siang itu. Setelah beberapa waktu bergelut menerobos kemacetan lalu lintas ibu kota, mobil SUV hitam mereka akhirnya berhasil memasuki kawasan kumuh sesuai dengan titik lokasi yang dikirimkan oleh Athena.
"Ini sebenarnya Queen ngapain sih ke daerah beginian?" tanya Vano heran, matanya memandang keluar jendela menatap deretan bangunan semi-permanen yang berhimpitan.
"Mana gue tahu. Ayo turun, cari Thea cepat," balas Arga tak sabar.
"Sabar dulu, elah. Kita parkir mobil di pinggir jalan gede ini dulu, gak bakal masuk ke dalam gang," sahut Vano menenangkan.
Setelah memarkirkan mobil, Arga dan Vano mulai berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil yang becek di kawasan kumuh tersebut. Mereka menelusuri tiap kelokan, sampai akhirnya atensi kedua pria itu terpaku pada sebuah objek yang sangat familier. Sebuah motor sport besar berwarna hitam terparkir di dekat sebuah gang sempit.
"Itu motor Thea gak sih?" tanya Vano sembari mempercepat langkahnya saat mendapati motor milik Athena, namun tanpa adanya tanda-tanda keberadaan Athena di sekitarnya.
Tanpa membuang waktu, Arga mengambil ponsel di saku celananya dan langsung mendial nomor Athena.
Tutt... Tutt... Tuttt...
Dalam dering ketiga, suara datar Athena akhirnya terdengar dari seberang telepon.
"Hmm," jawabnya singkat.
"Lo di mana? Ini kita berdua udah di dekat motor lo, tapi lo-nya gak ada," tanya Arga cepat, menanyakan keberadaannya.
"Wait..." ucap Athena singkat, lalu langsung mematikan panggilan teleponnya sepihak.
Di dalam rumah petak yang sempit itu, Athena melirik sekilas ke arah Juan yang masih terbaring lemah, lalu beranjak berdiri.
"Gue jemput teman gue di depan," ucapnya singkat pada Juan, tanpa berniat meminta persetujuan dari pemilik rumah. Dengan gerakan santai namun penuh wibawa, Athena melenggang pergi keluar untuk menemui Arga dan Vano.
Sesaat setelah langkah kaki Athena menjauh dan menghilang di balik pintu, Juan langsung mengalihkan tatapannya ke arah sang adik.
"Ara ketemu Kak Thea di mana?" tanya Juan menyelidik.
Juan yakin betul bahwa Athena bukan gadis biasa pada umumnya. Ada aura dominan yang sangat kuat yang sempat ia rasakan saat berbicara—bahkan hanya saat menatap netra dingin gadis itu. Instingnya sebagai orang yang biasa bergerak di dunia bayangan tidak pernah salah.
"Ara ketemu Kakak Peri di lampu merah sana, Bang. Waktu Ara menawarkan jualan Ara, Kakak Peri langsung turun dari motornya terus senyum sama Ara. Kakak Peri cantik sekali, terus baik banget mau borong semua dagangan Ara," celoteh Ara riang, menceritakan awal pertemuannya dengan Athena tanpa beban.
Mendengar cerita adiknya, helaan napas berat lolos dari bibir Juan. "Tapi Ara, kan, baru kenal sama dia. Kenapa Ara gak hati-hati sama orang asing? Gimana kalau dia punya niat jahat?" nasihat Juan lembut namun terselip nada khawatir pada adiknya yang terlalu polos itu.
"Enggak, Abang! Kakak Peri beneran orang baik," sanggah Ara cepat, membela sang penolong. "Waktu Ara bilang uang borongan tadi mau dipakai untuk berobat Abang, Kakak Peri langsung tanya apa Abang sakit. Terus pas Ara jawab iya, Kakak Peri langsung minta Ara buat naik ke motornya dan mengantar Ara pulang ke sini."
Sebenarnya, Juan tahu jika Athena adalah orang baik, tetapi ia hanya bersikap hati-hati. Sebagai seseorang yang memiliki rahasia besar, ia tidak ingin ada orang dari dunia bawah yang berhasil mengendus keberadaannya dan membuat adik kecilnya terancam bahaya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Athena kembali muncul di ambang pintu bersama dua orang pria berparas tampan di belakangnya. Ara yang melihat kedatangan mereka seketika bersorak girang.
"Woahh... Abangnya ganteng-ganteng!" Celetukan spontan dari gadis kecil berparas manis itu seketika mencairkan atmosfer tegang, membuat kedua pria yang baru masuk itu terkekeh geli.
"Hai, adik manis," ucap Vano ramah sembari melambaikan tangannya ke arah Ara dengan senyum lebar.
"Halo, Abang ganteng!" ujar Ara riang seraya membalas lambaian tangan Vano dengan antusias.
"Bang, tolong bawa Juan ke DL Hospital. Dia butuh perawatan segera," ujar Athena langsung pada intinya. Arga yang berdiri di samping Vano pun mengangguk setuju tanpa banyak bertanya.
"Kakak beneran mau obatin Abang Ara?" tanya Ara dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca menahan haru.
"Iya, anak cantik. Kakak mau ajak Abang Juan berobat supaya cepat sembuh, okey?" sahut Athena lembut, berusaha menenangkan kekhawatiran di hati gadis kecil itu.
Melihat cara bicara Athena yang begitu hangat kepada Ara, Arga tertegun sejenak. Di balik tatapan matanya yang teduh, Arga tahu betul isi kepala sang nona muda. Athena tidak ingin ada 'Athena lain' di dunia ini—seorang anak kecil yang harus menderita dan kehilangan harapan di masa mudanya.
Arga sangat paham bahwa Ara hanya memiliki Juan sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa, persis seperti dirinya yang dulu berjuang sendirian.
"Ayo, Van," ajak Arga pada Vano untuk mulai memapah tubuh lemah Juan secara perlahan.
Setelah meninggalkan kawasan kumuh tersebut, mereka pun membagi tim. Vano, Arga, Juan, dan Ara berada dalam satu mobil SUV, sedangkan Athena memilih mengendarai motor sport-nya sendiri untuk mengawal dari belakang.
Setibanya mereka di DL Hospital, Arga dengan sigap meminta kursi roda kepada petugas medis yang berjaga di lobi, lalu segera membawa Juan ke ruang instalasi gawat darurat untuk memeriksa kondisinya.
Sementara itu, Vano dan Athena berjalan beriringan menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan seluruh berkas dan langsung menempatkan Juan di ruang perawatan VIP terbaik.
Malam harinya, keheningan menyelimuti koridor sunyi ruang VIP DL Hospital. Juan tampak tertidur pulas dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya, sementara Ara sudah terlelap di sofa panjang setelah perutnya diisi.
Athena berdiri tegak di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke gemerlap lampu kota Jakarta. Di sampingnya, Arga menyodorkan sebuah gawai tablet dengan kening yang berkerut dalam.
"The, ada yang aneh," bisik Arga sangat pelan, tidak ingin mengusik tidur kakak beradik itu.
"Saat Juan tidak sadarkan diri tadi, gue sempat menyuruh tim IT kita untuk melacak latar belakangnya lewat sistem data sipil. Tapi hasilnya..." Arga menggantung kalimatnya, menatap Athena dengan sorot mata tak percaya.
"Nihil?" tebak Athena dingin.
"Lebih dari sekadar nihil," sahut Arga serius.
"Sistem kita bahkan tidak bisa menemukan nama 'Juan' di jaringan mana pun. Begitu tim kita mencoba menembus lapisan enkripsi di laptop tua yang dia bawa, seluruh server cadangan kita di markas pusat mendadak mengalami crash dalam hitungan detik. Seolah-olah... ada 'dinding tak kasatmata' yang langsung mengunci dan menyerang balik siapa saja yang mencoba mengintip hidupnya."
Mendengar itu, sudut bibir Athena sedikit terangkat. Setitik ketertarikan kilat muncul di sepasang netra kelamnya. Pemuda kurus yang ia tolong tadi ternyata bukan sekadar orang biasa.
Namun, sebelum Athena sempat menanggapi ucapan Arga, ponsel di saku jaketnya tiba-tiba bergetar singkat. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Athena membuka pesan tersebut. Hanya ada satu baris kalimat pendek, namun sukses membuat pupil matanya sedikit melebar:
*[Unknown]: Kamu terlihat sangat cantik saat tersenyum manis pada anak kecil tadi, Queen. Tapi sayangnya, seragam sekolahmu hari ini terlalu banyak ternoda oleh darah orang-orang bodoh itu. Mau kubantu membersihkannya?*
Athena langsung mengalihkan pandangannya tajam ke arah luar jendela, menatap deretan gedung tinggi dan jalanan sepi di bawah sana.
Seseorang di luar sana tidak hanya mengetahui identitas aslinya, tetapi juga telah mengawasinya sejak insiden di kantin hingga ke sela-sela gang kumuh tadi siang. Dan yang paling mengerikan, orang itu berada sangat dekat.
...****************...
WELCOME TO MY 2ND BOOK! ✨
Mari kita temani Athena membalaskan dendamnya pada keluarga yang selalu menyiksanya.🔥
STAY TUNE TERUS SETIAP HARI YA GUYS! Karena bab baru akan selalu UP SETIAP PAGI DAN MALAM jam 07.00 dan 17.00 😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA. THANK YOU! 🥰
orng mh malu2 meong,ni mlah malu2 setan....🤣🤣🤣
mau blang dia bdoh,tp dia ky gt ada alasannya....tp mlai skrng,jgn jd pngmis lg y thea....luka saat ini jd luka trakhir untkmu,abs tu ksih mreka blsan yg stimpal.....gemes aku tuuhh....pgn nabok....😠😠😠😡
Aku udh mmpir,slm knal....
btw,mskpn aku udh prnh bca crta yg sma tp aku ttp bca ko....aku suka cwek kuat dn tgas,ga yg ratu drama ky yg onoh....😁😁😁....
Aku tnggu up'ny y....smngttt....