Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Langkah kaki Liam Oliver tidak lagi memiliki keangkuhan yang biasanya membuat orang lain menunduk segan. Sepatu kulitnya terseret pelan di atas karpet beludru tebal, setelah membiarkan Mira bersitirahat di kamar pengantin yang kini terasa bagai ruang penghakiman bagi jiwanya sendiri.
Seluruh kekuatan fisik yang biasanya ia banggakan sebagai pria atletis menguap tanpa sisa. Tubuh tegapnya terasa lemas, seolah setiap sendi di tubuhnya dipaksa memikul beban berton-ton rasa bersalah yang baru saja dihantamkan oleh dokumen rahasia milik Papanya.
Dunia yang selama ini ia pandang dengan hitam-putih yang sederhana baru saja runtuh berkeping-keping.
Ia sempat mengira botol obat di lantai itu adalah akhir dari segalanya, namun untungnya, botol itu hanyalah vitamin penguat imun yang tak sengaja tersenggol saat Mira mencoba menjauh darinya beberapa jam lalu.
Namun, kenyataan bahwa fisik Mira masih utuh tidak mengurangi rasa mencekik di leher Liam. Luka yang ia goreskan di jiwa wanita itu jauh lebih berdarah daripada luka fisik mana pun.
Liam melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang temaram. Lilin-lilin aromaterapi vanilla hampir habis terbakar, menyisakan pendaran cahaya yang kian meredup dan menciptakan bayangan panjang yang meliuk di dinding. Di sanalah, di sudut paling gelap di pojok kamar, Liam menemukan istrinya.
Mira Hazelya tidak lagi berada di atas ranjang mewah berkelambu sutra. Wanita itu telah turun, menyeret gaun pengantin satin putihnya yang kini tampak kotor di lantai marmer yang dingin.
Ia meringkuk di antara celah lemari besar dan dinding, menyurukkan seluruh tubuh mungilnya ke dalam sudut sempit itu seolah-olah berusaha menyatu dengan kegelapan agar tidak terlihat oleh dunia.
Kedua lututnya dipeluk erat di depan dada. Wajah seputih porselen itu ditenggelamkan sedalam mungkin di antara lipatan lengannya yang gemetar. Rambut hitam legamnya yang panjang terurai acak-acakan, menutupi sebagian bahu sempitnya yang terus terguncang oleh isak tangis yang sunyi namun menyayat hati.
Mendengar suara langkah kaki Liam yang mendekat, tubuh Mira seketika menegang hebat. Getaran ketakutan menjalar dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Ia semakin mengeratkan pelukan pada lututnya, menyembunyikan wajahnya lebih dalam.
Di dalam kepala Mira yang dipenuhi kabut trauma, langkah kaki itu adalah pertanda bahwa sang monster telah kembali. Ia mengira Liam datang untuk mengeksekusi ancamannya, untuk memukulinya, mencacinya lagi dengan kata-kata kotor, atau menyeret tubuhnya keluar dari hotel malam ini juga sebagai wanita buangan yang hina.
"Jangan... jangan mendekat..." rintih Mira lirih, suaranya begitu parau, hampir habis karena terlalu lama menangis. "Maaf... maafkan aku... tolong jangan pukul..."
DEG.
Kalimat pendek yang keluar dari bibir Mira terasa seperti aliran listrik bertegangan tinggi yang langsung menyengat jantung Liam. Langkah kaki Liam terhenti seketika. Dadanya berdenyut sangat sakit, sebuah rasa sakit emosional yang begitu pekat hingga membuatnya harus menarik napas dalam-dalam secara paksa.
"Dia mengira aku akan memukulinya? Dia mengira aku serendah itu ?" batin Liam, rahangnya mengatup rapat menahan gejolak rasa bersalah yang nyaris membuatnya gila.
Melihat wanita yang telah menukarkan seluruh hidup dan kehormatannya demi menyelamatkan nyawa kakaknya kini harus meringkuk ketakutan di lantai dingin karena ulahnya, ego Liam sebagai pria terhormat hancur lebur tak bersisa.
Visual cold CEO yang biasanya tampak begitu angkuh dan berwibawa kini runtuh total. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang dilingkupi penyesalan terdalam.
Liam tidak memedulikan lagi harga dirinya. Ia melangkah perlahan, memastikan ketukan sepatunya terdengar sangat pelan agar tidak mengejutkan Mira. Begitu ia tiba di hadapan wanita itu, Liam menurunkan tubuh tegapnya. Ia berlutut di atas lantai marmer yang dingin, tepat di depan Mira yang masih gemetar.
Jarak mereka kini sangat dekat. Liam bisa mencium aroma lembut bunga lili yang bercampur dengan kehangatan napas Mira yang tersengal-sengal. Liam mengulurkan tangan kanannya yang kekar, namun tangannya berhenti mengambang di udara, hanya beberapa sentimeter dari kepala Mira.
Ia tidak berani menyentuh sehelai pun rambut wanita itu, takut jika sentuhannya justru akan memicu serangan panik yang lebih parah di dalam jiwa Mira yang rapuh.
"Mira..."
Suara bariton Liam yang biasanya terdengar tegas, dingin, dan penuh dominasi, kini keluar dalam nada yang sangat rendah, berat, dan bergetar hebat oleh emosi yang tertahan di tenggorokan. Suara itu terdengar begitu lembut, memancarkan ketulusan yang belum pernah ia tunjukkan pada wanita mana pun seumur hidupnya.
Mira sedikit tersentak mendengar perubahan nada suara pria yang beberapa jam lalu membentaknya bagai singa kelaparan. Dengan sangat perlahan dan ragu-ragu, Mira mengangkat kepalanya dari balik lipatan lengan.
Ketika wajah Mira terekspos di bawah pendaran cahaya lilin yang temaram, jantung Liam seolah berhenti berdetak untuk kesekian kalinya. Wajah cantik seputih porselen itu kini basah kuyup oleh air mata.
Sepasang mata bulatnya yang indah tampak membengkak dan memerah, memancarkan kilat keputusasaan dan ketakutan yang begitu pekat. Sudut bibirnya yang ranum tampak bergetar hebat, menggambarkan betapa besarnya siksaan batin yang sedang ia tanggung sendirian.
Namun, alih-alih menemukan kebencian atau dendam di dalam mata Mira, Liam justru hanya menemukan kerapuhan yang murni. Wanita ini tidak mengutuknya, ia hanya ketakutan.
Liam menatap lurus ke dalam netra bulat Mira. Detik itu juga, seluruh dinding es di hati Liam mencair. Sorot mata elang Liam yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini berubah total, dipenuhi oleh kabut penyesalan yang amat dalam, rasa bersalah yang mencekik, dan secercah rasa ingin melindungi yang teramat kuat.
Tatapan mata Liam saat itu begitu intens, tipe tatapan mata seorang pria yang siap menyerahkan seluruh hidupnya demi menebus kesalahan pada wanita yang dicintainya.
"Mira... lihat aku," bisik Liam, suaranya parau dan serak. "Aku tidak akan memukulmu. Aku tidak akan pernah mengusirmu. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri."
Mira menatap mata Liam dengan pandangan linglung. Ia bisa merasakan perubahan drastis pada aura pria di hadapannya. Tidak ada lagi hawa membunuh atau tatapan jijik yang merendahkannya.
Yang ia lihat di dalam manik mata hitam Liam saat ini adalah sebuah kejujuran yang telanjang dan penyesalan yang begitu besar, hingga membuat air mata Liam sendiri tampak menggenang di sudut matanya.
"Maafkan aku..." Liam menundukkan kepalanya yang kokoh di hadapan Mira, sebuah gestur ketundukan mutlak dari seorang pria Oliver yang tidak pernah memohon pada siapa pun.
"Maafkan ketidaktahuanku, Mira. Maafkan kata-kata kejamku yang sudah mengotori kesucian pengorbananmu. Aku... aku adalah monster yang sesungguhnya di kamar ini," lanjut Liam, suaranya kian bergetar, menahan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya.
Mira tetap membisu. Lidahnya masih terkunci rapat oleh trauma dan janji suci yang ia pegang.
Namun, sepasang matanya tidak bisa berbohong, ada rasa terkejut yang mendalam melihat bagaimana pria yang begitu angkuh ini kini bersujud di depannya di atas lantai dingin, memohon ampunan dengan ketulusan yang begitu menyesakkan dada.
Atmosfer di dalam kamar pengantin itu mendadak berubah menjadi begitu canggung, berat, namun dipenuhi oleh ketegangan emosional yang kian memuncak.
Di antara kegelapan pojok kamar dan pendaran lilin yang kian meredup, takdir baru di antara sang pengantin pengganti dan sang martir resmi dimulai dengan sebuah penyesalan yang berdarah-darah.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?