Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. berbincang
Dina menatap rumah yang sudah begitu lama dia tinggalkan begitu saja tanpa ada pernah kembali lagi ke sini, bertahun-tahun lamanya dia pergi dan begitu enggan untuk pulang ke desa karena ada Vera yang menempati rumah tersebut dan dia tidak mau bila banyak berbicara dengan kakak pertamanya yang telah mendapat warisan itu.
Padahal Vera tidak pernah menganggap sepenuhnya bahwa rumah itu adalah hak milik untuk dia dan melarang Dina untuk datang ke rumah ini, hanya pikiran Dina sendiri yang memang merasa benci serta muak sehingga dia memutuskan tidak pernah datang dan menjauhi Vera agar hubungan mereka semakin jauh tanpa ada kedekatan sebagai saudara.
Kini dia telah kembali lagi dan Serpihan Kenangan bersama dengan orang tercinta di dalam rumah itu kembali membayang di dalam pikiran dia, andai saja Susanto tidak membutuhkan tumbal untuk pesugihan yang sudah mereka anut maka Dina juga tidak akan pernah mau kembali ke desa ini untuk tinggal di dalam rumah itu.
Jelas Ini semua hanya keterpaksaan saja demi misi mereka untuk mendapatkan kembali apa yang telah lama hilang, Susanto tersenyum senang karena dia tahu bahwa rumah sang mertua memiliki ukuran yang begitu besar dan juga terlihat cukup menenangkan bila ada di desa ini dalam waktu yang lumayan lama.
Pikiran dia tentu saja hanya mencari tumbal dan kemungkinan besar bila di desa ini maka masih banyak anak perawan yang bisa dia dapatkan, malah Susanto berpikir bahwa bisa saja dalam waktu beberapa hari dia bisa langsung mendapatkan seluruh tumbal yang dia butuhkan sehingga nanti tidak perlu berpikir lagi mau mencari kemana.
''Kau harus keluar juga bersama dengan para tetangga dan mencari tahu tentang anak perawan itu.'' Susanto berkata kepada sang istri.
''Jangan semakin keterlaluan karena aku tidak ada niat untuk mencari tahu tentang hal itu!'' Dina menjawab Ketus.
''Loh kalau kau sendiri tidak keluar mencari tahu maka bagaimana aku bisa mendapatkan tumbal?'' tanya Susanto.
''Itu urusan kau sendiri dan yang paling penting selama ini kau sudah mencari para gadis walau belum mencari tumbal.'' Dina menjawab dengan suara angkuh dan segera masuk ke dalam kamar.
''Sialan, walau terlihat diam seperti itu tapi dia bisa tahu segalanya tentang perbuatan yang aku lakukan.'' Susanto membatin di dalam hati.
Dina memang tahu segala tindak-tanduk kelakuan Sang suami namun dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu Dan juga tidak pernah mendebat, semua dia simpan di dalam hati dan memilih untuk tetap diam tanpa ada kompromi sama sekali sehingga terkadang membuat Dina kesannya begitu angkuh dan tidak pernah memiliki sikap ramah.
''Aku akan keluar sendiri kalau begitu nanti malam untuk mencari tahu tentang anak perawan itu.'' Susanto berkata sembari duduk di sofa.
''Itu terserah dirimu karena soal tumbal ini aku tidak ingin ikut campur.'' jawab Dina dan segera menuju kamar peninggalan Bu Elma.
''Tidak mau ikut campur tapi kau juga menikmati harta yang aku dapat.'' Susanto berkata dengan suara sinis.
''Ibu.'' Dina menatap foto wanita cantik yang tergantung di dalam kamar itu.
''Aku pulang untuk mengunjungi dirimu, ibu apa kabar sekarang?'' Dina berkata sendirian dan mengelus foto yang ada di hadapan dia saat ini.
''Hah aku rasa dia semakin gila saja karena foto seperti itu masih bisa dia ajak berbicara.'' Susanto membuang muka.
Susanto sama sekali tidak peduli dan tidak menunjukkan rasa simpati kepada sang istri yang tengah menangis karena merindukan sosok Bu Elma, sebab dalam pikiran dia saat ini adalah bagaimana mendapatkan para tumbal dan menjalani hidup yang enak tanpa ada harus gangguan lagi.
Kalau para tumbang sudah lengkap maka dia bisa bersikap sesuka hati dan menikmati harta kekayaan itu di hadapan semua orang, untuk sekarang tidak perlu mencari tahu tentang masalah yang sudah lama terkubur karena menurutnya itu adalah hal yang sangat tidak penting untuk mereka ketahui.
...****************...
"Oh ini suami Dina dulu itu toh.'' Pak RT menatap Susanto yang baru bergabung di pos ronda.
''Iya, kebetulan memang Saya sudah lama tidak pulang ke sini sehingga sudah tidak bertemu dengan kalian satu sama lain.'' Susanto menjawab sambil tersenyum.
''Buka bisnis apa selama di kota ya? ajak saya dong biar ada pekerjaan ini.'' Pak Bedu tersenyum karena dia memang sekarang menjadi pengangguran.
''Saya kerja di tambang batubara jadi ya tidak ada pekerjaan kalau untuk pak Bedu.'' ujar Susanto kembali.
Semua yang ada di sana tertawa karena mereka merasa lucu bahwa apa yang dikatakan oleh Susanto itu memang benar, Pak Bedu adalah orang biasa sehingga tidak mungkin juga bisa bekerja di tempat seperti itu dan yang paling penting dirinya sudah tua serta tidak memiliki pengalaman cukup untuk bekerja di tempat yang mapan.
Susanto sangat senang ketika melihat respon para warga seorang begitu welcome sekali kepada dia, dengan kesempatan itu maka dirinya bisa menjadi orang yang sangat disegani di desa ini sehingga nanti bisa dengan mudah mencari mangsa dan akan mendapatkan tanpa ada orang yang merasa curiga kepada dia.
''Eh Kalian sudah pada dengar belum tentang kasus yang ada di desa sebelah?'' Mario bertanya kepada Pak RT dan yang lain.
''Yang ada di desa Pandan Arum toh?'' Pak RT juga mendengar hal itu namun dia masih belum tahu secara jelas.
''Betul, sampai sekarang sudah sangat lama dan belum terungkap siapa pelaku yang telah memakan banyak warga itu.'' Mario berkata dengan penuh semangat.
''Ya kan biasanya ada Purnama yang menangani tentang masalah itu ya.'' Pak Bedu juga ikut menatap Mario.
''Emang ada kasus apa di desa itu ya?'' Susanto bertanya penasaran karena dia memang sama sekali tidak tahu.
Mario segera menjelaskan kepada Susanto tentang apa yang telah terjadi di Desa Pandan Arum itu, meski mereka tidak satu Desa namun tetap saja kabar miring tentang seorang iblis yang berani memakan tubuh manusia secara langsung telah tersebar ke mana-mana.
''Eh Apa benar memang itu perbuatan setan?'' Susanto bersikap seolah tidak percaya dengan keberadaan makhluk halus.
''Betul kok, Mbak Purnama tidak mungkin salah kalau sudah mengurus tentang setan seperti itu karena dia adalah pawang setan!'' Mario sangat percaya kepada Purnama.
Susanto mulai gelisah karena dia mengetahui bahwa ada orang yang mengerti tentang setan seperti ini dan kemungkinan nanti dia bisa terganggu bila sedang melaksanakan aksi, takut bila nanti mendadak Purnama datang juga ke desa ini dan mengetahui bagaimana niat buruk dia untuk mencari para tumbal.
selamat pagi jangan lupa like dan komentar nya ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍