NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Aura terbangun dengan sentakan kaget saat alarm ponselnya menjerit nyaring pada pukul tujuh pagi. Tubuhnya terasa remuk, dan matanya perih akibat hanya tidur kurang dari dua jam. Namun, kilasan ancaman Devan tentang beasiswa dan ibunya langsung membuat kesadaran Aura pulih sepenuhnya. Ia segera bersiap-siap dan bergegas menuju kampus.

Tepat pukul 07.45, Aura sudah berdiri di selasar koridor Fakultas Hukum, bersandar pada pilar beton sambil mendekap buku teksnya. Koridor mulai ramai oleh mahasiswa yang berdatangan untuk kelas jam pertama.

Dari kejauhan, langkah kaki yang berat dan dominan terdengar. Devan berjalan santai, memisahkan kerumunan mahasiswa yang otomatis memberi jalan untuknya. Pagi ini dia tampak segar—berbeda terbalik dengan Aura yang tampak seperti mayat hidup. Jaket kulit hitamnya kembali terpasang, dan sebuah kacamata hitam bertengger di hidungnya sebelum ia turunkan ke kerah kaos.

Begitu Devan berhenti di depannya, Aura langsung menyodorkan sebuah print-out rangkuman laporan dan flasdisk hitam milik cowok itu.

"Filenya sudah kukirim ke email-mu jam lima subuh tadi. Dan ini salinan cetaknya untuk jaga-jaga," kata Aura tanpa ekspresi, suaranya terdengar datar dan serak karena kelelahan.

Devan menerima flasdisk dan kertas itu. Ia tidak langsung memeriksanya, melainkan menatap lekat-lekat wajah Aura. Matanya tertuju pada lingkaran hitam di bawah mata gadis itu dan bibirnya yang pucat.

"Lo beneran gak tidur semalaman?" tanya Devan. Nada suaranya tidak lagi mengejek, melainkan terdengar sedikit... heran.

"Bukan urusanmu," balas Aura ketus. "Tugasku sudah selesai. Sekarang, tepati janjimu. Jangan ganggu beasiswaku, jangan ganggu ibuku, dan suruh anak buahmu mencopot semua kertas sialan di mading kampus."

Devan tidak menjawab. Ia membuka lembar demi lembar laporan yang diketik Aura. Kerutan tipis muncul di dahinya saat membaca analisis hukum yang dibuat oleh gadis itu. Analisisnya sangat rapi, tajam, namun... ada sesuatu yang aneh. Aura mengubah beberapa poin penting dalam draf aslinya. Poin-poin sensitif mengenai nama-nama perusahaan logistik luar negeri yang sebelumnya ada di draf kasar, kini telah disederhanakan oleh Aura menjadi istilah hukum umum yang tidak memancing kecurigaan.

Devan menutup kertas itu dengan bunyi prak yang pelan. Matanya menyipit, menatap Aura dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat intens dan berbahaya.

"Kenapa lo mengubah bagian pasal sengketa pelabuhan di halaman dua belas?" tanya Devan, suaranya merendah, beralih ke nada mengintimidasi yang biasa ia gunakan di dunia luar kampus.

Aura menelan ludah, namun ia menolak untuk mundur. Ia melangkah satu tindakan lebih dekat hingga suaranya hanya bisa didengar oleh Devan. "Karena draf aslimu itu bodoh, Devan. Kalau dosen penguji atau dekan melihat detail transaksi kargo dan nama perusahaan cangkang di lampiran itu, mereka tidak akan menganggapnya sebagai laporan magang. Mereka akan menganggapnya sebagai barang bukti pencucian uang."

Mendengar kata 'pencucian uang', rahang Devan mengeras. Tangannya yang memegang kertas tercengkeram kuat hingga kertasnya agak kusut. Aura bisa melihat perubahan drastis pada gestur tubuh Devan; cowok itu tidak lagi berlagak seperti bad boy sekolahan yang arogan, melainkan seperti seorang predator yang rahasianya baru saja dikuliti.

"Lo... tahu apa soal dokumen itu?" desis Devan, suaranya begitu rendah hingga mengirimkan sensasi dingin ke punggung Aura.

"Aku mahasiswa hukum tingkat akhir dengan IPK sempurna, Devan. Aku tahu mana dokumen legalitas bisnis dan mana dokumen yang menyembunyikan aliran dana ilegal," jawab Aura berani, meskipun jantungnya berdentum bertalu-talu di balik dadanya. "Aku sengaja mengubahnya agar laporanmu aman secara akademis. Jadi, alih-alih menginterogasiku seperti ini, seharusnnya kamu berterima kasih karena aku baru saja menyelamatkanmu dari penyelidikan rektorat—atau bahkan polisi."

Devan menatap Aura dalam keheningan yang mencekam selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Devan merasa benar-benar terancam oleh seseorang yang tidak memegang senjata atau memiliki pasukan. Gadis di depannya ini memegang sesuatu yang jauh lebih berbahaya: otak yang terlalu cerdas.

Sebelum Devan sempat membalas, Bram tiba-tiba muncul dari ujung koridor dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tampak panik.

"Dev," panggil Bram setengah berbisik, mengabaikan keberadaan Aura. "Bokap lo nelepon. Ada masalah di distrik utara. Orang-orang dari klan Mahendra mulai bergerak ke area gudang pelabuhan. Lo diminta balik ke markas sekarang."

Mendengar nama 'Mahendra', fokus Devan langsung teralih. Aura bisa melihat kilat kemarahan dan ketegangan yang murni di wajah cowok itu. Atmosfer di sekitar Devan mendadak berubah menjadi pekat oleh aroma bahaya.

Devan kembali menatap Aura. Ia maju selangkah, membuat Aura terpaksa bersandar sepenuhnya pada pilar beton di belakangnya. Devan mencengkeram sisi pilar di samping kepala Aura, mengurung gadis itu dalam jarak yang sangat intim.

"Urusan kita belum selesai, Aura," bisik Devan, matanya menatap tepat ke manik mata cokelat Aura dengan intensitas yang membakar. "Lo tahu terlalu banyak, dan itu bikin lo jadi orang paling berbahaya buat gue saat ini. Jangan ke mana-mana setelah kelas selesai. Gue akan cari lo."

Tanpa menunggu jawaban, Devan melepaskan cengkeramannya, berbalik, dan berjalan cepat meninggalkan koridor bersama Bram. Langkah mereka terburu-buru, meninggalkan Aura yang perlahan merosot, bertumpu pada pilar untuk mengatur napasnya yang sempat tertahan.

Aura memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, dengan mengubah laporan itu dan menunjukkannya pada Devan, ia tidak lagi sekadar menjadi korban perundungan kampus. Ia baru saja melangkah terlalu dalam ke tepi jurang dunia Devan yang sesungguhnya. Dunia mafia yang gelap, berdarah, dan tidak mengenal kata ampun.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!