NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama

Pagi itu suasana di lobi utama kantor terasa lebih hidup dari biasanya. Para karyawan yang berjalan bergegas menuju ruangan masing-masing perlahan melambat, menoleh ke arah meja resepsionis dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Seorang wanita berdiri di sana, berbicara dengan tenang sambil tersenyum ramah pada petugas resepsionis.

Ia mengenakan gaun midi berwarna krem dengan potongan elegan, dipadukan dengan blazer senada yang pas sempurna di badan. Sepatu hak tingginya berwarna perak berkilau halus setiap kali ia bergerak. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan anting mutiara kecil yang berkilau di telinganya. Postur tubuhnya penuh percaya diri, senyumnya manis dan berwibawa, serta aroma parfum melati lembut tercium samar di udara.

Itu Clara Wijaya, putri tunggal dari sahabat dekat ayah Andre. Mereka tumbuh bersama sejak balita, bersekolah di tempat yang sama, dan keluarga mereka sering menghabiskan liburan bersama. Kini Clara bekerja sebagai konsultan hukum di perusahaan besar milik ayahnya sendiri, dan baru saja kembali ke Jakarta setelah dua tahun menempuh pendidikan lanjut di luar negeri.

"Terima kasih banyak ya," ucapnya sopan pada resepsionis. "Tolong sampaikan pada Andre kalau saya sudah menunggu di ruang tamu lantai atas."

"Baik Nona Clara, sebentar saya sampaikan," jawab resepsionis dengan hormat.

Tak lama kemudian pintu lift terbuka, dan Andre melangkah keluar. Ia belum sempat masuk ke ruang kerjanya saat melihat sosok yang sudah dikenalnya seumur hidup itu. Wajahnya yang biasanya kaku dan serius perlahan melunak.

"Clara.. Kamu kapan sampai?" tanyanya singkat sambil berjalan mendekat.

Clara langsung melangkah maju, lalu dengan sangat akrab menyentuh lengan Andre dan menatapnya dengan mata berbinar senang. "Tadi malam baru mendarat di bandara. Pagi ini langsung ke sini karena kangen sekali. Kamu makin sibuk saja ya, sampai tidak sempat menjemputku?"

Andre tersenyum tipis. Senyum yang sangat jarang dilihat oleh orang-orang di kantor ini. "Ada rapat mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Maaf ya. Ayo, kita bicara di ruanganku saja."

Mereka berjalan beriringan menuju lift khusus eksekutif. Sikap mereka yang begitu dekat, cara Clara melingkarkan tangan di lengan Andre, dan tatapan sayang yang Clara berikan membuat siapa pun yang melihatnya berpikir mereka adalah pasangan kekasih yang serasi.

"Wah cantik sekali teman wanita Pak Andre ya," bisik seorang staf administrasi di dekat lobi. "Pantas saja beliau selalu menjaga jarak dengan siapa pun. Pasti wanita itu orang yang spesial di hatinya."

"Benar sekali," timpal temannya.

''Itu nona Clara. Anak sahabat Papanya Pak Andre. Mereka terlihat sangat cocok. Sepertinya Nona Clara ini memang calon pasangan Pak Andre."

Kebetulan saat itu Rima sedang berjalan membawa tumpukan berkas tebal dari ruang arsip menuju bagian keuangan. Ia berhenti sejenak di pinggir lorong, melihat momen keakraban itu dari kejauhan. Matanya menyipit senang, lalu ia tersenyum lebar tulus.

"Wah, cantik sekali dan anggun," gumamnya pelan sendiri. "Pantas saja Pak Andre selalu tenang dan tegas. Ternyata teman dekatnya luar biasa begini. Mereka pasangan yang sangat cocok sekali."

Rima tidak merasa cemburu, tidak merasa sedih, bahkan tidak berpikir ada hal yang aneh. Baginya, Andre adalah pimpinan tertinggi yang harus dihormati dan ditaati. Melihat beliau bahagia bertemu teman dekatnya adalah hal yang menyenangkan untuk dilihat.

"Semoga mereka selalu saling sayang." gumamnya lagi sambil membetulkan posisi berkas di pelukannya lalu dengan langkah ringan dan hati yang tenang, Rima berjalan memutar lewat lorong lain, menjauh dari lantai atas, dan kembali fokus menyusun berkas di meja kerjanya. Nanti saat istirahat pun ia akan menceritakannya pada teman-teman magang lain dengan nada antusias, seolah sedang membagikan kabar baik.

Sementara itu di ruangan kerja Andre yang luas dan rapi, Clara duduk santai di kursi tamu sambil memandangi pemandangan kota dari balik jendela kaca besar. Andre menuangkan dua gelas air putih dingin, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.

"Bagaimana kabar Papa dan Mama?" tanyanya sambil duduk di kursi seberang Clara.

"Baik sekali," jawab Clara sambil memutar gelas di tangannya. "Mereka sering menyebut namamu. Mama bilang, kamu pasti makin kurus karena terlalu sibuk bekerja tanpa istirahat."

Andre terkekeh pelan. "Sampaikan pada Mama aku baik-baik saja. Papa bagaimana? Masih sering main tenis pagi?"

"Tentu saja. Papa bilang kalau kamu sudah tidak terlalu sibuk, dia ingin mengajak bertanding lagi," Clara menatap Andre lekat-lekat, lalu menambahkan pelan.

"Mereka juga berpesan, kalau waktunya sudah tepat, kita makan malam bersama di rumah minggu depan. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan Papa dan Mama."

Andre mengangguk pelan, tapi matanya sedikit menerawang ke luar jendela. "OK. Aku usahakan datang. Tapi Clara..." ia menatap teman kecilnya itu dengan tulus, "kamu tahu kan maksud mereka? Aku menghormati keinginan Papa dan Mama, tapi hubungan itu tidak bisa dipaksakan. Aku menganggapmu sebagai saudara sendiri, teman yang paling bisa dipercaya sejak kecil. Tidak lebih dari itu."

Wajah Clara sedikit berubah kecewa, tapi ia segera menutupinya dengan senyum manis. "Aku tahu kok, Andre. Kamu belum berubah ya, tetap kaku dan serius seperti dulu. Tidak apa-apa. Santai saja. Kita lihat saja nanti bagaimana perasaanmu berkembang pelan-pelan."

Ia berdiri dan berjalan mendekati meja kerja Andre, melihat tumpukan berkas yang tersusun rapi. "Ruanganmu masih sama saja, terlalu rapi sampai terasa dingin. Tidak ada barang yang berwarna atau manis sedikit pun."

Andre tersenyum tipis. "Aku nyaman seperti ini."

"Ya sudah, aku mau mampir ke ruang hukum sebentar menyapa temanku di sana sebelum pulang," pamit Clara sambil merapikan tas tangannya. "Nanti aku pulang sendiri saja."

"Baik. Dino akan mengantarmu sampai ke lantai bawah."

Tak lama kemudian Clara berjalan menyusuri lorong administrasi. Ia berpapasan dengan Rima yang sedang menata map di rak dinding. Rima segera menyingkir memberi jalan, lalu membungkuk sopan.

"Selamat siang Nona. Silakan lewat," sapa Rima ramah dengan senyum tulus tanpa beban.

Clara menatap Rima sekilas. Seragam anak magang yang sederhana, wajah ceria tanpa riasan, dan sikap yang sangat sopan. Ia tidak merasakan perasaan tidak suka sedikit pun. Baginya, Rima hanyalah salah satu dari sekian banyak karyawan yang bekerja di bawah Andre.

"Terima kasih. Kerja yang rajin ya," ucap Clara singkat dengan senyum ramah, lalu berjalan lewat begitu saja tanpa menoleh lagi.

Rima hanya mengangguk patuh, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan semangat.

Sore harinya, setelah Clara benar-benar pulang dan suasana kantor mulai sepi, Andre memanggil Dino masuk ke ruangannya. Ia duduk di kursi kerja sambil menatap keluar jendela, wajahnya terlihat berpikir berat.

"Dino," panggilnya pelan. "Kamu sudah bekerja bersama saya hampir tiga tahun, bukan?"

"Benar Pak," jawab Dino sopan sambil berdiri di depan meja.

"Selama ini... apakah saya terlihat berbeda belakangan ini?

Ada yang aneh dari sikap saya?" tanya Andre ragu.

Dino terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Kalau jujur Pak... Bapak jadi lebih sering bertanya soal Mbak Rima. Lebih sering memperhatikannya. Dan kalau Bapak melihatnya, tatapan Bapak tidak sedalam biasanya saat melihat orang lain."

Andre tertegun, lalu menghela napas panjang. "Ternyata sejelas itu ya? Saya kira saya sudah menyembunyikannya dengan baik."

"Baru saya sadari belakangan ini Pak," aku Dino jujur. "Bapak mulai tidak keberatan dengan kesalahan kecil mbak Rima, mulai peduli pada kesehatannya, dan sering berhenti sebentar hanya untuk melihatnya bekerja. Bapak menyukai Mbak Rima, bukan?"

Andre mengangguk pelan, seolah beban berat terangkat dari bahunya. "Saya baru benar-benar sadar belakangan ini Dino. Awalnya hanya kesal karena dia sering berantakan. Lama-lama saya malah menunggu kehadirannya. Saya suka kejujurannya, suka caranya tersenyum tanpa kepura-puraan, suka hatinya yang tulus pada siapa saja."

Ia menunduk menatap meja. "Tapi saya jadi penasaran saat dia tadi melihat saya berjalan bersama Clara. Bagaimana reaksinya."

Dino mengerti maksud atasannya. "Tadi saya melihat kejadian itu Pak. Mbak Rima melihat Bapak dan Nona Clara berjalan bersama dan juga mendengar omongan karyawan lain yang mengira kalian pasangan. Tapi mbak Rima tidak terlihat sedih atau cemburu sedikit pun."

Andre mendongak kaget. "Benarkah? Dia tidak bertanya apa-apa?"

"Tidak Pak," Dino tersenyum. "Mbak Rima malah tersenyum senang dan mendoakan Bapak baik-baik saja dengan Nona Clara. Lalu dia langsung pergi bekerja lagi."

Andre terdiam lama sekali. Perasaan di hatinya campur aduk. Ada rasa kecewa karena Rima tidak cemburu, tapi ada rasa kagum yang lebih besar karena ketulusan dan kepolosan gadis itu.

"Benar-benar gadis yang berbeda," gumamnya pelan. "Dia benar-benar polos. Atau mungkin baginya saya hanya pimpinan biasa saja."

"Bapak sabar ya Pak," ucap Dino lembut. "Mbak Rima memang polos, tapi hatinya tulus. Nanti beliau pasti paham sendiri perlahan."

"Ya," Andre tersenyum tipis sambil menatap buku sketsa kecil di laci mejanya. "Aku akan tunggu sampai dia siap. Dan aku akan pastikan suatu hari nanti dia tahu, bahwa aku tidak melihatnya sekadar anak magang."

1
Edi Lupiyan
harus nunggu lagi cuma 2bab
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: iya kak. terimakasih ya
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!