Kalila Adiwangsa dianggap sebagai pembawa sial. Kelahirannya merenggut nyawa sang ibu, membuat ayahnya yang dingin dan ketiga kakak laki-lakinya Arkan, Rian, dan Reno menjadikannya orang asing di rumah sendiri.
Demi mencari perhatian, Kalila memakai topeng "badai": menjadi pemberontak dan perundung yang ditakuti di kampus. Namun, kerapuhannya hancur total saat Satya, pria yang ia cintai, menolaknya dengan hinaan pedih.
Di titik terendah hidupnya, sebuah vonis mati datang: kanker stadium akhir sedang menggerogoti tubuhnya.
Kini, Kalila harus memilih: terus mengemis cinta pada keluarga yang membencinya, atau pergi dalam diam menuju pelukan ibu yang tak pernah ia temui. Saat detak jantung terakhir mulai menghitung mundur, akankah penyesalan mereka datang sebelum segalanya terlambat?
"Lahir untuk dibenci, hidup untuk terlupakan, dan pergi untuk disesali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lentera yang Menyala di Sela Langkah
Aroma mentega yang gurih bercampur manisnya cokelat batangan yang meleleh memenuhi seisi dapur kediaman Adiwangsa. Di balik meja bar marmer yang luas, Reno tampak seperti seorang koki amatir yang frustrasi. Wajahnya tegang menatap wajan tebal khusus martabak manis yang permukaannya mulai memunculkan sarang-sarang gelembung kecil.
"Rian! Cepat ambilkan gulanya! Ini sudah mulai bersarang, kalau telat ditabur nanti tidak berserat!" teriak Reno panik, tangannya memegang sodet besi dengan posisi siap siaga.
Rian yang sedang duduk santai di kursi bar sambil memegang stoples gula pasir mendengus pelan. "Tenang, Ren. Membuat martabak itu butuh ketenangan jiwa, seperti memindahkan saham. Kalau kamu berteriak begitu, adonannya malah ciut karena stres."
"Jangan mendengarkan Rian, Reno. Tabur sekarang sebelum pinggirannya terlalu gosong," timpal Bi Inah yang mengawasi dari dekat sambil menahan senyum melihat tingkah dua pemuda kembar tersebut.
Tepat saat gula pasir ditaburkan dan wajan ditutup, langkah kaki Baskara, Arkan, Kalila, dan Satya memasuki area dapur yang menyatu dengan ruang makan informal tersebut. Suasana hangat langsung menyergap Satya. Pemuda itu sempat terpaku melihat dua anak muda dari keluarga konglomerat terkaya di Jakarta Selatan ternyata bisa terlihat begitu konyol dengan celemek kain dan sisa tepung yang menempel di dahi Reno.
"Wah, pas sekali. Tamu agung kita sudah masuk," seru Reno begitu melihat Satya berjalan di belakang Baskara. Ia segera melepas sarung tangan kainnya dan mengulurkan tangan. "Hai, Sat. Akhirnya kamu mau mampir ke markas kami lagi tanpa perlu diancam oleh Kak Arkan."
Satya menjabat tangan Reno sambil tertawa kecil. "Hai, Ren. Baunya enak sekali. Sepertinya eksperimen martabak kalian berhasil."
"Tentu saja berhasil. Adiwangsa tidak pernah gagal dalam mengeksekusi rencana, termasuk rencana membuat camilan malam," sahut Rian, beranjak dari kursinya untuk menyalami Satya dengan tak kalah ramah.
Baskara duduk di salah satu kursi utama meja makan, memberi isyarat kepada Satya untuk menempati kursi di seberangnya, sementara Kalila duduk di samping Satya. Arkan sendiri memilih untuk bersandar pada pilar dapur, mengamati interaksi tersebut dengan ekspresi wajah yang jauh lebih santai dibanding biasanya.
"Satya," Baskara membuka percakapan setelah Bi Inah menyajikan secangkir teh melati hangat untuk tamu mereka. "Papa—kalau kamu tidak keberatan panggillah Papa seperti anak-anak yang lain—ingin berdiskusi sedikit tentang rencana semester depan."
Satya meletakkan cangkir tehnya, mengangguk hormat. "Baik, Pa. Ada yang bisa saya bantu terkait jadwal kuliah Kalila?"
"Arkan sudah memeriksa beban akademis Kalila," Baskara melirik putra sulungnya.
Arkan menyambung kalimat ayahnya, "Dokter Müller di Munich dan tim dokter pendamping di Jakarta memberikan batas maksimal dua belas SKS untuk semester pertama ini. Kami tahu kamu adalah asisten laboratorium dan salah satu pengurus himpunan yang tahu betul peta birokrasi dosen. Kami ingin meminta bantuanmu untuk menyortir mata kuliah mana yang memiliki tingkat tekanan stres paling rendah, namun tetap krusial untuk mengejar ketertinggalannya."
Kalila menatap abang sulungnya dengan cemberut kecil. "Kak Ar, aku ini mau kuliah lagi, bukan mau masuk program perlindungan saksi. Kenapa sampai harus disortir begitu?"
"Ini demi kebaikanmu, Lila," potong Baskara dengan nada tegas namun penuh kelembutan parental. "Tubuhmu baru saja memenangkan pertempuran besar. Kita tidak boleh sembrono membiarkan stresor luar memicu kembali ketidakseimbangan imunmu. Papa tidak peduli jika kamu harus lulus lebih lambat satu atau dua tahun dari teman-teman seangkatanmu. Yang Papa pedulikan adalah kamu tetap bernapas dengan lega setiap kali pulang ke rumah ini."
Mendengar kalimat ayahnya, hati Kalila menghangat. Rasa egois dan keinginan untuk selalu tampil sempurna tanpa cela yang dulu sempat menguasai dirinya kini benar-benar telah digantikan oleh rasa syukur atas perlindungan yang tulus ini.
Satya mengangguk paham. Ia membuka catatan digital di ponselnya yang berisi daftar kurikulum jurusan mereka. "Kebetulan untuk semester depan, ada mata kuliah pilihan 'Sosiologi Budaya Tropis' dan 'Metodologi Penelitian Kualitatif'. Kedua mata kuliah ini lebih banyak fokus pada observasi lapangan yang santai dan diskusi kelompok, tidak ada ujian akhir berbasis hafalan ketat yang memicu stres tinggi. Saya ke depan juga akan mengambil kelas yang sama, jadi saya bisa memastikan Kalila tidak perlu mengerjakan tugas kelompok sendirian sampai larut malam."
Reno yang baru saja memindahkan martabak manis yang sudah matang ke atas talenan kayu langsung menyahut, "Bagus! Sempurna! Satya resmi diangkat menjadi kepala divisi perlindungan Ratu Iblis di area kampus." Ia memotong martabak itu menjadi bagian-bagian kecil dengan keahlian yang mengejutkan, lalu menghidangkannya di tengah meja. "Ayo dimakan, mumpung masih hangat."
Malam itu berjalan dengan penuh tawa dan kehangatan yang mengalir tanpa sekat. Satya yang semula merasa canggung berada di tengah keluarga Adiwangsa perlahan-lahan mulai merasa diterima sebagai bagian dari sebuah lingkaran utuh. Kedewasaan berpikirnya dan ketulusannya dalam memperlakukan Kalila membuat Baskara maupun ketiga abang Kalila menaruh rasa hormat yang besar pada pemuda sederhana tersebut.
Satu minggu kemudian, hari pertama perkuliahan semester ganjil dimulai. Langit Jakarta pagi itu cerah dengan semburat awan putih tipis yang bergerak lambat.
Kalila berdiri di depan cermin kamarnya, mematut dirinya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia mengenakan kemeja katun bergaris biru muda yang longgar, dipadukan dengan celana kulot hitam dan sepatu datar yang nyaman. Tas ransel kulit kecil menggantung di bahunya. Potongan rambut *pixie cut*-nya kini sudah mulai tumbuh sedikit lebih tebal, memberikan kesan dinamis dan segar.
Ia melangkah turun ke lantai bawah, di mana sebuah mobil MPV hitam dan sopir keluarga sudah bersiap di depan teras. Berbeda dengan masa lalu di mana ia selalu ingin memamerkan kemewahan dengan menyetir mobil sport sendiri ke kampus, kini ia merasa jauh lebih damai duduk di kursi belakang, menikmati perjalanan tanpa perlu ikut stres menghadapi kemacetan Jakarta.
Begitu mobil memasuki gerbang kampus, detak jantung Kalila sempat berakselerasi sedikit lebih cepat. *Pip. Pip.* Ia teringat kembali pada ritme mesin monitor di Munich, sebuah mekanisme psikologis yang otomatis muncul setiap kali ia merasa gugup. Namun, ia segera memegang liontin lili emas di lehernya, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan udara pagi menenangkan dadanya.
Mobil berhenti di depan koridor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Begitu Kalila turun, ia langsung mendapati sosok Satya yang sedang berdiri di dekat mading utama, mengenakan jaket almamater kampus dengan tas ransel yang disampirkan di satu bahu.
"Selamat pagi, Mahasiswi Kalila," sapa Satya dengan senyuman lebarnya yang khas begitu melihat Kalila berjalan mendekat.
"Selamat pagi, Asisten Laboratorium Satya," balas Kalila, rona merah tipis muncul di pipinya. "Bagaimana? Apakah kelasku sudah siap?"
"Sangat siap. Kelas pertama kita adalah Sosiologi Budaya di ruang 302. Ayo, aku tidak ingin kita terpaksa duduk di barisan paling depan karena terlambat," kata Satya, menuntun langkah Kalila menuju tangga gedung.
Sepanjang perjalanan menaiki tangga dan menyusuri koridor lantai tiga, kehadiran Kalila tak pelak kembali mengundang perhatian. Bisik-bisik halus dari beberapa mahasiswa yang lewat sempat terdengar. Desas-desus tentang "Ratu Iblis yang hilang ke luar negeri karena sakit parah dan sekarang kembali dengan rambut bondol" ternyata telah menyebar lebih cepat dari perkiraan.
Namun, berbeda dengan kunjungannya ke rektorat minggu lalu, kali ini Kalila tidak lagi menundukkan kepala atau meremas kemejanya dengan gugup. Ia berjalan dengan punggung tegap, wajahnya tenang, dan sesekali ia justru memberikan senyuman tipis dan anggukan sopan kepada beberapa orang yang berpapasan dengannya dan menatapnya dengan heran. Perubahan sikapnya yang ramah dan membumi itu justru membuat orang-orang di koridor tertegun, seolah tidak percaya bahwa gadis di depan mereka adalah orang yang sama dengan sosok tirani kampus beberapa semester lalu.
Saat mereka memasuki ruang kelas 302, ruangan sudah terisi sekitar setengahnya. Di barisan tengah, dua orang mahasiswi yang dulu merupakan bagian dari lingkaran pertemanan lama Kalila gadis-gadis yang dulu selalu mengekor di belakangnya untuk ikut merundung orang lain—tampak duduk berdampingan. Nama mereka adalah Cindy dan Tasya.
Begitu melihat Kalila masuk bersama Satya, Cindy dan Tasya langsung menghentikan obrolan mereka. Ekspresi wajah mereka berubah menjadi kombinasi antara canggung, bersalah, dan sedikit defensif. Sejak Kalila menghilang dan kabar kejahatannya di masa lalu mulai dikritik secara sunyi oleh anak-anak kampus, lingkaran pertemanan mereka telah pecah.
Satya melirik Kalila, memberikan pandangan bertanya apakah Kalila ingin mencari kursi di sudut lain yang lebih jauh. Namun, Kalila justru menggeleng pelan. Ia menatap lurus ke arah Cindy dan Tasya, lalu melangkah mantap mendekati barisan kursi tempat kedua mantan temannya itu duduk.
"Hai, Cindy. Hai, Tasya," sapa Kalila dengan nada suara yang tenang, tanpa ada sisa-sisa keangkuhan atau intonasi perintah.
Cindy tertegun sejenak sebelum berdeham canggung. "Hai... Kalila. Kamu... kamu sudah kembali? Rambutmu... potong pendek ya sekarang?"
"Iya, aku baru kembali dari pengobatan di Jerman," jawab Kalila jujur tanpa ada yang perlu ditutupi lagi. Ia mengambil tempat duduk di barisan yang persis berada di depan mereka, sementara Satya duduk di kursi sebelahnya. Kalila memutar tubuhnya sedikit ke belakang untuk kembali menatap mereka. "Cindy, Tasya... aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kelas dimulai."
Tasya tampak agak tegang. "Mau bicara apa, Lil? Kalau soal proyek kelompok semester lalu, kami—"
"Bukan soal itu," potong Kalila lembut. Ia menatap kedua mantan temannya itu satu per satu dengan ketulusan yang murni. "Aku ingin meminta maaf. Atas semua hal buruk yang dulu sering kulakukan, dan atas bagaimana aku sering memanfaatkan kalian berdua untuk ikut menyakiti orang lain di kampus ini hanya demi memuaskan egoku. Selama aku sakit di Munich... aku punya banyak waktu untuk berpikir, dan aku sadar betapa salahnya caraku hidup dulu. Aku harap kalian berdua bisa memaafkanku."
Ruangan kelas yang tadinya agak bising oleh obrolan mahasiswa lain mendadak terasa senyap di sekitar barisan mereka. Cindy dan Tasya saling berpandangan dengan mata yang membelalak tidak percaya. Seorang Kalila Adiwangsa—gadis yang tidak pernah mau mengakui kesalahan bahkan jika ia menumpahkan air ke baju orang lain—kini duduk di depan mereka dan memohon maaf dengan mata yang berkaca-kaca tanpa ada sisa-sisa kesombongan.
Cindy menarik napas dalam, matanya ikut melunak. "Lila... sebenarnya, kami juga yang harus meminta maaf. Selama kamu sakit dan tidak ada kabar, kami baru sadar kalau kami berteman denganmu dulu hanya karena takut pada pengaruhmu dan menyukai fasilitas yang kamu berikan. Kami bukan teman yang baik untukmu saat kamu sedang berada di titik terendah. Kami... kami senang melihatmu sudah sehat kembali, Lila."
Tasya mengangguk setuju, menyodorkan selembar tisu dari tasnya kepada Kalila yang mulai berkaca-kaca. "Iya, Lil. Selamat datang kembali. Potongan rambut barumu... jujur saja, membuatmu kelihatan jauh lebih cantik dan tidak galak lagi."
Awan ketegangan yang sempat menyelimuti masa lalu mereka seketika menguap, digantikan oleh sebuah tawa kecil yang tulus di antara ketiga gadis tersebut. Satya yang mengamati dari samping hanya bisa tersenyum lebar, merasakan seolah sebuah lentera harapan baru telah menyala dengan terang di dalam ruangan kelas tersebut, mengusir sisa-sisa kegelapan masa lalu yang sempat merusak jiwa mereka.
Perkuliahan hari pertama berjalan dengan sangat menyenangkan bagi Kalila. Penjelasan dari dosen sosiologi tentang bagaimana sebuah struktur budaya masyarakat bisa berubah karena adanya guncangan internal terasa sangat relevan dengan apa yang baru saja terjadi dalam struktur kejiwaan dan keluarganya sendiri.
Setelah kelas selesai pada pukul satu siang, Satya mengajak Kalila untuk makan siang di sebuah kedai kantin kejujuran kecil yang terletak di bagian belakang Fakultas Ilmu Budaya sebuah tempat yang jauh lebih tenang dibanding kantin utama yang bising.
Mereka duduk di bawah naungan pohon kamboja besar yang bunganya putih kekuningan berguguran sesekali di atas meja kayu.
"Bagaimana hari pertamamu, Sang Mantan Ratu Iblis?" goda Satya sambil menyodorkan sepiring gado-gado dan segelas es teh manis pesanan Kalila.
"Luar biasa, Sat. Menghadapi Cindy dan Tasya tadi rasanya seperti... menyelesaikan satu babak ujian besar dalam hidupku," Kalila mengaduk bumbu kacang gado-gadonya dengan perasaan riang. "Ternyata, meminta maaf itu tidak membunuh harga diriku sama sekali. Justru rasanya seperti aku baru saja melepaskan satu lagi beban batu dari ranselku."
"Itu karena harga diri yang sejati tidak dibangun di atas ketakutan orang lain, Lila. Harga diri yang sejati dibangun di atas keberanian kita untuk berdamai dengan kekurangan diri sendiri," ujar Satya, menatap Kalila dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum yang tak lagi disembunyikan.
Kalila menghentikan sendoknya sejenak, menatap Satya lama. "Satya... setelah semua ini selesai, setelah aku benar-benar sembuh dan kuliahku kembali normal... apa rencana masa depanmu? Maksudku, kamu adalah mahasiswa berprestasi, asisten laboratorium, dan semua dosen menyukaimu. Kamu pasti punya mimpi yang besar setelah lulus nanti, kan?"
Satya bersandar pada sandaran kursi kayu, pandangannya menerawang menembus celah dedaunan pohon kamboja ke arah langit siang yang cerah. "Dulu, mimpiku sederhana, Lila. Aku hanya ingin lulus dengan predikat *cum laude*, mendapatkan beasiswa S2 di Australia, lalu kembali ke sini untuk menjadi dosen atau peneliti kebudayaan. Aku ingin hidup yang tenang, terstruktur, dan berguna bagi banyak orang."
"Lalu... sekarang?" tanya Kalila, ada sedikit nada cemas dalam suaranya, takut jika kehadiran dirinya yang penuh dengan kerumitan medis akan menjadi beban bagi mimpi besar pemuda di depannya.
Satya menurunkan pandangannya, menatap Kalila dengan senyuman yang begitu lembut hingga mampu mencairkan sisa-sisa keraguan terkecil di hati gadis itu. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menyelipkan beberapa helai rambut pendek Kalila yang sedikit berantakan karena angin ke belakang daun telinganya dengan gerakan yang sangat natural dan penuh kasih sayang.
"Sekarang... mimpiku tidak banyak berubah, Lila," bisik Satya dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kepastian yang matang. "Aku tetap ingin mengambil beasiswa itu, aku tetap ingin menjadi peneliti. Tapi, ada satu detail penting yang kutambahkan di dalam draf masa depanku itu."
"Apa detailnya?"
"Aku ingin, di setiap langkah kaki yang kuambil menuju universitas di Australia nanti, ada kamu yang berjalan di sampingku. Aku ingin, setiap kali aku menyelesaikan sebuah jurnal penelitian ilmiah, kamu adalah orang pertama yang membaca dedikasinya di halaman depan. Dan aku ingin... memastikan bahwa ke mana pun mimpiku membawaku pergi, tempatku untuk kembali pulang dan berlabuh adalah di sini, di dalam hatimu yang sekarang sudah bersih dan penuh dengan cinta."
Air mata kebahagiaan yang hangat kembali menggenang di pelupuk mata Kalila. Kali ini ia tidak menahannya; ia membiarkan air mata itu meluncur bebas di pipinya, membawa serta seluruh rasa syukur yang tak terhingga kepada Tuhan yang telah mengirimkan sosok Satya ke dalam hidupnya yang sempat hancur.
Ia menggenggam erat tangan Satya yang masih berada di pipinya, merasakan kehangatan yang mengalir konstan sebuah getaran frekuensi kehidupan baru yang tidak lagi digantungkan pada mesin monitor rumah sakit, melainkan pada komitmen cinta yang murni dan abadi dari seorang pemuda yang memilih untuk tinggal di sisinya melewati segala musim kehidupan.
Di bawah naungan pohon kamboja kampus yang teduh, simfoni masa depan Kalila Adiwangsa dan Satya kini telah mulai ditulis dengan tinta emas yang baru. Lentera harapan yang sempat redup di ujung musim dingin Munich yang lalu, kini telah menyala dengan sangat terang di sela-sela langkah awal kepulangan mereka, siap menerangi jalan panjang yang membentang luas penuh kebahagiaan di hadapan mereka berdua.