Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Didepan Etalase
Keringat dingin makin deras mengalir di pelipis Haris. Suasana di sekitar etalase kaca itu mendadak terasa begitu menyengat dan mencekik. Tatapan tajam dari balik kacamata berbingkai emas itu... senyum tipis yang sarat akan dominasi itu... Haris tidak mungkin salah lagi. Wanita anggun nan memikat di hadapannya ini adalah Nindya, istrinya sendiri!
Aura keanggunan Nindya yang begitu kuat membuat Haris secara refleks melangkah mundur satu pijakan, melepaskan genggaman tangan Siska dari lengannya.
"N-Nindya...?" panggil Haris dengan suara gemetar, tak mampu lagi menahan gejolak penasarannya. "Kenapa... kenapa kamu ada di toko ini? Dan kenapa pakaianmu..."
Siska yang berdiri di samping Haris langsung tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Nindya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ini istri sah Haris? Wanita yang selama ini Haris ceritakan sebagai ibu rumah tangga biasa yang membosankan? Batin Siska berteriak tak percaya melihat betapa cantiknya Nindya dengan gaun hitam dan gaya berkelasnya.
Nindya tidak menunjukkan sedikit pun kebingungan atau kepanikan. Dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, ia meletakkan kotak berisi set berlian senilai 750 juta itu di atas meja kaca, lalu perlahan melepas kacamatanya.
"Kenapa aku ada di sini, Mas?" tanya Nindya dengan nada suara yang begitu merdu namun terasa amat dingin. "Pemilik toko emas perhiasan ini adalah sahabat dekatku semasa kuliah dulu. Hari ini aku datang untuk bersilaturahmi sekaligus membantunya memantau beberapa koleksi Limited Edition di sini."
Haris menelan ludah, tenggorokannya terasa begitu kering. Sahabat pemilik toko? Haris sama sekali tidak tahu bahwa istrinya memiliki koneksi dengan kalangan pemilik bisnis perhiasan mewah. Pengetahuan Haris tentang Nindya seolah runtuh seketika.
Nindya mengalihkan pandangannya pada Siska yang berdiri kaku dengan raut wajah memerah menahan malu. Senyum tipis Nindya makin terkembang—sebuah senyuman penuh keunggulan.
"Lalu, ada apa denganmu, Mas?" Nindya menatap Haris lurus-lurus. "Bukankah tadi pagi kamu bilang sedang sibuk rapat penting di kantor? Kenapa tiba-tiba ada di toko perhiasan bersama... rekan kerjamu?"
Haris gelagapan. Wajahnya pucat pasi. "I-ini... Nindya, ini Siska. Dia... dia cuma minta diantarkan mencari perhiasan untuk acara kantor nanti malam—"
"Oh, jadi ini wanita bernama Siska?" potong Nindya halus, menatap Siska dengan tatapan menilai yang membuat Siska merasa kerdil. "Pilihan selera perhiasannya cukup tinggi ya, Mas. Langsung memilih set berlian 750 juta rupiah."
Siska menggertakkan giginya. Rasa gengsinya membumbung tinggi di hadapan istri sah Haris. "Mas Haris kan pengusaha sukses, Mbak! Lagipula nominal segitu tentu bukan masalah besar buat Mas Haris!" cetus Siska mencoba membela diri.
Nindya terkekeh pelan—sebuah tawa anggun yang justru makin menyindir kebodohan Siska. Ia kembali menatap Haris yang makin terpojok.
"Bagaimana, Mas Haris?" tanya Nindya dengan nada menantang yang sangat manis. "Wanita ini menginginkan set berlian 750 juta rupiah ini. Apa kamu akan membelikannya sekarang pakai kartu kreditmu? Atau... kamu ingin kita membahas transaksi ini lebih lanjut nanti di rumah?"
Haris merasa seolah-olah dipatok ular berbisa. Jika ia membelikan perhiasan itu sekarang untuk Siska di depan mata Nindya, Nindya akan memiliki bukti kuat transaksi pemborosan uang bersama selingkuhannya. Namun jika ia menolak, gengsinya di depan Siska akan hancur lebur.
"N-tidak, Nindya... kita... kita tidak beli ini," jawab Haris terbata-bata, menyapu keringat di dahinya. Ia berpaling pada Siska dengan raut wajah gusar. "Siska, acara di toko ini selesai. Kamu pulang sendiri naik taksi."
"Tapi Mas—!" protes Siska tak terima.
"Pulang, Siska!" tegas Haris dengan suara tertahan, tak mau membuat keributan yang makin mempermalukan dirinya.
Dengan wajah bersungut-sungut dan menghentakkan kakinya kesal, Siska akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan toko emas tersebut.
Kini, tinggal Haris dan Nindya yang berdiri berhadapan di balik etalase. Haris menatap istrinya dengan tatapan campur aduk—antara rasa takut, malu, dan kekaguman yang makin membakar dadanya pada sosok Nindya yang baru. Sementara Nindya hanya merapikan kembali kotak berlian di depannya, tahu betul bahwa satu umpan manis telah berhasil memancing mangsanya.