Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KIRANA KETAHUAN MENATAP
Kamis siang, kelas Manajemen Strategis berjalan seperti biasa. Kirana duduk di barisan tengah, mencatat penjelasan Alden tentang manajemen konflik lanjutan, tapi konsentrasinya sudah tidak sepenuhnya utuh sejak percakapan di taman dua hari lalu.
"Kir, kamu dengerin nggak sih?" bisik Tesa, menyenggol lengannya pelan.
"Dengerin kok," jawab Kirana cepat, meski jujur saja setengah dari penjelasan Alden tadi tidak masuk ke kepalanya sama sekali.
Alden berdiri di depan kelas, menjelaskan sambil sesekali berjalan dari satu sisi papan tulis ke sisi lain. Gerakannya tenang, suaranya mengalir tegas seperti biasa. Tapi Kirana mendapati dirinya lebih sering memperhatikan cara Alden bergerak daripada mencatat apa yang dia katakan.
Dia memperhatikan cara rahang Alden mengeras setiap kali menjelaskan poin penting. Cara jarinya menunjuk ke slide dengan gerakan pasti. Cara alisnya sedikit berkerut ketika ada mahasiswa yang menjawab kurang tepat.
"Kirana."
Suara itu memecah lamunannya. Kirana tersentak, mendongak cepat, mendapati seisi kelas menoleh ke arahnya, dan Alden berdiri di depan dengan tatapan menunggu.
"I... iya, Pak?" Kirana buru buru duduk lebih tegak, jantungnya berdebar panik.
"Saya tanya, menurut kamu strategi resolusi konflik mana yang paling tepat untuk kasus di slide ini," ulang Alden, nadanya datar tapi ada sedikit nada menggoda yang tersembunyi di baliknya.
Kirana melirik slide di layar, mencoba membaca cepat apa yang tertera meski dia sama sekali tidak mengikuti penjelasan sebelumnya. "Strategi... kolaborasi, Pak? Soalnya kedua pihak punya kepentingan yang sama sama penting untuk dipertahankan."
Alden menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Benar. Tapi lain kali, coba lebih fokus dengar penjelasan dari awal, bukan cuma menebak dari judul slide."
Beberapa mahasiswa tertawa kecil, dan
Kirana merasa wajahnya memanas. "Maaf, Pak," gumamnya, menunduk malu.
Kelas berlanjut, dan Kirana berusaha keras memfokuskan diri kembali. Tapi entah kenapa, setiap kali dia mencoba menulis catatan, matanya secara tidak sadar kembali terangkat, mengamati sosok Alden yang berdiri tegap di depan kelas.
Sepuluh menit sebelum kelas berakhir, Alden memutuskan untuk memberikan sesi tanya jawab sebelum menutup materi hari itu. Dia berjalan pelan di antara barisan bangku, sesekali berhenti untuk menjawab pertanyaan mahasiswa yang mengangkat tangan.
Ketika dia sampai di dekat barisan Kirana, langkahnya melambat, dan tanpa sengaja dia menangkap Kirana yang sedang menatapnya dengan pandangan yang jelas jelas tidak sedang memperhatikan materi.
Mata mereka bertemu. Kirana yang tertangkap basah langsung membeku, tidak sempat mengalihkan pandangan cukup cepat. Wajahnya memerah seketika, dan dia buru buru menunduk ke buku catatannya, pura pura sibuk menulis sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Alden hanya terdiam sejenak, sudut bibirnya sedikit terangkat, hampir membentuk senyum kecil sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya ke barisan lain, seolah tidak terjadi apa apa.
"Kir," bisik Tesa yang duduk di sebelahnya, menahan tawa, "kamu ketahuan lho tadi."
"Ketahuan apaan," Kirana membalas berbisik, masih tidak berani mengangkat wajah.
"Ketahuan lagi natap dia, terus pas ketauan malah salting sendiri," Tesa menahan tawa lebih keras, membuat Kirana menyikut lengannya pelan.
"Diem, Tes, ntar kedengeran," desis Kirana, wajahnya masih terasa panas.
Begitu kelas selesai dan mahasiswa mulai berhamburan keluar, Kirana buru buru merapikan bukunya, berniat segera keluar ruangan sebelum rasa malu itu semakin menjadi jadi. Tapi baru beberapa langkah menuju pintu, suara Alden memanggilnya dari belakang.
"Kirana, sebentar."
Kirana berhenti, jantungnya berdebar kencang. Dia menoleh, mendapati Alden berdiri di dekat mejanya, menunggu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Ada apa, Pak?" tanya Kirana, mendekat dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.
Alden menunggu sampai kelas benar benar kosong, hanya menyisakan mereka berdua di ruangan itu. "Tadi kamu kelihatan nggak fokus sepanjang kelas. Ada masalah?"
"Nggak, Pak, saya cuma... lagi banyak pikiran aja," jawab Kirana, mencoba menghindari topik yang sebenarnya.
"Pikiran soal apa?" Alden mendesak lembut, matanya menatap Kirana dengan cara yang membuat kebohongan terasa semakin sulit dipertahankan.
Kirana terdiam, meremas ujung tali tas ranselnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa tanpa mengungkapkan hal yang sebenarnya ingin dia sembunyikan.
"Kalau nggak nyaman jawab, nggak apa apa," kata Alden akhirnya, melunakkan nada suaranya. "Tapi saya perhatiin, akhir akhir ini kamu sering keliatan melamun di kelas saya."
"Maaf, Pak, saya usahain buat lebih fokus lagi ke depannya," Kirana buru buru menjawab, berharap topik itu segera berakhir.
Alden menatapnya lama, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Kamu tau, tadi pas saya jalan ke arah kamu, kamu lagi natap saya."
Jantung Kirana serasa berhenti sesaat.
"Saya... maaf, Pak, itu nggak sengaja."
"Saya nggak marah," Alden buru buru menjelaskan, melihat raut panik di wajah Kirana. "Cuma penasaran aja, kenapa."
Kirana menunduk, tidak berani menatap mata Alden secara langsung. "Saya sendiri juga nggak yakin kenapa, Pak. Kadang saya cuma... nggak sadar aja natap ke arah Bapak."
Keheningan menyelimuti mereka berdua sejenak. Kirana bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras di telinganya, dan dia yakin Alden pasti bisa mendengarnya juga kalau jarak mereka sedekat ini.
"Saya juga," kata Alden akhirnya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Kirana mendongak cepat, tidak yakin dia mendengar dengan benar. "Pak?"
"Saya juga sering nggak sadar natap ke arah kamu," ulang Alden, kali ini lebih jelas, meski matanya sedikit mengalihkan pandangan seolah mengakui hal itu terasa lebih berat dari yang dia kira.
Kirana terdiam, tidak tahu harus merespons bagaimana. Dadanya dipenuhi perasaan hangat yang campur aduk dengan kebingungan dan sedikit rasa takut.
"Kenapa, Pak?" tanya Kirana pelan, meski dalam hati dia sudah menduga jawabannya, hanya saja dia butuh mendengar itu diucapkan langsung.
Alden menghela napas panjang, seperti sedang bergulat dengan sesuatu di dalam dirinya. "Saya juga belum sepenuhnya ngerti kenapa. Tapi saya tau ini nggak seharusnya terjadi."
"Kenapa nggak seharusnya?" Kirana bertanya lagi, suaranya bergetar sedikit.
"Karena saya dosen kamu, Kirana," jawab Alden, nadanya kembali lebih tegas, seolah mencoba mengingatkan dirinya sendiri akan batasan yang ada. "Dan ada aturan, ada etika, yang nggak bisa saya langgar begitu saja."
Kirana mengangguk pelan, meski hatinya terasa sedikit kecewa mendengar penjelasan itu. "Saya ngerti, Pak."
"Bukan berarti saya nggak..." Alden berhenti di tengah kalimat, seperti menahan diri untuk tidak melanjutkan apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
"Nggak apa apa, Pak," Kirana buru buru menyela, tidak ingin mendesak Alden mengatakan sesuatu yang mungkin akan dia sesali nantinya. "Saya ngerti kok posisi Bapak."
Alden menatapnya lama, ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti pergulatan batin, antara ingin mengatakan lebih banyak dan menahan diri karena tanggung jawab yang dia emban. "Terima kasih sudah ngerti," katanya akhirnya, suaranya kembali ke nada formal yang biasa.
"Kalau gitu saya permisi dulu, Pak," Kirana pamit, merasa suasana yang terlalu berat itu perlu segera diakhiri sebelum dia sendiri kehilangan kendali atas emosinya.
"Kirana," panggil Alden sekali lagi sebelum Kirana benar benar keluar ruangan.
"Iya, Pak?" Kirana menoleh.
"Terima kasih sudah jujur tadi," kata Alden, senyum tipis muncul sekilas di wajahnya. "Itu bukan hal yang mudah."
Kirana tersenyum kecil, meski hatinya masih dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dia urai satu per satu. "Bapak juga, Pak. Makasih udah jujur."
Dia keluar ruangan dengan langkah yang terasa ringan sekaligus berat di saat bersamaan. Di luar, Tesa sudah menunggu dengan wajah penuh rasa penasaran, tapi Kirana hanya bisa tersenyum kecil, belum siap menceritakan apa yang baru saja terjadi, bahkan kepada sahabatnya sendiri.
Di dalam ruangan yang kini kosong, Alden berdiri diam di depan mejanya, menatap pintu yang baru saja tertutup. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia membiarkan dirinya mengakui sesuatu yang selama ini dia coba kubur dalam dalam, meski dia tahu jalan di depannya akan jauh lebih rumit dari yang dia bayangkan.