Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 5: Task Kill
Cahaya ungu yang menyilaukan dari anomali itu membuat Master Therion dan para penjaganya harus menutup mata sambil mengerang kesakitan di lantai. Retakan pada kubah spasial buatan Elara semakin melebar. Garis-garis retakan itu memancarkan kilat statis, menandakan bahwa sistem pembatas ruang tersebut sudah mencapai batas memori maksimalnya.
Elara menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Pertahankan bentuknya, gumamnya pada diri sendiri, memaksakan sisa mana di tubuhnya untuk menambal kebocoran.
Dari sudut buta ruangan, Kael melangkah maju. Langkah kakinya seringan bayangan, sama sekali tidak menarik perhatian Therion yang masih sibuk mengutuki nasibnya.
Kael berhenti tepat setengah meter di depan kubah yang bergetar hebat itu. Matanya yang abu-abu memantulkan cahaya ungu beracun, namun tidak ada kepanikan di sana. Otak Kael sedang membedah anatomi sihir tersebut.
Ini bukan makhluk hidup, Kael berbicara pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh Elara berkat resonansi kubah spasial. Ini adalah barisan kode eksekusi yang terjebak dalam infinite loop, perulangan tanpa batas. Therion memberinya perintah 'makan', sehingga ia terus mencari sumber daya baru.
Apa peduliku dengan istilah anehmu?! desis Elara, tangannya mulai gemetar hebat. Benda ini meretas dinding spasialku! Lakukan sesuatu sebelum kita semua menjadi abu!
Kael mengangkat tangan kanannya. Cincin perak di jari telunjuk dan tengahnya berputar halus, menyelaraskan frekuensi dengan kubah Elara.
Kau tidak bisa memadamkan api dengan api, dan kau tidak bisa menghancurkan virus dengan memberinya lebih banyak data untuk dikonsumsi, ucap Kael tenang. Cara membunuh sistem yang rakus adalah dengan memberinya nilai kosong. Null.
Kael menyentuhkan ujung jarinya ke permukaan kubah spasial Elara. Alih-alih mengirimkan gelombang mana penghancur, Kael menyuntikkan sebuah paket data magis yang sangat kecil, ramping, dan tidak terdeteksi. Ia membuka jalur koneksi langsung menuju inti anomali tersebut, lalu menanamkan satu baris perintah baru ke dalam pusat algoritmanya.
Ia mengubah koordinat sumber makanan anomali itu dari mana di udara menjadi sebuah titik mati yang tidak eksis di koordinat spasial manapun.
Eksekusi perintah, bisik Kael. Task kill.
Dalam sepersekian detik, massa energi ungu yang tadinya meronta liar itu tiba-tiba membeku. Worm magis itu berusaha menyerap energi dari koordinat baru yang diberikan Kael, namun karena titik tersebut adalah ruang hampa (null), siklus replikasinya mengalami crash.
Tidak ada ledakan. Tidak ada kilatan cahaya yang dramatis.
Anomali raksasa yang nyaris menghancurkan seluruh ruang bawah tanah itu hancur berderak seperti bongkahan kaca tipis yang diremas. Massa ungu itu runtuh menjadi serpihan abu kelabu yang perlahan luruh ke lantai batu, sama sekali tidak berbahaya.
Tekanan di dalam ruangan lenyap seketika. Kubah spasial Elara pudar, dan wanita itu jatuh bertumpu pada satu lutut, terengah-engah mencari udara.
Master Therion, yang matanya masih setengah terpejam akibat kilatan cahaya sebelumnya, perlahan mengangkat kepalanya. Dia melihat sisa-sisa abu kelabu di lantai dan Elara yang berlutut kelelahan. Kael sudah tidak ada di sana; pemuda itu telah melangkah mundur ke dalam bayangan pilar kristal memori yang tidak terjangkau oleh cahaya, kembali mengaktifkan mode stealth-nya.
Apa... apa yang terjadi? Therion terbatuk, dibantu berdiri oleh salah satu penjaga yang masih gemetar. Di mana anomali itu? Apa mantramu akhirnya bekerja padanya, Peneliti Vane?
Elara menarik napas panjang, merapikan jubahnya yang kotor, dan berdiri dengan sisa-sisa keanggunan bangsawannya. Dia melirik sekilas ke arah bayangan pilar tempat Kael bersembunyi. Sudut bibir Elara berkedut tipis, membentuk senyum sarkastis yang tertahan.
Bukan mantraku, Master Therion, jawab Elara dengan nada dingin dan penuh perhitungan. Tampaknya sistem pertahanan pasif dari Arsip Terlarang mendeteksi ancaman dan melakukan pembersihan otomatis sesaat sebelum kau nyaris membuat kita semua terbunuh dengan sihir apimu yang sangat 'cemerlang' itu.
Wajah Therion memerah karena malu dan marah, namun dia tidak bisa membantah. Arsip ini dibangun oleh para pendiri akademi; sangat masuk akal jika ada artefak penjaga yang tertanam di dindingnya.
Tentu saja, gumam Therion angkuh, merapikan kerahnya yang hangus. Sistem pendahulu kita memang sempurna. Aku sudah tahu benda itu akan bereaksi. Bersihkan kekacauan ini, Vane! Pastikan tidak ada satu pun kristal yang rusak, atau kau yang akan menanggung akibatnya.
Therion berbalik dan berjalan keluar dari ruang bawah tanah dengan langkah lebar, diikuti oleh para penjaganya yang tertatih-tatih. Dia terlalu sibuk menyelamatkan harga dirinya untuk menyadari bahwa sistem akademi sebenarnya sama sekali tidak melakukan apa-apa.
Setelah langkah kaki mereka menghilang di ujung tangga, keheningan kembali menguasai ruangan.
Kael melangkah keluar dari balik bayangan pilar. Wajahnya sama datarnya seperti saat ia pertama kali masuk. Dia melemparkan cincin obsidian itu kembali ke arah Elara, yang menangkapnya dengan sigap.
Aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan, kata Kael singkat. Topologi pertahanan akademi sudah kuunduh.
Elara menatap cincin di tangannya, lalu menatap abu kelabu di lantai, dan akhirnya menatap Kael. Rasa penasaran, kekaguman, dan sedikit kengerian bercampur menjadi satu di matanya.
Kau membunuh anomali purba kelas A tanpa mengeluarkan sedikit pun keringat, dan membiarkan pria tua bodoh itu berpikir bangunan inilah yang menyelamatkannya, ucap Elara, suaranya merendah menjadi bisikan konspirasi. Kau sama sekali tidak peduli pada validasi pahlawan, bukan?
Itu tidak mendatangkan keuntungan logis, balas Kael. Pahlawan selalu berada di bawah pengawasan publik. Pengawasan publik berarti hilangnya kebebasan akses. Aku lebih suka menjadi hantu.
Elara tertawa pelan. Tawanya terdengar jauh lebih tulus kali ini. Hantu yang meretas hukum sihir leluhur kita. Baiklah, Kaelen Vance. Transaksi kita malam ini selesai. Tapi aku rasa ini bukan terakhir kalinya kau membutuhkan akses tingkat tinggiku.
Tentu saja tidak, jawab Kael, memutar tubuhnya menuju pintu keluar. Jaringan ini masih memiliki terlalu banyak celah yang harus aku eksploitasi. Selamat malam, Nona Vane.
Kael menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan Elara sendirian di ruang arsip. Wanita itu tersenyum dalam diam. Dunia sihir Aethelgard sedang diinvasi dari dalam, dan Elara memastikan dirinya memiliki kursi barisan paling depan untuk menonton pertunjukannya.