•Typo bertebaran dimana-mana, beberapa part di private
•Cerita ini tidak direvisi, jadi tolong dimengerti jika ada yang aneh atau tidak nyambung
• My original work
******
Laura sebagai mahasiswi yang terkenal sangat nakal dikampusnya, dan Reyhan sebagai dosen yang kejam bagi Laura. Laura sengaja sering telat agar ia tidak perlu berlama-lama mendengar penjelasan materi yang dijelaskan Dosennya Reyhan. hingga kemudian temannya Laura bernama Indah tak tahan jika Reyhan terus mengajar dikelas Laura dan Indah dan akhirnya Indah menyukai dan jatuh cinta pada Reyhan, lalu Indah meminta Laura untuk membantunya agar Reyhan mau menerima pernyataan cinta Indah, namun usaha Laura dan Indah gagal...
bagaimana kelanjutannya?
yuk dibaca ya...
jangan lupa vote, rate 5, like, dan komen
bye~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otaku_Wibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama (2)
Suasana menjadi hening, kurasakan aura dingin yang dikeluarkan oleh mas Reyhan
"Reyhan.." panggil tante Viola
Tatapan itu, mas Reyhan menatapnya seperti musuh bebuyutan, segitu bencinya kah dia dijodohkan dengan Arinsa?
"Rey setuju dengan om Manu. Rey juga sudah mendapatkan orang yang tepat buat Rey, kalian bisa lihat dia sekarang" ujarnya sambil mengelus rambut ku, aku menatapnya dengan sedikit kebingungan
"Ya, dia adalah orangnya, yang sedang duduk dipangkuan Rey, namanya Laura. Rey ngerti pikiran kalian, kenapa tertarik dengan seorang perempuan yang jelas-jelas dia masih seorang mahasiswi? karena Rey bisa lihat, seberapa pantas orang yang akan Rey nikahi, sedangkan Arinsa tidak pantas dengan Rey. Kenapa dia mau sama Rey? karena Rey selalu ada untuknya, Rey selalu menemaninya, bahkan dia semakin nyaman ketika Rey sangat khawatir padanya. Perbedaan usia kalian 4 tahun! cari yang beda 2 tahun aja sana! hello.. yang namanya cinta itu nggak mandang usia, yang penting perasaan dan saling mencukupi satu sama lain. Rey bahagia punya perempuan kayak dia, Rey nggak suka perjodohan tanpa sepengetahuan Rey!" jelas mas Reyhan
"Baik. Kalau Laura..?" tanya tante Viola
"Eh.. hum.. semua yang mas Reyhan bilang.. Laura setuju. Sebelumnya biar Laura jelasin apa yang dimaksud mas Reyhan tentang selalu menemani Laura, dan nyaman ketika mas Reyhan sangat khawatir sama Laura"
Aku menarik nafasku dan menembusnya secara perlahan
"Sebenarnya Laura punya penyakit bawaan.. nama penyakitnya tuberkulosis... Laura waktu itu sudah lemah, sampai nafas Laura semakin melambat bahkan enggak sadarkan diri, untungnya ada mas Reyhan yang selalu ada. Laura enggak tau bakal gimana kalau enggak ada mas Reyhan, Laura tau hinaan yang muncul dibenak kalian setelah tau kalau Laura punya penyakit. Dih ternyata penyakitan, emang anaknya nanti sehat? Mending cari lain deh, jangan Reyhan, kamu enggak cocok!. Serta hinaan lainnya. Yaaa.. awalnya Laura sudah bilang ke mas Reyhan untuk pergi dari Laura dan cari perempuan lain yang enggak penyakitan kayak Laura, tapi mas Reyhan menolak. Dan.. yang tanya kemana orang tua Laura, kenapa enggak dijaga, oke Laura bakal jawab.. orang tua Laura sudah jaga Laura dan mendidik Laura dengan sangat baik, tapi perlahan mereka membiarkan ku bebas didunia yang dianggap kejam oleh beberapa orang, hingga kejadian nggak terduga datang. Orang tua Laura kecelakaan, dan tak sempat di selamatkan, hati Laura sakit mendengar berita seperti itu sehabis pulang kampus, Laura sebenarnya juga pengen nyusul, tapi mau gimana lagi? Laura udah janji sama mama papa, kalau Laura bakal sukses dan hidup bahagia dengan pasangan dan anak Laura kelak.. Laura mau buktiin sama mereka" jelasku
Aku tak menyadari bahwa air mataku turun membasahi pipiku, bahkan mas Reyhan yang sedari tadi mengusap air mataku, aku tak merasakan sentuhan tangannya
"Dih penyakitan! caper lo! gue kalau sakit gitu, biasa aja, mungkin enggak sampai pingsan" hina Arinsa di dalam hatinya
"Ha.. baik. Saya akan memutuskan.." ujar om Farrel
"Untuk tuan Doni Ghanam, maaf putri anda tidak bisa menikahi Reyhan putra saya. Demi kebahagiaan Reyhan, saya dan istri saya setuju dengannya dan Laura, dibandingkan dengan anak anda, Laura lebih asik dan ceria walau sebenarnya sedang menutupi lukanya"
"Sekali lagi, maaf tidak bisa"
Aku melihat Arinsa terbakar amarahnya, dia berdiri dan membuka suaranya
"Enggak bisa om!" tolaknya
"Reyhan harus nikah sama Arinsa!"
Dia benar-benar ingin keributan? baik. Aku melepas pelukannya dan berdiri dari pangkuan mas Reyhan
"Maaf tante.. sebelumnya ngaca dulu sebelum berbicara"
Dia menunjuk wajahku dengan muka marahnya
"Apa? mau cari keributan? ini bukan ajang pembuat keributan tante.."
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipiku, aku menahan sakitnya pukulan itu. Semuanya terkejut, bahkan mas Reyhan terlihat semakin marah, aku lalu menatap kontak mata Arinsa
"Cih, ini namanya main kekerasan. Tante enggak pernah diajarin tata krama ya sama orang tua tante? ckck miris.."
"Diam! lo juga caper dengan penyakit lo! lo gunain penyakit lo, supaya Reyhan peduli sama lo! iyakan?! ngaku lo!, gue kalau jadi lo, gue nggak bakal pingsan atau segala macem!"
"Tante.. tante belum pernah ngerasain sakitnya punya penyakit kayak Laura ya.. mungkin kalau tante kena juga gimana? kayaknya bagus.. tante bicara seperti itu karena tante belum tau gimana rasanya. Rasanya sakit tan, seandainya ada transfer penyakit ke orang, Laura enggak segan-segan mentransfer penyakit Laura ke tante"
"Diam! dasar penyakitan! jangan panggil gue tante! gue lebih menarik daripada lo!"
"Hei hei ada yang semakin terpancing.. iya.. Laura tau, Laura emang penyakitan.. tapi itu enggak masalah buat Laura. Dan iya, badan tante lebih menarik, tapi.. tante terlihat sangat murahan hingga memperlihatkan hampir seluruh anggota tubuh tante, tante pamerkan pada orang lain. Coba lihat pakaian tante, hanya menutupi bagian pinggang hingga sedikit paha tante, juga setengah kain menutupi gundukan milik tante. Apa itu sopan? tidak kan? apa tante ingin lebih terkesan mu-ra-han di mata orang-orang?"
Plak!
Satu tamparan lagi mendarat dipipi ku, kali ini bukan Arinsa yang menampar ku, melainkan ayahnya
"Jaga ucapan mu!"
"Oh..? Tapi, Laura enggak pernah salah. Om enggak pernah ngajarin anak om tata krama yang sopan ya? terus enggak pernah ngajarin anak om cara pakai baju yang benar ya? oh, atau om juga ingin menikmati tubuh anak om sendiri?"
"Jalang!!"
Plak! plak! plak!
3 pukulan berhasil mendarat lagi dipipi ku, pukulan itu masing-masing dari keluarganya, om Doni, tante Lala, dan Arinsa
Tak kuat melihatku terus ditampar oleh mereka. Mas Reyhan berdiri, melepas jasnya untuk menutupi tubuhku, dia merangkulku, dan..
Plak! plak! plak!
Mas Reyhan membalas tamparan yang sudah mereka berikan padaku
"Jangan perlihatkan wajah kalian didepan ku lagi" ujar mas Reyhan dingin
Ketika mas Reyhan ingin menggendongku, aku memberhentikannya
"Jalang teriak jalang? apakah pantas? haha"
"Maaf sudah buat kekacauan om Farrel dan tante Viola.. sebenarnya Laura enggak ada niatan buat bikin kekacauan dirumah om tante, tapi karena tante Arinsa begitu dan tidak sopan, jdi saya harus memperbaikinya sedikit"
Om Manu dan tante Leni terlihat marah pada Arinsa, ayahnya dan ibunya, hingga ketika mereka berdiri, mereka langsung menampar mereka bertiga dengan keras juga
Aku melangkah menuju keluar rumah, mas Reyhan mengikutiku dari belakang, kenapa? bukannya ini rumahnya? kenapa mengikutiku?
"Maaf untuk kekacauannya hari ini, saya permisi" ujar om Manu
Baru berjalan beberapa langkah, mas Reyhan menggendongku
"Reyhan!" panggil om Farrel dan tante Viola
"Rey enggak bakal pulang kalau papa dan mama enggak mau nerima Laura sepenuhnya!"
******
*Didalam mobil
Mas Reyhan memegang dan mengelus pipiku yang mulai membiru akibat tamparan mereka
"Sakit ya?"
Aku mengangguk pelan, tanpa sengaja mas Reyhan menekan pipiku
"Akhh.."
"Maafin mas, mas enggak sengaja"
"Enggak, enggak papa"
Mas Reyhan mengemudikan mobilnya menuju rumahku, sedangkan aku memegang pipiku, itu sangat sakit
ceritanya cepet beberapa tahun kemudian
tapi kok Lauranya kuliahnya gk kelar"
ceritanya tidak nyambung
karya nya tidak bisa di terima kami pembaca mengkritik nya...
TIDAK BAGUS CERITANYA...
*Yang Membolak-balikan Hati