NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Adrian kembali berbicara. "Mungkin hanya perasaanku saja. Atau mungkin wajahmu mengingatkanku pada seseorang."

Dira mengangkat wajahnya perlahan. "Kalau memang kita pernah bertemu...apa Mas akan mengingatnya? Apa itu penting?"

Adrian berpikir sejenak. "Kurasa begitu. Lagipula, aku tidak mudah lupa wajah seseorang. Untuk masalah penting atau tidak? Entahlah, aku juga tak tahu."

Jawaban itu membuat Dira tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan sedikit rasa getir. "Ternyata... Mas memang sudah lupa." Baginya, malam ketika Adrian menyelamatkannya adalah awal dari kehidupan yang baru. Malam yang mengubah seluruh takdirnya.

Namun bagi Adrian... Itu mungkin hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang pernah ia alami. Adrian meminum sedikit kopinya. "Lupakan saja. Mungkin aku terlalu banyak berpikir."

Dira menggeleng pelan. "Kadang... perasaan seperti itu muncul karena memang ada alasan yang belum kita sadari."

Adrian tersenyum. "Mungkin." Tatapan mereka kembali bertemu.

Dira membalas senyuman itu dengan tenang. Meski di dalam hatinya, ada satu rahasia besar yang hampir saja terucap. Rahasia tentang seorang gadis jalanan berusia enam belas tahun yang hidupnya pernah diselamatkan oleh pria yang kini duduk tepat di hadapannya.

***

Pertemuan di kafe itu menjadi awal dari perubahan yang bahkan tidak disadari oleh Adrian dan Dira. Awalnya, Adrian hanya menganggap Dira sebagai rekan bisnis yang cerdas. Namun setelah percakapan sederhana ditemani secangkir kopi itu, ia mulai melihat sisi lain dari perempuan tersebut. Dira bukan hanya pandai membaca laporan keuangan. Ia juga mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Mampu memberi jawaban yang menenangkan tanpa banyak bertanya.

Beberapa hari kemudian, Adrian mulai menghubungi Dira di luar urusan rapat. Bukan untuk membahas investasi. Melainkan sekadar mengirim pesan. "Sudah makan?" Atau... "Kopi di kafe kemarin ternyata masih terbayang. Lain kali kita coba menu yang lain."

Dira selalu tersenyum setiap kali membaca pesan itu. Meski begitu, ia tetap menjaga sikapnya. Ia membalas dengan ramah, tetapi tidak pernah berlebihan. Ia tidak ingin Adrian merasa dirinya sedang mengejar atau memaksakan kedekatan.

Perlahan, kebersamaan mereka bertambah. Kadang makan siang setelah rapat. Kadang berdiskusi soal strategi bisnis hingga larut sore..Sesekali mereka saling bertukar rekomendasi buku tentang kepemimpinan dan kewirausahaan.

Adrian mulai menyadari bahwa setiap berbincang dengan Dira, pikirannya terasa lebih ringan. Perempuan itu tidak pernah berusaha membuat dirinya terkesan. Tidak pula memanfaatkan kedekatan mereka untuk keuntungan pribadi. Justru Dira sering berani berbeda pendapat dengannya jika memang memiliki alasan yang kuat..Hal itu membuat Adrian semakin menghargainya.

Sementara bagi Dira, setiap pertemuan terasa seperti hadiah yang dulu hanya berani ia impikan..Namun kini, ia belajar menikmati setiap momen tanpa terburu-buru mengungkapkan masa lalunya..Ia ingin suatu hari nanti, jika Adrian mengetahui siapa dirinya sebenarnya, lelaki itu mengenalnya lebih dulu sebagai Dira, seorang perempuan yang berdiri dengan usahanya sendiri. Bukan semata-mata sebagai gadis kecil yang pernah ia selamatkan.

Tanpa mereka sadari, secangkir kopi di depan klinik telah mengubah hubungan mereka. Bukan lagi sekadar CEO dan investor. Bukan pula hanya rekan bisnis. Melainkan dua orang yang perlahan mulai saling menemukan kenyamanan dalam kehadiran satu sama lain.

***

Semakin sering Adrian terlihat bersama Dira, semakin gelisah pula hati Mayang. Awalnya ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa keduanya hanyalah rekan bisnis. Namun setelah beberapa kali melihat Adrian tersenyum lepas saat berbicara dengan Dira, kegelisahan itu berubah menjadi kecemburuan. Terlebih lagi, hubungannya dengan Adrian sedang berada di titik terburuk.

Sejak pertemuan Dira dengan Mayang beberapa waktu lalu, Adrian mulai menyadari banyak kejanggalan. Meski belum memiliki bukti yang cukup, ia tidak bisa menghilangkan kecurigaan bahwa Mayang menyembunyikan sesuatu darinya. Akibatnya, hubungan mereka semakin renggang.

Mayang merasa Dira adalah penyebab perubahan sikap Adrian. "Kalau aku ingin mengalahkannya," gumam Mayang, "aku harus tahu siapa dia sebenarnya."

Ia mulai menyelidiki kehidupan Dira. Tim pribadinya diminta mengumpulkan seluruh informasi. Riwayat sekolah. Bisnis. Keluarga. Orang-orang yang pernah mengenalnya.

Awalnya, semua terlihat sempurna. Dira dikenal sebagai pengusaha muda yang membangun bisnis dari nol. Namun, sedikit demi sedikit muncul sebuah jejak yang tidak masuk akal. Tidak ada data pendidikan formal Dira sebelum usia tertentu. Tidak ada alamat tempat tinggal yang jelas pada masa kecilnya. Seolah-olah kehidupan Dira sebelum masuk SMA menghilang begitu saja.

Mayang tersenyum tipis. "Akhirnya..." Ia memerintahkan anak buahnya menelusuri yayasan tempat Dira pernah tinggal.

Di sisi lain, Beri menerima telepon dari seorang kenalannya. "Dulu ada seseorang yang menanyakan data lama penghuni yayasan."

Wajah Beri langsung berubah serius. "Siapa?"

"Belum diketahui. Tapi mereka cukup agresif."

Tanpa membuang waktu, Beri segera menemui Dira. Di ruang kerja apartemen, Dira membaca laporan bisnis ketika Beri datang dengan wajah tegang. "Ada masalah?"

"Ada seseorang yang sedang menggali masa lalumu."

Seketika wajah Dira memucat. "Masa... laluku?"

Beri mengangguk. "Kurasa target mereka adalah mengetahui siapa dirimu sebelum tinggal di yayasan."

Jari-jari Dira perlahan mengepal. Jika masa lalunya sebagai gadis jalanan yang hampir dijual ke rumah bordil tersebar. Media akan menjadikannya konsumsi publik. Bukan hanya reputasinya yang terancam. "Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi," bisik Dira. Masa lalu adalah privasi yang Dira sendiri tak ingin semua orang tahu. Apalagi kalau nanti ada yang mengekspos ayahnya. Ini akan jadi bumerang untuk Dira.

Beri mengangguk mantap. "Tenang. Kita tidak akan menghapus masa lalumu. Itu bagian dari perjalananmu. Tapi kita juga tidak akan membiarkan seseorang menggunakan masa lalu itu sebagai senjata untuk menghancurkanmu." Dengan bantuan Beri, beberapa dokumen lama yang memuat identitas Dira di yayasan diamankan sesuai prosedur dan akses terhadap arsip diperketat. Bu Emi juga diingatkan agar tidak memberikan data penghuni kepada siapa pun tanpa izin resmi.

Beberapa hari kemudian, orang-orang suruhan Mayang pulang dengan tangan kosong. Mereka hanya menemukan fakta bahwa Dira pernah dibina di sebuah yayasan sosial. Tidak lebih.

Mayang mengepalkan tangannya karena kesal. "Mustahil. Perempuan itu pasti menyembunyikan sesuatu."

Sementara itu, Dira memandang langit dari jendela kantornya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menyadari bahwa masa lalu yang selama ini ia kubur mulai dikejar oleh orang lain. Dan ia tidak tahu... sampai kapan rahasia itu masih bisa tetap tersembunyi.

Beberapa minggu berlalu. Mayang belum juga menghentikan penyelidikannya. Ia merasa ada bagian dari kehidupan Dira yang sengaja disembunyikan.

Suatu sore, saat menelusuri dokumen-dokumen lama mengenai yayasan tempat Dira pernah berkegiatan, ia baru menyadari satu fakta. Yayasan itu ternyata didirikan oleh keluarga Adrian. Mayang mengernyit. "Kenapa Adrian tidak pernah bercerita?"

Rasa penasarannya semakin besar. Namun setelah mencari tahu lebih jauh, ia mendapatkan informasi bahwa Adrian sudah bertahun-tahun tidak lagi terlibat dalam operasional yayasan. Sejak ia ke Amerika. Adrian sibuk mengembangkan bisnis, seluruh pengelolaan diserahkan kepada Bu Emi sebagai pengasuh utama beserta tim yayasan. Adrian hanya sesekali memberikan dukungan dana dan menerima laporan perkembangan yayasan. Ia tidak lagi mengenal satu per satu anak yang pernah dibina di sana.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!