Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suara gemuruh ekskavator dan dentuman alat berat terdengar menggelegar dari pusat Kota Linzhou.
Gedung Balai Kota yang dulunya menjadi simbol birokrasi korup dan kekuasaan absolut Wali Kota Sun, kini hanya tinggal puing-puing berdebu. Kurang dari dua puluh empat jam setelah perjamuan malam itu, Yao Wi benar-benar menepati janjinya untuk meratakan gedung tersebut dengan tanah.
Dari balik jendela kaca antipeluru di lantai puncak markas Linzhou Corp, Yao Wi menatap awan debu di kejauhan sambil menyesap kopi hitamnya.
Proyek perombakan transportasi massal dan fasilitas pendidikan Linzhou telah resmi dimulai. Anggaran puluhan triliun rupiah telah disiapkan oleh sistem, siap mengubah kota pinggiran ini menjadi metropolis kelas dunia.
"Tuan Bos," panggil Shen Yue seraya melangkah masuk. Wajah CEO cantik itu tampak sedikit tegang. "Kita kedatangan tamu tak diundang dari ibu kota."
Yao Wi tidak menoleh, matanya masih menatap ke arah lokasi konstruksi. "Siapa?"
"Mo Chen, putra sulung dari Keluarga Mo," jawab Shen Yue sambil membuka tabletnya. "Keluarga Mo adalah pemilik Grup Konstruksi Naga Langit, konglomerat arsitektur dan material bangunan terbesar di negara ini. Mereka memonopoli enam puluh persen pasokan baja dan semen nasional."
Yao Wi meletakkan cangkir kopinya. "Dan apa yang diinginkan oleh Tuan Muda dari ibu kota ini di kota kecilku?"
"Dia menuntut hak eksklusif untuk mendesain dan membangun seluruh megaproyek infrastruktur Linzhou," jelas Shen Yue. "Dia sedang menunggu di ruang pertemuan VVIP sekarang, dan dia menolak berbicara dengan siapa pun kecuali Anda secara langsung. Sikapnya... sangat arogan."
Yao Wi menyunggingkan senyum dingin. "Arogan? Bagus. Aku sedang butuh sedikit hiburan pagi ini."
Di ruang pertemuan VVIP yang berlapis marmer Italia, Mo Chen duduk dengan kaki menyilang di atas meja mahoni. Pria muda berusia dua puluhan itu mengenakan setelan jas putih mencolok, ditemani oleh dua pengawal bertubuh besar di belakangnya.
Ia menatap interior ruangan itu dengan tatapan meremehkan.
"Kota pinggiran yang menyedihkan," gumam Mo Chen sinis. "Mereka pikir punya sedikit uang tunai sudah cukup untuk membangun kota? Tanpa izin dan material dari Keluarga Mo, mereka tidak akan bisa membangun satu pilar pun."
Klik.
Pintu ruang pertemuan terbuka. Yao Wi melangkah masuk dengan gaya santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Di belakangnya, Shen Yue dan dua anggota Pasukan Bayangan mengikutinya dalam diam.
Mo Chen tidak repot-repot berdiri. Ia hanya menatap Yao Wi dari atas ke bawah, mendengus pelan.
"Jadi kau yang bernama Yao Wi? Orang kaya baru yang sedang viral karena membeli aset wali kota?" sapa Mo Chen tanpa sopan santun sedikit pun. "Duduklah. Aku tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan di tempat kumuh ini."
Pasukan Bayangan di belakang Yao Wi seketika menegang, tangan mereka nyaris mencabut baton baja melihat bos mereka dihina, namun Yao Wi mengangkat satu jarinya, memberi isyarat agar mereka diam.
Yao Wi menarik kursi dan duduk dengan tenang. "Katakan apa maumu, lalu pergilah dari gedungku."
Mo Chen tertawa angkuh. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Aku suka orang yang langsung pada intinya," ucap Mo Chen. "Kudengar kau akan menggelontorkan dana puluhan triliun untuk megaproyek Linzhou. Grup Konstruksi Naga Langit akan mengambil alih proyek itu. Kami yang akan merancang, dan kami yang akan menyuplai materialnya."
"Dan sebagai imbalannya?" tanya Yao Wi datar.
"Sebagai imbalannya, kau harus menyerahkan delapan puluh persen saham kepemilikan proyek ini kepadaku," tuntut Mo Chen dengan wajah tak berdosa. "Anggap saja ini sebagai 'biaya perlindungan'. Kau punya uang, tapi Keluarga Mo punya koneksi dan material. Tanpa tanda tanganku, kau tidak akan bisa mendapatkan satu sak semen pun di seluruh negeri ini. Pembangunanmu akan mangkrak besok pagi."
Ruangan itu seketika hening. Shen Yue menatap Mo Chen dengan pandangan seolah melihat orang mati. Berani memeras Yao Wi di markasnya sendiri adalah tindakan bunuh diri yang paling konyol.
Yao Wi menghela napas panjang, tampak sangat kecewa.
"Jadi, kau jauh-jauh datang dari ibu kota hanya untuk menggonggong dan memeras uangku?" Yao Wi menggelengkan kepalanya perlahan.
"Apa kau bilang?!" Wajah Mo Chen seketika memerah karena amarah. "Beraninya kau menghinaku! Kau pikir kau siapa?! Kau hanya preman kampung yang kebetulan kaya! Jika aku menelepon ayahku sekarang, seluruh pasokan baja dan semen ke provinsimu akan diblokir detik ini juga!"
Ding!
[Misi Penaklukan Terpicu: Hancurkan Monopoli Grup Konstruksi Naga Langit.]
[Sistem siap mengeksekusi pembelian paksa atas seluruh rantai pasokan internasional yang menjadi sumber material Keluarga Mo.]
"Lakukan," perintah Yao Wi di dalam benaknya.
Yao Wi menatap Mo Chen dengan tatapan sedingin es. "Telepon ayahmu sekarang. Coba kita lihat siapa yang akan menangis lebih dulu."
Mo Chen mengertakkan giginya. "Kau benar-benar mencari mati!"
Ia mengeluarkan ponsel emasnya dan menekan nomor ayahnya, sengaja menyalakan mode pengeras suara agar Yao Wi bisa mendengar ancamannya.
Tuut... Tuut...
"Halo, Chen'er?" Suara berat ayah Mo Chen terdengar dari seberang, namun anehnya, nadanya terdengar sangat panik dan gemetar.
"Ayah, aku sedang berada di Linzhou," lapor Mo Chen dengan nada bangga. "Blokir seluruh pasokan material untuk Linzhou Corp. Beri tahu semua distributor kita untuk memutus kontrak dengan mereka. Pemiliknya terlalu sombong dan perlu diberi pelaj—"
"TUTUP MULUTMU, ANAK BODOH!"
Jeritan histeris sang ayah dari seberang telepon membuat Mo Chen terlonjak kaget. Ponselnya nyaris terlepas dari tangannya.
"A-Ayah? Ada apa?" tanya Mo Chen pucat.
"Siapa yang kau provokasi di sana, hah?!" raung ayah Mo Chen dengan suara serak bercampur tangis keputusasaan. "Baru saja, seluruh tambang bijih besi di luar negeri dan pabrik semen raksasa yang menjadi pemasok utama kita dibeli secara paksa oleh sebuah konsorsium rahasia! Mereka memutus semua kontrak dengan Grup Naga Langit dan mengalihkannya secara eksklusif ke Linzhou Corp!"
Mata Mo Chen melebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya.
"T-tidak mungkin... itu butuh dana ratusan triliun!" bantah Mo Chen dengan bibir gemetar.
"KITA BANGKRUT, CHEN'ER! Saham kita anjlok sembilan puluh persen dalam lima menit! Pemasok kita menuntut denda penalti! Cepat berlutut dan mohon ampun pada siapa pun yang sedang kau hadapi, atau Keluarga Mo akan tidur di jalanan malam ini!"
Bip. Panggilan terputus.
Ruang pertemuan itu kembali sunyi senyap, hanya terdengar suara napas Mo Chen yang terengah-engah seolah pasokan oksigennya baru saja diputus.
Yao Wi menyandarkan punggungnya ke kursi dengan nyaman.
"Jadi, Tuan Muda Mo," ucap Yao Wi memecah keheningan dengan nada mengejek. "Berapa sak semen yang kau bilang tidak akan bisa kudapatkan tadi?"
Bruk!
Kedua lutut Mo Chen menghantam lantai marmer dengan keras. Kesombongannya sebagai pewaris elit dari ibu kota hancur lebur tanpa sisa. Tubuhnya gemetar hebat, air mata ketakutan mengalir deras di pipinya.
"T-Tuan Yao... a-aku salah... aku memiliki mata tapi tidak bisa mengenali Gunung Tai," rintih Mo Chen tersedu-sedu, menundukkan kepalanya hingga menyentuh sepatu kulit Yao Wi. "Tolong, lepaskan Keluarga Mo. Tarik kembali perintah Anda..."
Yao Wi menatap pria yang bersujud di kakinya itu dengan tatapan jijik.
"Aku benci orang yang banyak bicara tapi tidak punya kekuatan untuk menopangnya," bisik Yao Wi dingin.
Ia memberi isyarat kepada dua anggota Pasukan Bayangan di belakangnya.
"Patahkan kedua kakinya dan lempar dia ke jalanan bersama para pengawalnya. Biarkan dia merangkak kembali ke ibu kota sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani mengganggu pembangunan kotaku."
"T-Tidak! Ampun Aaaarrghh!"
Jeritan memilukan Mo Chen menggema di ruangan itu saat Pasukan Bayangan melaksanakan perintah tersebut dengan presisi yang brutal, menendang lutut sang tuan muda hingga hancur berkeping-keping.
Shen Yue hanya menatap proses pembersihan itu dengan wajah datar, sudah terbiasa dengan metode tiran bosnya.
Ding!
[Misi Selesai: Monopoli material konstruksi berhasil dikuasai.]
[Hadiah Sistem: Cetak Biru Kota Masa Depan (Super Metropolis) dan pembukaan kunci Perusahaan Arsitektur Dewa.]
Yao Wi berdiri dan merapikan jasnya. Rintangan terakhir untuk membangun kerajaannya telah disingkirkan. Kini, dengan material tak terbatas dan cetak biru dari sistem, Kota Linzhou akan segera bertransformasi menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat oleh dunia.