SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Garis Keturunan
Peta bintang masih melayang di udara.
Galaksi Asterion terus berkedip merah.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Kapten Idris memecah keheningan.
"Aku ingin penjelasan."
Suara dari pilar kristal menjawab dengan tenang.
"Pertanyaan terlalu umum."
Kael melangkah maju.
"Kalau begitu, jelaskan kenapa Kapten kami dianggap keturunan Elias Voss."
Beberapa detik berlalu.
"Data keluarga Direktur Elias Voss diklasifikasikan."
"Permintaan ditolak."
Reza menghela napas.
"Jawaban yang menyebalkan."
Di ESS Horizon, Leo terus mencatat setiap percakapan.
"Darius."
"Ya?"
"Menurutmu ini mungkin?"
Darius mengangkat bahu.
"Kalau melihat semua yang sudah kita temukan..."
"...aku sudah berhenti memakai kata mustahil."
Di dalam kapal misterius, Lyra mengamati pilar kristal.
"AURA."
"Ya."
"Coba lakukan sinkronisasi data."
Beberapa detik kemudian AI menjawab.
"Gagal."
"Penyebab?"
"Arsitektur sistem tidak kompatibel."
Lyra tersenyum kecil.
"Teknologinya benar-benar berbeda."
Kapten Idris kembali bertanya.
"Siapa yang membangun kapal ini?"
Pilar kristal menjawab.
"Data tersedia."
Keempat orang langsung saling berpandangan.
"Silakan tampilkan."
Namun layar hanya menampilkan satu kalimat.
"Pembuat: Tidak diketahui."
Kael mengernyit.
"Bahkan sistemnya sendiri tidak tahu?"
"Data pencipta telah dihapus."
"Atas perintah siapa?" tanya Reza.
"Tidak tersedia."
Tiba-tiba beberapa bagian dinding berubah menjadi layar.
Muncul rekaman seorang pria.
Bukan Elias Voss.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Ia mengenakan pakaian yang sama sekali berbeda dari seragam PPM.
Rekaman itu tampak sangat tua.
Pria tersebut mulai berbicara.
"Jika rekaman ini diputar..."
"...berarti penghalang masih bertahan."
Bahasanya asing.
Namun secara otomatis diterjemahkan oleh sistem kapal.
"Aku bukan manusia pertama yang mengoperasikan kapal ini."
"Aku juga bukan yang terakhir."
"Kalau kalian mendengar pesan ini..."
"...berarti pewarisku telah datang."
Reza berbisik pelan.
"Pewarisu?"
Rekaman terus berjalan.
"Namaku Elias Voss."
Semua langsung memusatkan perhatian.
"Aku hanyalah penjaga."
"Bukan pencipta."
"Bukan pemilik."
"Hanya penjaga."
Lyra menatap Kapten Idris.
Kalimat itu terdengar sangat berbeda dari dugaan mereka selama ini.
"Elias..."
"...adalah penjaga?" gumam Kael.
Rekaman melanjutkan.
"Ketika aku menemukan tempat ini..."
"...kapal dan penghalang sudah ada."
"Aku hanya mewarisi tugas menjaga keduanya."
Kapten Idris perlahan mengepalkan tangan.
Berarti dugaan Adrian benar.
PPM memang tidak membangun inti fasilitas.
Rekaman Elias berubah lebih serius.
"Kalau suatu hari penghalang mulai gagal..."
"...jangan hancurkan sumber sinyal."
Semua terdiam.
Reza mengernyit.
"Kenapa?"
Seolah menjawab pertanyaan itu, rekaman Elias melanjutkan.
"Karena sumber sinyal..."
"...bukan senjata."
"Bukan mesin perang."
"Lalu apa?" bisik Lyra.
Rekaman berhenti beberapa detik.
"Sumber sinyal adalah penjara."
Ruangan mendadak sunyi.
Di Zona Inti, Adrian mendengar kalimat itu melalui komunikasi.
Wajahnya langsung berubah pucat.
Sofia menatapnya.
"Kau tahu tentang ini?"
Adrian mengangguk pelan.
"Aku pernah membaca potongan laporan Elias."
"Tapi bagian itu sudah dihapus."
Di dalam kapal misterius, pilar kristal kembali aktif.
"Sistem memperingatkan."
"Penghalang telah berfungsi selama 126 tahun tanpa perawatan penuh."
"Usia operasional telah melampaui batas aman."
Kael bertanya,
"Berapa lama lagi bisa bertahan?"
"Tidak dapat dipastikan."
"Lalu apa solusi yang tersedia?"
Jawaban yang muncul membuat semua orang membeku.
"Solusi yang direkomendasikan..."
"...mengaktifkan Navigator."
Pilar kristal memancarkan cahaya ke arah Kapten Idris.
"Navigator yang baru..."
"...telah teridentifikasi."
Semua mata tertuju pada Idris.
Namun sebelum ada yang sempat berbicara...
AURA tiba-tiba menyela dengan suara lebih cepat dari biasanya.
"Kapten."
"Ada keadaan darurat."
"Apa yang terjadi?"
Niko menjawab dari ESS Horizon.
"Ada objek yang baru saja keluar dari hyperspace."
"Jumlahnya?"
"Tidak satu."
"Tidak dua."
Niko menelan ludah.
"Sedikitnya..."
"...dua puluh tiga kapal."
Ruangan langsung membeku.
Kael menatap Idris.
"Dua puluh tiga..."
Angka itu sama persis dengan jumlah ekspedisi yang selama ini dinyatakan hilang.