Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 16 Arunika Hanyalah Umpan
Adrian tetap berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Pria itu terus mundur sampai punggungnya hampir menyentuh dinding gudang. Untuk pertama kalinya, keberanian yang tadi memenuhi suaranya mulai menghilang.
Adrian berhenti beberapa meter di depannya.
"Kenapa?"
Suaranya begitu tenang Pria itu menelan ludah.
"Kau... jangan macam-macam."
Adrian memiringkan kepala sedikit.
"Yang macam-macam sejak awal bukan saya."
Raka yang berdiri di belakang Arunika memperhatikan situasi dengan waspada. Ia memberi isyarat kepada Unit Delta untuk tetap menahan posisi.
Arunika sendiri masih berdiri terpaku, Tatapannya tidak pernah lepas dari Adrian.
Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu malam ini Adrian selalu terlihat tenang.
Namun ketenangan yang sekarang bukan ketenangan seorang direktur yang sedang menyelesaikan masalah bisnis.
Ini adalah ketenangan seseorang yang sudah mengambil keputusan, Dan Arunika tidak yakin ia ingin tahu keputusan seperti apa yang sudah dibuat Adrian.
"Adrian."
Adrian berhenti.
Suara Arunika terdengar pelan Ia menoleh.
"Aku tidak apa-apa."
Tatapan Adrian langsung berubah sedikit, Hanya sedikit. Namun Arunika melihatnya
Kekhawatiran yang tadi disembunyikan kembali muncul di matanya.
"Kau yakin?"
Arunika mengangguk.
"Ya."
Adrian menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah memastikan sendiri bahwa Arunika benar-benar baik-baik saja.
Barulah ia kembali menghadap pria di depannya.
"Bagus."
Pria itu langsung tertawa gugup.
"Kalian pikir semuanya selesai?"
Raka mengernyit dan Adrian tidak menjawab, Pria tersebut mengangkat dagunya.
"Kalian masuk ke tempat ini, melumpuhkan orang-orangku, lalu berpikir bisa pergi begitu saja?"
"Orang-orangmu?"
Adrian mengulang kalimat itu dengan nada datar.
"Berarti kau bukan orang yang mengambil keputusan."
Senyum pria itu menghilang Adrian melanjutkan.
"Jadi siapa yang mengirimmu?"
Tidak ada jawaban.
"Siapa?"
Tetap diam Adrian menghela napas.
"Raka."
"Ya."
"Periksa semua kendaraan di luar. Jangan biarkan satu pun pergi."
Raka langsung mengangguk.
"Siap."
Raka memberi perintah kepada dua anggota Unit Delta. Mereka segera bergerak keluar,
Pria itu mulai terlihat gelisah.
"Jangan!"
Adrian menatapnya.
"Kenapa?"
Pria itu tidak menjawab Adrian langsung menyadari sesuatu.
"Menarik."
Ia melangkah ke samping, lalu melihat ke arah pintu gudang.
Raka yang baru saja menerima pesan masuk segera menoleh.
"Direktur."
"Apa?"
"Ada satu kendaraan yang tidak terdaftar di sekitar gudang."
Adrian mengangkat alis.
"Di mana?"
"Jarak sekitar dua ratus meter. Mesin masih menyala."
Arunika langsung menegang Adrian melihat jam tangannya.
"Berapa orang?"
"Belum bisa dipastikan."
Adrian diam sejenak Kemudian ia menatap pria yang berdiri di hadapannya.
"Jadi ini bukan tempat terakhir."
Pria itu tidak menjawab.
Adrian tersenyum tipis.
"Arunika hanya umpan."
Wajah Arunika berubah.
"Umpan?"
Raka segera menatap Adrian.
"Direktur, maksudnya?"
Adrian tidak langsung menjawab Ia mengingat kembali semuanya, Pesan yang memancingnya datang. Kamera yang sengaja dibiarkan aktif.
Permintaan agar ia masuk sendirian Dan penculik yang terlalu yakin bahwa Arunika adalah satu-satunya alasan Adrian akan datang.
Semuanya terasa terlalu mudah, Terlalu terencana. Adrian menatap Raka.
"Berapa lama sejak kendaraan itu terdeteksi?"
"Kurang dari tiga menit."
"Kalau begitu mereka menunggu sesuatu."
Raka langsung memahami.
"Atau seseorang."
Adrian mengangguk, Arunika menatap mereka bergantian.
"Siapa yang mereka tunggu?"
Tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba
TING!
Suara notifikasi terdengar dari salah satu ponsel Unit Delta, Semua orang menoleh Seorang anggota Unit Delta segera melihat layarnya.
"Direktur."
"Apa?"
"Pesan masuk dari nomor tidak dikenal."
Raka mengambil ponsel tersebut Wajahnya berubah setelah membaca isi pesan.
"Apa katanya?" tanya Adrian.
Raka terdiam sesaat Kemudian ia menyerahkan ponsel itu, Adrian membaca
Hanya ada satu kalimat.
Kau datang lebih cepat dari perkiraan kami.
Tatapan Adrian menjadi dingin Di bawahnya terdapat kalimat kedua, Sekarang bawa Arunika ke kendaraan hitam. Datang tanpa Unit Delta.
Arunika ikut melihat layar tersebut Wajahnya langsung pucat.
"Jangan."
Adrian menoleh.
Arunika menggeleng.
"Jangan lakukan apa yang mereka minta."
Adrian memasukkan ponsel itu ke saku mantelnya.
"Aku tidak akan melakukannya."
"Tapi mereka mungkin—"
"Arunika."
Adrian mendekat.
Kali ini suaranya jauh lebih lembut.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun bersama mereka."
Arunika menatapnya.
"Tapi kalau mereka sudah menyiapkan semuanya?"
"Biarkan."
"Adrian..."
"Aku sudah menemukanmu."
Ia berhenti sebentar.
"Dan aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu lagi."
Arunika terdiam.
Raka memperhatikan keduanya, tetapi tidak mengatakan apa-apa, Kemudian terdengar suara dari belakang.
"Jangan terlalu yakin."
Adrian perlahan menoleh.
Pria yang tadi dilumpuhkan ternyata masih sadar. Ia mencoba berdiri sambil bersandar pada dinding.
Adrian menatapnya.
"Kau masih ingin bicara?"
Pria itu tertawa kecil.
"Kau pikir kami takut padamu?"
Adrian tidak menjawab.
"Kau bahkan tidak tahu siapa yang sebenarnya kau hadapi."
"Kalau begitu jelaskan."
Pria itu menatap Adrian tajam.
"Organisasi yang berada di belakang ini jauh lebih besar daripada yang bisa kau bayangkan."
Raka langsung mengernyit.
Adrian tetap tenang.
"Nama."
Pria itu tersenyum Namun sebelum ia sempat menjawab—
BRAK!
Pintu gudang bagian belakang tiba-tiba terbuka, Semua anggota Unit Delta langsung berbalik. Raka mengangkat tangannya.
"Jangan bergerak!"
Namun tidak ada siapa pun di sana Hanya lorong gelap menuju bagian belakang bangunan, Adrian menatap lorong tersebut.
Pria tadi tiba-tiba tertawa.
"Sudah terlambat."
Adrian menoleh.
"Apa?"
Pria itu tersenyum lebih lebar.
"Orang yang sebenarnya kalian cari sudah pergi."
Raka langsung berlari menuju pintu belakang.
"Periksa area!"
Dua anggota Unit Delta mengikuti, Adrian tidak bergerak. Ia justru menatap pria tersebut dengan tatapan penuh perhitungan.
"Kau sengaja membuat kami sibuk."
Pria itu diam.
"Semua ini bukan tentang Arunika."
Adrian berjalan mendekat.
"Ini tentang aku."
Senyum pria itu menghilang Adrian akhirnya mendapatkan jawabannya. Ia menoleh kepada Raka.
"Periksa semua rekaman."
Raka segera kembali.
"Direktur?"
"Mulai dari satu jam sebelum Arunika dibawa ke sini."
"Baik."
"Dan cari siapa pun yang masuk sebelum kelompok ini."
Raka mengangguk.
Adrian kemudian melihat Arunika.
"Kita pergi."
Arunika mengerutkan kening.
"Ke mana?"
"Keluar dari sini."
"Tapi bagaimana dengan mereka?"
Adrian melirik para penculik.
"Unit Delta akan mengurusnya."
Arunika masih ragu.
"Adrian."
"Hm?"
"Aku merasa ada sesuatu yang belum selesai."
Adrian berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
"Aku juga."
Arunika menelan ludah.
"Kalau begitu kenapa kita pergi?"
"Karena orang yang mengatur semua ini menginginkan kita tetap di sini."
Arunika terdiam.
Adrian menatap pintu belakang.
"Dan aku tidak suka mengikuti aturan orang lain."
Raka tiba-tiba mendekat.
"Direktur."
Adrian menoleh.
"Kami menemukan sesuatu."
"Apa?"
Raka mengangkat sebuah perangkat kecil yang ditemukan di dekat pintu belakang.
"Ini bukan kamera biasa."
Adrian mengambilnya Ia mengamati benda itu beberapa detik.
"Pelacak?"
Raka mengangguk.
"Sepertinya."
Arunika mendekat.
"Pelacak untuk siapa?"
Adrian menatap benda itu Kemudian ia menyadari sesuatu. Bukan pada perangkat tersebut.
Melainkan pada sebuah lampu kecil yang berkedip di permukaannya, Adrian langsung mengangkat kepala.
"Semua orang mundur dari Arunika."
Raka membeku.
"Direktur?"
"Sekarang."
Nada Adrian berubah Unit Delta segera bergerak, Arunika menatap Adrian dengan bingung.
"Ada apa?"
Adrian berjalan mendekatinya.
"Arunika, sejak kapan kau memakai ini?"
Ia menunjuk sesuatu di dekat pakaian Arunika, Arunika menunduk Sebuah benda kecil menempel di sana. Matanya melebar.
"Aku tidak tahu."
Adrian langsung mengerti.
Mereka bukan hanya menculik Arunika Mereka memasang sesuatu pada dirinya, Sesuatu yang mungkin membawa mereka kepada target sebenarnya.
Adrian mengambil napas perlahan.
"Raka."
"Ya?"
"Jangan aktifkan sinyal komunikasi apa pun."
Raka langsung serius.
"Kenapa?"
Adrian menatap pintu gudang.
"Karena kemungkinan besar mereka masih bisa melihat kita."
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?