NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam

Debu tebal membumbung pekat di dalam lorong rahasia di balik altar. Suara gemuruh dari hancurnya aula utama Gua Sendang Biru terdengar bagaikan ribuan meriam yang dilepaskan bersamaan di dalam perut bumi. Dinding-dinding batu berguncang hebat, melontarkan serpihan kerikil dan batuan tajam yang jatuh membabi buta dari atap lorong.

"Terus lari, Sari! Jangan berhenti!" teriak Marno di tengah gemuruh yang memekakkan telinga.

Pande besi itu berlari di depan sambil memeluk pundak kirinya yang masih terasa nyeri. Di tangannya, obor cawan yang apinya tinggal redup berusaha menerangi lorong sempit yang terus berliku. Sari memeluk Kitab Usada Tengger rapat-rapat di dadanya, menundukkan kepala sembari memicu langkah kakinya secepat mungkin di atas permukaan tanah basah yang licin.

Si Mbah melompat-lompat lincah di celah dinding batu yang lebih tinggi. Kera hitam itu bertindak bagaikan penunjuk arah alami; setiap kali ada percabangan lorong yang gelap, Si Mbah akan mencium aliran udara dingin lalu menjerit pelan “Uuk! Uuk!” mengarahkan langkah Marno dan Sari ke jalur yang tepat.

BARRR!

Sebuah batu stalaktit raksasa runtuh tepat tiga langkah di belakang Sari, menutup total akses kembali ke aula kolam Sendang Biru. Jalur menuju masa lalu dan pertempuran melawan Mbah Jiwo Suro kini telah tertimbun rapat oleh ribuan ton bebatuan gunung. Tidak ada jalan kembali. Satu-satunya pilihan adalah terus maju menembus kegelapan perut bumi.

Setelah berlari hampir lima belas menit tanpa henti di lorong yang makin menurun tajam, guncangan gempa perlahan-lahan mulai mereda. Suara ruhan batu berganti menjadi gema tak bertepi yang sunyi, diiringi suara gemercik air yang sangat kencang dari arah depan.

Langkah Marno perlahan melambat. Obor di tangannya mati sepenuhnya karena kehabisan minyak, menyisakan kegelapan pekat yang membungkus mereka bertiga.

"Kang Marno... kita di mana?" bisik Sari dengan napas terengah-engah. Suaranya memantul luas, menandakan mereka kini berada di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang sangat besar.

"Tunggu sebentar," kata Marno pelan. Suara gesekan pemantik api terdengar dalam gelap.

Ctek! Ctek! Pyar!

Percikan api menyambar ujung daun kering yang diambil Sari dari tas perbekalan. Api menyala terang, mengungkapkan pemandangan luar biasa yang membentang di hadapan mereka.

Mereka berdiri di tepi tebing batu dalam sebuah gua bawah tanah yang amat raksasa. Di dasar gua tersebut, mengalir sebuah sungai bawah tanah yang sangat deras. Namun, yang mengejutkan adalah aroma udaranya. Udara di tempat ini tidak berbau tembaga atau lumut basah, melainkan membawa aroma asin khas laut yang sangat pekat!

"Bau garam..." gumam Sari heran, mengusap peluh di dahinya. "Kenapa ada aroma laut di dalam gua bawah tanah Gunung Tengger?"

Marno melangkah mendekati bibir tebing batu, menatap alir air yang menggelegar di bawah sana. "Sungai air garam bawah tanah. Dulu, para tua-tua desa pernah bercerita bahwa di bawah jajaran Pegunungan Tengger, ada saluran air purba yang terhubung langsung dengan pesisir pantai selatan. Aliran ini menyerap garam dari rongga batu karang dalam bumi."

Si Mbah melompat turun dari dinding tebing, mendekati tepi sungai bawah tanah. Kera hitam itu mencelupkan jemarinya ke dalam air, lalu mengendus dan mencicipinya sedikit sebelum mengangguk-angguk cepat.

Sari terduduk di atas batu datar untuk menata napasnya yang belum teratur. Ia meletakkan Kitab Usada Tengger di pangkuannya. Kitab dari kulit kerbau jantan itu tampak berkilat tertimpa cahaya api kecil.

"Kang Marno," buka Sari sambil membuka lembaran-lembaran kulit kitab tersebut dengan sangat hati-hati. "Selagi kita beristirahat, Sari mau periksa isi kitab ini. Kita harus tahu apa isi penawar Racun Teluh Sewu yang diancamkan oleh para utusan Tengger kepada warga Karang Tumpuk."

Marno mengangguk, duduk di samping Sari sembari mengeluarkan sisa perbekalan air minum dan garam murni yang tersisa di tasnya.

Sari membaca baris demi baris tulisan tangan Jawa kuno yang terukir indah di dalam kitab. Mata cantiknya bergerak cepat melintasi tiap paragraf. Namun, semakin jauh ia membaca, keningnya tampak kian berkerut tajam. Wajahnya yang semula penuh keharuan berubah menjadi cemas kembali.

"Ada apa, Sari?" tanya Marno peka melihat perubahan raut muka gadis di sampingnya. "Apakah resep penawarnya sangat sulit dicari?"

Sari menatap Marno dengan pandangan berat. "Kang... Kitab Usada Tengger ini memang berisi formula penawar untuk seluruh racun biasa buatan Mbah Jiwo Suro. Tapi untuk Racun Teluh Sewu... penyebarannya tidak hanya lewat angin biasa."

"Maksudmu?"

Sari menunjuk sebuah gambar ukiran berbentuk lingkaran angin dan empat taring naga di lembaran kitab. "Di sini tertulis, Racun Teluh Sewu adalah gabungan dari racun empedu ular hitam dan ajian pelepasan roh ghaib. Saat malam bulan mati tiba, murid-murid Perguruan Tengger yang tersisa tidak akan datang menyerang secara fisik. Mereka akan melakukan Upacara Sumbang Darah di atas puncak bukit tertinggi Karang Tumpuk untuk menerbangkan roh-roh racun itu ke setiap sumur warga."

Marno menggeretakkan giginya hingga rahangnya menegang. "Jadi Mbah Jiwo Suro hanyalah pelindung fisik kitab ini, sementara murid-muridnya yang tersisa di luar sana masih siap menjalankan upacara mematikan itu?"

"Benar, Kang," sahut Sari lirih. "Dan penawar di dalam kitab ini tidak akan berguna jika air sumur warga sudah terkontaminasi oleh darah ritual mereka. Kita tidak cukup hanya membawa kitab ini pulang. Kita harus menghentikan ritual murid-murid Tengger di atas bukit sebelum malam bulan mati tiba!"

Marno mengepalkan tangan kirinya yang kekar, memukul batu di sampingnya hingga berderak. "Berapa hari lagi waktu yang kita miliki sebelum bulan mati, Sari?"

Sari menengadah, mencoba menghitung siklus bulan dari kalender dalam ingatannya. "Hari ini hari ketiga sejak kita meninggalkan desa. Berarti... besok malam adalah malam bulan mati!"

Suasana di dalam gua bawah tanah seketika terasa mencekam kembali. Waktu mereka hampir habis. Jika mereka terjebak terlalu lama di dalam gua laut bawah tanah ini, seluruh usaha mereka menerobos Lembah Tengkorak dan mengalahkan Mbah Jiwo Suro akan menjadi sia-sia belakangan hari.

"Kita harus keluar dari tempat ini sekarang juga," kata Marno tegas sambil berdiri tegak, memikul kembali ransel kayu dan martil besinya.

"Tapi lewat mana, Kang?" tanya Sari bingung. "Jalur atas sudah tertimbun reruntuhan batu, dan di depan kita hanya ada sungai air garam yang deras ini."

Marno menunjuk ke arah aliran sungai bawah tanah yang meluncur kencang menembus sebuah lorong batu raksasa di dinding gua sebelah timur.

"Aliran sungai garam ini mengalir ke luar menuju hilir bukit," kata Marno dengan pandangan penuh tekad. "Dulu, para penebang kayu tua pernah bercerita bahwa air garam bawah tanah Tengger bermuara di Danau Bening—danau air asin kecil yang terletak di batas selatan Karang Tumpuk! Jika kita membuat rakit kayu sederhana dan mengikuti aliran air ini, kita bisa sampai di dekat desa sebelum besok sore!"

Si Mbah yang mendengar rencana itu langsung melompat ke tepi sungai. Dengan kecerdasannya, kera hitam itu mulai menarik batang-batang kayu apung tua yang tersangkut di antara sela batu tebing, mengumpulkan bahan untuk dijadikan rakit.

Sari tersenyum bangga menatap Si Mbah dan Marno. Keberanian kedua sahabatnya itu membakar kembali semangat di dalam dadanya. Ia memasukkan Kitab Usada Tengger ke dalam pembungkus kulit kedap air, lalu mengikatnya erat-erat ke dalam ranselnya.

Selama dua jam berikutnya, di bawah remang api obor yang disulut ulang, Marno bekerja cepat membabat batang-batang kayu apung dan mengikatnya menggunakan akar-akar pohon liat yang sangat kuat. Sebuah rakit kayu sederhana yang cukup kokoh untuk menampung mereka bertiga akhirnya selesai dibuat.

"Naik, Sari! Mbah!" seru Marno sambil menahan rakit kayu di tepi arus yang bergolak.

Sari dan Si Mbah memanjat ke atas rakit, berpegangan erat pada tali pengikat kayu di tengah. Marno melompat naik ke bagian belakang, menggunakan sebatang kayu tebal sebagai pengayuh dan kemudi.

"Pegang yang kuat!" teriak Marno nyaring.

Marno mendorong rakit itu meluncur keluar dari ceruk batu, masuk ke dalam arus deras sungai air garam bawah tanah.

SWRRRRRSSSHHH!

Rakit kayu meluncur dengan kecepatan luar biasa menembus lorong-lorong batu gelap di bawah tanah Gunung Tengger! Air garam menyiprat kencang membasahi pakaian mereka, dingin dan asin menyengat kulit. Lorong-lorong batu purba melintas cepat di kiri dan kanan mereka bagaikan bayangan hitam yang tak teraba.

Si Mbah menjerit-jerit antara takut dan bersemangat, meremas lengan baju Sari erat-erat, sementara Sari terus memeluk ransel berisi kitab keselamatan desanya.

Perjalanan menembus arus deras perut bumi itu menjadi saksi bisu perpacuan mereka melawan waktu—menuju pertempuran terakhir di atas bukit Karang Tumpuk demi menyapu bersih sisa-sisa kegelapan ilmu hitam Gunung Tengger untuk selamanya.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!