NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14.Harga sebuah penyelamatan.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam dan panas menyengat, seolah tungku api raksasa tersembunyi di antara bangku-bangku itu. Arya duduk memeluk Raisa erat di pangkuannya, tubuhnya memancarkan hawa panas yang jauh lebih dahsyat dari biasanya—bahkan mantel panjang yang ia kenakan tampak berkilau samar terkena pantulan cahaya lampu jalan, seolah kain itu sendiri hendak terbakar sewaktu-waktu. Tak ada satu pun yang berani duduk terlalu dekat dengannya. Sekar yang duduk di kursi depan sesekali menoleh dengan wajah pucat pasi dan penuh kekhawatiran, namun setiap kali ia mencoba mengulurkan tangan untuk mengecek keadaan tuannya, udara panas itu langsung menolak dengan sendirinya, membuat tangannya terasa terbakar dan terpaksa ditarik kembali dengan cepat. Jatmika yang menyetir pun berkeringat dingin, keringat yang bukan karena cuaca yang terik, melainkan karena tekanan kekuatan yang dipancarkan tuannya yang nyaris tak terkendali dan seolah menggetarkan seluruh bodi mobil.

“Tuan Arya... mohon tenangkan diri Anda sedikit lagi. Kita sebentar lagi sampai di gerbang rumah,” ucap Jatmika pelan dengan suara bergetar, berusaha menenangkan namun tak berani menoleh terlalu lama atau menatap mata tuannya yang masih menyala samar.

Arya tak menjawab sepatah kata pun, matanya terus terpaku lekat pada wajah pucat Raisa yang masih setengah sadar, napasnya tersengal-sengal lemah seolah berjuang untuk tetap bertahan. “Bertahanlah... sebentar lagi kau akan berada di tempat yang aman. Tidak ada yang bisa menyentuhmu di sana,” bisiknya pelan, namun suaranya terdengar begitu berat dan penuh perjuangan menahan rasa sakit yang luar biasa yang tak terlihat oleh siapa pun.

Begitu mobil melesat masuk ke halaman rumah dan berhenti mendadak namun terkontrol, sebelum pintu mobil terbuka lebar, penghalang sihir kuno yang melindungi kediaman itu langsung aktif sendiri seketika. Bunyi dentuman halus namun berwibawa terdengar bersahutan saat seluruh jendela dan pintu tertutup rapat secara otomatis, terkunci ganda oleh kekuatan tak kasat mata yang telah berdiri menjaga tempat itu selama berabad-abad. Garis-garis simbol kuno yang tersembunyi di balik permukaan dinding batu dan ukiran kayu mulai bersinar terang berwarna merah menyala, memancarkan aura perlindungan yang begitu kuat seolah memberi peringatan tegas pada siapa pun yang berniat melangkah masuk dengan niat jahat.

Arya melangkah keluar dari mobil dengan langkah cepat namun tetap berhati-hati sekali agar tak mengganggu Raisa yang masih lemas tak berdaya dalam dekapannya. Saat cahaya lampu teras yang terang menyinari tubuhnya sepenuhnya, Raisa yang perlahan mulai sadar kembali dan mengerjap pelan tak sengaja melirik ke arah tangan yang memeluknya erat. Matanya seketika membelalak tak percaya dan berair—kulit tangan Arya yang biasanya mulus dan kokoh kini tampak penuh retakan-retakan halus berwarna merah menyala, persis seperti bara api yang sudah lama terbakar dan siap pecah hancur sewaktu-waktu. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia melihat sosok yang begitu perkasa dan tak terkalahkan tampak terluka dan rapuh.

“Tanganmu... kenapa tanganmu begitu?” bisiknya lemah, mencoba mengangkat tangannya yang gemetar untuk menyentuh namun tenaganya masih terlalu berat untuk diangkat. “Kau terluka karenaku... kau terluka parah...”

Arya segera menurunkan tangannya perlahan ke balik jubah, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan luka itu dari pandangan gadis di dekapannya. “Tidak ada apa-apa. Hanya efek sesaat yang akan hilang dengan sendirinya,” jawabnya singkat, meski jelas sekali nada suaranya menahan rasa sakit yang luar biasa setiap kali ia bergerak sedikit saja.

Sesampainya di kamar tidur Raisa yang kini terang dan nyaman, Arya meletakkan tubuh gadis itu perlahan di atas permukaan seprai yang empuk, lalu segera mundur beberapa langkah seolah tak sanggup lagi berdiri terlalu dekat. Jatmika segera menghampiri tuannya dengan wajah yang tak lagi bisa menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam.

“Tuan, mengapa Tuan berani melakukan hal yang begitu nekat?” tanya Jatmika dengan nada tak percaya namun tetap penuh hormat. “Membuka wujud Ba nas pati sepenuhnya di luar wilayah perlindungan rumah... itu sama saja memaksa Tuan menguras cadangan energi hidup yang Tuan simpan dan kumpulkan selama ratusan tahun lamanya. Tubuh Tuan belum siap untuk memikul beban seberat itu di tempat yang tidak terikat perjanjian.”

Arya menghela napas panjang yang berat, berusaha sekuat tenaga menstabilkan napasnya yang tak teratur. “Apa yang harus kulakukan, Jatmika? Membiarkan mereka merenggut nyawanya tepat di depan mataku tanpa melakukan apa-apa? Membiarkan semua pengorbanan leluhur dan perjanjian suci ini hancur begitu saja?”

“Tetapi konsekuensinya sangat berat dan berbahaya, Tuan,” tegas Jatmika dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap menjaga sopan santunnya. “Setiap kali wujud asli itu dimunculkan di luar batas wilayah yang dilindungi, energi yang hilang tak akan bisa kembali secepat dulu. Retakan-retakan itu... itu adalah tanda nyata bahwa ikatan kekuatan hidup Tuan mulai tergerus dan rusak perlahan.”

Raisa yang masih mendengar percakapan itu dengan pendengaran yang samar hanya bisa diam terpaku, rasa bersalah yang begitu dalam perlahan merayap dan melumat hatinya. Tanpa sadar dan tanpa ia tahu, ia telah menyakiti satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia ini. Kelelahan yang luar biasa akhirnya mengalahkan kesadarannya, dan perlahan matanya terpejam kembali terlelap dalam tidur yang gelisah dan penuh mimpi buruk.

Tak lama setelah memastikan Raisa benar-benar terlelap nyenyak, Arya mengumpulkan Jatmika dan Sekar di ruang tengah yang remang namun kini terasa lebih hangat. Wajahnya kembali berusaha tenang namun terlihat jauh lebih pucat dari biasanya, retakan di kulitnya perlahan memudar namun tak hilang sepenuhnya, masih terlihat samar jika diperhatikan dengan seksama.

“Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan. Mulai sekarang tak ada lagi yang boleh menyembunyikan informasi penting apa pun selain hal yang akan langsung membahayakan nyawa Raisa,” ucap Arya tegas namun suaranya terdengar berat. “Ceritakan apa yang kalian ketahui tentang kelompok yang menyerang tadi.”

Jatmika mengangguk mantap dengan wajah serius. “Kelompok yang menyerang Nona Raisa tadi adalah organisasi kuno yang bernama Perkumpulan Bayangan Hitam. Mereka sudah ada sejak perjanjian pertama antara leluhur Nona dan Tuan dibuat ratusan tahun yang lalu. Mereka bukan siluman atau makhluk gaib asli, Tuan. Mereka adalah manusia biasa yang tergoda oleh janji kekuatan mutlak, lalu mempelajari ilmu terlarang dan menggunakan benda-benda pusaka yang dikutuk untuk merenggut nyawa serta mengambil alih kekuatan orang lain.”

“Selama ratusan tahun ini mereka tak pernah berhenti memburu setiap pewaris sah keluarga Margono,” sambung Sekar dengan suara bergetar menahan takut. “Mereka menginginkan Inti Sakti itu sepenuhnya untuk dikuasai sendiri, agar mereka bisa menguasai seluruh negeri dan memiliki kekuatan yang tak tertandingi oleh siapa pun.”

“Dan siapa pemimpin yang memimpin mereka selama ini?” tanya Arya tajam, matanya menatap lurus ke arah Jatmika.

“Belum pernah ada satu pun orang yang melihat wujud aslinya secara langsung dan selamat untuk menceritakannya, Tuan,” jawab Jatmika perlahan. “Semua anggotanya hanya mengenalnya dengan satu julukan saja yaitu Mahaguru Kelam. Dialah dalang di balik semua rencana jahat, pembunuhan, dan kekacauan yang mereka ciptakan selama berabad-abad ini.”

Arya terdiam sejenak, menatap lantai dengan pandangan yang begitu berat dan penuh perhitungan. “Namun ingat satu hal yang paling penting,” ucapnya pelan namun tegas dan tak bisa dibantah. “Jangan pernah beri tahu Raisa soal Mahaguru Kelam atau betapa berbahayanya musuh yang kita hadapi sekarang. Semakin banyak hal yang ia ketahui sekarang, semakin cepat pula mereka bisa melacak keberadaannya melalui getaran emosi dan ketakutannya. Biarkan dia berpikir bahwa mereka hanyalah sekelompok orang jahat biasa yang menginginkan benda pusaka.”

“Baik, Tuan. Kami akan menjaga pesan Tuan sebaik mungkin,” jawab keduanya serentak dengan kepala tertunduk hormat.

Sementara itu, jauh di dalam gua bawah tanah yang gelap gulita, berbau anyir dan hawa dingin yang menusuk tulang, suasana begitu sunyi namun penuh ketegangan yang menyesakkan. Sosok yang tadi terluka saat di pasar berlutut gemetar hebat di hadapan singgasana batu hitam yang menjulang tinggi. Di atas sana, bayangan sosok yang duduk tak terlihat jelas sedikit pun, hanya terselimuti kegelapan pekat yang seolah mampu menelan cahaya dan nyawa siapa pun yang berani mendekat.

“Ba nas pati itu ternyata belum melemah seperti yang kami duga,” suara berat, dingin, dan bergetar terdengar pelan dari balik kegelapan, seolah merambat menyentuh setiap jengkal dinding gua yang lembap. “Dia masih memiliki kekuatan yang cukup besar untuk memunculkan wujud aslinya secara tiba-tiba dan sekuat itu.”

Sosok yang berlutut itu menunduk semakin dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai batu yang dingin. “Maafkan kegagalan kami, Mahaguru. Kami benar-benar tidak menyangka dia akan bertindak secepat dan sekuat itu melawan kami.”

Kegelapan di atas singgasana itu bergerak sedikit, menciptakan bayangan yang mengerikan. “Kalau begitu... bangunkan Pembunuh Ba nas pati sekarang juga.”

Seketika seluruh anggota kelompok yang hadir di sana langsung menundukkan kepala serentak, tubuh mereka gemetar hebat ketakutan seolah mendengar kata yang paling mengerikan di dunia ini. Salah satu dari mereka yang tampak lebih tua memberanikan diri berbicara dengan suara parau dan bergetar tak henti.

“Tapi... Mahaguru... bukankah makhluk itu telah disegel kuat-kuat tiga ratus tahun yang lalu? Membuka kembali segel itu... itu sangat berbahaya bagi kita semua. Bahkan bagi Tuan sekalipun.”

Suara itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih dingin, tajam, dan penuh ancaman maut. “Jika Ba nas pati telah berani menampakkan wujud aslinya dan memilih wadah baru secara terbuka... maka perang lama yang sempat mereda harus dimulai kembali sepenuhnya. Segera laksanakan perintahku tanpa banyak tanya.”

Kembali ke kediaman Arya, malam semakin larut dan sunyi. Raisa terbangun perlahan dari tidurnya yang gelisah karena mendengar suara samar—suara seseorang batuk, namun bukan batuk biasa, terdengar berat, tertahan, dan penuh rasa sakit yang mendalam. Rasa penasaran bercampur kekhawatiran yang tak bisa ia abaikan membuatnya bangkit perlahan dari tempat tidur, melangkah tanpa alas kaki mengikuti suara itu yang perlahan terdengar semakin jelas dari arah halaman belakang rumah.

Ia menyusuri lorong yang kini terang benderang dengan hati-hati, lalu membuka pintu belakang yang sedikit terbuka itu perlahan. Di bawah pohon beringin tua yang besar dan rindang di tengah halaman, ia melihat sosok Arya berlutut sendirian di atas rumput yang masih basah oleh embun malam. Punggungnya yang biasanya tegap dan gagah kini terlihat begitu lelah dan terguncang hebat. Setiap kali ia berusaha menahan batuknya agar tak terdengar, darah berwarna merah keemasan yang tak pernah ia lihat sebelumnya menetes perlahan dari sudut bibirnya jatuh membasahi tanah. Di sekelilingnya, api hitam kecil berkobar tak stabil, seolah meronta ingin meledak keluar namun ditahan paksa oleh kekuatan sisa yang masih ada dalam dirinya.

Raisa terpaku diam di tempat, air mata perlahan mengalir deras membasahi pipinya. Selama ini ia selalu mengira Arya adalah makhluk abadi yang tak terkalahkan, tak tersentuh rasa sakit atau kelelahan, namun ternyata menyelamatkan nyawanya hari itu memaksa makhluk itu mengorbankan sebagian besar kekuatan hidupnya sendiri.

“Kau...” isaknya pelan namun terdengar jelas memecah keheningan malam yang sunyi.

Arya seketika menegakkan tubuh dengan cepat, dengan punggung tangannya ia segera menyeka darah di sudut bibirnya dengan kasar, lalu mencoba berdiri tegak sekuat tenaga seolah tak terjadi apa-apa. Ia berbalik menatap Raisa dengan wajah yang berusaha tetap tenang dan tegas, meski kepucatan dan keringat dingin di pelipisnya tak bisa lagi disembunyikan.

“Mengapa kau keluar kamar? Kau seharusnya beristirahat dan memulihkan tenagamu,” ucapnya tegas namun nadanya terdengar begitu rapuh dan tak meyakinkan.

“Kau terluka parah karenaku,” potong Raisa dengan suara bergetar penuh air mata, melangkah mendekat meski masih ragu. “Semua rasa sakit yang kau sembunyikan... semua luka yang kau tutupi... semuanya karenaku, bukan?”

Arya terdiam seribu bahasa, tak mampu lagi membohongi tatapan gadis itu yang kini menyadari betapa beratnya beban yang ia pikul sendirian selama ratusan tahun ini, dan kini beban itu semakin berat demi menyelamatkan nyawanya.​

1
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!