SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Zona Inti
Adrian berjalan cepat menyusuri lorong.
Keempat anggota tim segera mengikutinya.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Kael.
"Kalian akan tahu sebentar lagi."
"Itu bukan jawaban."
"Aku tahu."
"Tapi kita tidak punya waktu."
Langkah Adrian tidak melambat sedikit pun.
---
Di ESS Horizon, seluruh kru merasakan getaran halus.
Niko melihat keluar jendela.
"Pos Observasi berubah."
Dinding-dinding luar struktur bergeser perlahan.
Sejumlah antena raksasa yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul ke permukaan.
Leo langsung memeriksa penerima sinyal.
"Sinyalnya meningkat."
"Berapa persen?" tanya Rina.
"Dua kali lipat."
"Masih aman?"
Leo tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
"Aku mulai mendengar dengungan."
Ruangan langsung hening.
"Dengungan?" tanya Darius.
Leo mengangguk.
"Bukan dari speaker."
"Bukan dari kapal."
"Seperti..."
Ia memegang pelipisnya.
"...langsung di dalam kepala."
---
Di lorong, Adrian berhenti di depan sebuah pintu besar.
Pintu itu jauh lebih tebal dibanding pintu-pintu sebelumnya.
Di atasnya terdapat lambang yang sama seperti simbol pada sinyal.
Adrian meletakkan telapak tangannya pada sebuah panel.
Panel itu menyala hijau.
"Pengenalan identitas berhasil."
Pintu perlahan terbuka.
Di baliknya terdapat sebuah ruangan berbentuk kubah.
Di tengah ruangan berdiri sebuah menara hitam setinggi hampir sepuluh meter.
Tidak ada kabel.
Tidak ada layar.
Permukaannya benar-benar polos.
Namun menara itu memancarkan cahaya tipis dari celah-celah yang hampir tidak terlihat.
Lyra memandangnya tanpa berkedip.
"Apa itu?"
Adrian menjawab singkat.
"Penghalang."
---
"Penghalang apa?" tanya Reza.
"Penghalang antara Pos Observasi..."
"...dan sumber sinyal."
Kael mengerutkan dahi.
"Jadi sinyal itu berasal dari balik benda ini?"
"Bukan."
Adrian menggeleng.
"Menara ini tidak menghasilkan sinyal."
"Menara ini hanya..."
Ia berhenti sejenak.
"...menahannya."
Ruangan mendadak sunyi.
---
Di ESS Horizon, Owen memperhatikan perubahan aliran energi.
"Kapten."
"Apa lagi?"
"Menara di dalam struktur baru saja aktif."
"Kau tahu dari mana?"
"Konsumsi energinya meningkat drastis."
Darius ikut melihat layar.
"Dan energi itu berasal dari struktur, bukan dari kapal."
---
Sofia melangkah mendekati menara.
"Masih berfungsi..."
Suaranya terdengar lega.
"Aku kira sudah lama gagal."
Adrian mengangguk.
"Selama seratus dua puluh enam tahun..."
"...aku hanya memastikan benda ini tetap aktif."
Kael menatap Adrian.
"Sendirian?"
"Ya."
"Kau tidak pernah meninggalkan tempat ini?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana dengan makanan?"
Adrian tersenyum kecil.
"Pos ini dirancang agar satu penjaga dapat bertahan selama yang dibutuhkan."
Jawaban itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.
---
Tiba-tiba AURA berbicara.
"Perhatian."
"Saya mendeteksi perubahan pada gelombang sinyal."
"Apa maksudnya?" tanya Idris.
"Sinyal sedang mencoba memasuki Pos Observasi."
Adrian langsung menoleh.
"Itu sebabnya kita harus ke sini."
"Menara ini mulai melemah."
"Kalau penghalangnya gagal..."
"...sinyal akan menyebar ke seluruh struktur."
Lyra bertanya,
"Apa yang akan terjadi?"
Adrian tidak segera menjawab.
Ia memandang Sofia.
Sofia menghela napas pelan.
"Kalian sudah membaca laporan kami."
Kael mengangguk.
"Orang-orang mulai mendengar suara."
Sofia menatap menara hitam itu.
"Itu baru permulaan."
---
Leo tiba-tiba menghubungi Kapten Idris.
"Kapten."
"Ada apa?"
"AURA baru saja menyaring sebagian pola sinyal."
"Berhasil diterjemahkan?"
"Bukan."
"Tapi ada pengulangan."
"Pengulangan apa?"
Leo menarik napas.
"Hanya satu kata."
"Kata apa?"
Leo tampak ragu mengucapkannya.
"Datang."
Ruangan menjadi hening.
"Datang?" ulang Kael.
Leo mengangguk.
"Seluruh pola sinyal..."
"...terus mengulang kata itu."
---
Belum sempat siapa pun berbicara lagi...
menara hitam di tengah ruangan bergetar pelan.
Cahaya di celah-celahnya berubah dari biru menjadi merah.
Robot kecil mengeluarkan bunyi peringatan yang lebih keras.
Bip!
Bip!
Bip!
Adrian langsung berlari menuju sebuah panel kendali.
"Tidak..."
"Bukan sekarang."
Ia mulai mengoperasikan panel dengan cepat.
Namun lampu merah terus berkedip.
AURA mengeluarkan laporan.
"Stabilitas penghalang menurun."
"Sembilan puluh persen."
"Delapan puluh lima persen."
"Delapan puluh persen."
Reza memandang Adrian.
"Apa yang bisa kami lakukan?"
Adrian menoleh dengan wajah yang jauh lebih tegang daripada sebelumnya.
"Bantu aku mempertahankan penghalang."
"Karena kalau benda ini berhenti bekerja..."
"...bukan hanya Pos Observasi Tujuh yang akan mendengar sinyal itu."
Ia menatap lurus ke arah Kapten Idris.
"Seluruh wilayah manusia akan mendengarnya."