NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Kartika menyalakan kembali ponselnya yang selama beberapa hari terakhir sengaja dimatikan. Layar itu menyala perlahan, memunculkan deretan notifikasi yang langsung memenuhi bagian atas. Namun bukan itu yang membuat dadanya terasa sesak. Yang membuat napasnya mendadak terasa sempit adalah satu nama yang sejak tadi terus memenuhi kepalanya, Deva.

Entah kenapa, sesederhana hendak menekan tombol panggilan saja bisa membuat jantungnya berdetak seperti ini. Rasanya aneh, sama seperti dulu. Dulu sekali, saat pertama kali ia memberanikan diri menghubungi laki-laki itu setelah berhari-hari saling diam-diam menunggu.

Kartika mengembuskan napas panjang. Di hadapannya, Kalingga dan Kaivan duduk rapi di atas kasur. Keduanya menatap ponsel itu dengan mata berbinar, seolah benda kecil di tangan mamanya adalah pintu menuju seseorang yang sangat mereka rindukan.

"Ma, cepat ...!" Kaivan mendekat sambil menggoyangkan lengan Kartika. "Telepon Papa."

"Iya, sebentar." Kartika tersenyum tipis.

Kalingga ikut merapat. Meski berusaha terlihat tenang, sorot matanya menyimpan antusias yang sama.

Kartika menelan ludah pelan sebelum menekan ikon kamera.

Tuut... Tuut... Tuut...

Belum sempat layar menampilkan wajah siapa pun, Kaivan sudah melambaikan tangan heboh.

"Halo, Papaaa!"

Kalingga langsung tertawa sampai bahunya berguncang. "Adek, belum nyambung."

Kaivan mengerjap bingung lalu memandangi layar lagi.

Kartika terkekeh pelan. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat suasana sesederhana ini. Melihat anak-anaknya tertawa tanpa beban.

"Sebentar," katanya lembut sambil mencium puncak kepala Kaivan. "Ini sudah tersambung. Tinggal tunggu Papa angkat."

Mereka menunggu dengan sabar sampai layar itu berhenti. Tidak ada jawaban.

Senyum Kalingga perlahan hilang. Kaivan malah mengetuk-ngetuk layar ponsel, berharap wajah papanya muncul.

Kartika buru-buru menekan panggilan lagi. “Kita coba hubungi lagi, ya!”

Masih sama. Tak ada jawaban dari Deva.

"Kenapa, Ma?" tanya Kalingga pelan.

Kartika memaksakan senyum kecil meski dadanya mulai dipenuhi rasa tak nyaman yang sulit dijelaskan. "Mungkin Papa lagi di kamar mandi. Jadi nggak dengar ponselnya bunyi."

Kalingga mengangguk pelan. Anak itu tampak berpikir beberapa detik sebelum akhirnya bersandar pada bahu Kartika.

"Papa kalau lagi eek suka lama." Kalingga mengangkat bahu santai.

Kartika spontan menoleh. Hening satu detik. Lalu Kartika tak sanggup menahan tawanya.

Kaivan ikut tertawa meski jelas tidak mengerti.

Di sela tawa kecil itu, entah kenapa hati Kartika justru terasa semakin nyeri. Karena di balik kebiasaan-kebiasaan konyol itu, ada seseorang yang ternyata begitu mereka rindukan. Seseorang yang selama ini berusaha Kartika jauhkan dari pikirannya.

Di tempat lain, Deva sama sekali tidak tahu ada seseorang yang sejak tadi menunggunya di balik layar. Ia sedang berada di kamar Kaivan.

Lantai kamar itu dipenuhi pakaian anak-anak yang sudah dipilah rapi. Ada baju kecil, celana pendek, mainan mobil-mobilan milik si bungsu.

Sesekali Deva berhenti. Tangannya memungut kaus biru milik Kalingga. Ia memandangi benda itu beberapa detik. Lalu, tanpa sadar menariknya mendekat.

Deva memejamkan mata. Masih ada aroma khas anaknya di sana. Dadanya mendadak terasa sesak. Perlahan ia memeluk baju itu. Seolah sedang memeluk anaknya sungguhan.

"Kakak, papa kangen," gumam Deva lirih.

Rumah sebesar ini mendadak terasa seperti bangunan kosong. Tak ada suara langkah kaki kecil dan tawa anak-anaknya. Tak ada teriakan Kaivan yang suka berlari sambil membawa mainan. Tak ada Kalingga yang mengadu karena adiknya merusak lego. Dan tak ada Kartika yang biasanya mengomel karena mereka membuat rumah berantakan.

Malam itu Deva menyelesaikan semuanya sendirian. Memasukkan pakaian satu per satu ke koper besar sambil menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di tenggorokannya.

Malam itu, entah kenapa tanpa sadar ia memilih tidur di kamar Kalingga. Di ranjang kecil itu. Dengan selimut yang masih menyimpan aroma anaknya. Tanpa tahu, seseorang telah menghubunginya berkali-kali malam tadi.

Keesokan paginya suasana terasa jauh lebih muram. Kalingga duduk di meja makan dengan wajah ditekuk. Biasanya anak itu paling semangat saat sarapan buatan ibunya. Akan tetapi, pagi ini tidak. Ia hanya memainkan sendok.

Kartika memperhatikannya diam-diam. "Ada apa, Kak?"

Tidak ada jawaban.

"Kalingga."

Anak itu mengangkat wajah pelan. Dan saat melihat matanya, dada Kartika langsung terasa diremas. Matanya berkaca-kaca.

"Ma ...." suara Kalingga lirih. "Apa Papa sudah melupakan kita?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi rasanya seperti seseorang baru saja memukul dada Kartika keras-keras. Seberapa besar rindunya Kalingga sampai bisa berpikir seperti itu.

"Kalau itu kayaknya tidak mungkin, Kak," jawab Kartika sambil mengusap lembut kepala anak sulungnya. "Mungkin papa lagi lembur kerja dan lupa menaruh ponselnya di mana."

"Kenapa kita tidak pulang temui papa, Ma?" tanya Kalingga.

Seketika tubuh Kartika menegang. Kata 'pulang'. Satu kata itu seperti menariknya kembali ke malam yang berusaha mati-matian ia kubur.

Jika mengingat kejadian malam itu, rasanya di tidak mau mendatangi lagi mereka. Luka ditorehkan masih berbekas. Jari Kartika tanpa sadar mengepal di atas meja.

Kalingga menunduk semakin dalam. Dia merasa sudah melakukan sesuatu yang membuat mamanya sedih.

"Mama sedih, ya?" tanya Kalingga dengan suaranya mengecil.

Kartika langsung tersadar. Ia menoleh cepat.

Mata anak itu tampak penuh rasa bersalah. Seolah merasa baru saja melakukan kesalahan besar.

Hati Kartika mendadak mencelos. Anaknya bahkan ikut menanggung luka yang bukan salahnya.

Kartika segera meraih tubuh Kalingga dan memeluknya erat. "Tidak."

Tangan Kartika mengusap punggung kecil itu perlahan. "Mama sedih bukan karena Kakak."

Kalingga diam.

"Nanti kita coba hubungi Papa lagi, ya."

Pelan-pelan anak itu mengangguk di pelukannya.

Sementara itu, di rumah yang sebentar lagi bukan lagi miliknya, Deva berdiri di halaman sambil memandangi koper-koper yang sudah dipindahkan. Temannya baru saja berangkat menuju kontrakan baru.

Beberapa tetangga ikut berdiri di sekitar pagar. Wajah mereka tampak tak enak hati.

Selama ini Deva memang cukup dekat dengan mereka. Suka membantu tanpa diminta. Suka mengantar tetangga ke rumah sakit. Atau sekadar menyapa saat bertatap muka. Karena itu kepergiannya membuat beberapa orang ikut sedih.

"Kasihan Pak Deva, sampai harus menjual rumah dan mobilnya untuk membayar kerugian di perusahaan tempatnya bekerja," bisik salah seorang tetangga.

"Oh. Aku kira Pak Deva menjual harta bendanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya itu, adik-adik dan orang tuanya," sahut yang lain.

"Ya, mau bagaimana lagi, anak paling tua dan punya penghasilan tinggi, malah dijadikan tulang punggung semua orang di keluarganya," bisik orang pertama.

"Hah, aku baru tahu!"

"Itu sudah jadi rahasia umum warga di sini. Bu Hania datang ke sini hampir tiap hari itu kan buat minta ini itu sama Pak Deva, termasuk minta uang."

Deva mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras. Kesal? Tentu saja.

Tidak ada orang yang suka hidupnya dijadikan bahan pembicaraan. Tapi yang membuatnya lebih kesal adalah karena semua itu benar. Dan mungkin selama ini ia terlalu sibuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya, sampai lupa menjaga orang-orang yang paling dekat.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dahi Deva mengernyit.

"Ponselku mana?"

Tangan Deva meraba saku celana, kosong. Jaket juga kosong. Wajahnya berubah.

"Astaga ...!"

Deva langsung berbalik masuk ke rumah. Langkahnya cepat menyusuri ruang tamu, dapur, lalu kamar utama. Begitu masuk, matanya langsung menemukan benda hitam itu di atas nakas.

Deva menghela napas lega. "Ketemu juga."

Pria itu mengambil ponselnya lalu menekan tombol daya. Layar menyala. Beberapa detik kemudian, wajah Deva membeku.

Satu demi satu notifikasi bermunculan. Panggilan tak terjawab. Video call, berkali-kali.

Tangan Deva mendadak dingin. Tatapannya turun pada nama di layar, Kartika.

Deva terbelalak. "Apa?!"

Dada Deva langsung berdebar. Kartika menghubunginya semalam, berkali-kali. Rasa bahagia datang begitu cepat sampai membuat dadanya menghangat. Namun, detik berikutnya rasa menyesal langsung menghantam lebih keras.

"Ya, ampun ...." Tangannya mengusap wajah kasar. Kartika pasti berpikir macam-macam. Anak-anak juga pasti menunggu.

Deva menatap layar beberapa detik. Lalu, buru-buru mencari nomor itu.

"Aku harus telepon balik." Jarinya gemetar saat menekan tombol panggil. "Semoga Kartika masih mau angkat."

1
V3
Bu Hania benar donk mnta ganti rugi ke Besan nya 🤣🤣
V3
psti nya nih , ujung-ujungnya Iriana mlh numpang tinggal di rumah nya Deva 🤦
V3
Kartika gak boleh kalah dr 2 iblis itu ,, Kartika hrs kuat dan berani untuk melawan mereka 👏👏
V3
baru jg tuh rumah damai ,, mlh datang lg 2 iblis pengganggu 😡😡😡😡
V3
oooh .. bgtu toh ceritanya knp si Iriana JD Janda ,, ternyata suami nya gak kuat jg hidup di keluarga toxic itu toh 🤣
yaaa bagus lah , mmg mendingan hrs pergi ja dr keluarga bgtu 👏
bntr lagi keluarga Kartika dan Deva jg akan berakhir sama ,, yaitu perceraian 🤣🤣🤣
V3
sebenarnya celengan nya Kalingga itu berbentuk Robot atau Ayam Jago yaaa , kak ❓❓❓
V3
terharu aku dg ucapan Kalingga 😭
Deva tolol sih ,,, lebih mementingkan keluarga yg lain ketimbang anak istrinya 😡😡
V3
si Deva kurang di hajar nih ,,,, bisa-bisa membohongi Kartika ttg uang tabungan bersama 😔
uang tabungannya habis untuk bantu keluarga nya ja 😡😡
V3
Bu Hania itu iblis x yaaa ,,, benar-benar gak punya hati nurani 😡😡
enak bgt tuh congor nya ngomong bgtu ,, ingin rasanya aku gaplokin pke golok 😡😡
V3
astaghfirullah al'adzim ..... benar-benar parasit ,, keluarga toxic 😡😡
V3
kartika dulu itu bodoh ,, mau ja di injak-injak semuanya hanya demi satu kata yaitu CINTA 🤣🤣
V3
berarti stp anak laki-lakinya yg mo nikah itu gak boleh mewah Acara nya ,,, kecuali anak perempuan nya ja mknya pesta hrs mewah 🤣🤣
V3
cinta buta namanya tuh ,,, sampai semuanya TDK di lihat oleh Kartika 🤦
V3
bagus Kartika ,, kamu jgn mau di tindas trs sama mereka 💃💃
V3
gilaaaaa .... benar-benar gilaaa keluarga nya si Deva ,,, semuanya parasit alias benalu 🤣🤣
V3
syukurlah kalau Deva sdh sharing dg teman kantor nya ,, dn Deva mau memperbaiki diri ,, JD suami yg gak egois
V3
tolol ja si Deva kalau mo nge grab gegara ingin cari uang tambahan 🤣🤣
benar kata Kartika , hrs nya yg cari uang tambahan itu adik-adiknya Deva ,, bukan mlh Deva nya .... bodoh 🤣🤣🤣🤣😡
V3
Kira-kira solusinya si Deva apa yaa ❓
Aidil Kenzie Zie
iya Deva Kartika seorang NONA kaya yang harus hidup melarat bersama kamu
Nurlaela
lanjuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!