Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Pertemuan yang Tak Terduga
Keira tidak mengganti rencana makan siang.
Ia mandi, memilih pakaian putih sederhana, mengikat rambut setengah, lalu membantu Reynard memakai jaket hitam yang kemarin ia beli. Reynard menatap jaket itu cukup lama sebelum membiarkan Keira merapikan kerahnya.
"Kenapa?" tanya Keira.
"Kei beli."
"Iya, sudah tahu."
"Rey suka."
Keira tersenyum tanpa sadar. "Bagus. Jangan bilang semua bajuku jelek lagi."
"Tergantung."
"Rey."
Ia menunduk ke Rubik, pura-pura tidak mendengar.
Restoran Villa Taman Surga berada di dekat taman tengah, dengan sisi kaca menghadap kolam kecil. Saat Keira mendorong kursi roda Reynard mendekati pintu, ia sudah melihat beberapa kru asing membawa walkie-talkie. Logo Seribu Tahun tertera di map produksi yang dipegang salah satu staf.
Naomi benar.
Mereka benar-benar ada di sini.
"Kak Keira?"
Suara itu lembut, terkejut, dan terlalu dibuat-buat.
Celine berdiri di depan restoran bersama Kak Wulan dan dua asisten. Wajahnya dipoles rapi, rambutnya diberi gelombang ringan, dan senyumnya seolah mereka hanya kebetulan bertemu di acara keluarga biasa.
Di sampingnya, Brandon menoleh.
Ekspresi Brandon mengeras begitu melihat Keira dan Reynard.
"Kebetulan sekali," kata Celine. "Kakak juga menginap di sini?"
"Ulang tahunku kemarin," jawab Keira. "Aku berhak makan siang."
Senyum Celine tersendat setengah detik.
Brandon melangkah maju. "Kamu masih harus bicara seperti itu pada adikmu?"
Keira menatapnya. "Kamu sudah pulih dari jatuh kemarin?"
Beberapa kru Seribu Tahun yang tidak tahu kejadian itu langsung saling melirik. Wajah Brandon berubah merah.
"Keira."
"Jangan mulai kalau tidak ingin aku selesai."
Celine menunduk, memasang wajah terluka. "Kak, aku hanya menyapa. Aku tahu Kakak masih marah, tapi di depan orang luar..."
"Orang luar sudah tahu cukup banyak sejak kamu dan Brandon membuat masalah di Highland Resort."
Brandon mengepalkan tangan. "Kamu tidak perlu terus mempermalukan Celine."
"Aku?" Keira tertawa pelan. "Menarik. Aku bukan orang yang tidur dengan calon suami kakakku. Tapi aku yang mempermalukan dia?"
Bisik-bisik mulai terdengar.
Seorang asisten muda yang memegang nampan kopi berhenti terlalu dekat. Dua kru kamera pura-pura memeriksa alat, padahal mata mereka menempel pada wajah Brandon. Di tempat seperti ini, gosip bergerak lebih cepat daripada jadwal produksi. Sekali salah ucap, satu gedung villa akan tahu sebelum makan siang selesai.
Kak Wulan cepat menyentuh lengan Celine, memberi isyarat agar diam. Namun Brandon sudah telanjur terpancing.
"Kamu memang berubah. Dulu kamu tidak sekejam ini."
"Dulu aku masih percaya kamu punya malu."
"Kak Keira," Celine berkata lirih, cukup keras agar orang mendengar, "aku tahu aku salah, tapi Kakak sudah menikah. Kenapa Kakak masih seperti belum bisa melepas Brandon?"
Kalimat itu rapi.
Terlalu rapi.
Beberapa wajah langsung berubah, menunggu Keira tersinggung. Bahkan Brandon tampak puas, seolah Celine baru saja mengembalikan posisi dirinya sebagai pria yang masih diperebutkan.
Keira menatap Celine dari ujung rambut sampai sepatu.
"Melepas?" ulangnya. "Aku sudah membuang barang rusak. Kamu yang memungutnya, lalu sekarang meminta aku berhenti melihat tempat sampah?"
Seseorang terbatuk menahan tawa.
Wajah Brandon menggelap.
Udara di depan restoran menegang.
Di tengah kerumunan kecil itu, Keira melihat seorang pria muda berdiri agak jauh dari kelompok utama. Ia memakai kaus hitam sederhana, topi, dan memegang naskah yang penuh catatan. Wajahnya bersih, ekspresinya tenang, tidak ikut tertawa atau berbisik.
Farhan Putra.
Nama itu muncul dalam ingatan Keira seperti lampu menyala.
Di kehidupan sebelumnya, Farhan bukan bintang besar saat Seribu Tahun tayang. Drama itu justru hampir menenggelamkannya. Namun beberapa tahun setelahnya, ketika akhirnya mendapat naskah yang tepat, ia menjadi aktor yang setiap produser ingin rebut.
Sayang sekali bakat seperti itu sedang berdiri di kapal yang salah.
Keira menatapnya beberapa detik lebih lama.
Brandon menangkap arah pandangnya dan langsung mencibir. "Hebat. Sekarang di depan suamimu sendiri, kamu sudah melihat pria lain?"
Reynard yang sejak tadi diam berhenti memutar Rubik.
Keira tidak menoleh pada Brandon. Ia tetap menatap Farhan, lalu berkata tenang, "Aku memang tertarik padanya."
Kerumunan langsung lebih sunyi.
Brandon tersenyum dingin. "Dengar itu, Koh Rey? Istrimu..."
"Sebagai aktor untuk drama baruku," lanjut Keira.
Senyum Brandon berhenti.
Farhan mengangkat kepala.
Keira berjalan mendekatinya. "Farhan Putra, kan?"
Farhan tampak terkejut, tetapi tetap sopan. "Iya."
"Aku menonton potongan audition-mu untuk Seribu Tahun."
"Itu belum rilis."
"Industri kecil. File bergerak cepat."
Kak Wulan menegang. Celine mulai tidak nyaman.
Keira tersenyum. "Kamu punya timing yang bagus. Kalau suatu hari ingin mencoba karakter yang lebih hidup, hubungi BC Entertainment."
Ia mengeluarkan kartu nama kecil dari tas dan menyerahkannya.
Farhan menatap kartu itu, lalu Keira. "Terima kasih."
Brandon tertawa sinis. "BC Entertainment? Perusahaan baru yang naik karena skandal? Farhan sudah di bawah Langit. Jangan mimpi terlalu tinggi."
Keira berbalik. "Mimpi terlalu rendah lebih menyedihkan."
"Kamu pikir bisa merebut aktor dari kami?"
"Aku tidak merebut. Aku hanya memberi pintu. Orang yang punya kaki bisa memilih sendiri mau berjalan ke mana."
Celine menatap kartu nama di tangan Farhan, matanya dingin. Ia baru mendapat peran dan sudah harus melihat Keira menanam benih di tanah tempatnya berdiri.
Kak Wulan akhirnya maju satu langkah. "Farhan, kita masih punya call time. Jangan buat produksi menunggu."
Kalimatnya terdengar seperti pengingat, tetapi semua orang tahu itu peringatan. Farhan memasukkan kartu itu ke saku belakang naskah, bukan ke saku celana. Gerakan kecil itu membuat Keira mengangkat alis. Ia tidak ingin menantang manajemennya terang-terangan, tetapi ia juga tidak membuang kartu itu.
Bagus.
Orang yang tahu kapan harus menunduk biasanya tahu kapan harus berlari.
Reynard menatap Farhan.
Pria muda itu menunduk sopan kepada Keira. Tidak berlebihan, tidak genit, tidak mencari perhatian. Justru karena itu, Reynard semakin tidak menyukainya.
Makan siang akhirnya berlangsung di ruang berbeda. Keira tidak ingin memberi Brandon panggung lebih panjang. Namun sepanjang jalan kembali ke villa, Reynard diam.
"Rey?"
Rubik berputar cepat.
"Kamu sakit kepala?"
"Tidak."
"Lapar?"
"Tidak."
"Marah?"
Tidak ada jawaban.
Keira berhenti mendorong kursi roda di bawah bayangan pohon kamboja. Angin membawa aroma tanah basah dan bunga dari taman.
"Rey."
Ia menunduk. Jari-jarinya gemetar sedikit di atas Rubik.
Keira melihatnya.
Dan kali ini, rasa tidak enak muncul bukan karena curiga.
Ia teringat semalam, ketika Reynard menggenggam pergelangan tangannya setelah ciuman itu. Genggaman yang lembut, tetapi tidak ragu. Ada sisi pria itu yang tidak sesuai dengan wajah polosnya, dan setiap kali sisi itu muncul, tubuh Keira selalu lebih cepat menyadari daripada pikirannya.
"Rey," katanya hati-hati, "Farhan hanya aktor."
"Kei kasih kartu."
"Karena aku melihat potensi."
"Kei lihat lama."
"Aku juga melihat naskah lama kalau bagus."
"Naskah tidak tampan."
Keira hampir tersedak. "Jadi kamu tahu Farhan tampan?"
Reynard menunduk. "Tidak suka."
Keira akhirnya berjongkok di depannya. Di kejauhan, Brandon dan Celine masih berdiri bersama kru Seribu Tahun. Kalau mereka melihat adegan ini, mereka mungkin akan tertawa, mengira Keira sedang membujuk suami bodohnya. Mereka tidak tahu bahwa di depan Keira ada teka-teki yang jauh lebih sulit daripada semua strategi Celine.
"Kamu boleh tidak suka," kata Keira. "Tapi jangan diam seperti ini. Aku tidak bisa membaca pikiranmu."
Reynard menatapnya lama, seolah ingin berkata bahwa sebaiknya Keira memang jangan membaca pikirannya.
Di belakang mereka, suara Celine terdengar samar memanggil Brandon untuk masuk. Brandon tidak segera bergerak. Keira bisa merasakan pandangannya, tajam dan penuh rasa tidak rela. Dulu, tatapan seperti itu mungkin akan membuatnya gugup. Sekarang, ia hanya merasa terganggu seperti ada noda kopi di meja bersih.
Reynard juga merasakannya.
Jarinya berhenti di atas Rubik.
"Kei," katanya pelan.
"Hmm?"
"Dia masih lihat."
Keira tidak menoleh. "Biarkan. Orang yang kehilangan panggung memang suka berdiri di pintu."
"Rey tidak suka."
"Aku juga tidak suka. Karena itu kita pergi."
Ia berdiri dan kembali mendorong kursi roda Reynard. Kali ini, Reynard tidak membiarkan bahunya terlalu jauh dari tangan Keira. Sikapnya masih diam, tetapi diamnya berbeda. Bukan lagi marah pada Farhan saja.
Ia sedang menandai wilayah yang bahkan belum Keira sadari sudah ia masuki.
Dan untuk pertama kalinya, Keira sadar bahwa kecemburuan Reynard mungkin tidak sepolos wajahnya.