NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang yang Makin Dekat

Bab 10

Sore itu suasana rumah perlahan kembali tenang, meski sisa ketegangan tadi masih terasa menggantung di udara. Leonid setelah memastikan Elena dan Alvaro aman, kembali ke ruang kerjanya dengan wajah yang masih serius. Ia tahu kejadian tadi bukan sekadar kesalahan bawahan yang sembarangan—ada tangan lain yang bergerak, memanfaatkan sisa-sisa masa lalu Elena untuk mencoba meruntuhkan posisinya, atau mungkin mencari celah untuk menyerang keluarganya.

Elvaro sudah kembali ceria, kini sibuk bermain dengan balok kayu yang baru saja diambilkan pelayan. Elena duduk di sampingnya, sesekali tersenyum melihat tawa renyah anak itu, namun pikirannya melayang jauh. Ia tahu, selama ia masih menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya, bahaya itu tak akan pernah benar-benar pergi. Setiap kali ada hal yang tak sesuai dengan kebiasaan Elena asli, keraguan akan muncul. Setiap kali rahasia lama terkuak, ia harus berhadapan dengan rasa bersalah yang makin menumpuk.

Belum lama berselang, seorang pelayan datang memanggilnya dengan sopan. "Nyonya, Tuan Leonid meminta Nyonya ke ruang kerjanya sebentar."

Elena mengusap kepala Alvaro pelan. "Mama pergi sebentar ya. Kamu main di sini saja." Anak itu mengangguk patuh, namun matanya tak lepas dari ibunya sampai menghilang di balik pintu.

Saat melangkah masuk ke ruang kerja yang besar itu, udaranya terasa lebih dingin. Leonid duduk di kursi kerjanya, di hadapannya tersusun rapi berkas-berkas lama yang terlihat sudah agak kusam. Ia menatap Elena saat wanita itu berdiri di hadapan mejanya, lalu memberi isyarat agar duduk.

"Duduklah," ucapnya pelan. "Aku ingin bicara baik-baik tanpa diganggu siapa pun."

Elena duduk dengan hati-hati, meremas ujung roknya yang halus. "Ada apa, Leonid?"

Pria itu mengambil selembar kertas dari tumpukan itu, lalu meletakkannya perlahan di hadapan Elena. "Ini tanda tanganmu. Dulu kau selalu menulis dengan gaya yang miring dan tegas. Tapi belakangan ini... setiap kau menulis, gayanya berubah. Lebih hati-hati, lebih ragu, dan berbeda sekali."

Darah seolah berhenti mengalir sejenak di tubuh Elena. Ia menatap tanda tangan itu, lalu mengingat bagaimana dulu ia—sebagai Kirana—hanya menulis nama sendiri dengan gaya sederhana. Ia tak tahu bagaimana cara meniru tanda tangan Elena asli dengan sempurna.

"Aku... mungkin tanganku masih sedikit gemetar karena kejadian dulu," jawabnya pelan, berusaha mencari alasan yang paling masuk akal meski tahu itu tak sepenuhnya meyakinkan.

Leonid menatapnya lekat-lekat, matanya menyelidik tajam namun tanpa kemarahan. "Bukan hanya soal tulisan. Bukan hanya soal sikapmu pada Alvaro. Kau juga mulai menyukai hal-hal yang dulu kau benci, dan melupakan hal-hal yang dulu kau sukai. Kau bahkan tak ingat nama teman lama kita, atau tempat yang sering kita kunjungi dulu."

Ia menarik napas panjang, suaranya terdengar berat dan penuh pergulatan batin. "Aku bukan orang bodoh, Elena. Aku tahu ada sesuatu yang sangat besar yang berubah dalam dirimu. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata 'penyesalan'."

Elena menunduk dalam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin sekali berteriak mengaku jujur, ingin berkata bahwa ia bukan Elena yang dulu ia kenal, bahwa jiwa yang ada di sini adalah orang asing yang kebetulan diberi kesempatan hidup kedua. Tapi ia tahu jika ia bicara begitu sekarang, Leonid pasti akan mengiranya gila, atau menganggapnya sebagai sihir jahat yang dikirim untuk mencelakai mereka.

"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata," suaranya bergetar. "Yang aku tahu... aku sadar dari keterpurukan yang buta. Aku merasa seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Mungkin aku lupa banyak hal dulu... tapi aku ingat satu hal yang paling penting: aku sayang pada Alvaro. Dan aku ingin menjadi istri yang pantas untukmu."

Leonid terdiam lama sekali. Hening itu terasa menyiksa, seolah waktu berhenti berputar di ruangan itu. Akhirnya ia berdiri, melangkah mengelilingi meja hingga berdiri tepat di samping kursi Elena. Ia meraih tangan wanita itu, menggenggamnya erat namun lembut.

"Aku tidak akan memaksamu bicara jika kau belum siap," ucapnya pelan. "Tapi ingat satu hal. Apa pun yang terjadi, apa pun yang kau sembunyikan... selama kau tidak berniat mencelakai kami, selama kau benar-benar menjaga anakku... aku akan berdiri di sisimu. Meski seluruh dunia menuduhmu."

Kalimat itu membuat pertahanan hati Elena runtuh seketika. Ia menangis tersedu-sedu, memeluk pinggang Leonid erat seolah takut jika melepaskannya, pria itu akan hilang. Leonid awalnya kaku, namun perlahan ia membalas pelukan itu, mengusap punggung Elena dengan gerakan yang semakin luwes dan penuh perasaan.

Namun di luar dinding ruangan itu, bahaya belum benar-benar pergi. Seorang pria berpakaian rapi namun dengan wajah penuh rencana jahat berdiri di balik bayangan pohon besar di sudut taman. Ia melihat jendela ruang kerja Leonid yang remang, tersenyum licik melihat betapa dekatnya hubungan suami istri itu kini.

"Semakin erat kalian bersatu, semakin menyakitkan saat semuanya hancur," batinnya penuh dendam. "Rian hanyalah pion kecil. Dan permainan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai."

Malam itu, saat Elena akhirnya bisa memejamkan mata di samping Alvaro, Leonid masih terjaga. Ia menatap wajah istrinya yang tampak tenang dalam tidur, menyadari bahwa perasaan yang dulu sempat mati, kini kembali hidup jauh lebih kuat dari sebelumnya. Namun ia juga tahu, badai yang jauh lebih besar sedang bersiap menghantam rumah mereka. Dan kali ini, ia tak akan membiarkan siapa pun baik dari luar maupun dari dalam merusak apa yang mulai ia bangun kembali.

 

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!