Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sheila
Kata-kata Azka bagaikan tamparan keras di wajah Sheila. Matanya berkaca-kaca, memerah menahan amarah dan rasa tidak percaya yang meluap di dadanya.
"Kamu masih ada rasa sama dia?!" cecar Sheila dengan suara bergetar. "Kita udah mau jalan tiga tahun loh, Ka! Kok bisa-bisanya kamu gini?! Setelah sekian lama kita bareng-bareng, kamu baru kepikiran sama teman masa kecil kamu itu?!"
Azka tertunduk rapat, tak sanggup membalas tatapan tajam Sheila. Rasa bersalah menghimpit dadanya dari dua arah—pada Anggi yang pernah ia khianati, dan pada Sheila yang kini terluka oleh kejujurannya.
"Lagian kamu sadar nggak sih?!" lanjut Sheila, menunjuk ke arah jalanan tempat Anggi pergi tadi. "Anggi itu udah nggak ada rasa lagi sama kamu! Kelihatan jelas dari tatapan matanya tadi, dia udah benar-benar lepas dari kamu. Dia bahkan udah bisa senyum lepas sama Zayan!"
Kata-kata Sheila persis menusuk di titik paling rapuh dalam hati Azka. Kenyataan bahwa Anggi sudah benar-benar berpaling dan tidak lagi menunggunya adalah fakta paling menyakitkan yang harus ia telan.
"She, maaf..." bisik Azka parau. "Aku cuma... aku cuma ngerasa bersalah atas cara aku ninggalin dia dulu."
"Bersalah atau kamu emang belum selesai sama perasaan kamu sendiri, Ka?" potong Sheila dingin, mengusap sudut matanya yang basah. "Kalau kamu memang masih kebayang-bayang masa lalu kamu sama Anggi, jangan jadiin aku alasan buat kamu pura-pura bahagia!"
Tanpa menunggu balasan dari Azka, Sheila berbalik cepat, mendorong pintu gerbang rumahnya dengan kasar, lalu membantingnya rapat-rapat.
Azka sendirian di atas motornya di tengah senja yang kian temaram. Deru angin sore menusuk tulangnya, meninggalkan penyesalan yang kini membakar habis hubungan yang telah ia bangun selama tiga tahun.
Mesin motor sport Azka meraung pelan di tengah kesunyian senja yang mulai berganti malam. Setelah insiden di depan gerbang rumah Sheila, ia tidak langsung pulang, melainkan memutar arah tanpa tujuan yang jelas. Pikirannya benar-benar kalut.
Bayangan wajah Sheila yang menangis kecewa dan tatapan dingin Anggi berputar silih berganti di kepalanya, menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Di sepanjang jalan raya yang mulai dipadati lampu-lampu kota, Azka merasa dirinya terjebak dalam lorong waktu yang ia ciptakan sendiri. Janji-janji masa kecil yang dulu ia anggap sepele kini menjelma menjadi bumerang yang menghancurkan masa depannya. Ia telah membuang permata demi sebuah kilauan semu, dan kini, ketika ia tersadar, permata itu telah berpindah ke tangan yang jauh lebih tepat untuk menjaganya—Zayan.
Lo bodoh, Ka. Lo yang ninggalin dia duluan, sekarang mau nyesel pun udah nggak ada gunanya, batin Azka penuh kepedihan.
Setibanya di rumahnya yang tampak sepi, Azka mematikan mesin motornya. Ia melangkah gontai membuka pintu utama, melempar tas ranselnya begitu saja ke atas sofa ruang tamu, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa remuk redam.
Di dalam kamar yang gelap, ia menatap langit-langit kamar sambil memegang kepalanya yang pening. Untuk pertama kalinya, Azka merasakan betapa mahal harga yang harus dibayar dari sebuah pengkhianatan.
Di kegelapan kamar, layar ponsel Azka menyala terang. Dengan jemari yang gemetar dan berat hati, Azka mengetikkan sebuah pesan panjang. Ia menurunkan gengsinya, membuang sejenak ego lakilakinya untuk meminta maaf secara tulus atas luka yang baru saja ia goreskan di hati Sheila.
Azka: She, aku minta maaf banget buat yang tadi. Aku tau aku salah udah bikin kamu tersinggung dan ngerasa ga dihargai. Aku cuma bingung sama perasaan bersalah aku sendiri, tapi bukan berarti aku sepelein hubungan kita yang udah jalan mau 3 tahun ini. Tolong maafin aku ya, She.
Azka menghela napas panjang, menatap layar ponselnya dengan cemas. Titik-titik indikator mengetik di pojok atas obrolan muncul tak lama kemudian. Hatinya berdegup kencang menunggu balasan.
Namun, jawaban yang datang bukannya penyejuk, melainkan sebuah pernyataan tegas yang makin menghantam perasaannya.
Sheila: Gak usah minta maaf, Ka. Masalahnya bukan cuma soal kamu bikin aku tersinggung hari ini, tapi soal hati kamu yang ternyata belum sepenuhnya selesai sama masa lalu.
Sheila: Percuma kita lanjutin hubungan ini kalau pikiran dan hati kamu selalu terseret balik tiap kali ngeliat Anggi. Kita percuma jalan 3 tahun kalau ujung-ujungnya aku cuma jadi pelarian atau tempat kamu pura-pura lupa.
Sheila: Aku mau kita break dulu. Jangan cari aku dulu untuk beberapa waktu. Mending kamu selesaikan dulu semua isi pikiran kamu itu.
Azka terpaku membaca deretan kalimat dari Sheila. Tangannya lemas hingga ponselnya hampir terlepas dari genggaman.
Ia mencoba mengetik balasan untuk membujuk Sheila, namun pesan balasan yang dikirimnya tak lagi bercentang dua biru—Sheila memilih menenangkan diri dan memberi jarak di antara mereka.
Kini, Azka benar-benar sendirian di dalam kamar yang sepi. Keputusannya di masa lalu kini berbuah pahit: Anggi telah bahagia dan melangkah jauh meninggalkannya, sementara hubungannya dengan Sheila berada di ambang kehancuran.