Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Cincin Warisan Dan Kehangatan Pagi
Suasana subuh di kawasan Menteng terasa begitu teduh, hening, dan menenangkan. Udara dingin khas pagi hari berhembus lembut meresap ke dalam kamar utama di lantai dua kediaman besar Adhyastha. Alunan suara adzan Subuh yang berkumandang merdu dari masjid tak jauh dari pekarangan rumah perlahan membuyarkan lelapnya tidur Aura.
Aura mengerjapkan matanya perlahan, mengumpulkan kesadarannya. Betapa terkejutnya ia saat menyadari posisi tubuhnya saat terbangun bantal guling pembatas di tengah kasur sudah bergeser ke tepi, dan posisi tubuhnya begitu dekat di samping Reno yang masih tertidur pulas.
Aura perlahan beranjak bangun dari tempat tidur. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu agar tubuhnya kembali segar dan bersih sebelum menghadap Sang Pencipta di waktu Subuh.
Namun, gerakan halusnya di atas tempat tidur ternyata membuat mata kelam Reno ikut terbuka lambat-lambat.
"Sudah Subuh, Reno..." bisik Aura lembut seraya merapikan bajunya dengan santun. "Saya mau mandi dan bersiap shalat Subuh dulu."
Reno mengusap wajahnya perlahan, lalu mengangguk pelan seraya mendudukkan tubuhnya tegap. Suara berat khas bangun tidurnya mengalun tenang. "Tunggu sebentar, Aura. Saya juga akan mandi. Kita shalat Subuh berjamaah pagi ini."
Dada Aura berdesir hangat mendengar ucapan tulus pria itu. Ia bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mandi hingga segar, lalu mengenakan mukena pink pastel kesayangannya. Tak lama kemudian, Reno melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah berseri dan memancarkan kesegaran usai mandi dan berwudhu.
Di atas sajadah yang dibentangkan menghadap kiblat di sudut kamar, Reno yang mengenakan baju koko putih tegap berdiri menjadi imam. Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan Reno dengan suara merdu dan fasih mengema lembut di dalam ruangan, menggetarkan relung jiwa Aura yang paling dalam.
Saat mereka mengakhiri shalat dengan salam dan berdoa bersama, Reno membalikkan badannya. Aura mengulurkan tangannya dengan penuh takzim, mencium punggung tangan Reno sebagai tanda hormat seorang istri. Untuk pertama kalinya, Reno mengusap lembut puncak kepala berbalut mukena Aura seraya menyisipkan doa kebaikan.
Setelah menunaikan Shalat Subuh dan merapikan mukenanya, rasa kantuk sisa semalam membuat mereka kembali berbaring di atas tempat tidur berukuran *king size* tersebut. Kesejukan udara pagi Jakarta rupanya membuat mereka berdua tertidur lelap kembali tanpa disadari, saling berpelukan erat di bawah selimut tebal.
Saat mereka berdua masih terlelap dalam tidur nyenyaknya, Nenek Ratna melangkah perlahan di koridor lantai dua.Nenek Ratna mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kayu jati itu secara pelan.
Tok, tok, tok.
"Reno... Aura... Kalian sudah bangun, Nak?" panggil Nenek Ratna dari balik pintu dengan nada suara yang sangat lembut.
Suara ketukan dan panggilan itu sama sekali tidak terdengar oleh Reno dan Aura yang sedang tertidur lelap. Karena tidak ada sahutan suara dari dalam, rasa penasaran dan khawatir khas orang tua mulai menyelimuti benak Nenek Ratna. Ia penasaran apakah kedua cucunya menginap dengan nyaman. Nenek Ratna pun mencoba memutar gagang pintu dengan perlahan.
Ternyata, slot kunci pintu kamar tersebut belum tertutup sempurna sepertinya semalam mereka berdua lupa mengunci pintu rapat-rapat karena dilanda rasa canggung saat masuk ke kamar.
Gagang pintu terputar halus dan pintu bergeser sedikit, menciptakan celah kecil. Nenek Ratna mengintip perlahan dari celah tersebut.
Dari posisi mengintipnya, mata Nenek Ratna menangkap pemandangan yang amat menyejukkan hati. Ia melihat Reno sedang tidur lelap seraya mendekap erat Aura di dalam pelukannya di atas tempat tidur. Pemandangan mesra dan tulus khas pasangan suami istri itu seketika menerbitkan senyuman haru yang luar biasa di wajah sang Nenek.
Nenek Ratna menarik kembali gagang pintu hingga tertutup rapat. Wanita tua itu melangkah mundur dengan senyum bahagia di bibirnya, memilih pura-pura tidak tahu dan membiarkan kedua cucunya beristirahat lebih lama tanpa mau mengganggu.
Satu jam kemudian,sinar matahari pagi makin terang menembus celah gorden sutra.
Aura mengerjapkan matanya perlahan, terbangun untuk kedua kalinya. Namun kali ini, sekujur tubuhnya mendadak kaku seketika!
Aura membelalak lebar. Wajahnya berada tepat beberapa sentimeter dari dada tegap Reno. Lengan kokoh pria itu melingkar rapat di pinggangnya, mendekapkan tubuh Aura begitu intim tanpa ada jarak sedikit pun. Bahkan, sapuan napas hangat Reno terasa menerpa dahi Aura.
*Ya Allah... kenapa bisa dekat sekali seperti ini?!* jerit Aura dalam hati penuh kepanikan.
Jantung Aura berdegup kencang bak marawis. Ia mencoba menggeser tubuhnya mundur perlahan-lahan agar tidak membangunkan Reno. Namun, begitu jemari lembutnya menyentuh dada Reno untuk memberi dorongan pelan, mata kelam pria di hadapannya itu justru terbuka seketika!
Pandangan mata mereka beradu tepat dari jarak yang amat dekat.
Aura membeku total. Wajah mulusnya seketika memerah padam bagaikan buah tomat matang. "R-Reno... tanganmu..." bisik Aura terbata-bata penuh rasa canggung dan salah tingkah.
Reno yang baru tersadar dari tidurnya ikut tersentak kaget. Namun, sebagai pria yang terbiasa mengontrol emosi di depan umum, Reno berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski debaran dadanya sendiri mendadak tak menentu.
Reno dengan cepat menarik lengannya kembali dari pinggang Aura dan mendudukkan tubuhnya tegap di tepi tempat tidur. Ia berdehem keras menutupi kecanggungannya. "Ehem... maaf. Saya tidak sadar kalau selimutnya bergeser."
"T-tidak apa-apa..." balas Aura seraya buru-buru duduk dan merapikan bajunya dengan tangan bergetar pelan. Wajahnya terasa amat hangat menahan malu yang luar biasa.
Reno mengulum senyum tipis melihat tingkah polos Aura yang begitu salah tingkah. "Ayo kita bersiap dan turun. Nenek mungkin sudah menunggu di bawah."
Satu jam kemudian, Aura dan Reno melangkah turun menuju ruang makan dengan penampilan yang sudah rapi dan segar. Aura mengenakan gamis santai berwarna pink pastel dan hijab yang terpasang anggun, sementara Reno tampil gagah dengan kemeja santai.
Nenek Ratna yang sudah duduk anggun di meja makan menyambut mereka dengan senyuman hangat yang luar biasa cerah.
"Selamat pagi, Cucu-cucu Nenek. Tidurnya nyenyak semalam?" sapa Nenek Ratna lembut, sama sekali tidak menyinggung soal intipannya tadi demi menjaga kenyamanan mereka.
"Selamat pagi, Nenek. Sangat nyenyak, terima kasih," jawab Aura ramah seraya mendekat dan mencium tangan Nenek Ratna dengan santun, meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya menghilang.
Dengan telaten dan penuh perhatian, Aura duduk di samping Reno, lalu mengambilkan porsi nasi uduk dan lauk-pauk terbaik ke atas piring suaminya, tidak lupa menyodorkan cangkir teh melati hangat.
"Ini teh hangatnya, Mas," tutur Aura lembut.
"Terima kasih,Sayang," balas Reno seraya menerima piring tersebut dan menyantapnya.
Nenek Ratna yang memperhatikan setiap interaksi manis itu dari ujung meja tidak mampu menutupi rasa haru dan bahagianya. Senyum kebanggaan tak henti-hentinya terukir di bibirnya.
"Nenek benar-benar sangat bersyukur bisa melihat kalian berdua seperti ini," ujar Nenek Ratna tulus. "Sejak kedua orang tua Reno meninggal dunia, rumah ini dan hati Reno selalu terasa sepi dan dingin. Tapi sejak kamu hadir sebagai istri di sisinya, Aura... Nenek bisa melihat kembali binar kebahagiaan dan kehangatan di mata cucu Nenek ini."
Aura dan Reno saling bertukar pandang sejenak. Ada rasa tersentuh yang amat dalam di dalam hati mereka masing-masing.
Nenek Ratna kemudian merengkuh sebuah kotak beludru berwarna merah tua dari dalam saku bajunya, lalu meletakkannya dengan perlahan di tengah meja makan. Ia membuka kait kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin emas bermata berlian bernuansa klasik yang sangat indah.
"Ini adalah cincin warisan milik Almarhumah Ibunda Reno," kata Nenek Ratna dengan nada suara yang bergetar haru. "Dulu, Nenek menyimpan cincin berharga ini untuk diberikan kepada wanita pilihan Reno yang benar-benar bisa membawa kedamaian dan kehangatan di dalam hidupnya. Dan hari ini, Nenek ingin cincin ini melingkar indah di jari manismu, Aura."
Aura membelalak kaget, secara refleks menggeleng pelan. "Nenek... cincin ini sangat berharga dan bernilai sejarah. Saya tidak berani untuk menerimanya."
"Terimalah, Nak. Ini adalah bentuk rasa kasih sayang, ketulusan, dan restu penuh dari Nenek untuk pernikahan kalian berdua," puji Nenek Ratna dengan nada lembut.
Nenek Ratna lalu memalingkan pandangannya menatap sang cucu. "Reno, pasangkan cincin warisan ibumu ini ke jari manis istri tercintamu sekarang."
Reno merengkuh kotak beludru tersebut, mengambil cincin berlian itu dengan jemarinya yang tegap. Pria berhati es itu berpaling menatap Aura sepenuhnya. Sorot matanya tak lagi menyimpan kebekuan, melainkan sarat akan keseriusan dan kehangatan yang amat tulus.
Aura perlahan mengulurkan tangan kanannya. Reno menggenggam jemari lembut Aura dengan mantap dan hangat, lalu perlahan menyematkan cincin warisan sang ibu ke jari manis Aura. Ukuran cincin itu terasa begitu pas dan sempurna melingkar di sana.
"Terima kasih banyak sudah hadir di dalam hidup saya,Sayang," ucap Reno pelan, nada suaranya mengalun rendah namun begitu menggetarkan relung jiwa Aura yang paling dalam.
Aura menatap cincin berlian yang kini melingkar indah di jari manisnya, lalu mengangkat pandangannya menatap tepat ke dalam manik mata kelam Reno. Di tengah ikatan pernikahan yang awalnya berlandaskan selembar kertas perjanjian kesepakatan bisnis semata, ketulusan dan janji yang terucap pagi itu perlahan menjelma menjadi sebuah komitmen nyata yang tak lagi bisa dipisahkan oleh apa pun.