NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.

Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .

Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.

Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.

Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"

Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama Yang Canggung

Lampu neon lima watt yang terpasang di langit-langit kamar kontrakan petak itu berpendar redup, melemparkan bayangan panjang yang statis di atas lantai ubin yang dingin.

Di luar, suara rintik hujan malam mulai terdengar, mengetuk-ngetuk atap seng dengan ritme yang monoton, menambah kesan terisolasi dari dunia luar. Suasana di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu pekat oleh keheningan. Bau kayu dipan yang lembap dan sisa aroma cat murahan beradu di udara, menciptakan atmosfer yang asing bagi Aluna.

Aluna duduk di tepi dipan kayu tanpa kasur. Ia hanya beralaskan selembar kain sarung milik ayahnya yang sengaja ia bentangkan sebagai pembatas. Kedua tangannya meremas lututnya sendiri, mencoba menyalurkan rasa hangat ke jemarinya yang mendadak sedingin es. Matanya menatap lurus ke arah lantai, tidak berani mendongak sedikit pun untuk menatap sosok pria yang kini berada hanya beberapa langkah di depannya.

Elvan berdiri di dekat pintu kayu tripleks. Pria itu baru saja memastikan kunci slot dan gembok tambahan yang mereka beli sore tadi terpasang dengan kokoh. Setelah yakin semuanya aman, ia berbalik dan melepaskan jaket jinsnya, menyampirkannya di sandaran satu-satunya kursi plastik yang ada di ruangan itu. Gerakan tubuhnya yang tegap dan efisien membuat ruangan yang sudah sempit ini terasa semakin sesak bagi Aluna.

"Hujannya semakin deras," ucap Elvan memecah keheningan. Suara baritonnya yang rendah terdengar sangat jelas di dalam ruangan kosong tanpa perabot itu.

Aluna tersentak kecil, lalu mengangguk kaku tanpa berani menatap mata Elvan. "I ... iya, Mas. Beruntung kita sudah selesai mencari barang-barang kebutuhan pokok tadi sore."

Sore tadi, sebelum malam menjemput, mereka sempat berjalan ke pasar loak terdekat untuk membeli beberapa barang mendesak menggunakan sisa uang tabungan ayah Aluna. Sebuah kompor gas portabel kecil, satu panci serbaguna, dua buah piring plastik, dan sebuah ember hitam kini berjejer rapi di sudut dekat kamar mandi.

Namun, karena keterbatasan dana, Aluna dengan tegas menolak saat Elvan mengusulkan untuk membeli kasur busa tipis. Aluna bersikeras bahwa uang yang tersisa harus benar-benar dihemat untuk biaya menebus obat ayahnya di rumah sakit besok pagi. Akibat dari keputusan ekonomis itu, malam ini mereka harus berhadapan dengan satu kenyataan: hanya ada satu dipan kayu keras di dalam ruangan ini.

Kecanggungan yang luar biasa laksana kabut tebal yang menjepit dada Aluna. Logikanya kembali berputar pada garis takdirnya yang melompat terlalu cepat. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia telah kehilangan kekasih yang mengkhianatinya, menyaksikan ayahnya hampir tewas dibantai kakak tirinya, dan kini ... ia berada di dalam satu ruangan sempit, terkunci bersama seorang pria asing yang berstatus sebagai suami sahnya secara agama.

Aluna melirik Elvan dari sudut matanya. Pria itu kini berjalan mendekati dipan. Di bawah cahaya lampu yang redup, wajah tampannya terlihat begitu tenang, seolah-olah tidur di atas dipan kayu di dalam kontrakan sekumuh ini adalah hal yang biasa baginya.

Aluna mendadak merasa sangat bersalah. Pria setampan Elvan, yang bersedia menolongnya dari kejaran rentenir tanpa meminta imbalan apa pun, kini harus ikut menderita tidur di tempat yang tidak layak.

"Mas Elvan ..." panggil Aluna lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara deru hujan di luar.

Elvan menghentikan langkahnya, menatap Aluna dengan alis yang sedikit terangkat. "Ya?"

"Mas ... Mas Elvan tidur di atas dipan saja," ujar Aluna sambil berdiri dari posisinya, melangkah mundur menuju sudut ruangan. "Biar aku yang tidur di lantai menggunakan tas ransel sebagai bantal. Mas sudah terlalu banyak membantuku hari ini, dari rumah sakit sampai mengangkat barang-barang berat. Tidak adil kalau Mas harus tidur di lantai yang dingin."

Elvan menatap lantai ubin yang kosong, lalu beralih menatap Aluna yang berdiri dengan tubuh agak gemetar menahan canggung. Seulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibir pria itu. Sifat mandiri dan rasa tahu diri Aluna kembali membuat Elvan merasa kagum. Wanita ini benar-benar tidak memanfaatkan posisinya sebagai pihak yang ditolong.

"Aluna," Elvan melangkah maju satu tindak, membuat Aluna secara insting menahan napasnya. "Aku ini suamimu. Dan di dalam kamarku sendiri, aku tidak akan pernah membiarkan seorang wanita tidur di atas lantai sementara aku menikmati tempat yang lebih tinggi. Itu melanggar prinsip hidupku."

"Tapi, Mas ..." Aluna mencoba mendebat, wajahnya mulai memerah karena jarak mereka yang kian dekat.

"Tidak ada tapi-tapi," potong Elvan dengan nada suara yang tidak menerima bantahan, namun tidak terdengar kasar. Otoritas alaminya sebagai seorang pemimpin kembali terpancar kuat. "Dipan ini cukup lebar untuk dua orang jika kita tidak banyak bergerak. Kamu tidur di sisi dekat dinding, dan aku akan tidur di sisi luar. Kita pasang tas ranselmu di tengah sebagai pembatas jika itu membuatmu merasa lebih nyaman."

Mendengar solusi dari Elvan, jantung Aluna berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Tidur seranjang, atau lebih tepatnya, tidur sedipan bersama? Konsep itu terasa begitu menakutkan sekaligus mendebarkan bagi seorang wanita yang baru saja mengalami patah hati hebat seperti dirinya. Namun, melihat sorot mata Elvan yang begitu bersih, jujur, dan tidak menunjukkan gelagat mesum sama sekali, ketakutan Aluna perlahan surut. Pria ini menghormatinya.

Aluna mengangguk lemah. "Baik, Mas. Terima kasih."

Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan canggung, Aluna kembali naik ke atas dipan, menggeser tubuhnya hingga merapat ke dinding semen yang terasa dingin. Ia memeluk lututnya, berusaha menyusutkan ukuran tubuhnya agar menyisakan ruang seluas mungkin untuk Elvan.

Elvan kemudian mengambil tas ransel hitam besar milik Aluna, meletakkannya tepat di tengah-tengah dipan kayu sebagai barikade pembatas di antara mereka, sesuai janjinya. Setelah itu, Elvan merebahkan tubuh tegapnya di sisi luar dengan posisi telentang, meletakkan kedua tangannya di atas dada.

Keheningan kembali meraja, kini diiringi oleh suara napas mereka yang saling bersahut-sahutan di balik pembatas tas ransel. Jarak di antara mereka sebenarnya tidak sampai tiga puluh sentimeter, namun bagi Aluna, tas ransel di tengah mereka terasa seperti dinding benteng yang memisahkan dua dunia yang berbeda.

Aluna memalingkan wajahnya menatap dinding semen yang kusam di depannya. Di dalam kegelapan dan kesunyian malam pertama pernikahan dadakan ini, air matanya tiba-tiba kembali merembes keluar tanpa suara. Rasa perih akibat pengkhianatan Kafka yang sempat teralihkan oleh rentetan peristiwa siang tadi kini kembali mengetuk pintu kesadarannya dengan intensitas yang sama hebatnya. Rasa sakitnya kian terasa nyata saat ia menyadari betapa murahnya harga dirinya di mata Kafka, pria yang selama dua tahun ini ia puja dan ia bantu secara finansial.

Isak tangis Aluna yang tertahan membuat bahunya bergerak naik turun secara perlahan. Ia berusaha menyembunyikan suaranya di balik gemuruh hujan, namun di dalam ruangan sekecil ini, sekecil apa pun guncangan emosional pasti akan terasa.

Elvan yang sejak tadi belum memejamkan mata, merasakan getaran halus pada dipan kayu yang mereka tepati. Ia menoleh ke arah tas ransel pembatas, mendengar suara tarikan napas tertahan dan isak lirih yang sangat menyayat hati dari balik punggung Aluna.

Elvan tahu, wanita di sampingnya ini sedang mengalami badai emosional yang luar biasa hebat. Dikhianati kekasih, melihat ayah kandung bersimbah darah, dan dipaksa menikah dalam semalam adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh pundak sekecil itu sendirian.

Elvan menghela napas panjang dalam diam. Ia mengulurkan tangan kanannya melewati atas tas ransel pembatas, lalu dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia mendaratkan telapak tangannya yang besar dan hangat di atas puncak kepala Aluna yang tertutup rambut panjangnya yang agak kusut.

Aluna terkesiap kecil saat merasakan sentuhan hangat di kepalanya. Tangisnya mendadak terhenti karena terkejut.

"Menangislah jika itu bisa membuat dadamu terasa lebih lapang, Aluna," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang terdengar sangat lembut, laksana usapan angin malam yang menenangkan. "Kamu sudah menahannya seharian ini di depan dokter dan di depan pemilik kontrakan. Di sini, bersamaku, kamu tidak perlu berpura-pura menjadi wanita kuat. Tugasmu untuk menanggung semuanya sendiri sudah selesai sejak tadi malam di lorong rumah sakit. Mulai sekarang, biarkan aku yang ikut menanggung sebagian beban hidupmu."

Kata-kata Elvan laksana kunci yang membuka bendungan air mata Aluna yang paling dalam. Pertahanan tegar yang ia bangun sejak keluar dari rumah tadi pagi runtuh sepenuhnya.

Aluna membalikkan tubuhnya perlahan, membenamkan wajahnya ke balik tas ransel pembatas, dan menangis sejadi-jadinya di sana. Ia menangis meluapkan segala rasa sakit, pengkhianatan, ketakutan, dan keputusasaan yang menumpuk di dalam dadanya.

Elvan tidak menarik tangannya. Ia terus mengusap rambut Aluna dengan ritme yang teratur, menyalurkan kekuatan, kehangatan, dan sebuah janji perlindungan yang sunyi namun sangat nyata. Di bawah guyuran hujan malam yang kian menderu, di dalam kamar kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, Aluna menyadari satu hal di tengah tangisnya: meskipun nasibnya diawali oleh kesialan yang bertubi-tubi, takdir tampaknya telah mengirimkan seorang malaikat pelindung misterius yang siap berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir bagi hidupnya ke depan. Perjalanan pernikahan rahasia mereka baru saja resmi dimulai di atas dipan kayu yang keras.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr😄
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
perjalanan hidup akan baru di mulai, semangat
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
semoga dia laki2 baik bisa menjaga dan melindungi aluna, dan nantinya akan saling jatuh cinta😍
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!