Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keramaian di rumah Sabiru
Rumah Ages Sabiru sore itu jauh lebih ramai dari biasanya.
Suara tawa terdengar dari ruang keluarga.Beberapa bungkus camilan berserakan di atas meja.Sofa bahkan sudah tidak lagi cukup untuk menampung sekumpulan remaja yang sedang berkumpul.
Kalandra duduk bersandar dengan santai.Di sebelahnya ada Raka dan Kiano.Sean duduk di lantai sambil memainkan ponselnya.Sementara Jevan baru saja tiba dan duduk di hadapan mereka.
"Jadi gimana Van?" Kalandra membuka suara.
Jevan langsung menatapnya curiga.
"Gimana apanya?"
"Lah,katanya baru pulang umroh?"
"Iya emang."
"Gak sendiri kan?"
Jevan menggeleng. "Sama orang tua gue lah."
Kiano langsung menyela. "Terus kenapa nggak bawa oleh-oleh?"
Jevan mengerutkan kening."Gak sempat beli."
"Gak sempat atau nggak mau?" sela Kiano
"Memangnya harus?"
Raka langsung menunjuk dirinya sendiri. "Ya jelas lah ."
Jevan tertawa. "Kenapa harus ?"
Kalandra mengangkat tangan. "Karena kami adalah sahabat seperjuangan mu."
"Cih,seperjuangan apaan? Yang ada tuh teman yang setiap ketemu cuma ngeledek."
Kiano mengangguk. "Justru itu tanda persahabatan."
Jevan menatapnya. "Logikanya dari mana?"
"Yang penting terdengar masuk akal." jawaban enteng dari mulut Kala membuat semua langsung tertawa.
"Jev."
"Hm?"
"Di sana lo dapat pengalaman spiritual apa?"
Jevan langsung tersenyum."Banyak."
"Contohnya?" Tanya Raka
"Ya... banyak lah pokoknya."
Kalandra mengangguk serius. "Apakah itu artinya lo sekarang sudah berubah menjadi seorang ustadz?"
Jevan mengangguk. "Insyaallah,jadi mulai sekarang panggil gue..Ustadz Jevan."
Kalandra menatapnya lekat-lekat."Berarti..."
Ia mengambil sebungkus keripik dari meja. "Ini buat gue?"
Jevan langsung menggeleng."punya gue,bangke."
Kalandra mengangguk dengan wajah polos. "Nah."
Jevan mengerutkan kening."Nah apanya?"
Kala melipat kedua tangannya di dada,ia menatap Jevan dengan wajah serius. "Berarti lo belum bisa jadi Ustadz." jawabnya sambil geleng-geleng kepala.
Raka langsung tertawa terbahak-bahak.Kiano bahkan sampai menepuk lantai.
Jevan mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke arah Kalandra."Dasar kampret lo,Kal."
Kalandra berhasil menghindar.
"Jangan emosi. Orang habis umroh harus sabar."
"Lu yang bikin emosi!"
"Ujian Van." ujar Raka
"Ujian apaan?"
"Ujian kesabaran." Sean yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut menyela.
"Berarti Kalandra adalah ujian." Tanya Jevan
"Dia memang ujian hidup."
Kalandra menatap Sean."Diem deh lo,bang."
Sean hanya bisa tertawa kecil melihat wajah kesal Kalandra.
Jevan akhirnya mengeluarkan beberapa buah tangan dari tas yang dibawanya.Sekumpulan remaja itu langsung mendekat.
"Nah, ini baru percaya kalo lo beneran umroh."
Kalandra langsung mengambil salah satu bungkus kurma.
Jevan menatapnya. "Jangan banyak-banyak Kal"
"Kenapa?"
"Jatah yang lain itu."
Kalandra menatap teman-temannya."Yang lain bisa beli sendiri,ya kan? Kaya orang susah aja lah."
"Kurang ajar...dasar Kalandra kampret."
Mereka kembali tertawa hingga membuat gaduh di dalam rumah.
Namun, di tengah keramaian itu, Ages tiba-tiba muncul dari arah ruang kerja.Ia menatap ruang keluarga yang penuh dengan anak-anak remaja.
"Ini rumah atau pasar?"
Semua langsung menoleh.Kalandra tersenyum.
"Rumah yang kaya pasar,pap."
"Kalian cuma lima orang,tapi rame nya kaya satu rt."
"Tau tuh pap,mereka udah kaya ayam mau bertelur aja."
"Emang kampret ya Lo,Kal. Lo yang ribut dari tadi tapi kita yang di salahin." Pekik Raka.
Ages tersenyum sambil geleng kepal mendengarnya.Lalu menatap meja yang penuh dengan bungkus makanan.
"Siapa yang makan semua ini?"
Kalandra menunjuk Sean.Sean langsung menunjuk Raka.Raka menunjuk Kiano.Kiano menunjuk Jevan.Jevan menatap mereka semua.
"Kenapa jadi gue?"
Kalandra langsung mengangkat tangan."Kalau nggak ada yang mau mengaku, berarti semuanya pap."
Ages menghela napas. "Setelah selesai, bersihkan.Bibi udah pulang,jadi kalian sendiri yang harus kerja."
"Siap, pap," jawab mereka hampir bersamaan.
Ages baru hendak pergi ketika Kalandra memanggil."Pap."
"Hm?"
"Jevan baru pulang umroh."
Ages menoleh kepada Jevan. "Oh, ya?"
Jevan langsung berdiri dan menyalami Ages."Alhamdulillah, Om."
"Alhamdulillah. Bagaimana perjalanannya?"
"Seru, Om."
Ages tersenyum."Bagus. Jangan lupa ambil hikmahnya."
Kalandra langsung menyela. "Sudah, pap. Hikmahnya adalah harus bawa oleh-oleh untuk kami kalau pergi Umroh."
"Tapi waktu disana Jevan juga mendo'akan Om Ages juga."
Ages tersenyum."Oh ya."
Jevan mengangguk mantap."Iya Om."
"Makasih ya,Van sudah mendo'akan Om juga."
Kiano menatap Jevan dengan serius."Emangnya lo do'a apa buat Om Ages?"
"Do'a biar Om Ages bisa selalu sabar sama kelakuan anaknya yang luar biasa ajaib ini."
Kalandra terkejut,matanya melotot mendengar ucapan Jevan.Sedangkan Ages,Sean dan yang lainnya tertawa.
"Jevan Kurang Ajar!!!" pekik Kala kemudian.
Beruntung Jevan bisa menghindar saat Kala melemparkan bantal kecil ke arahnya.Semua kembali tertawa.
"Dengar cerita kamu,Om jadi tertarik buat Umroh juga." ucap Ages tiba-tiba.
"Wah,serius Om?"
"Iya,sepertinya nyaman dan damai gitu."
"Emang bener Om,Jevan juga pas umroh tuh ngerasain damai,tentram dan nyaman walaupun di sana penuh sama orang."
Ages mengangguk setuju,ia juga pernah mendengar saat temannya bercerita.
"Emangnya umroh berapa hari Van?" Tanya Kala penasaran.
"Gue cuma 9 hari doang "
"What?! 9hari?'
Sean menahan tawanya."Iya,nah nanti kalau Om Ages umroh...lo pisah lah selama 9 hari sama bokap lo."
Kala mengerjapkan mata beberapa kali,ia masih mencernanya.
"Kayanya Om harus mulai memikirkan dan juga melihat jadwal kerja Om nih."
Sean tak taha lagi menahan tawanya,apalagi melihat wajah Kala yang semakin terkejut.
"Tapi nanti jangan nitipin adek sama aku ya Om."
Ages mengerutkan keningnya."Memangnya kenapa?"
"Waktu keluar kota dua hari aja dia nangis gimana nanti kalo umroh 9 hari? Yang ada dia bakal ngamuk tiap kali di rumah papi."
Semua orang tertawa keras mendengarnya membuat Kala semakin kesal.
Ages memperhatikan sang anak,memang benar apa yang di katakan Sean.Selama ini bukannya ia tidak ingin pergi ke tanah suci atau ke Negara lain.
Ia memikirkan Kala,anaknya benar-benar tak bisa jauh dari dirinya.Ages selalu memikirkan bagaiman jika ia pergi jauh dan lama.Bagaimana dengan sang anak?.
Obrolan masih berlanjut dan semakin seru dihiasi perdebatan kecil dari mereka.Ada Kalandra yang memang begitu tengil,apalagi jika ada Raka dan Jevan yang sudah pasti akan menjadi bulan-bulanan seorang Kalandra.
Ages tersenyum hangat.Rumahnya memang selalu ramai jika teman-temannya anaknya berkumpul.Namun, ia menyukai keramaian itu.
Terutama ketika melihat Kalandra tertawa bersama teman-temannya.Bagi Ages,suara tawa putranya adalah salah satu suara terbaik yang pernah ia dengar.
Dan ia tidak pernah merasa keberatan jika rumahnya dipenuhi oleh sekumpulan remaja yang berisik.Selama Kalandra bahagia.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...