Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Loh, sudah pulang, Mas?” tanya Maira sembari memegangi Alisha.
Belum sempat menjawab, Sasa kembali bergabung dengan mereka. “Hai, Mas, kita main di sini ya.”
Reza hanya mengangguk dan sedikit tersenyum, lalu berpamitan menuju kamarnya.
Karena suami Maira sudah pulang, Sasa jadi tak enak hati, ia lalu berpamitan dengan Maira.
“Padahal baru juga 1 jam kalian di sini. Aku juga tidak tahu kenapa Mas Reza pulang cepat, katanya sore baru sampai Jakarta,” ucap Maira yang sedih karena teman-temannya akan pulang.
“Nanti kapan-kapan kita main lagi ya, Alisha cantik,” pamit Sasa.
“Dada Alisha,” pamit Dion menyusul Sasa keluar.
Selesai mereka saling berpamitan, Maira kembali masuk ke dalam rumah. Reza pun menghampirinya lalu merebut Alisha dengan paksa dari tangan Maira. Maira pun dibuat kebingungan dengan sikap suaminya ini.
“Bisa-bisanya kamu bawa masuk laki-laki ke rumahku, bermain dengan Alisha lagi!” tegasnya.
Maira buru-buru menjelaskan bahwa tak hanya Dion, tapi juga ada Sasa yang juga sudah bertemu dengan Reza sendiri, namun Reza seakan tak peduli dengan itu semua.
Reza lalu kembali ke atas ke kamarnya sembari tetap menggendong Alisha, diikuti Maira.
Mereka terus berdebat karena Maira tak terima disalahkan. Maira terus menjelaskan pada suaminya bahwa ia tak macam-macam, ia juga tak hanya berdua dengan Dion. Mereka juga hanya di rumah, tak pergi seperti dirinya. Maira kesal karena hal seperti ini saja suaminya marah, seolah tak bisa berkaca, terlebih, Reza seolah tak peduli dengan penjelasannya.
Saat Maira merasa Reza tak bisa menepati janji yang sedang ia usahakan, Reza justru berbalik menuduh Maira yang tak bisa mendukung usahanya. Di saat seperti ini, Reza merasa Maira seharusnya terus mendekat kepadanya dan tak berdekatan dengan lelaki lain. Sedangkan Maira tak terima karena itu artinya, suaminya itu egois. Lagi pula, Dion tak bisa disamakan dengan Vany yang tak tahu jika Reza sudah menikah.
Saat tengah berdebat, Maira tak sengaja melihat notifikasi pesan dari Vany di ponsel Reza.
“Za, sepertinya kacamata ku ketinggalan di mobilmu.”
“Jangan bilang kamu ke luar kota dengan dia. Kamu bilang bukannya sedang ada masalah pada unit bisnismu yang ada di Bandung,” tegur Maira.
“Aku tidak mengajaknya ke Bandung, tapi dia yang menyusulku,” jelas Reza.
Mendengar jawaban suaminya, Maira benar-benar sudah tak tahan. Ia terdiam cukup lama seakan sedang mengontrol emosinya. Setelah dirasa lebih tenang, ia mulai membuka mulutnya.
Tok tok tok...
Belum sempat Maira berbicara, terdengar suara ketukan pintu kamar.
Dibukanya pintu tersebut. “Pantas saja dari Mama datang dan panggil-panggil kalian tidak dengar ternyata sedang ribut, loh loh bawa Alisha lagi. Kalian bisa tidak sih menjadi orang tua yang baik? Tidak bertengkar di depan anak. Meskipun dia masih bayi, tapi otaknya bisa merekamnya. Sini, berikan Alisha pada Mama!” tegas Bu Intan mengambil Alisha dari gendongan Reza, lalu membawanya keluar kamar.
Setelah pintu ditutup, Maira sudah tak sabar ingin melanjutkan ucapannya. Ia dengan tegas menyatakan kekecewaannya pada suaminya itu kali ini. Hanya masalah Sasa dan Dion yang main ke rumah saja, Reza langsung marah. Ia kembali mengungkit semua yang telah Reza lakukan dengan Vany di depannya. Hingga yang paling parah saat ini, ketika Maira tahu bahwa mereka menghabiskan waktu bersama di Bandung selama 3 hari.
“Apa menurutmu ini adil untukku? Apa masih mau bilang aku bocil? Mau umur berapa pun, tak ada wanita yang tak marah kalau melihat kelakuan suaminya seperti ini! Aku mungkin bisa terima andai kita memutuskan hidup sendiri-sendiri dalam pernikahan ini, tapi yang membuat aku tidak terima adalah kamu sendiri yang mengatakan akan berusaha mencintai aku. Sedangkan kenyataannya sungguh berbanding terbalik! Selama ini aku diam dan tak ingin berdebat denganmu, hanya ingin menunggu keputusanmu setelah 3 bulan ini. Tapi sekarang, aku muak!” Maira tampak kecewa.
Kesal, marah, kecewa seolah menjadi satu. Dengan menahan tangisnya, ia melanjutkan mencurahkan isi hatinya. “Lebih baik lupakan saja usahamu itu, tak mungkin juga bulan depan kamu bisa secepat itu mencintai aku, sementara kamu sendiri sampai detik ini tetap tidak bisa tegas dan justru memilih menerima perempuan lain yang ingin masuk ke hatimu!”
“Yang paling membuatku kecewa adalah keegoisanmu! Kamus seolah tak terima kalau aku dekat dengan temanku sendiri, Dion, yang jelas-jelas kuanggap tak lebih dari sebatas teman! Sedangkan kamu, apa yang sudah kamu lakukan dengan perempuan lain? Kamu sungguh tidak bisa berkaca!” lanjutnya sembari pergi meninggalkan suaminya.
Reza dengan cepat menarik tangan Maira dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia pun mengakui bahwa ia memang egois. Ia berusaha jujur bahwa dirinya telah menjaga jarak dengan perempuan mana pun, termasuk Cantika dan Vany. Reza juga tak pernah ada perasaan apa pun pada mereka berdua, sekali pun mereka menyimpan rasa untuknya.
“Jangan kamu pikir setiap aku pergi dengan Vany aku akan macam-macam, karena kita hanya mengobrol dan makan. Kemarin, aku tidak tahu dia dapat informasi dari mana kalau aku ke Bandung. Dia tiba-tiba menyusulku, tapi Demi Tuhan kita tidak macam-macam. Aku juga sudah menolak untuk bertemu, tapi dia terus menungguku sampai aku selesai bekerja. Memang kita bertemu, hanya ketika malam hari saat aku selesai mengurus pekerjaanku, itu pun kita hanya makan dan jalan-jalan,” terang Reza.
“Dan kamu merasa itu benar? Kamu merasa meski hanya makan, mengobrol, dan jalan-jalan itu benar?” ketus Maira melepaskan pelukan suaminya dengan kasar.
Reza menggeleng. Ia meminta maaf. Itu semua dilakukannya karena pernikahannya yang tak diketahui oleh banyak pihak. Dan itu adalah kesalahannya sendiri.
Maira hanya diam. Air matanya bercucuran begitu deras. Setiap Reza akan menyekanya, tangan itu ditampik keras oleh Maira.
“Jadi sudah bisa dipastikan usahamu tak berhasil. Meski belum ada 3 bulan, tapi hingga kini yang hanya tersisa 1 bulan, belum terlihat keberhasilan usahamu. Jadi tak ada alasanku untuk menunggumu,” ucap Maira menenangkan dirinya sendiri.
Reza terus meminta maaf dan mencoba kembali menjelaskan pada Maira, namun Maira seakan tak mengizinkannya bicara.
Dengan tegas dan lugas, Maira mengutarakan seluruh isi hatinya tanpa ada yang terlewat.
Bahwa dia, telah merelakan masa mudanya untuk menikah dengan laki-laki yang tak dicintainya dan yang juga tak mencintainya, hanya demi keponakannya. Ia begitu merasa kehilangan kakaknya, dan ingin memberikan kasih sayang pada Alisha, agar bayi mungil tak berdosa itu tak kehilangan kasih sayang seorang ibu. Tapi ternyata keputusannya salah. Tak seharusnya pernikahannya menjadi solusi permasalahan Alisha.
Tak seharusnya ia menjadi pahlawan kesiangan. Meski dari awal sikap Reza tak baik padanya dan hanya menganggap Maira sebagai seorang pengasuh, perasaannya tetap tak dapat dipungkiri jika ia mulai mencintai suaminya itu. Sampai Reza meminta waktu 3 bulan pun tetap ditunggunya. Padahal, Maira tahu konsekuensinya, ia bahkan tak pernah absen sakit hati melihat suaminya pergi dengan perempuan lain. Ternyata, hatinya tak sekuat itu. Kesabaran Maira hanya dipermainkan oleh suaminya yang tak bisa tegas menentukan arah pernikahan mereka.
Sekarang, ia sudah tak ingin melanjutkan semuanya. Seperti yang pernah dikatakan Reza bahwa ia hanya ingin menikah siri denga Maira, agar perceraian mereka mudah. Saat ini, Maira hanya mengabulkan apa yang pernah dikatakan Reza kala itu.
Merasa tak terima dengan keputusan Maira, Reza terus menenangkannya. Ia takut Maira salah mengambil keputusan karena sedang emosi. Reza berusaha mengontrol istrinya, namun tak berhasil. Maira sama sekali tak ingin disentuh oleh Reza.
Maira berusaha mengontrol emosinya sendiri, perlahan ia menghela nafas panjangnya. Setelah lebih tenang, ia kemudian menceritakan apa yang Sasa ceritakan tadi pagi tentang pengasuh yang mau menginap dan sepertinya sesuai dengan kriteria Reza. Ia akan menghubunginya dan meminta untuk bertemu dengan Reza agar bisa secepatnya bekerja mengurus Alisha.
“Seperti yang Mas Reza katakan saat itu, kalau kamu sudah menemukan pengasuh yang tepat, pernikahan kita selesai. Dan aku anggap kamu sudah menemukannya! Soal mama, aku yang akan bicara sendiri tentang perceraian kita!” ujar Maira meninggalkan Reza yang hanya bisa termenung mendengarkan ucapan Maira.
Saat membuka pintu kamar, Maira mendapati mama mertuanya berdiri di balik pintu, seakan telah menguping semua pembicaraannya dengan Reza.
...****************...
""' nyesss 😭