Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Harga Sebuah Nama Baik
"Benar. Tadi pagi aku lihat sendiri. Leher Vira merah, mirip bekas cupang."
"Ya ampun... jadi gosip kalau Vira sering masukin laki-laki ke rumahnya itu benar?"
"Maksudmu... dia berzina?"
"Jangan sembarangan nebak," sela seorang ibu. "Itu cuma tanda merah di leher. Siapa tahu emang benar karena tomcat."
"Iya, tapi aku juga dengar Daril ngomong yang aneh-aneh."
"Aneh gimana?"
"Dia emang gak bilang terang-terangan kalau pernah berhubungan intim sama Vira. Tapi cara bicaranya ngarah ke sana. Seolah hubungan mereka dulu udah lebih dari sekadar pacaran biasa."
"Dari mana Ibu dengar?"
"Semalam aku lewat warung kopi. Kebetulan Daril lagi ngobrol sama teman-temannya."
"Ya ampun... gosipnya makin macam-macam, ya. Mulai dari dibilang gak perawan, katanya hubungan sama Daril kelewatan, sekarang malah dituduh bawa laki-laki ke rumah dan gonta-ganti pasangan."
"Aku sih masih gak percaya Vira kayak begitu."
"Tapi kalau gak ada api, mana mungkin ada asap?"
Kalimat itu membuat rahang Arvin mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Gak mungkin... Vira bukan perempuan seperti itu."
Tanpa berpikir panjang, Arvin melangkah masuk ke dalam warung.
"Ibu-ibu."
Semua orang yang ada di dalam warung langsung menoleh ke arahnya.
Arvin menatap mereka satu per satu sebelum berkata dengan tenang, tetapi tegas, "Kalau gak punya bukti, sebaiknya jangan bicara sembarangan."
Warung seketika menjadi senyap.
"Menuduh seseorang melakukan perzinaan tanpa bukti itu fitnah," lanjut Arvin. "Kalau tuduhan itu sampai merusak nama baik orang lain, bisa masuk kategori pencemaran nama baik. Ada konsekuensi hukumnya, bahkan bisa berujung pidana maupun denda."
Beberapa ibu saling berpandangan. Wajah mereka yang semula bersemangat bergosip perlahan berubah canggung.
"Tapi... kami cuma dengar dari orang lain," ucap salah seorang ibu pelan.
"Justru karena cuma mendengar dari orang lain, jangan langsung dianggap sebagai kebenaran," balas Arvin. "Kalau suatu hari Ibu yang difitnah seperti itu, apa Ibu juga rela nama baik Ibu dihancurkan hanya karena gosip?"
Tak ada yang mampu menjawab.
Arvin melanjutkan, "Apa ibu-ibu gak sadar, gosip yang kalian anggap sekadar obrolan ini bisa berubah menjadi tuduhan yang menyakitkan bagi seseorang."
Suasana warung mendadak dipenuhi rasa canggung. Beberapa ibu menundukkan kepala, sementara yang lain memilih diam.
***
Beberapa hari kemudian, Vira duduk di balik etalase tokonya sambil menatap jalanan di depan rumah.
"Kenapa makin lama makin sepi?" gumamnya pelan.
Padahal, sejak menemukan pemasok grosir yang lebih murah, ia sengaja menurunkan harga jual agar pelanggan semakin banyak. Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Yanti yang sedang menyapu lantai mendengar gumaman itu.
"Ra, akhir-akhir ini toko kamu jadi sepi, ya."
Vira mengangguk pelan.
"Coba yang jaga toko aku aja," usul Yanti. "Siapa tahu kalau yang jaga orang lain, pembelinya jadi ramai lagi."
Vira tidak langsung menjawab. Belakangan ini ia memang merasa ada yang aneh.
Setiap kali ada pelanggan datang, beberapa di antara mereka diam-diam mencuri pandang ke arah lehernya. Cara mereka berbicara terasa canggung, sementara tatapan yang diberikan seolah dipenuhi rasa curiga, bahkan jijik.
"Sebenarnya, apa ya terjadi? Apa penyebabnya?"
Tatapannya beralih ke rak-rak toko. "Beberapa stok makanan dan minuman mulai numpuk. Bahkan ada sebagian yang masa kedaluwarsanya tinggal beberapa minggu lagi."
Vira menarik napas berat. "Kalau keadaan ini terus berlanjut, aku bisa merugi."
"Baiklah," ujar Vira akhirnya.
Mata Yanti langsung berbinar. Namun belum sempat ia membayangkan dirinya bebas menguasai toko dan tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah, Vira kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi kamu jaga toko setelah semua pekerjaan rumah selesai."
Senyum Yanti langsung memudar. "Apa?!" Hampir saja Yanti berteriak. Tapi untungnya ia masih bisa menahan mulutnya hingga kata itu tidak keluar. "Jadi aku tetap harus beberes rumah? Habis itu masih disuruh jaga toko?"
Meski kesal, ia buru-buru memasang wajah memelas. "Ra, kalau aku harus beres-beres rumah terus jaga toko juga, aku takut gak sanggup."
Vira mengangkat bahu. "Kalau kamu gak mau, ya udah. Aku cari orang lain."
Mendengar itu, Yanti langsung berubah pikiran. "Enggak, Ra." Ia tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku sanggup, kok."
Vira mengangguk pelan. "Besok mulai."
Di dalam hati, Vira sudah mengambil keputusan. "Aku memang mengizinkanmu menjaga toko. Tapi kali ini aku gak bakal lengah."
Setelah kejadian skincare yang dicuri, kepercayaannya kepada Yanti sudah habis. Ia akan mengawasi setiap gerak-gerik sepupunya itu dengan ketat.
"Kalau dia berniat mengutil uang atau barang daganganku, aku gak bakal kasih kesempatan sedikit pun."
***
Arvin melangkah melewati rumah Vira seperti biasanya. Saat pandangannya jatuh ke arah toko, langkahnya sempat terhenti.
Ia menatap beberapa detik, lalu mengembuskan napas pelan. "Aku mau ke sana buat apa?"
Ia memang ingin bertemu Vira. Namun, ia tidak memiliki alasan yang jelas.
"Aku juga gak ada yang mau dibeli. Kalau datang cuma buat nanyain gosip itu..."
Akhirnya Arvin kembali melangkah. Meski begitu, ada sesuatu yang terus mengganjal di hatinya. Ia teringat ucapan Vira beberapa waktu lalu.
"Katanya setiap hari Minggu mau ngajak aku belanja."
Namun, sudah dua minggu berlalu dan Vira tak pernah lagi mencarinya.
"Kalau aku datang sekarang... jangan-jangan dia malah mengira aku nagih janjinya."
Arvin menggeleng pelan. Bukan itu tujuannya. Yang membuatnya gelisah justru gosip yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Setiap kali mendengar orang membicarakan Vira, ia selalu berusaha menghentikannya.
Ia mengingatkan bahwa menuduh seseorang tanpa bukti adalah fitnah, bahkan bisa berujung tuntutan hukum karena pencemaran nama baik. Namun, ia sadar usahanya tidak banyak berarti.
"Aku bisa membungkam satu atau dua orang... tapi aku gak mungkin membungkam seluruh warga desa."
Sore harinya, sepulang bekerja, Arvin kembali melewati rumah Vira. Kali ini ia berhenti. Tatapannya mengarah ke toko kecil di samping rumah itu.
"Aku sekalian beli beras aja deh."
Setidaknya, ia punya alasan untuk datang. Dan... kalau ada kesempatan, ia ingin memperingatkan Vira tentang gosip yang sedang beredar.
Dengan langkah mantap, Arvin berjalan menuju toko. Namun, begitu sampai di depan etalase...
...✨"Banyak orang mengaku membenci kebohongan, tetapi tanpa sadar menikmati cerita yang belum tentu benar."...
..."Ketika prasangka lebih dipercaya daripada fakta, kebenaran kehilangan suaranya."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.