Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*8
Cinta. Salahkan perasaan itu ia miliki? Irza selalu bertanya akan hal tersebut. Dia mencintai Ashanti dengan sepenuh hati. Apakah dia salah karena punya perasaan tersebut?
Namun di sisi lain, Sha bernapas dengan susah payah. Satu tangannya mengelus dada. Satu tangan yang lain ada di pinggang. Gadis itu terlihat seperti seseorang yang baru saja habis berlari sekuat tenaga. Atau lebih tepatnya, baru saja lolos dari kejaran binatang buas.
"Ya Tuhan ... ya Tuhan .... Kenapa bisa ketemu dia sih? Padahal aku pergi pagi hanya buat menghindar dari pembicaraan yang ada hubungan tentang dia. Eh ... datang pagi malah ketemu orangnya langsung. Apes banget sih aku ini," ucap Asha sambil terus mengelus dada.
Namun, baru juga Sha duduk di kursinya. Pikiran itu malah memutar ulang wajah Irza yang terlihat sangat hancur akibat ucapan yang ia lontarkan. Sha terdiam cukup lama hanya karena ingatan itu.
Rasa bersalah entah bagaimana bisa muncul, tapi terus terasa sangat berat dan kuat. Satu pertanyaan muncul. "Apa aku sangat keterlaluan tadi ya?"
Namun, gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak-tidak. Aku tidak cukup keterlaluan kok. Ucapan ku ... aku rasa tidak terlalu menyakitkan. Menurut aku."
Saat Sha sibuk dengan pikiran-pikiran tentang Irza, dua temannya yang baru saja sampai langsung menghampirinya secara diam-diam. Lalu .... "Ha!"
"Ya Tuhan." Asha terlonjak kaget.
Dua sahabat itu malah membuat Sha sangat terkejut akan ulah mereka berdua.
"Kalian ... ya Tuhan. Untung aku gak punya riwayat sakit jantung ya. Kalo engga, bisa tamat aku tau gak sih?"
"Ya habisnya, kamu melamun, Sha."
"Iya. Kita datang aja kamu gak sadar. Padahal, awalnya kita gak niat buat ngagetin kamu. Eh ... kamu nya malah gak sadar-sadar sama kehadiran kita," ucap Cindi membenarkan apa yang Laura katakan sebelumnya.
"Bagus ya kalian, malah nyalahin aku lagi. Sungguh bagus punya teman kek kalian berdua ini tau gak?"
Mereka bertiga pun malah saling bercanda. Hingga akhirnya, obrolan serius itu kembali muncul. "Sha, kamu ... beneran gak punya masalah?" Cindi bertanya dengan penuh selidik.
"Nggak."
"Kamu yakin?" Laura pula ikut bicara.
"Iya ... nggak juga."
"La terus, mau nyimpan masalahnya sendirian gitu? Gak mau berbagi sama kita berdua lagi?"
"Iya, Sha. Tumben kamu punya masalah gak mau bicara sama kita berdua. Apa kita berdua gak layak dengerin curhatan kamu lagi ya sekarang."
"Aduh, Cindi .... Bukan gitu maksudnya. Masalah ini, aku-- "
Belum juga selesai bicara, seorang teman sekelas malah mengalihkan perhatian mereka bertiga. "Hei! Ada kabar besar kalian pada tau gak sih?" Heboh teman tersebut.
"Kabar apa?"
"Kabar apa?"
Ruangan kelas langsung ramai gara-gara ucapan si teman sekelas barusan. Semuanya tertarik dengan gosip yang teman itu bawakan.
"Katakanlah kabar apa? Jangan diam saja," ucap yang lainnya.
"Iya. Udah bawa kabar tapi malah bengong. Punya atau nggak sih sebenarnya."
"Hei ... sabar sedikit kenapa? Kabar ini besar dan heboh. Jadi, harus bersabar kalo ingin mendengarkannya."
"Apa sih? Katakan sekarang juga."
"Iya. Katakan dong. Katakan."
"Baik-baik. Kalian tenang aku akan katakan."
Seketika, pandangan si teman sekelas langsung tertuju pada Asha. Lalu, satu pertanyaan yang sangat tidak Asha duga lolos dari bibir teman sekelas tersebut.
"Sha, kamu beneran bertunangan dengan Irza anak fakultas ekonomi yang gemulai itu?"
Deg. Jantung Asha seolah berhenti berdetak. Pertanyaan yang langsung membuat dia jadi pusat perhatian. Seketika, semua mata yang penuh akan rasa ingin tahu menatap Asha sepenuhnya.
"Ap-- apa yang kamu katakan?" Asha berusaha ingin menyangkal hal tersebut. Namun kenyataan dan takdir tidak memihak padanya.
"Aku temukan artikel di internet tentang pertunangan kamu sama dia," ucap si teman sekelas dengan penuh keyakinan.
Lalu, teman sekelas itupun membacakan artikel yang ada di layar ponselnya dengan lantang. "Keluarga Rahardi mengumumkan pertunangan putra tunggal mereka, Irza Rahardi dengan Ashanti Rahman. Pertunangan itu akan diadakan satu minggu kemudian."
Selesai membaca, teman sekelas tersebut langsung membalikkan layar ponselnya agar artikel itu bisa dilihat oleh semua yang ada di ruangan tersebut. Benar saja, di sana tertulis dengan jelas soal pertunangan tersebut dengan sangat jelas. Tak lupa, foto Irza dan Asha juga diletakkan di sana sebagai pelengkap.
Sha tidak punya kekuatan lagi untuk menyangkal berita tersebut. Karena berita itu adalah kenyataan pahit yang harus ia telan walau dia tidak menyukainya.
"Asha ... kamu .... "
"Sha. Benarkah itu? Kamu bertunangan dengan si gemulai?
"Tunggu deh. Ini kenyataan atau hoak sih sebenarnya?" Salah satu teman sekelas yang lainnya angkat bicara.
"Aku rasa benar. Karena kemarin, si Irza gemulai itu datang sendiri ke kelas kita hanya buat ketemu Asha kan? Masih ingat?"
"Benar."
"Iya."
"Ha, ah. Benar juga. Si Irza itu datang ke sini kemarin nyariin Asha."
Kelas terlalu ramai dan sangat berisik. Membuat Asha ingin segera lenyap dari pandangan mereka semua. Jika saja ia punya kekuatan untuk menghilang, maka sudah ia gunakan sejak tadi. Atau paling tidak, jika ia punya kemampuan seperti kelinci untuk menggali lubang, maka sudah ia pakai kemampuan itu untuk menghilang dari pandangan mereka semua secepatnya.
Namun sayang, itu hanyalah khayalan. Mimpi yang tidak nyata. Tidak seperti perjodohan pahit yang tidak ia sukai ini. Sekarang, bukan hanya keluarga saja yang tahu, seluruh dunia juga sudah tahu kalau dia adalah calon istrinya pria gemulai.
Asha bangun dari duduknya tanpa bicara sepatah katapun. Dua sahabatnya yang peka akan perasaan Asha langsung mengikuti dari belakang. Asha berjalan cepat meninggalkan kelas. Lalu berhenti di kamar mandi. Laura dan Cindi tetap mengikuti dari belakang.
Saat gadis itu berhenti melangkah, barulah kedua sahabatnya memanggil dengan hati-hati.
"Sha .... "
"Asha .... "
"Aku baik-baik saja. Sungguh," ucap Sha pelan.
"Jangan bohong. Kami tahu apa yang kamu rasakan."
"Iya, Sha. Kami tahu bagaimana perasaan mu. Jangan merasa sendirian. Ada kami di sini, Ashanti."
Kekuatan dukungan dari orang terdekat memang efeknya luar biasa. Sha merasakan sendiri hal tersebut. Karena setelah pelukan hangat yang temannya berikan, beban berat yang menghimpit dada terasa sedikit berkurang.
"Kita bicara di taman ujung kampus, bagaiman?"
"Iya, Sha. Bicara di sana lebih segar rasanya. Mau?"
Asha mengangguk pelan. Merekapun beranjak menuju taman. Namun diperjalanan, mereka langsung bertemu dengan Irza yang kebetulan memang sedang ingin menemui Asha.
"Sha .... " Lagi, nada lembut yang sangat tidak ingin Asha dengar kembali menyapa telinga.
Asha langsung melepas napas berat.
"Apalagi?"
"Aku .... "
"Nanti saja bicaranya. Sekarang, aku sudah sangat tidak punya tenaga untuk bicara sama kamu."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi