NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas

Saat fajar menyingsing, tembok Kota Batu Tengah akhirnya berdiri tegak di hadapan mereka. Dibangun dari batu abu-abu raksasa yang diambil dari pegunungan sekitar, tembok ini tingginya lebih dari dua puluh meter, dihiasi ukiran lambang Keluarga Meng—sebuah palu yang menghantam batu—di setiap sudutnya. Di gerbang utama, kerumunan orang berdesakan: pedagang membawa barang, pengembara, dan calon murid yang ingin mendaftar ke Akademi Batu Langit.

Namun ketenangan itu berakhir saat mereka tiba di pos pemeriksaan. Dua penjaga berbadan besar mengenakan zirah besi menghalangi jalan, wajahnya dingin dan angkuh. Mereka memeriksa setiap orang dengan tatapan merendahkan, terutama pada mereka yang berpakaian lusuh.

"Biaya masuk dua keping perak!" bentak salah satu penjaga pada petani tua yang membawa keranjang sayur. "Kalau tidak punya, berhenti di sini saja!"

Petani itu gemetar ketakutan. "Tuan... ini terlalu mahal. Biasanya hanya satu keping tembaga..."

"Aturan baru dari Keluarga Meng!" potong penjaga itu kasar. "Kalau tidak mampu, pulang saja ke tempat sampahmu!" Ia menendang keranjang petani itu hingga sayuran berserakan di tanah berdebu.

Lin Mo mengepalkan tangannya erat. Ia melihat ketidakadilan ini dengan jelas—kota ini bukan tempat perlindungan, melainkan tempat di mana kekuatan dan kekuasaan berhak menginjak-injak siapa saja yang lemah.

"Kita harus hati-hati," bisik Pak He di sampingnya. "Keluarga Meng semakin menekan rakyat akhir-akhir ini. Mereka ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk persiapan sesuatu."

Saat giliran Lin Mo dan Pak He tiba, penjaga itu menatap pakaian Lin Mo yang bertambal dengan jijik. "Asal mana? Tidak ada lencana sekte atau surat izin?"

"Dari Desa Akar Kering," jawab Lin Mo tenang. "Kami berniat masuk kota untuk mendaftar akademi dan berdagang."

"Desa terpencil?" Penjaga itu mendengus. "Biaya masuk untuk orang tanpa afiliasi: sepuluh keping perak. Bayar sekarang, atau minggir."

Jumlah itu luar biasa mahal—cukup untuk menghidupi keluarga kecil selama berbulan-bulan. Lin Mo hanya memiliki sisa lima keping perak yang ia tabung susah payah.

"Aku tidak punya cukup uang," katanya jujur. "Tapi aku berjanji akan membayarnya setelah aku bekerja di dalam kota."

Penjaga itu tertawa keras. "Berjanji? Siapa yang mau percaya pada pengemis sepertimu! Serahkan barang bawaanmu sebagai jaminan, atau aku akan mengusirmu sampai ke kaki gunung!" Ia mengulurkan tangan hendak merebut bungkusan di punggung Lin Mo—tempat di mana batu hitam itu tersimpan.

"Jangan sentuh barangku," ucap Lin Mo dingin. Kakinya tidak bergerak sedikit pun, seolah tertanam di tanah.

Penjaga itu mengerutkan kening, merasa dihina. "Berani melawan?!" Ia mengepalkan tangan, aliran energi tingkat Pelatihan Energi melilit kepalan tangannya, lalu langsung menghantam dada Lin Mo.

Pak He menjerit kaget. Namun Lin Mo tidak mundur. Ia membiarkan kekuatan akar menyebar ke seluruh tubuh, membuat kulitnya sekeras batu cadas.

Duang!

Pukulan itu menghantam dada Lin Mo dengan suara berat. Penjaga itu justru mundur dua langkah sambil meringis, tangannya terasa kesemutan hebat seolah menabrak tembok besi. Lin Mo sendiri hanya bergoyang sedikit, tidak terluka sama sekali.

"Kau... kau apa?!" seru penjaga itu panik. Ia hendak memanggil temannya, tapi suara lantang terdengar dari atas menara gerbang.

"Cukup."

Seorang pemuda berjalan turun perlahan. Ia mengenakan jubah sutra halus, lambang Keluarga Meng tersemat di dadanya—itu Meng Chao, keponakan kepala keluarga yang bertugas mengawasi gerbang hari ini. Ia menatap Lin Mo dari atas ke bawah dengan tatapan tajam, namun tidak marah.

"Kau memiliki teknik penguatan tubuh yang aneh," ucap Meng Chao pelan. "Bukan gaya Sekte Akar Batu maupun aliran lain yang kukenal. Baiklah... aku izinkan kau masuk tanpa biaya. Tapi ingat: di Kota Batu Tengah, kekuatanmu harus berguna. Jika kau membuat masalah, aku sendiri yang akan menghukummu."

Ia memberi isyarat, dan penjaga itu segera menyingkir dengan wajah takut. Lin Mo mengangguk singkat pada Meng Chao, lalu berjalan masuk bersama Pak He.

Saat mereka sudah jauh, salah satu penjaga bertanya pada Meng Chao. "Tuan, kenapa membiarkan orang asing yang mencurigakan masuk?"

Meng Chao menatap punggung Lin Mo yang menghilang di kerumunan, matanya berkilat penuh pertimbangan. "Orang seperti itu... entah dia teman atau musuh, lebih baik kita awasi dekat-dekat. Dan kekuatan yang dia miliki... mungkin berguna untuk rencana paman nanti."

 

Di dalam kota, suasana sangat berbeda dengan desa. Jalanannya lebar dan dilapisi batu rata, bangunan bertingkat menjulang, dan udara terasa lebih pekat dengan energi alam. Namun di balik kemegahan itu, Lin Mo merasakan ketegangan yang nyata: prajurit berpatroli di setiap sudut, orang-orang berbicara berbisik-bisik takut salah bicara, dan harga barang di pasar jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan.

"Kita cari penginapan murah dulu," kata Pak He. "Besok pendaftaran Akademi Batu Langit dibuka. Itu satu-satunya jalan bagimu untuk mendapatkan perlindungan dan sumber daya tanpa harus tunduk pada Keluarga Meng."

Malam itu, di kamar penginapan sederhana, Lin Mo kembali mengeluarkan batu hitamnya. Ia merenungkan kejadian di gerbang tadi. Kekuatannya masih terlalu samar, terlalu mudah menarik perhatian orang berkuasa. Ia harus tumbuh lebih cepat, menanam akarnya lebih dalam, sebelum mereka menyadari apa yang sebenarnya ada padanya.

"Kota ini penuh batu yang keras," bisiknya pada batu hitam itu. "Tapi bukankah batu keras justru tempat terbaik untuk mengasah akar?"

Batu hitam itu berdenyut hangat seolah menyetujui.

Di sudut lain kota, di dalam ruangan gelap yang diterangi cahaya merah samar, seorang pria tua mendengarkan laporan tentang pemuda dengan kekuatan tubuh aneh yang masuk hari itu. Wajahnya tertutup bayangan, namun senyum tipis yang mengerikan terlihat di bibirnya.

"Akhirnya... benih itu datang," gumamnya pelan. "Jangan biarkan dia lari. Awasi terus gerak-geriknya sampai waktunya tiba."

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!