NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Rasa Lelah yang Lenyap

Bisa dibayangkan, betapa lelahnya Doni seharian ini. Sudah sejak pagi-pagi sekali, dia memacu motornya dari kosan menuju kampus untuk mengerjakan tugas kelompoknya, lalu kembali pulang ke kosannya untuk mengambil tas olahraga Olivia, kemudian pergi ke kafe untuk bertemu dengan si pemilik tas itu, lalu dipaksa untuk menemaninya pergi ke supermarket. Di supermarket, dia mendorong troli selama kurang lebih setengah jam, lalu berlarian mengitari area supermarket agar tidak ketahuan oleh Marcella yang membuatnya terpaksa bersandiwara. Marcella mungkin tidak mengetahui semua itu. Tapi sebagai kekasihnya yang telah menjalin hubungan selama lima tahun, hanya melihat raut wajah kelelahan di wajah Doni saja, Marcella pasti merasa khawatir, tanpa perlu tahu semua sebab di baliknya.

Alasan itulah yang membuat Marcella mengajak Doni untuk makan malam di rumahnya dengan ikut naik di mobilnya.

“Yuk, Don. Naik!” ajak Marcella sambil membuka pintu mobilnya.

“Kayaknya nggak perlu deh, Cell. Aku langsung balik aja…”

“Doni, sayang…” potong Marcella lembut namun tegas. “Aku tau kamu pasti capek banget, kan? Dan kamu masih mau naik motor ke kosan?! Nggak, nggak. Ntar kalo kamu ada apa-apa di jalan, gimana? Ini udah hampir jam enam sore, kamu pasti juga belum makan. Ntar kalo kamu sempoyongan di jalan, gimana? Makanya kita makan malam bareng di rumah. Yuk!” omel Marcella panjang lebar sambil menggenggam tangan Doni mesra dengan kedua tangannya.

Perhatian tulus Marcella membuat Doni terenyuh. Sudah lima tahun, tapi rasa perhatiannya masih sama seperti awal mereka berpacaran. Marcella benar. Doni mungkin terlalu lelah untuk mengendarai motornya kembali ke kosan dari sini. Waktu istirahatnya yang sejak siang tadi direnggut oleh Olivia, akhirnya bisa dia dapatkan lagi, walaupun hanya sebentar. Doni pun luluh, dan menuruti pacarnya itu.

“Ya udah, deh. Makasih ya, Marcella sayang”, ucap Doni sambil membelai rambut panjang Marcella.

“Sama-sama, Doni sayang”, balas Marcella dengan senyuman manisnya, lalu naik ke kursi pengemudi.

Drrt… Drrt…

Ponsel Doni tiba-tiba bergetar sebelum dia masuk ke mobil. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tanpa nama.

Kak Don, tasku disimpan dimana? Aman aja kah?

“Astaga!” batin Doni terkejut. Dia baru ingat kalau tas olahraga Olivia diletakkan begitu saja di motornya. Talinya dia kaitkan sembarangan di gantungan barang. Selain menyimpan pakaian-pakaian Olivia, tas itu juga ‘menyimpan’ rahasia Doni. Kalau terjadi apa-apa pada tas itu, tidak ada yang tahu apa yang akan diperbuat Olivia kepadanya. Doni panik setengah mati.

“Eh… Cell, aku ke motorku dulu, ya. Aku mau… perbaikin posisinya dulu, biar lebih aman. Soalnya kan, mau ditinggal lama. Kalian langsung ke depan aja, ntar aku nyusul”, kata Doni buru-buru lalu menutup pintu mobil.

Dengan sisa-sisa tenaganya yang sudah hampir habis, Doni setengah berlari ke arah area parkiran bagian belakang gedung tempat dia memarkir motornya. Setibanya di situ, dia langsung sigap membuka jok motornya, lalu memasukkan tas olahraga Olivia ke dalam tempat di bawah jok motornya itu. Untung saja, ukuran tas itu tidak terlalu besar, jadi Doni hanya sedikit menyesuaikannya agar muat di bagasi motornya.

“Selesai!” gumamnya lega. Dia pun kembali bergegas untuk menyusul mobil Marcella yang sudah keluar dari area parkiran supermarket.

“Yuk!” ucap Doni saat membuka pintu mobil Marcella. “Aku duduk dimana?” tanyanya kepada kekasihnya itu.

“Di depan dong, sayang. Biar Oliv yang di belakang”, jawab Marcella sambil menepuk-nepuk kursi penumpang di sebelahnya.

Doni yang masih berdiri menggenggam pintu mobil yang terbuka, melirik ke kursi belakang tempat Olivia duduk. Saat mata mereka bertemu, Olivia hanya tersenyum tipis, mengedipkan matanya pelan, dan mengacungi jempol untuk mengapresiasi usaha Doni mengamankan tas olahraganya, seolah berkata “Kerja bagus, Kak Asisten!”

Doni hanya bisa menghembuskan napas panjang. Dia lega, setidaknya dia bisa beristirahat sejenak di mobil Marcella dengan hembusan dinginnya AC di hadapannya.

“Gimana, udah aman motornya?” tanya Marcella perhatian.

“Udah, Cell”, jawab Doni sambil memasang sabuk pengaman. “Berarti ntar…”

“Ntar aku yang anter kesini, Don. Tenang aja”, potong Marcella seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Doni. “Pokoknya nanti kalau udah selesai makan malem di rumah, kalau kamu udah mau pulang, nanti aku yang nganter kamu balik ke sini lagi buat ngambil motor kamu”, tambah Marcella sambil tersenyum manis, membelai lengan Doni.

Perhatian tulus yang diberikan Marcella selama lima tahun ini mendadak terasa menghangatkan sekaligus menghujam dada Doni dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

“Y-ya udah kalau gitu... makasih ya, Cell”, bisik Doni pasrah, sambil membenarkan posisi duduknya agak menyandar.

Dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya, Marcella menurunkan rem tangan mobilnya, dan menginjak pedal gasnya pelan. Mobil city car merah itu pun mulai melaju membelah jalanan kota.

Melihat Marcella yang fokus mengemudi di sampingnya, Doni yang duduk di kursi penumpang depan, berusaha untuk memejamkan mata agar tidak mengganggu. Rasa lelah yang menumpuk seharian ini seharusnya sudah cukup untuk membuatnya beristirahat. Namun, saat dia membuka matanya sekilas, pandangannya tertuju pada kaca spion tengah, dimana dia bisa melihat pantulan wajah Olivia yang duduk di kursi belakang, menyandarkan dagunya di kaca jendela sambil menatap pemandangan luar.

Dari sudut itu, cahaya jingga matahari sore yang menerobos kaca mobil memantul lembut di garis wajah Olivia. Gadis itu tampak begitu tenang, jauh dari kesan jahil yang beberapa menit lalu hampir membuat jantung Doni melompat keluar. Seolah menyadari ada yang memperhatikan, mata Olivia mendadak bergulir, menatap lurus balik ke arah mata Doni dari spion tengah. Tanpa canggung, Olivia justru menorehkan senyum tipis, lalu mengedipkan sebelah matanya di balik punggung kakaknya.

Doni buru-buru memutus kontak mata itu dan mengalihkan pandangannya lurus ke arah jalanan. Tenggorokannya mendadak kering. Rasa kantuk yang tadi menguasainya mendadak lenyap, digantikan oleh desiran asing yang memacu detak jantungnya.

“Kenapa, Don? Tidur aja. Nggak apa-apa, kok”, tanya Marcella lembut memecah keheningan. Tangan kiri Marcella terulur dari kemudi, mengelus jemari Doni yang tertaut di atas paha dengan penuh kasih sayang. Usapan hangat di jemarinya itu terasa seperti sengatan listrik bagi nurani Doni. Dia menatap jemari Marcella yang melingkar di tangannya, jemari dari wanita yang sudah menemaninya selama lima tahun, wanita yang sangat mempercayainya tanpa curiga sedikit pun.

“I-iya, Cell. Kayaknya… bentar lagi juga nyampe”, jawab Doni gugup dengan senyuman tipis yang dipaksakan. Rasa bersalah yang besar mendadak menghujam dada Doni, terasa lebih sesak daripada rasa lelah fisiknya seharian ini.

Di dalam city car yang dingin dan harum aroma vanilla ini, Doni menyadari satu hal yang mengerikan. Dia sedang duduk tepat di tengah dua wanita yang memberikan rasa yang berbeda: kasih sayang tulus dari Marcella di sampingnya, dan rahasia kecil yang mendebarkan bersama Olivia di belakangnya.

Dan malam panjang ini baru saja dimulai.

1
Athnares
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!