NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencarimu ke mana-mana

Margaretha menghela napas panjang, berusaha meredam amarah yang bergolak di dalam dadanya. Ia menatap Pak Boby yang masih menundukkan kepala dengan penuh rasa bersalah.

“Boby.”

“Terima kasih, sudah memilih untuk mengatakan kebenarannya.”

Pak Boby segera mengangkat wajahnya.

“Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.”

“Tapi, Nyonya Besar...”

“Dari awal memang aku yang memintamu mengawasi Damian sekaligus menjaga Valerie.”

“Apa yang terjadi hari ini bukan sepenuhnya kesalahanmu.”

Pak Boby hanya mampu mengangguk pelan. Meski begitu, rasa bersalah tetap memenuhi hatinya.

Margaretha kemudian menoleh kepada Harrison dan Jennifer.

“Kita pergi menemui Damian sekarang.”

Keempatnya tiba di perusahaan, mereka langsung menuju ruang kerja Damian. Saat pintu terbuka, Damian tengah memeriksa beberapa dokumen bersama Donny.

Damian mengangkat pandangannya.

“Nenek?”

Margaretha sengaja memasang wajah cemas.

“Kami mengunjungi rumah, namun...”

“Pak Boby bilang kalau Valerie menghilang.”

Damian hanya memandang mereka tanpa banyak perubahan ekspresi.

“Apa kamu tahu dia pergi ke mana?”

“Sudah lama Nenek tidak bertemu dengannya. Nenek ingin mengajaknya makan siang.”

“Dan ada yang ingin nenek katakan kepadanya.”

Damian menutup map di hadapannya.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban singkat itu membuat Harrison kehilangan kesabarannya, ia langsung melangkah mendekat dan menunjuk Damian.

“Damian?”

Harrison membentak Damian, matanya menatapnya tajam.

“Begitukah caramu menjalani rumah tangga? Istrimu menghilang, tapi kamu bahkan tidak terlihat ingin mencarinya!”

Jennifer ikut melangkah maju.

“Damian, Valerie sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

Jennifer berusaha menahan emosi sampai tangannya bergetar.

“Jika terjadi sesuatu padanya...”

“...aku tidak akan tinggal diam.”

Margaretha memandang cucunya dengan tatapan penuh kekecewaan.

“Nenek sudah lelah mengahadapi sikapmu.”

“Hari ini Nenek benar-benar sangat kecewa.”

Damian perlahan mengangkat wajahnya.

“Diam-diam kamu masih menyimpan semua barang milik Selena di mansion itu.”

Damian tidak menyela.

“Kamu juga tidak pernah benar-benar membuka hatimu untuk Valerie.”

Margaretha menarik napas dalam.

“Kalau sejak awal kamu tidak menyukai pernikahan ini, kenapa tidak jujur kepada Nenek? Mungkin Nenek tidak akan menikahkan Valerie denganmu.”

Setiap kalimat yang keluar dari bibir Margaretha terdengar seperti pisau yang menghantam hati Damian. Namun ia tetap membisu, tatapannya hanya tertuju ke lantai.

Margaretha mengepalkan tangannya.

“Dengarkan baik-baik, Damian.”

Nada suaranya berubah tegas.

“Kalau Valerie tidak ditemukan... atau sampai terjadi sesuatu pada Cucuku karena kelalaianmu...”

Ia menatap Damian tanpa berkedip.

“Nenek akan mencabut seluruh hakmu atas aset dan saham yang selama ini berada atas namamu.”

Harrison dan Jennifer terdiam. Mereka tahu Margaretha bukanlah orang yang mengucapkan ancaman tanpa keseriusan.

Namun Damian tetap tidak membela dirinya, ia tidak berusaha membantah. Hanya duduk diam, membiarkan semua tuduhan dan kemarahan keluarganya menghantam dirinya tanpa perlawanan.

Margaretha menatap Damian dengan sorot mata yang penuh amarah.

“Dengarkan baik-baik, Damian.”

Suaranya terdengar tegas hingga membuat seluruh ruangan terdiam.

“Cepat pergi, cari Valerie sampai ketemu.”

Damian tetap membisu.

“Dan jangan pernah pulang sebelum kamu menemukannya.”

Tak seorang pun berani menyela. Mereka tahu, ketika Margaretha telah mengeluarkan perintah, tidak ada ruang untuk membantah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Damian mengambil kunci mobilnya lalu melangkah keluar dari ruang kerja. Donny yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan segera mengikuti di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, Harrison langsung menoleh kepada Pak Boby.

“Pak Boby.”

“Hubungi semua orang yang bisa membantu. Periksa rumah sakit, kantor polisi, terminal, stasiun, hotel, dan tempat-tempat lain yang mungkin didatangi Valerie.”

“Baik, Tuan Besar.”

Pak Boby segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi beberapa kenalannya.

Sementara itu, Damian memasuki lift dengan langkah cepat. Pintu lift perlahan menutup, menyisakan dirinya seorang diri di dalam ruangan sempit itu. Ia mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya, bayangan wajah Valerie kembali memenuhi pikirannya. Namun, amarah dan kebingungan yang sejak pagi memenuhi benaknya membuat pikirannya belum mampu melihat semuanya dengan jernih.

Baginya, Valerie tetap membuatnya kecewa dengan memasuki kamar itu dan memanfaatkannya saat dirinya kehilangan kesadaran. Ia masih meyakini bahwa Valerie seharusnya bisa menghindari situasi tersebut atau meminta pertolongan lebih cepat.

Damian dan Donny berkeliling sejak siang tanpa henti. Mereka mendatangi setiap tempat yang mungkin dikunjungi Valerie, kampus, taman kota, perpustakaan, kafe favoritnya, hingga beberapa tempat lain yang pernah disebut Pak Boby. Namun, hasilnya tetap sama, Valerie seolah menghilang tanpa jejak.

Hari mulai gelap. Langit yang semula cerah kini diselimuti awan kelabu. Di dalam mobil, Damian terus mencoba menghubungi nomor Valerie. Untuk kesekian kalinya, nada sambung terdengar. Beberapa detik kemudian, panggilannya dijawab.

“Halo Valerie?”

Damian langsung bersuara.

Namun, suara perempuan lain terdengar dari seberang telepon.

“Maaf, Tuan Damian.”

“Saya Bella.”

Damian mengernyit.

“Bella?”

“Ya, Tuan. Saya sedang dikamar Nona Muda, mengganti bunga di vas. Dan ponsel Nona tertinggal di atas kasurnya.”

Jantung Damian seakan berhenti sesaat.

“Jadi ia meninggalkan ponselnya?”

“Benar, Tuan.”

Damian menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi, ia terdiam cukup lama.

“Donny.”

“Ya, Tuan.”

“Ke rumah Valerie.”

Mobil segera berbelok menuju rumah lama Valerie. Sesampainya di sana, Damian segera turun. Ia berdiri beberapa saat di depan rumah yang tampak sunyi. Tempat itu adalah satu-satunya lokasi yang belum benar-benar ia periksa.

Tatapannya tertuju pada gerbang. Perlahan, ia mendorongnya.

KLEK!

Gerbang terbuka, Damian mengernyit.

“Tidak terkunci?”

Ia melangkah masuk dengan perasaan yang semakin tidak tenang. Sesampainya di depan pintu rumah, ia mencoba memutar gagangnya. Pintunya terkunci, Damian kembali menatap ke sekeliling. Gerbang dibiarkan terbuka, tetapi pintu rumah justru terkunci dari dalam.

Perasaan buruk mulai menyelimuti hatinya.

“Donny.”

“Ya, Tuan?”

“Dobrak pintunya.”

Donny mengangguk, tanpa basa-basi ia mendobrak berkali-kali pintunya. Pintunya itu tetap tidak terbuka, akhirnya mereka bergantian menghantam pintu beberapa kali.

BRAK!

BRAK!

Pada hentakan terakhir, kunci pintu akhirnya terlepas. Damian langsung berlari masuk, rumah itu sunyi.

“Valerie!”

Tak ada jawaban, Damian membuka setiap pintu ruangan satu per satu. Hingga langkahnya terhenti di depan kamar Valerie, pintu kamar terbuka sedikit. Saat memasuki ruangan itu, pandangannya menyapu setiap sudut, matanya menangkap sepasang kaki yang tampak dari balik sisi ranjang.

Wajah Damian seketika memucat.

“Valerie!”

Ia berlari menghampiri. Di lantai, Valerie terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, dan tubuhnya dingin dan lemah. Di dalam pelukannya masih tergenggam erat sebuah bingkai foto kedua orang tuanya, seolah itulah satu-satunya yang mampu memberinya ketenangan.

“Valerie... bangun.”

Damian menepuk pelan pipinya, tetapi tidak ada respons. Napas Valerie masih ada, namun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, Damian mengangkat tubuh Valerie dengan hati-hati ke dalam pelukannya.

Donny! Buka pintu mobil!”

“Baik, Tuan!”

Dony segera membuka pintu belakang. Damian membaringkan Valerie perlahan di kursi belakang, memastikan kepalanya tetap tersangga dengan baik.

“Kerumah sakit.”

“Cepat!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!