Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
Perjalanan pulang dari Puncak berakhir menjelang malam.
Bus berhenti tepat di halaman kantor Orion Creative. Satu per satu karyawan turun sambil membawa koper dan oleh-oleh. Wajah mereka tampak lelah, tetapi puas setelah dua hari melepas penat.
"Nadira."
"Iya?"
Arga menurunkan koper Nadira dari bagasi.
"Berat juga."
"Soalnya Rina nyuruh beli keripik tiga kilo."
Arga terkekeh.
"Aku curiga dia buka toko."
Nadira ikut tertawa.
Suasana terasa begitu ringan hingga keduanya tidak sadar seseorang memperhatikan dari kejauhan.
Rina menyenggol Pak Dimas.
"Pak."
"Hm?"
"Mereka sekarang ketawa mulu."
Pak Dimas tersenyum.
"Itu tandanya mereka sudah nyaman."
---
Hari Senin tiba.
Rutinitas kantor kembali berjalan seperti biasa.
Namun ada satu hal yang berubah.
Kini Arga tidak lagi mencari-cari alasan untuk mendekati Nadira.
Ia tetap perhatian.
Tetapi tidak berlebihan.
Ia memberi ruang.
Memberi waktu.
Sesuai janjinya.
*"Aku ingin jawaban yang datang dari hatimu."*
Kalimat itu terus diingatnya.
---
Sementara itu...
Justru Nadira yang mulai gelisah.
Pagi ini Arga hanya menyapa singkat.
"Pagi, Dir."
"Pagi."
Tidak ada lagi cokelat hangat.
Tidak ada lagi roti.
Tidak ada lagi candaan yang membuatnya kesal.
Saat rapat selesai pun, Arga langsung kembali ke mejanya.
Nadira memandang punggung pria itu cukup lama.
Rina yang duduk di sebelahnya menyadari perubahan itu.
"Kamu kenapa?"
"Hah?"
"Dari tadi lihatin Arga."
"Nggak."
"Dir."
"Apa?"
"Kamu lagi nunggu dia, ya?"
Nadira spontan menggeleng.
"Nggak."
"Yakin?"
Nadira terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menghela napas pelan.
"...Sedikit."
Rina tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya ngaku juga."
---
Siang harinya, Pak Dimas memanggil seluruh tim.
"Ada proyek baru."
"Klien meminta presentasi dalam tiga hari."
Ruangan langsung riuh.
"Waktunya mepet, Pak."
"Iya."
"Karena itu..."
Pak Dimas membagikan tugas.
"Arga dan Nadira, kalian pegang konsep utama."
"Kalian berdua paling paham kebutuhan klien."
Arga mengangguk.
"Siap."
Nadira juga mengangguk.
"Baik, Pak."
---
Sore menjelang malam.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Hanya Arga dan Nadira yang masih bertahan di ruang rapat.
Laptop terbuka.
Kertas berserakan.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam.
"Akhirnya selesai."
Nadira meregangkan tubuh.
Arga menutup laptop.
"Capek?"
"Banget."
Perut Nadira tiba-tiba berbunyi pelan.
Keduanya saling menatap.
Lalu tertawa bersamaan.
"Aku lupa makan siang."
aku Nadira malu-malu.
"Pantes."
Arga berdiri.
"Tunggu."
"Mau ke mana?"
"Lima menit."
---
Benar saja.
Lima menit kemudian Arga kembali membawa dua mangkuk mi rebus hangat dari minimarket seberang kantor.
"Kantin tutup."
"Jadi adanya ini."
Nadira menatap mangkuk itu sambil tersenyum.
"Kamu masih ingat aku suka mi rebus pakai telur?"
Arga mengangguk santai.
"Aku juga masih ingat kamu nggak suka daun bawang."
Nadira kembali terdiam.
Perhatian-perhatian kecil itu...
Selalu berhasil menyentuh hatinya.
Mereka makan sambil mengobrol ringan.
Tentang pekerjaan.
Tentang masa kecil.
Tentang hal-hal sederhana yang selama ini belum pernah mereka ceritakan.
Untuk pertama kalinya, Nadira merasa waktu berjalan terlalu cepat.
---
Saat hendak pulang, hujan kembali turun deras.
"Yah..."
Motor Nadira terparkir cukup jauh.
Arga membuka bagasi mobilnya.
"Aku antar."
"Nggak usah."
"Hujan deras."
"Nanti merepotkan."
Arga tersenyum tipis.
"Dir."
"Hm?"
"Aku belum pernah merasa kamu itu merepotkan."
Kalimat itu membuat Nadira kehilangan alasan untuk menolak.
---
Di dalam mobil, hujan membentuk garis-garis air di kaca.
Suasana begitu tenang.
Radio memutar lagu pelan.
Tanpa sadar, Nadira menoleh ke arah Arga yang fokus menyetir.
Tangannya mantap di kemudi.
Sesekali ia melirik spion.
Begitu serius.
Begitu menenangkan.
Tiba-tiba Nadira berkata pelan,
"Gar."
"Iya?"
"Aku boleh jujur?"
Arga menoleh sekilas.
"Boleh."
Nadira menggenggam tasnya erat.
"Akhir-akhir ini..."
"...aku mulai nungguin kamu."
Arga terdiam.
Nadira melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik.
"Kalau pagi kamu nggak ganggu aku..."
"...rasanya kantor jadi sepi."
"Kalau kamu pulang duluan..."
"...aku malah nyariin."
Arga menghentikan mobil di depan rumah Nadira.
Mesin dimatikan.
Hujan masih turun.
Ia menatap Nadira dengan lembut.
"Dir..."
Nadira menarik napas panjang.
"Aku belum siap menjawab perasaanmu."
"Tapi..."
"...aku juga nggak bisa bohong."
"Sekarang..."
"...kamu sudah jadi bagian dari hari-hariku."
Jantung Arga berdetak begitu kencang hingga ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia tidak langsung tersenyum.
Tidak juga mengucapkan kata-kata romantis.
Ia hanya berkata pelan,
"Terima kasih."
Nadira mengernyit.
"Cuma itu?"
Arga terkekeh.
"Karena buatku..."
"...ini sudah jawaban paling indah."
Nadira ikut tersenyum.
Namun tepat ketika ia hendak turun dari mobil, ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat senyumnya perlahan memudar.
**"Mama."**
Begitu panggilan diangkat, suara sang mama terdengar terburu-buru.
"Dir... kamu sekarang di mana?"
"Baru sampai rumah, Ma."
"Kamu cepat masuk."
"Ada tamu."
"Tamu?"
"Iya."
"Mereka datang..."
"...untuk membicarakan perjodohanmu."
Nadira membeku.
Tangannya gemetar.
Sementara Arga yang melihat perubahan wajahnya langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
**Bersambung ke Episode 28...**