Kartika Gayatri, gadis 21 tahun yang memiliki kecantikan dan kelembutan luar biasa. Kartika yang selama ini tak pernah melihat dunia baru saja beberapa bulan mendapatkan penglihatannya. Hal itu pula yang membuatnya tertarik dan terjebak rayuan lelaki casanova yang di temuinya di klub saat menemani sahabatnya. Malam itupun dia belajar tentang anatomi tubuh pria sesungguhnya.
Akibatnya dia hamil dan sayangnya dia tak tau apapun tentang lelaki itu kecuali namanya, Zaidan.
Hal yang sama dirasakan Zaidan dia tak bisa melupakan Kartika, karena malam itu dia melakukan hal yang tak pernah dia lupakan saat bermain-main. Dia takut gadis itu hamil anaknya.
Zaidan pun mencarinya dan akan menikahinya jika bertemu. Dia tidak akan melepaskan gadis itu, gadis bermata amber itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naira_W, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Dengan Oppa
Zaidan melangkah cepat menuju ruangannya, dia ingin segera sampai ke ruangannya. Dia ingin mengalihkan kekesalannya dengan pekerjaan yang pasti sudah menumpuk di atas mejanya
Pagi ini dia sangat muram, berbeda dengan kemarin. Bahkan beberapa karyawan yang menyapanya pun merasa ketakutan ketika melihat tatapan sengit dari Zaidan.
Dan semuanya gara-gara kejadian di rumah Kartika. Zaidan sangat kesal Kartika berdandan secantik itu tapi bukan karena ingin berangkat dengannya. Juga ucapan Kartika yang mengatakan dia bukan selera Kartika.
Mereka sudah sampai tahap bertanam benih tapi Kartika berkata dia bukan seleranya. Yang benar saja, apa dia harus mengulangi lagi proses itu agar Kartika ingat bagaimana reaksinya akan sentuhan Zaidan. Bahkan Kartika meneriakkan namanya ketika sampai di puncak tertinggi Himalaya.
"Rom, apa si opa-opa itu lebih tampan dariku? Kenapa Kartika suka sekali padanya? Masa sainganku itu orang kayak begitu" tiba-tiba Zaidan menanyakan hal absurd itu pada Romi yang dari tadi berdiri disebelahnya sambil menjelaskan beberapa projek penting yang akan mereka kerjakan.
Dan setelah panjang lebar menjelaskan rupanya si bos tak konsentrasi karena pikirannya masih ada pada wanita cantik bernama Kartika
"Yang saya tahu dia aktor muda yang tampan asal Korea dan sedang digandrungi para wanita bos. Memang wajahnya itu masih segar dan seperti kata calon Bu bos masih kinyis-kinyis bos juga glowing bos." kata Romi menjelaskan sambil bergaya alay dengan membentuk kedua jempol dan dua telunjuknya membentuk hati.
"Kurang ajar kamu, maksud kamu aku jelek dan udah gak segar gitu? Hah?!!" protes Zaidan.
'Lha dia yang tanya, sekalinya dijawab malah marah'. Batin Romi
"Bedalah bos versi gantengnya, kalau bos itukan lebih ke arah timur tengah. Kalau dia ini lebih ke asia oriental. Mungkin itu seleranya Bu bos" kata Romi lagi
Namun bukan mereda justru amarah Zaidan muncul lagi mendengar kata selera Kartika
"Jadi Kartika gak selera sama aku gitu? Asal kamu tau ya, aku yang buat Kartika teriak keenakan semalaman. Kalau aku bukan seleranya pasti dia gak mau aku sentuh malam itu. Ngerti kamu?" kata Zaidan lagi
"Iya ngerti bos" kata Romi
'Cih.. Mau kikuk-kikuk sama Kartika aja harus buat dia mabuk dulu baru bisa dibawa. Kalau sadar mana mau'
"Kamu tanyakan jadwal kuliah Kartika selengkapnya sama anak magang itu. Ingat lengkap!" perintah Zaidan yang tak mau ditolak lagi.
Romi pun segera melaksanakan perintah bosnya yang sedang dalam level bucin tingkat tinggi itu. Dia pun segera menuju ruangan Maudy kepala divisi tempat teman calon Bu bosnya berada.
Ketika Romi sampai di ruangan itu, semua mata menuju ke arahnya. Hal biasa yang dia terima sejak bekerja dengan Zaidan.
Apalagi wajahnya juga tampan mirip aktor Joe Taslim, juga tubuh yang atletis membuatnya menjadi salah satu bujangan terfavorit di kantor ini tentunya setelah Zaidan.
"Pak Romi, ada yang bisa kami bantu pak?" tanya Bu Mau yang entah tiba-tiba muncul dari mana itu.
"Saya ada perlu dengan Sandra Bu Maudy. Bisa panggilkan orangnya." kata Romi yang agak geli dengan gaya Maudy yang sok imut tak sesuai dengan umurnya. Apalagi ketika melihatnya memonyongkan bibirnya karena kesal harus memanggil Sandra.
'Beda banget dengan calon Bu Bos, kalau cemberut bibirnya imut. Ngundang banget buat di kiss, kalau yang ini pengen ditabok rasanya.'
Maudy pun berjalan ke arah meja khusus yang disiapkan untuk anak magang di divisinya.
Dia segera menyuruh Sandra menemui Romi yang mencarinya.
"Bapak nyari saya? Ada yang bisa saya bantu?" kata Sandra, gadis manis berambut sebahu itu tersenyum manis menunjukkan gingsul yang ada di deretan rapi giginya.
"Kamu ikut saya sebentar." kata Romi yang sempat terpesona pada senyuman mahasiswa magang itu.
Sandra hanya bisa pasrah mengikuti asisten bos besar perusahaan ini walaupun dibelakangnya ada mata yang memandangnya dengan sangat tajam, setajam silet. Membuat Sandra merinding.
Romi membawa Sandra ke taman dekat kantin kantor itu. Mereka duduk di bangku panjang yang ada di sana.
Sandra awalnya tak mau duduk disebelahnya tapi Romi memaksanya karena akan membahas masalah Kartika.
Dih gak bos, gak asisten bisanya modus
"Pak bos uring-uringan dari pagi kamu tau sebabnya?" tanya Romi basa basi padahal dia sudah tau apa yang menyebabkan bosnya itu marah-marah tak jelas
Sandra mengangguk
"Gara-gara Kartika gak mau berangkat sama pak Darrel pak." kata Sandra
"Mereka itu gimana sih kejelasannya, kamu coba tanya ke calon Bu Bos kita itu mau bos kita itu seperti apa. Biar dia gak mode senggol bacok kalau ke kantor. Nanti kamu infokan ke saya, biar bisa saya atur." kata Romi sambil menyodorkan ponselnya ke Sandra.
Sandra bingung ketika Romi menyerahkan ponselnya itu.
"Masukkan nomor kamu. Kalau sewaktu-waktu pak bos mau menanyakan soal nona Kartika saya bisa menghubungi kamu. Kalau saya yang langsung menghubungi nona Kartika yang ada saya bakal digantung sama pak bos yang posesif itu." kata Romi lagi memberikan alasan padahal dia hanya mau tau nomor gadis manis dengan gingsul ini
Sandra pun mengetikan nomor teleponnya di ponsel milik asisten bos tempatnya magang itu.
Setelah itu dia menyerahkan pada Romi. Dan segera Romi save dan menghubungi balik Sandra
"Kamu bawa handphone?" tanya Romi
Sandra menggeleng kepalanya
"Saya kirim pesan jangan lupa nanti kamu save nomor saya. Kalau ada apa-apa dengan calon Bu bos segera hubungi saya." kata Romi lagi.
"Dan satu lagi, pak bos minta jadwal kuliah nona Kartika lengkap. Bisa kamu kasih ke saya?" tanya Romi lagi
"Bisa pak, tapi ada beberapa jadwal yang berubah kayaknya. Nanti saya tanya ke Kartika dulu pak."
"Oke kalau kamu sudah siapkan segera kirimkan ke saya. Pak bos mintanya segera. Soalnya dia berencana jemput nona Kartika hari ini" kata Romi lagi.
" Saya langsung buatkan pak, tapi maaf bukan saya mau menyinggung atau gimana. Apa pak Darrel serius sama Kartika? Kalau cuma sekedar penasaran mending bapak arahkan pak Darrel cari cewek lain." kata Sandra
"Maksud kamu pak Darrel gak serius sama calon Bu bos gitu?" tanya Romi
"Iya pak. Kartika itu gadis polos dari desa, mana baru bisa ngeliat dunia kayak apa juga belum setahun. Saya gak mau dia sakit hati kalau pak Darrel cuma mainin perasaannya. Nanti saya mau bilang apa sama ayah dan bundanya Kartika. Soalnya mereka menitipkan Kartika sama saya." kata Sandra panjang lebar
"Dengar ya, pak bos memang belum bilang apa-apa tapi kamu bisa lihat kan pak bos itu kayak gimana kalau udah ketemu calon Bu bos. Kayak cacing ditaburi garam, geliat-geliat gak jelas." kata Romi sambil mengingat kembali kelakuan bosnya kemarin yang memarahinya saat meminum es doger milik Kartika.
Dia berkata takut Kartika marah ketika melihat es dogernya habis diminum oleh Romi dan Dian. Padahal Kartika saja sudah lupa dengan es Doger dan hanya mau nyium aktor Korea yang dipanggil Oppa oleh Kartika.
Dia pun menyuruh Romi membeli es doger itu lagi di dekat simpang lampu merah.
"Pokoknya kalau pak Darrel nyakitin Kartika saya gak akan diam pak. Kartika itu kayak bayi masih polos, dirayu dikit sama Pak Darrel aja langsung luluh. Bapak juga harus ikut tanggung jawab kalau Pak Darrel cuma mainin Kartika, karena bapak ikut andil comblangin mereka" kata Sandra dengan tatapan mata yang mengerikan dan gerakan tangan yang mengepal seolah meremukkan sesuatu. Membuat Romi menelan ludah.
"Iya, saya yakin pak bos serius. Udah kamu segera kerjakan perintah pak bos, terus kirimkan ke saya." kata Romi lagi
Sandra pun berpamitan menuju ruangannya untuk mengerjakan yang diminta bos nya itu. Meninggalkan Romi yang masih menatap punggung gadis manis berambut sebahu itu.
"Gila nggak Bu bos, nggak temannya cakep banget." kata Romi