Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Saat Fitnah Diadili
Sore itu, Vira, Arvin, Yanti, Mirna, dan Daril datang ke balai desa sesuai panggilan.
Di dalam balai desa sudah berkumpul Pak Kades beserta istrinya, Hartato, perangkat desa, para ketua RT dan RW, beberapa ibu-ibu, serta beberapa pemuda yang diminta menjadi saksi.
Suasana terasa tegang. Tak seorang pun berani memulai percakapan.
Pak Kades berdiri dari kursinya, lalu memandang seluruh warga yang hadir.
"Baik. Karena semua yang dipanggil sudah hadir, kita mulai saja."
Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Sengaja saya memilih sore hari agar tidak mengganggu aktivitas bapak dan ibu sekalian dalam mencari nafkah."
Semua orang mendengarkan dengan saksama.
"Pertemuan ini membahas satu persoalan yang beberapa waktu terakhir meresahkan desa kita."
Pak Kades mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Sebagian orang mungkin menganggap gosip hanyalah omongan biasa. Padahal, satu gosip bisa menghancurkan nama baik seseorang, merusak mata pencahariannya, bahkan memecah hubungan antar sesama warga."
Nada suaranya terdengar semakin tegas.
"Sebagai kepala desa, saya tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi."
Ruangan semakin terasa sunyi.
"Adapun gosip yang akan kita bahas ada tiga."
Beliau membuka berkas yang berada di atas meja.
"Pertama, gosip yang menyebut Vira sudah tidak perawan."
Mendengar kalimat itu, wajah Mirna langsung memucat. Jemarinya saling menggenggam erat hingga buku-bukunya memutih.
"Tenang... belum tentu ketahuan," batinnya berusaha menenangkan diri.
Tapi jelas hatinya tidak tenang karena melihat beberapa ibu-ibu yang pertama kali ia jadikan sebagai tempatnya bergosip menyebarkan fitnah.
Pak Kades melanjutkan.
"Kedua, gosip yang menyebut hubungan Vira dan Daril saat masih berpacaran telah melewati batas."
Rahang Daril langsung mengeras. Tenggorokannya terasa tercekat, tetapi ia tetap berusaha memasang wajah tenang.
"Dan yang ketiga..."
Tatapan Pak Kades beralih ke arah Yanti.
"Gosip yang menyebut Vira sering membawa laki-laki masuk ke dalam rumah."
Tubuh Yanti refleks menegang. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
"Jangan... jangan sampai..."
Pak Kades menutup map di hadapannya.
"Selama beberapa hari terakhir, pihak desa telah meminta bantuan para ketua RT untuk menelusuri asal-usul ketiga gosip tersebut."
Beliau memandang satu per satu orang yang hadir.
"Kami juga telah meminta keterangan dari beberapa saksi."
Suasana di dalam balai desa semakin mencekam.
"Berdasarkan hasil penyelidikan, keterangan para saksi, serta bukti yang telah kami kumpulkan..."
Pak Kades menarik napas pelan.
"...kami menyimpulkan bahwa orang-orang yang pertama kali menyebarkan ketiga gosip tersebut adalah..."
Beliau menatap lurus ke arah tiga orang.
"Bu Mirna."
Mirna langsung menundukkan kepala.
"Daril."
Rahang Daril mengeras. Tinjunya mengepal di atas paha.
"Dan..."
Tatapan Pak Kades berhenti pada Yanti.
"...Yanti, sepupu Vira."
Ruangan seketika dipenuhi suara bisik-bisik para warga.
"Ternyata benar mereka."
"Pantas saja gosipnya cepat menyebar."
Vira memandang ketiga orang itu secara bergantian. Sebenarnya ia sudah menduga. Namun, saat dugaan itu benar-benar terbukti, dadanya tetap terasa sesak.
Selama ini ia memperlakukan Mirna seperti ibu sendiri. Ia membantu memenuhi kebutuhan mereka tanpa banyak bertanya.
Daril adalah pria yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Sedangkan Yanti...
Ia telah memberikan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan menganggapnya sebagai keluarga.
Namun, ketiga orang itulah yang justru berusaha menghancurkan nama baik dan sumber penghidupannya.
Di samping Vira, Arvin mengepalkan kedua tangannya.
Tatapannya tajam mengarah kepada Mirna, Daril, dan Yanti.
Ia tidak menyangka orang-orang yang selama ini menerima begitu banyak kebaikan dari Vira justru menjadi pihak yang paling tega menusuknya dari belakang.
Mirna menelan ludah. Wajahnya mulai kehilangan warna.
Pak Kades kembali angkat bicara. "Baik. Supaya tidak ada yang merasa difitnah, saya akan memanggil saksi satu per satu."
Ia membuka sebuah map berisi beberapa lembar kertas.
"Kita mulai dari gosip pertama, yaitu tuduhan bahwa Vira sudah tidak perawan."
Pak Kades mengangkat pandangannya.
"Bu Rini, silakan maju."
Seorang ibu paruh baya berdiri dengan ragu, lalu berjalan ke depan.
"Bu Rini, di mana pertama kali Ibu mendengar gosip itu?"
Bu Rini melirik sekilas ke arah Mirna sebelum menjawab.
"Di warung, Pak."
"Siapa yang menyampaikannya?"
Bu Rini menarik napas pelan. "Bu Mirna."
Wajah Mirna langsung menegang.
Pak Kades mengangguk. "Coba ceritakan dengan jelas."
Bu Rini mengingat-ingat sejenak. "Waktu itu kami lagi ngobrol biasa di warung. Tiba-tiba Bu Mirna datang."
Ia menoleh ke arah beberapa ibu yang hadir.
"Beliau bilang..." Bu Rini menirukan ucapan Mirna yang masih diingatnya. "Yang kelihatan itu belum tentu yang sebenarnya. Awalnya kami bingung maksudnya apa."
"Lalu?" tanya Pak Kades.
"Pemilik warung sempat bertanya. Setelah itu Bu Mirna bilang sebenarnya beliau tidak ingin membuka aib orang."
Ruangan mulai semakin tegang.
"Tapi karena katanya Daril terus dijelek-jelekkan, akhirnya beliau mengaku tidak tega kalau hanya diam."
Bu Rini kembali menatap Mirna.
"Lalu Bu Mirna bilang..."
Suara Bu Rini terdengar jelas memenuhi balai desa. "Vira itu sebenarnya sudah gak perawan lagi."
Ruangan langsung dipenuhi gumaman pelan.
"Beliau bahkan bilang..." lanjut Bu Rini. "Itu terjadi jauh sebelum Vira pacaran sama Daril."
Pak Kades mengangguk. "Setelah mendengar itu, apa yang terjadi?"
"Semua orang kaget, Pak," jawab Bu Rini.
"Apakah Bu Mirna menunjukkan bukti?"
Bu Rini menggeleng. "Tidak ada."
"Hanya cerita seperti itu?"
"Iya."
Pak Kades kembali bertanya. "Apakah Ibu percaya begitu saja?"
Bu Rini tampak malu. "Awalnya iya, Pak. Soalnya yang bicara calon mertua Vira sendiri."
Ucapan itu membuat beberapa warga saling berpandangan.
Pak Kades lalu menoleh kepada Mirna.
"Bu Mirna."
Mirna langsung menegakkan badan.
"Apakah Ibu membantah kesaksian Bu Rini?"
Mirna membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar. Tangannya mulai meremas ujung bajunya.
Pak Kades menunggu jawaban Mirna tanpa sedikit pun memotong kesunyian yang mulai menekan suasana.
Namun, suasana balai desa mendadak riuh. Beberapa ibu saling berpandangan. Ada yang menggeleng pelan, ada pula yang menghela napas kecewa.
Pak Kades mengangkat tangan memberi isyarat agar semua kembali tenang.
"Bu Mirna," ujarnya tegas. "Apa kesaksian Bu Rini itu benar?"
Mirna tampak gugup. Jemarinya saling meremas ujung kerudung.
"S-saya..." Ia menelan ludah. "Saya cuma dengar dari orang lain."
"Orang lain siapa?" tanya Pak Kades.
Mirna terdiam.
"Sebutkan namanya," titah Pak Kades.
Lagi-lagi Mirna tidak menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, "Saya... sudah lupa."
"Lupa?" ulang Pak Kades dengan nada datar.
"Iya. Waktu itu cuma obrolan biasa."
Bu Rini langsung menyela. "Maaf, Pak Kades. Waktu itu Bu Mirna tidak bilang dengar dari orang lain."
Mirna spontan menoleh.
"Bu Mirna sendiri bilang..." lanjut Bu Rini menirukan ucapan Mirna, "...'Saya sebenarnya gak mau membuka aib orang, tapi karena anak saya terus dijelek-jelekkan, saya jadi gak tega kalau cuma diam.'"
Ruangan kembali dipenuhi bisik-bisik.
"Itu benar."
"Saya juga dengar."
"Iya, saya ingat kalimatnya."
Mirna mulai panik. "Bukan... maksud saya bukan begitu...."
"Lalu bagaimana maksudnya?" tanya Pak Kades.
...✨"Fitnah mungkin mampu berlari lebih cepat daripada kebenaran, tetapi pada akhirnya ia akan kehabisan tempat untuk bersembunyi ketika bukti dan saksi berbicara."...
..."Orang yang mengira kebohongan akan melindunginya sering lupa bahwa setiap kebohongan selalu meninggalkan jejak."...
..."Pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari orang asing, melainkan dari mereka yang pernah menerima kebaikanmu."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.