bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keberanian baru mulai mengalir di nadinya, menggantikan keragu-raguan yang menghantuinya sepanjang malam.
Cahaya pagi yang pucat menyelinap dari celah tirai kamar, menyentuh wajah Nadira yang tak lagi memicingkan mata. Ia bangun lebih awal, menyadari bahwa hari ini akan menjadi penentu segalanya. Gaun kerja berwarna krem yang sudah disetrika rapi sejak tadi malam kini tergantung di depan cermin, siap dikenakan untuk pertempuran sesungguhnya di gedung pusat.
Nadira berdiri di depan wastafel, memercikkan air dingin ke wajahnya
beberapa kali untuk menyingkirkan sisa rasa gugup yang masih bersemayam di dalam
dada. Ia menarik ritsleting gaun dengan satu tarikan mantap, lalu mengenakan setelan blazer yang pas di tubuhnya. Setiap langkah yang ia lakukan pagi ini terasa lebih berat,
seolah-olah ia sedang mempersiapkan diri untuk naik ke atas panggung besar. Nadira
melirik ke arah jam dinding; waktunya sudah habis. Ia harus segera turun karena Arga
pasti sudah menunggu di pelataran parkir dengan mesin mobil yang masih menyala.
Tidak ada lagi waktu untuk keraguan atau penundaan sekecil apa pun. Saat ia melangkah keluar dari pintu utama, udara pagi yang dingin langsung menyergap
kulitnya. Arga berdiri di samping mobil dengan wajah datar, namun nadanya terdengar sedikit lebih tegas dari biasanya. Ia membuka pintu penumpang depan tanpa berkata apa-apa, namun matanya menatap tajam ke arah Nadira. Pria itu sepertinya bisa
merasakan ketegangan yang membuncah di dalam diri isterinya, meski ia memilih untuk tidak menanyakannya. Mereka berdua tahu bahwa hari ini adalah hari yang berbeda dari
hari-hari sebelumnya.
"Semua dokumen sudah ada di tas samping kamu," kata Arga, saat mereka mulai melaju meninggalkan gerbang mansion.
"Sudah. aku juga sudah mengecek ulang angka-angkanya tadi subuh."
Nadira sembari mengangguk pelan, jemarinya meremas sisi tas kulit yang ada di
pangkuannya.
"Terima kasih, Clar. Apa Dinda sudah pergi ke kantor?" tanyanya, suaranya sedikit serak karena jarang dipakai bicara seawal ini.
"Tadi aku sudah melihatnya pergi lebih dulu mengemudi mobil sejak setengah jam yang lalu."
"Sepertinya dia juga akan memanggil beberapa pengacara luar yang tidak terdaftar dalam daftar hadir rapat rutin," jawab Arga sambil menatap ke depan.
"Mereka tampak sedang menyiapkan sesuatu di ruang rapat utama." lanjut Arga.
Mendengar itu, Nadira menarik napas panjang dan mengepalkan tangannya di atas
pahanya. Jadi Dinda benar-benar akan melancarkan serangan terbuka hari ini. Ia tidak lagi bermain di belakang layar dengan bisikan-bisikan halus kepada saudara-saudara tirinya.
Dinda memutuskan untuk menghadapkannya langsung di depan seluruh dewan direksi
dan pemegang saham. Nadira menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi
mulai memenuhi cakrawala kota.
Sesampainya di lobi gedung, hawa dingin ruangan menyambar mereka berdua. Beberapa staf yang biasanya menunduk hormat tampak membisikkan sesuatu saat Nadira melewati mereka. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan curiga itu menempel di punggung blazernya.
Namun, ia tidak menoleh sedikit pun. Nadira terus melangkah dengan kepala tegak,
memasuki lift privat yang akan membawa mereka langsung ke lantai di mana ruang rapat utama berada.
Lonceng lift berbunyi halus saat pintunya terbuka. Di ujung koridor yang gelap dan sepi, cahaya terang menerangi sebuah meja panjang yang sudah penuh dengan orang-orang berdasi rapi.
Dinda berdiri di sana, bersandar pada kursi kepala meja dengan sebuah map tebal di tangannya. Wanita itu menoleh perlahan saat mendengar langkah kaki Nadira yang semakin dekat, lalu ia menyeringai sinis.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Dinda dengan suara yang sengaja diperkeras agar terdengar oleh semua orang di dalam ruangan.
"Aku pikir kamu akan bersembunyi di bawah meja setelah melihat surat yang kukirim semalam."
Nadira berhenti tepat di depan meja, meletakkan tas kulitnya dengan bunyi gedebuk yang cukup keras.
"Aku bukan pengecut seperti yang selalu kamu kira, Dinda. Jika kamu punya bukti
untuk menjatuhkanku, letakkan di meja ini sekarang juga," tantang Nadira, menatap tajam ke arah saudara tirinya itu.
Dinda tertawa kecil, lalu membuka map tebal di tangannya.
"Baiklah, karena kamu yang memintanya." Ia lalu menarik sebuah lembar kertas dan membacanya dengan lantang.
"Hari ini, aku secara resmi mengajukan gugatan pembatalan wasiat mendiang ayah. Dan sebagai konsekuensinya, aku memintamu untuk segera bertanggung jawab atas semua kerugian perusahaan selama kamu memimpin."
Suasana di dalam ruangan langsung hening. Nadira merasakan darahnya berdesir, namun
ia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tidak menunjukkan rasa takut. Ini adalah
keputusan akhir yang diambil Dinda, sebuah serangan mematikan yang bertujuan untuk
menghancurkan reputasinya di depan orang-orang yang memegang kendali atas warisan dua ratus triliun itu. Ia harus mengambil sikap sekarang atau ia akan kehilangan segalanya.
"Aku akan bertanggung jawab atas semua tindakanku," jawab Nadira mantap.
"Tapi sebelum kamu membacakan tuduhanmu yang konyol itu, mari kita mulai rapat ini. Pemegang saham sudah menunggu."
Nadira lalu menarik kursi di seberang Dinda dan duduk dengan tenang, menantang Dinda untuk melanjutkan sandiwara yang sudah ia siapkan.