NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan

Malam itu, keheningan mencekam menyelimuti seluruh wilayah Kekaisaran Naga Langit. Di bawah naungan langit malam yang pekat, beberapa baris prajurit berbaju zirah perak tampak berjalan tegap, berpatroli mengitari koridor-koridor batu demi menjaga keamanan pusat Kekaisaran.

Langkah kaki mereka bergeming teratur menuju area Istana Barat, sebuah paviliun megah yang strukturnya masih terhubung langsung dengan istana utama.

Di sana, tepat di depan sebuah pintu gerbang kayu jati raksasa yang diukir dengan segel kuno, atmosfer terasa jauh lebih berat. Penjagaan di titik ini tiga kali lipat lebih ketat dari biasanya.

Setiap prajurit memegang pedang dengan tangan gemetar namun sigap, sadar betul bahwa sesuatu yang bersemayam di balik pintu itulah yang menjadi jantung pertahanan yang wajib mereka lindungi dengan nyawa.

Namun, keheningan total malam ini bukanlah pertanda aman. Alih-alih memberikan ketenangan, sunyi yang tidak wajar ini justru menjadi alarm bahaya tersembunyi yang sama sekali tidak disangka oleh para penjaga.

Dalam senyap nya malam, angin berhembus sedikit lebih kencang. Dinginnya udara tidak sekadar membawa embun, melainkan menyamarkan jejak sekumpulan bayangan yang bergerak lincah di atas atap. Mereka adalah kelompok perampok elite yang berniat mencuri sebuah pedang legendaris pusaka Kekaisaran.

"Disana," gumam sang pimpinan kelompok, matanya berkilat tajam dari balik celah topeng kainnya. "Di balik pintu gerbang besar itu... Jika kita bisa menembus pertahanan mereka, mendapatkan pedang pusaka itu... bukan hanya tumpukan harta yang akan kita genggam, tetapi seluruh fondasi Kekaisaran Naga Langit ini akan berlutut di bawah kaki kita."

Pria berpakaian serba hitam di sebelahnya mempererat genggaman pada belatinya, menimpali dengan suara yang ditekan serendah mungkin. "Kalau begitu, tidak ada alasan untuk gagal. Kita harus mendapatkan pedang itu malam ini juga, apa pun taruhannya."

"Benar. Ini akan menjadi torehan sejarah baru yang agung," bisik anggota lain dari balik bayangan pilar. "Malam di mana Kekaisaran Naga Langit yang sombong ini akan runtuh dan jatuh sepenuhnya ke tangan musuh tanpa mereka sadari."

Teman di sampingnya mengangguk pelan, menyetujui ambisi besar tersebut. "Kekaisaran Naga Langit memang diakui sebagai Kekaisaran terbesar nomor dua di dataran ini, tepat setelah Kekaisaran Awan Emas yang legendaris. Kekuatan militer mereka luar biasa. Itulah mengapa kita harus mendapatkan pedang itu, senjata itu adalah kunci untuk membalikkan peta kekuatan dunia."

Mendengar laporan dan kesiapan anak buahnya, pria yang menjadi pimpinan kelompok itu menghentikan pergerakan. Ia meraba balik jubahnya, mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutra berwarna merah darah, lalu membukanya dengan sangat hati-hati. Seulas senyum licik tersembunyi di balik cadarnya.

Dengan memusatkan energi spiritualnya, ia mengaktifkan kekuatan Elemen Angin yang ia kuasai. Detik berikutnya, pusaran angin kecil berputar di telapak tangannya, membawa dan menyebarkan serbuk halus berwarna ungu dari dalam kain merah tersebut ke seluruh penjuru area penjagaan Istana Barat. Serbuk itu melayang tak kasat mata, menyatu sempurna dengan udara malam yang dihirup oleh para penjaga.

Seketika itu juga, para prajurit yang berjaga di luar gerbang mulai merasakan keanehan. Sesuatu yang asing menghantam kesadaran mereka.

"Ada apa ini? Kepalaku mendadak sakit sekali... dan mataku... kenapa rasanya sangat berat?" keluh salah satu prajurit senior, tangannya terangkat memegangi pelipis sementara pandangannya mulai mengabur.

"Aku juga... Aku sangat mengantuk," kata prajurit di sebelahnya, suaranya melemah saat ia tak kuasa menahan diri untuk tidak menguap lebar. Senjata tombak yang ia pegang mulai goyah dan bergeser dari posisinya.

Mereka berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga, menggigit bibir dan mencengkeram senjata demi mengusir rasa kantuk yang tidak wajar tersebut.

Namun, pertahanan kesadaran mereka runtuh dengan cepat. Keheningan malam itu akhirnya pecah oleh suara benturan pelan saat satu per satu tubuh prajurit bertumbangan ke tanah berbatu.

Zirah mereka berdentang lirih, menyisakan suara nafas yang teratur—tanda bahwa mereka telah terbuai masuk ke dalam tidur magis yang dalam.

Melihat seluruh penjaga telah lumpuh, sekelompok pencuri itu melompat turun dari langit-langit. Mereka melangkah dengan sangat ringan, nyaris mengambang, namun tetap dalam tingkat kewaspadaan tertinggi. Tidak ada jejak kaki yang tertinggal, tidak ada suara gesekan kain yang terdengar.

Meskipun halaman luar telah berhasil diatasi, mereka tahu betul bahwa sistem keamanan di dalam tempat tujuan utama mereka jauh lebih ketat dan mematikan. Dengan tatapan penuh ambisi, mereka kini berhadapan langsung dengan pintu kayu raksasa yang menjadi pembatas terakhir menuju pedang legendaris.

"Akhirnya... itu pintunya," gumam sang pimpinan saat pandangannya tertuju pada sebuah pintu besi yang kokoh di depan sana.

Namun, tepat di sekeliling pintu utama itu, masih ada beberapa prajurit elite yang berdiri tegak mengawal. Tanpa membuang waktu, salah satu anggota kelompok pencuri maju ke depan dan mengeluarkan beberapa bilah jarum perak dari sabuknya.

Whosh! Whosh! Whosh! Jleb! Jleb! Jleb!

Jarum-jarum tipis itu melesat secepat kilat membelah udara malam dan menancap akurat pada titik-titik saraf vital mereka. Luar biasanya, para prajurit elite itu tidak jatuh ke tanah.

Tubuh mereka justru mematung seketika di posisi berdiri. Meski napas mereka masih berembus pelan, seluruh tubuh mereka sama sekali tidak bisa digerakkan atau bersuara. Itu adalah jurus totok saraf lewat jarum yang sangat langka.

Para pencuri itu segera bergegas mendekati pintu besar tersebut. Pimpinan mereka menyentuh permukaan pintu, merasakan aliran energi pelindung yang menjalar di sana. Dia tahu, pintu ini memiliki sistem keamanan magis yang sangat kuat dan berlapis.

"Kita harus membukanya sekarang," kata pimpinan mereka, menatap segel yang terukir di permukaan besi.

"Jika kita menghancurkannya secara paksa... maka itu akan menimbulkan suara ledakan yang besar dan memicu alarm seluruh istana," jawab temannya dengan nada cemas, mengingatkan risiko yang mengintai.

Mendengar hal itu, sang pimpinan tampak memejamkan mata sejenak, memutar otak mencari jalan alternatif. Detik berikutnya, matanya terbuka dan dia menunjuk ke arah bawah kaki mereka.

"Lewat tanah," katanya dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.

Anggota kelompok yang lain saling pandang dan mengangguk paham.

Elemen Tanah!

Seketika itu juga, tanah di sekitar mereka bergetar pelan tanpa suara keras, menciptakan sebuah celah atau lubang besar yang cukup untuk membawa tubuh mereka masuk ke dalam perut bumi.

Tanpa ragu, mereka melompat turun ke dalam lubang gelap itu secara bergantian. Setelah seluruh anggota masuk, mereka kembali menutup lubang tersebut rapat-rapat, meratakan tanah di atas mereka seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di tempat itu.

Di dalam kegelapan bawah tanah, mereka bergerak cepat memotong jalur, menembus lapisan bumi hingga akhirnya mereka berhenti di satu titik yang dirasa tepat berada di balik pintu tujuan.

Pimpinan mereka memberikan isyarat tangan, dan jalan di atas kepala mereka kembali terbuka lebar. Dengan gerakan yang tangkas dan sinkron, mereka melompat keluar ke permukaan lantai, siap menghadapi apa pun yang ada di dalam ruang penyimpanan pusaka tersebut.

Di dalam ruangan megah itu, dinding-dinding berlapis emas murni memantulkan cahaya redup yang memukau netra. Namun, yang menjadi pusat perhatian utama mereka bukanlah kilauan emas tersebut, melainkan sebuah pedang pusaka legendaris yang tertancap kokoh pada sebuah batu kotak dengan ukiran kuno yang sangat rumit.

"Itu dia," gumam sang pimpinan dengan bibir yang melengkung tersenyum puas, merasa misinya hampir selesai.

Namun, tepat saat mereka melangkahkan kaki semakin dekat dengan pedang itu, keheningan ruangan hancur berantakan.

Tiba-tiba, puluhan prajurit istana yang sejak tadi bersembunyi di platform atau yaidan atas turun secara serempak dengan gerakan memutar, mengepung dan mengejutkan para pencuri itu dalam sekejap mata. Senjata-senjata tajam kini terhunus ke arah mereka dari segala penjuru.

"Ini... apa?" suara pimpinan mereka tercekat di tenggorokan, wajahnya memucat seketika saat menyadari situasi telah berbalik seratus delapan puluh derajat.

Di atas batu ukiran emas yang berada di depan, dua sosok penuh aura tekanan tiba-tiba muncul. Mereka adalah Wu Kevin dan... Mei Mei.

Belum sempat para pencuri mencerna kejutan tersebut, pintu utama di belakang mereka terbuka lebar dengan suara berdentang keras, membuat para pencuri itu menoleh spontan dengan tubuh gemetar. Dua sosok lainnya melangkah masuk dengan langkah santai namun intimidasi. Lin Jia dan Lin Tian.

"Jadi," kata Lin Jia memecah kesunyian, matanya menatap dingin ke arah komplotan penyusup yang kini terjebak tanpa jalan keluar. "Apa kalian suka penyambutannya?" tanya Lin Jia kemudian, mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!